Penebusan ella back-up

 

Bab 1: Lantai Tiga dan Keputusan Terakhir

​Kepala Ella masih terasa berat, sisa kelelahan dari penerbangan Tokyo ke Jakarta belum hilang sepenuhnya. Di dalam koper besarnya, masih tersisa beberapa barang dari kunjungannya ke paviliun di Jepang tempo hari. Seharusnya, kepulangannya disambut dengan kebanggaan, tapi yang ia temukan justru neraka di linimasa X.

​Sejak mendarat di Soekarno-Hatta, Ella sudah mematikan semua notifikasi, tapi rasa penasaran yang beracun membuatnya sempat mengintip sebentar. Foto-foto itu ada di mana-mana. Meskipun diambil dari kejauhan dan dalam kondisi remang-remang, siluet dirinya yang sedang berada di sebuah bioskop bersama seorang pria itu sudah cukup sebagai bukti bagi para penggemar. Narasi "pelanggaran golden rules" dan tuntutan pemecatan menduduki jajaran trending topic. Setiap kali ia menyegarkan laman, hujatan baru muncul, menghakimi setiap langkah yang ia ambil selama ini.

​Dua hari Ella mengurung diri di kamar, hanya berani menatap langit-langit tanpa menyentuh ponselnya lagi. Dia tahu fans sedang mengamuk, menuntut penjelasan yang bahkan Ella sendiri bingung bagaimana cara menyampaikannya. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon dari staf manajemen memaksanya untuk berangkat ke Menara Global sore itu.

​Suasana di ruang rapat lantai tiga terasa sangat mencekam, seolah menghimpit jantung Ella yang memang sudah berdegup tidak karuan sejak sore tadi. Di hadapannya, tiga sosok yang biasanya ia temui dengan senyum kini duduk dengan raut wajah yang membeku. Fritz Hernandez duduk di tengah, membiarkan Rino dan Iin yang membuka suara terlebih dahulu. Tidak ada suara lain selain dengung pelan pendingin ruangan yang membuat oksigen seolah menipis bagi Ella yang hanya bisa menatap jari tangannya sendiri yang sedang gelisah.

​Rino melempar sebuah tablet ke tengah meja, layarnya masih menyala menampilkan kompilasi tangkapan layar dari linimasa X yang penuh dengan caci maki. Di samping tablet itu, ada salinan draf rilis pers yang judulnya masih dikosongkan, seolah sedang menunggu nasib Ella ditentukan sore itu juga. Rino tidak memaki, dia hanya bersandar di kursinya sambil memijat pangkal hidung. Raut wajahnya menunjukkan keletihan orang yang sudah dua hari tidak tidur hanya untuk meredam api yang dinyalakan oleh satu orang di depannya ini.

​"Jujur ya Ella, saya tuh bingung mau ngomong apa lagi sama kamu. Intinya manajemen itu sudah habis-habisan buat nge-push kamu setahun ini. Kamu lihat saja sendiri jadwal kamu, dari project yang kemarin sampai semua jadwal yang kita setor ke direksi, semuanya nama kamu yang kita prioritasin. Kita itu sudah kasih karpet merah buat karir kamu, tapi kamu malah bikin manuver yang benar-benar di luar nalar kayak gini."

​Rino mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja, memberikan penekanan pada poin tersebut dengan nada bicara yang tetap terjaga formalitasnya namun terasa sangat menusuk. Dia kemudian terdiam dan hanya memperhatikan reaksi Ella, seolah membiarkan data di atas meja yang berbicara lebih banyak.

​Iin menghela napas panjang, tatapannya masih tertuju pada Ella yang terus menunduk. Dia memajukan posisi duduknya sedikit, mencoba mencari celah agar matanya bisa bertemu dengan mata anak didiknya itu. Suaranya tidak meledak, justru terdengar berat karena rasa kecewa yang menumpuk di dadanya.

​"Ell, lihat saya sebentar. Kamu tahu kalau kak iin sayang banget sama kamu? Saya itu orang yang paling rajin pasang badan pas rapat penentuan member buat setiap project kemarin. Saya bilang ke Pak Fritz kalau kamu itu anak yang paling siap dan punya mental buat dikasih tanggung jawab. Saya sudah anggap kamu anak saya sendiri yang saya bimbing dari nol di sini. Tapi kamu ini, ya... ngerusak kepercayaan saya cuma demi hal sepele kayak gitu? Kamu itu tau ga? bodoh banget, Ell. Coba kasih tahu saya sekarang, apa yang ada di pikiran kamu pas mutusin buat ngelakuin itu?"

​Ella tersentak kecil, jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan tampak semakin gemetar. Dia menarik napas pendek yang terasa sesak, berusaha mengumpulkan suara di tengah tenggorokannya yang terasa sangat kering.

​"Maaf, Kak Iin. Saya beneran nggak kepikiran bakal jadi kayak gini. Saya cuma ngerasa penat banget pas itu, terus ada temen lama yang ngajak nonton dan saya ngerasa aman-aman saja. Saya beneran menyesal."

​Mendengar jawaban itu, Iin hanya bisa menggelengkan kepala dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan yang terlihat sangat lesu, seolah energinya terkuras habis setelah mendengar pengakuan tersebut.

​Fritz Hernandez akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam, memutus pembicaraan emosional antara Iin dan Ella. Dia menatap Ella dengan pandangan yang sangat tenang namun penuh kuasa, seolah sedang menilai apakah gadis di depannya ini masih layak untuk dipertahankan atau tidak.

​"Saya rasa penjelasan dari Pak Rino dan Iin sudah sangat jelas menggambarkan posisi kamu sekarang di mata manajemen. Kita sudah investasi banyak buat kamu, tapi kamu malah kasih pengembalian yang buruk buat grup. Untuk sekarang, saya belum bisa kasih keputusan apa-apa soal hukuman kamu. Kamu silakan pulang dulu, tenangkan pikiran kamu. Tapi ingat ya, jangan coba-coba hubungi siapa pun atau posting apa pun di media sosial sampai ada instruksi lebih lanjut dari saya."

​Ella berdiri dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba memberikan hormat terakhir sebelum melangkah keluar dengan bahu yang merosot jatuh. Dia tahu, pintu yang tertutup di belakangnya itu mungkin saja menjadi tanda berakhirnya semua mimpi yang baru saja ia mulai genggam.

Bab 2: Pintu Samping Menara Global

​Dua hari setelah interogasi itu, kamar Ella tidak lagi terasa seperti tempat istirahat. Baginya, setiap sudut ruangan itu kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Dia sengaja membiarkan gorden tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang seolah mengejek kegagalannya. Ponselnya lebih banyak dalam keadaan mati, namun sekalinya ia nyalakan, linimasa X masih saja melepaskan racun yang sama. Ella sudah berada di titik di mana dia tidak lagi peduli dengan prosedur atau aturan organisasi, dia hanya ingin ketidakpastian ini segera berakhir.

​Pukul sembilan malam, sebuah getaran singkat dari ponselnya memecah keheningan. Sebuah pesan singkat dari Fritz Hernandez muncul di layar yang redup.

"Ke kantor sekarang. Ada dokumen sanksi dari direksi yang harus kamu tanda tangani malam ini juga kalau kamu mau saya bantu ringankan di rapat pleno besok pagi. Lewat pintu samping lantai tiga, jangan sampai ada staf lain atau siapapun yang lihat kamu masuk. Saya tunggu."


​Ella tidak berpikir dua kali. Logikanya sudah lumpuh oleh rasa takut dan putus asa yang mendalam. Dia segera menyambar hoodie hitamnya, menutupi wajahnya yang sembab. Sebelum melangkah keluar kamar, dia sempat terhenti di depan cermin, menatap matanya yang masih merah karena kurang tidur. Dia harus keluar rumah, dan itu berarti dia harus melewati ruang tengah di mana ayahnya biasanya masih terjaga menonton berita malam.

​"Mau ke mana, Ell? Sudah jam sembilan lewat," suara ayahnya terdengar pelan dari balik sofa, matanya tidak beralih dari layar televisi.

​Ella menelan ludah, berusaha menormalkan suaranya yang serak. Dia tidak mungkin bilang kalau dia dipanggil ke kantor secara rahasia oleh atasan tertingginya. Ayahnya tidak tahu Ella sedang dalam masalah besar karena skandal itu.

​"Ada urusan mendadak di kantor, Pah. Biasa, ada jadwal latihan tambahan buat project baru yang harus difinalisasi malam ini. Katanya mumpung studionya kosong," jawab Ella sambil sibuk memakai sepatunya, menghindari kontak mata yang terlalu lama.

​Ayahnya terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut. Kalau sudah selesai, langsung kabari Papah biar dijemput."

​"Nggak apa-apa, Pah. Ella naik ojek online saja biar cepat. Ella pamit ya."

​Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Ella segera melangkah keluar rumah. Angin malam Jakarta yang lembap langsung menyapa kulitnya, namun rasa dingin yang ia rasakan justru datang dari dalam dadanya sendiri. Di dalam kepalanya, pesan Fritz terus berputar, memberikan harapan semu yang ia genggam erat-erat sepanjang perjalanan menuju Kuningan.

​Lobi Menara Global sudah nampak lengang, hanya menyisakan beberapa petugas keamanan yang berjaga di balik meja resepsionis. Ella melangkah dengan kepala tertunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun saat ia masuk ke lift menuju lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, lorong kantor JKT48 terlihat gelap, hanya lampu darurat yang menyala remang-remang di sepanjang jalan. Langkah kakinya yang gemetar bergema di lantai keramik yang dingin, menuju satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala terang di ujung koridor, ruangan Fritz.

​Ella mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan. Suaranya terdengar sangat kecil di tengah kesunyian gedung yang kosong.

​"Masuk," suara Fritz terdengar berat namun tenang dari dalam.

​Begitu Ella melangkah masuk, ia melihat Fritz sedang duduk di balik meja besarnya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Beberapa tumpuk kertas berserakan di depannya, menciptakan kesan bahwa pria itu memang sedang bekerja keras lembur demi sesuatu yang mendesak. Fritz tidak langsung menatapnya, dia sengaja membiarkan Ella berdiri dalam kecanggungan selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajah.

​"Duduk, Ell."

​Fritz menutup laptopnya dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Ella dengan pandangan yang seolah-olah penuh simpati namun menyimpan otoritas yang mutlak.

​"Saya sebenarnya sudah capek banget hari ini. Tadi siang saya habis debat panjang sama Pak Rino dan terutama Iin. Kamu tahu sendiri kan gimana Iin kalau sudah kecewa? Dia tadi bahkan bilang ke saya kalau dia sudah nggak mau lagi ngelihat kamu ada di grup ini. Dia minta kamu dipecat secara tidak hormat besok pagi."

​Ella tersentak, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata saat mendengar nama Iin disebut dengan nada sedingin itu. Fritz yang melihat reaksi tersebut justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

​"Tapi saya coba tahan mereka. Saya bilang kalau kamu itu aset yang masih bisa kita selamatkan kalau caranya benar. Nah, dokumen di depan kamu ini adalah kesempatan terakhir kamu. Kalau kamu tanda tangan sekarang, saya bisa punya alasan buat ngebela kamu di depan direksi besok tanpa perlu lewat prosedur formal yang ribet."

​Fritz menggeser selembar kertas ke arah Ella, namun tangannya tetap menempel di atas kertas itu, seolah-olah menahan Ella agar tidak membacanya terlalu detail. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja itu, Ella merasa Fritz adalah satu-satunya orang yang masih berdiri di pihaknya, tanpa ia sadari bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang lebih besar.

Bab 3: Sisi Gelap Lantai Tiga

​Hening di ruangan itu terasa sangat menekan, hanya deru halus AC yang menemani suara detak jam dinding yang seolah melambat. Ella masih menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat sampai kulit di sekitar persendiannya pucat karena tekanan yang terlalu kuat. Di depannya, Fritz tidak lagi duduk tegak di balik meja. Dia sudah berpindah, duduk di pinggiran meja kayu jati itu, sangat dekat dengan posisi duduk Ella sampai aroma parfum maskulinnya memenuhi indra penciuman gadis itu.

​"Kamu tahu kan, Ell, posisi saya sekarang ini sulit banget?" Fritz memulai pembicaraan dengan nada bicara yang sangat rendah, hampir berbisik. "Rino sudah buat draf pemecatan kamu. Iin bahkan nggak mau dengar nama kamu lagi di kantor ini. Cuma saya yang masih di sini, jam sepuluh malam, nyari celah biar kamu tidak didepak."

​Ella mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang sembab menatap Fritz dengan sisa-sisa harapan yang rapuh. "Saya... saya beneran terima kasih banget, Pak. Saya nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Bapak."

​Fritz hanya menatap Ella dengan pandangan datar yang sulit dibaca. Dia tidak bergerak untuk menenangkan, malah membiarkan Ella tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Tatapan matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi ketakutan Ella.

​"Terima kasih saja nggak cukup, Ell. Saya sudah pasang badan buat kamu, saya pertaruhkan jabatan saya di depan direksi demi anak nakal kayak kamu," Fritz menghela napas, nadanya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. "Saya capek banget seharian ini. Pikiran saya kacau gara-gara ngurusin kamu. Kamu mau kan bantu saya biar saya bisa sedikit rileks malam ini?"

​Darah Ella seolah membeku. Dia bukan anak kecil yang tidak paham arah pembicaraan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya menyakitkan di dada. Dia ingin berdiri, ingin lari keluar dari ruangan gelap itu dan turun ke lobi, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai.

​"Maksud... maksud Bapak?" suara Ella bergetar hebat, nyaris hilang.

​Fritz tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu ruangan dan memutar kunci dari dalam dengan suara klik yang sangat tajam di telinga Ella. Dia kemudian mematikan lampu utama, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu meja yang membuat bayangan mereka memanjang di dinding.

​"Ell, jangan bikin ini jadi susah buat kita berdua. Saya cuma minta sedikit bentuk apresiasi dari kamu karena posisi kamu itu sebenarnya sudah di ujung tanduk," Fritz kembali mendekat, berdiri tepat di depan Ella yang masih mematung di kursinya tanpa menyentuh seujung kuku pun, namun kehadirannya terasa sangat mendominasi. "Cukup nurut sama saya malam ini, dan besok pagi draf pemecatan itu hilang dari meja saya. Kamu masih punya nama besar, masih bisa naik panggung teater, dan kamu tidak kehilangan project. Kamu mau kan semuanya kembali kayak biasa?"

​Ella merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Pikirannya melayang ke bayangan panggung teater, ke sorak-sorai fans, dan ke wajah Iin yang pernah sangat ia banggakan. Semuanya kini terasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar oleh Fritz.

​"Tapi Pak... saya nggak bisa..." Ella berbisik dengan air mata yang mulai luruh tanpa suara.

​"Pilihan kamu cuma dua, Ell," Fritz memotong dengan suara tenang namun penuh ancaman. "Kamu keluar dari ruangan ini sekarang dan besok pengumuman pemecatan kamu rilis, atau kamu tetap di sini, bantu saya sebentar, dan semuanya selesai. Kamu mau karier kamu hancur cuma gara-gara ego kamu malam ini?"

​Ella merasa dunia di sekitarnya runtuh. Ketakutan akan kehilangan statusnya sebagai member, ketakutan akan mempermalukan keluarganya jika dipecat secara tidak hormat, jauh lebih besar daripada harga dirinya saat itu. Dia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya jatuh ke dalam disosiasi yang dingin. Dia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.

​Pasrah. Ella hanya bisa terisak pelan saat Fritz akhirnya memberikan isyarat agar dia berdiri. Di dalam kegelapan kantor Menara Global yang sepi, Ella menyadari bahwa harga untuk tetap bersinar di bawah lampu panggung ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.

Penebusan Ella

Bab 4: Denting di Meja Jati

​Fritz meraih sebuah benda kecil dari sudut mejanya. Sebuah lonceng servis berbahan krom mengkilap yang biasanya cuma jadi pajangan atau alat pemanggil asisten. Dia meletakkannya tepat di tengah, di antara Ella dan draf pemecatan yang masih terbuka lebar.

​Suara logam yang beradu dengan kayu jati itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang kedap suara.

​"Saya nggak suka paksaan, Ell. Kamu tahu itu," Fritz bersandar, melipat tangan di depan dada sambil menatap lonceng itu, lalu beralih ke mata Ella. "Keputusan sepenuhnya ada di tangan kamu. Kamu tekan lonceng ini, artinya kamu setuju dengan penawaran saya. Kita selesaikan administrasi kamu malam ini, dan besok kamu bisa tidur tenang."

​Ella mundur selangkah, napasnya mulai pendek-pendek seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Matanya menatap nanar ke arah lonceng kecil tersebut, sementara jemarinya meremas kain celana levis panjangnya dengan sangat kuat. "Pak... ini... ini nggak ada hubungannya sama kontrak saya. Kenapa Bapak harus minta ini? Saya datang ke sini buat nyari jalan keluar, bukan buat jual diri saya sendiri."

​Fritz tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, tipe senyuman yang sering dia pakai saat sedang negosiasi kontrak besar. Dia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja tanpa melepaskan pandangannya dari Ella.

​"Kamu pikirkan baik-baik, Ell. Kalau kamu tekan lonceng itu, saya jamin semua project yang tertunda bakal balik ke tangan kamu. Endorse, event luar negeri, bahkan posisi senbatsu buat single depan. Saya yang atur semuanya," Fritz berhenti tepat di belakang kursi Ella, suaranya kini tepat di samping telinga gadis itu. "Tentu, hukuman penangguhan tiga bulan itu tetap harus jalan. Itu formalitas wajib supaya Rino, Iin, dan fans nggak curiga. Tapi setelah tiga bulan itu lewat? Kamu bakal balik lebih bersinar dari sebelumnya. Anggap saja ini investasi kecil buat masa depan kamu yang masih panjang."

​Fritz kembali ke depan, telunjuknya mengetuk pelan pinggiran lonceng itu. Ting. Bunyinya pendek, tapi terasa menusuk sampai ke ulu hati Ella.

​"Pilihannya simpel. Kamu keluar dari sini, jadi warga biasa, dan lupakan semua tepuk tangan di teater. Atau, kamu tekan ini, lalui malam ini, dan tetap jadi bintang. Saya kasih waktu satu menit."

​Ella menatap benda krom itu. Pantulan lampu meja membuat lonceng itu berkilau indah, namun di mata Ella, itu adalah alat eksekusi harga dirinya. Sejenak, pikirannya melayang ke bayangan jika karirnya berakhir dengan cara sehina ini di grup. Skandal ini pasti bakal terus membekas, jadi noda yang nggak bakal hilang seumur hidup kalau dia keluar sebagai pecundang.

​Padahal masih banyak mimpi yang belum ia sentuh. Dia masih ingin terbang lebih sering ke luar negeri, masuk ke layar televisi nasional, mengembangkan bakat yang ia asah tiap malam di ruang latihan, sampai kolaborasi dengan musisi papan atas yang dulu ia idolakan. Ella tahu betul, kalau dia keluar sekarang, jalannya bakal jauh lebih sulit, mungkin malah tertutup rapat.

​Perlahan, tangan Ella terangkat. Jarinya terasa sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang menahan gerakannya. Dia menatap Fritz yang masih menunggu dengan tenang, seolah yakin dengan hasil akhirnya.

Ting!

​Suara lonceng itu bergema jauh lebih keras dari sebelumnya. Ella memejamkan mata rapat-rapat saat telapak tangannya menekan dinginnya permukaan logam itu. Dia sudah memilih.

​Fritz bertepuk tangan pelan beberapa kali, suara hantam telapak tangannya terdengar pelan namun sarat akan kepuasan yang dingin. "Keputusan yang sangat berani, Ella. Sekarang, hapus air mata kamu itu. Naik ke atas meja, dan kita laksanakan kesepakatan kita."

Bab 5: Administrasi di Atas Kayu Jati

​Fritz menjauh dari lonceng itu, matanya masih mengunci pandangan Ella yang tampak kosong. Dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang bersiap untuk tidur di rumahnya sendiri, dia mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Suara gesekan kain itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan yang mencekam. Ella hanya bisa berdiri mematung, melihat setiap kancing yang terlepas sebagai tanda bahwa dunianya benar-benar sudah bergeser ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.

​Fritz tidak terburu-buru. Setelah kemejanya tersampir di sandaran kursi kebesarannya, tangannya beralih ke ikat pinggang. Suara denting logam sabuk yang dibuka dan ditarik keluar dari lubang celananya membuat Ella tersentak kecil, namun kakinya tetap terasa seperti tertanam di lantai. Fritz kemudian berhenti sejenak, menatap Ella yang masih terbungkus hoodie hitam dan celana levis panjangnya.

​"Kenapa masih diam saja di situ?" suara Fritz terdengar sangat rendah, namun penuh tuntutan. "Buka baju kamu. Saya nggak punya waktu semalaman cuma buat nunggu kamu siap."

​Ella menelan ludah, tenggorokannya terasa perih dan sangat kering. Tangannya yang gemetar perlahan naik, meraih ujung hoodie hitamnya. Setiap inci kain yang ia angkat terasa seperti beban yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Dinginnya udara dari AC kantor langsung menusuk kulitnya yang kini terekspos, menyisakan tanktop putih tipis yang melekat di tubuhnya. Bulu kuduknya meremang bukan karena sejuk, melainkan karena rasa takut yang luar biasa.

​"Celananya juga, Ell," tambah Fritz sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Ella yang kini hanya bisa menunduk, tidak sanggup lagi menatap wajah pria yang sedang memegang nasibnya itu.

​Dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, Ella melepas kancing celana levisnya. Suara ritsleting yang terbuka terdengar seperti lonceng kematian bagi mimpinya yang bersih. Dia membiarkan celana panjang itu jatuh ke lantai, menyisakan dirinya yang kini hanya mengenakan tanktop putih dan celana dalam. Ella menyilangkan tangannya di dada, mencoba menutupi tubuhnya seadanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

​"P-Pak... tolong... jangan dibuka semua. Boleh, kan?" Ella berbisik dengan nada memohon yang sangat rapuh.

​Fritz menatap Ella sejenak, menilai ketakutan yang terpancar jelas dari raut wajah gadis itu. Dia menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan. Sebuah bentuk kemurahan hati yang semu.

​"Oke. Anggap saja ini toleransi dari saya karena kamu sudah kooperatif," ujar Fritz datar. "Naik ke atas meja sekarang."

​Fritz kemudian membimbing Ella untuk naik ke atas meja kerjanya yang luas. Dinginnya permukaan kayu jati itu merambat ke kulit paha Ella, kontras dengan hawa panas yang mulai ia rasakan dari kehadiran Fritz yang kini berada di antara kedua kakinya. Ella memejamkan mata rapat-rapat, mencoba membayangkan dirinya sedang berada di tempat lain, di mana saja asal bukan di ruangan gelap ini. Namun, sentuhan tangan Fritz yang kasar di pinggangnya segera menariknya kembali ke realitas yang pahit. Malam panjang itu baru saja dimulai.

Bab 6: Kayu Jati yang Dingin

​Ella memposisikan dirinya di atas meja kerja Fritz yang luas. Permukaan kayu jati itu terasa sangat dingin saat bersentuhan langsung dengan kulit pahanya, sebuah sensasi yang mendadak bikin dia ingin lari, tapi Fritz sudah berdiri tepat di hadapannya. Ruangan itu hanya diterangi lampu meja yang menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang mengawasi mereka.

​Fritz tidak langsung bergerak lebih jauh. Dia meraih laci meja kerjanya, menariknya pelan hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang halus. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil persegi berwarna perak yang berkilat terkena cahaya lampu meja.

​Suara sobekan plastik kemasan itu terdengar begitu nyaring di telinga Ella, memicu debaran jantung yang makin tidak karuan. Ella hanya bisa mematung, melihat Fritz dengan sangat tenang mengenakan pelindung itu di hadapannya. Tidak ada keterburuan, tidak ada rasa bersalah, hanya sebuah prosedur teknis yang bagi Fritz mungkin tidak ada bedanya dengan menandatangani kontrak kerja.

​"Saya nggak mau ada risiko tambahan buat karir kamu, Ell. Kamu juga kan?" Fritz bergumam datar sambil membuang bungkus plastik itu ke tempat sampah di bawah meja.

​Fritz kemudian menempatkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan paha Ella, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa bergeser. Ella refleks mencengkeram pinggiran meja sampai buku-buku jarinya memutih. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat Fritz yang kini mulai menyingkap sedikit tanktop putih yang ia kenakan.

​"Tatap saya, Ell," perintah Fritz dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Ingat kesepakatan kita. Ini cara kamu membayar kembali investasi yang sudah manajemen berikan."

​Ella terpaksa menoleh, matanya yang basah bertemu dengan tatapan Fritz yang tetap dingin, tanpa ada sedikit pun rasa menyesal di sana. Fritz kemudian menarik pinggiran celana dalam Ella dengan perlahan namun pasti. Ella hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara isakan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Setiap sentuhan Fritz di kulitnya terasa seperti sengatan yang membakar harga dirinya perlahan-lahan.

​Dia merasa dunianya menyempit hanya di atas meja ini. Bayangan tentang panggung, lampu sorot, dan nyanyian ribuan fans mendadak terasa sangat jauh, seolah itu adalah memori dari kehidupan orang lain. Yang ada sekarang hanyalah kegelapan kantor Menara Global dan pria yang sedang mengeksploitasi keputusasaannya.

​"Rileks, Ell. Jangan kaku begitu," bisik Fritz lagi.

​Fritz mulai memajukan tubuhnya, menekan Ella agar lebih bersandar ke belakang di atas tumpukan dokumen yang mungkin saja berisi draf sanksinya sendiri. Ella memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang. Dia mencoba mematikan semua indranya, mencoba membayangkan kalau tubuh yang sedang disentuh ini bukan miliknya. Namun, rasa dingin dari kayu jati di bawahnya dan hangatnya napas Fritz di lehernya terus memaksanya untuk sadar bahwa ini nyata, dan ini sedang terjadi.

​Malam itu, di lantai tiga yang sepi, Ella menyadari bahwa untuk tetap menjadi bintang yang dipuja banyak orang, dia harus rela hancur berkeping-keping di tangan satu orang yang memegang kendali atas segalanya.

Bab 7: Penyerahan di Bawah Lampu Meja

​Fritz makin merapatkan tubuhnya, membuat Ella terdesak hingga punggungnya menyentuh tumpukan map dokumen di atas meja. Tangan Fritz yang kasar mulai bergerak liar, meraba pinggang Ella lalu perlahan naik ke balik tanktop putih yang ia kenakan. Ella hanya bisa menggigit bibir, merasakan kain tipis itu terangkat perlahan sampai akhirnya tersingkap ke atas, memperlihatkan payudara kecil miliknya yang membusung karena napas yang tidak teratur.

​Di bawah temaram lampu meja, kulit Ella tampak pucat dan kontras dengan warna gelap kayu jati. Fritz menatap pemandangan itu tanpa emosi, seolah sedang memeriksa kualitas aset yang baru saja ia beli.

​"Cantik, Ell. Kamu memang harusnya di sini, bukan di jalanan sama laki-laki nggak jelas itu," bisik Fritz sambil telapak tangannya menekan permukaan payudara kecil Ella dengan paksa.

​Ella hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir melewati pelipisnya. Rasa malu yang luar biasa menghujam jantungnya saat Fritz mulai menarik paksa celana dalam yang tersisa di tubuhnya. Kini, Ella benar-benar merasa kehilangan perlindungan terakhirnya. Udara dingin AC kantor terasa menyengat saat menyentuh vagina miliknya yang kini terekspos sepenuhnya di depan mata Fritz.

​Fritz tidak memberikan waktu bagi Ella untuk memproses rasa hancurnya. Dia meraih pangkal paha Ella, menariknya agar lebih maju hingga berada di tepi meja. Di sana, Ella bisa melihat penis milik Fritz yang sudah terbungkus kondom, siap untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan dirinya.

​"Tatap saya, Ella. Lihat ini sebagai bayaran untuk semua kebohongan kamu," perintah Fritz dengan nada yang sangat rendah.

​Tanpa peringatan, Fritz menekan tubuhnya maju, mendorong penis miliknya masuk ke dalam vagina Ella yang masih terasa kaku dan belum siap. Ella tersentak, punggungnya melengkung dan jemarinya mencengkeram pinggiran meja jati itu begitu kuat hingga kuku-kukunya terasa akan patah. Suara desahan tertahan yang menyakitkan keluar dari tenggorokan Ella, namun Fritz tidak melambat.

​Dia mulai bergerak dengan ritme yang konstan dan berat. Setiap dorongan Fritz membuat tubuh Ella berguncang di atas meja, menciptakan suara gesekan kulit dan kayu yang bergema di ruangan sunyi itu. Ella merasa dunianya benar-benar runtuh. Di atas meja kantor yang dingin ini, di tengah draf pemecatan dan laporan performa, dia memberikan segalanya hanya agar lilin mimpinya tidak padam.

​Dia tidak lagi merasa seperti manusia. Dia hanya merasa seperti raga kosong yang sedang digunakan untuk memuaskan ego seseorang yang memegang kunci masa depannya. Di sela-sela dorongan Fritz yang makin intens, Ella hanya bisa membayangkan wajah ayahnya di rumah, berharap pria tua itu tidak akan pernah tahu betapa busuknya harga yang harus ia bayar malam ini.

Back-up raisha papa vila

 



Petang itu, suasana rumah terasa begitu lengang. Sinar mentari mulai meredup, menyisakan siluet pepohonan jambu yang menari perlahan di balik jendela. Raisha duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Ia mengenakan kaus berukuran besar dan celana pendek, dengan kaki tertekuk di atas bantalan sofa. Wajahnya memancarkan gurat kelelahan, meski sesungguhnya rasa jenuh yang lebih mendominasi.

​Ayah berdiri di dekat rak buku sembari memperhatikan Raisha dalam diam. Dalam benaknya, masih terbayang sosok anak kecil yang dulu selalu merengek minta ditemani tidur. Sosok yang kini telah beranjak dewasa dan lebih sering menutup diri.

​"Papa agak bingung kamu kok nggak ikut Mama ke Surabaya," ucapnya pelan.

​Raisha melirik sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ngapain juga, Pah? Kenal sodaranya aja nggak."

​Ayah mengangguk singkat. "Jadi kamu beneran mau di rumah sendirian?"

​"Ya mau gimana lagi," jawabnya seadanya.

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ayah bersandar pada dinding, turut memandang langit di luar jendela yang perlahan menggelap.

​"Kalau mau, kita ke vila aja," ujarnya setelah sempat terdiam. "Berdua."

​Raisha mengalihkan pandangan ke arah ayahnya. "Vila yang di pinggir danau itu?"

​Ayah mengangguk. "Masih rapi kok. Jarang dipakai."

​Raisha terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil. "Yaudah, ayo."

​Ia tak punya alasan untuk menolak. Jauh di dalam hati, ia menyadari bahwa dirinya memang membutuhkan suasana baru untuk bernapas. Bukan sekadar menjauh dari rumah, melainkan juga dari beban pikiran yang belakangan terasa menyesakkan.


​Perjalanan menuju vila memakan waktu hampir dua jam. Sepanjang jalan, hanya siaran radio yang menemani, memutar lagu-lagu lawas yang entah mengapa terdengar lebih hangat malam itu. Raisha sempat terlelap di kursi penumpang dengan kepala miring dan helaian rambut menutupi wajah. Ayah beberapa kali melirik, lalu kembali memfokuskan pandangan pada jalanan berliku di hadapannya.

​Mereka tiba menjelang malam. Warna langit telah sepenuhnya hilang, berganti kegelapan yang perlahan menelan segala bentuk di sekitar. Lampu-lampu kecil di teras vila menyala otomatis, seolah menyambut kedatangan mereka dengan kenangan lama yang masih setia bersemayam di sana.

​Vila itu tetap sama: dinding kayu berwarna krem pucat, jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke arah danau, serta udara dingin yang segera menyergap begitu pintu terbuka. Raisha turun lebih dulu, mendongak sejenak ke langit gelap yang dipenuhi suara serangga malam dan aroma embun.

​"Nggak banyak berubah ya, Pah," gumamnya pelan.

​Ayah meletakkan tas bawaan ke ruang tengah. "Iya, cuma makin sepi aja sekarang."

​Raisha melangkah masuk, jemarinya menyusuri permukaan kursi tua di dekat perapian. Ia berjalan perlahan dari satu ruangan ke ruangan lain, seolah sedang membangunkan kembali kepingan masa lalu yang pernah ia lalui di tempat itu.

​Setelah membereskan barang dan mandi, mereka menuju kamar masing-masing. Vila itu memang besar, terlalu luas hanya untuk dihuni oleh dua orang. Namun, malam itu, entah mengapa dinginnya tidak terasa menusuk sama sekali.



​ Beberapa menit berlalu. Raisha keluar dari kamar mengenakan piyama tipis berwarna merah. Rambutnya masih lembap, meneteskan sisa air ke bahu dengan kulit wajah yang memerah setelah mandi. Ia sempat menatap cermin sejenak guna memastikan penampilannya sebelum beranjak menuju dapur kecil di ujung lorong.

​Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua cangkir kopi. Langkahnya terasa ringan di bawah lampu lorong yang temaram, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding mengikuti setiap jejak kakinya.

​Di depan pintu kamar ayahnya, ia mengetuk pelan.

​Tok, tok.

​"Masuk aja," sahut Ayah dengan suara tenang namun terdengar agak berat.

​Raisha mendorong pintu. Pandangannya langsung tertuju pada Ayah yang duduk di kursi dekat jendela dengan buku terbuka di tangan. Posisinya santai, tetapi wajahnya tampak serius, seolah larut dalam bacaan yang judulnya bahkan tak terlihat dari jarak jauh.

​Raisha melangkah masuk. Ia menunduk sedikit untuk meletakkan salah satu cangkir kopi di meja samping tempat duduk ayahnya.

​"Masih suka kopi malem kan, Pah?"

​Saat Raisha membungkuk, Ayah spontan menoleh. Tatapannya tak sengaja jatuh pada celah tipis di kerah piyama Raisha, menangkap sekilas lekuk dada yang tersembunyi di baliknya. Ayah mengambil cangkir itu perlahan. Untuk sepersekian detik, matanya terpaku pada sosok Raisha yang berdiri sangat dekat. Ada bayangan samar di wajah Ayah; campuran antara terkejut, bingung, dan ekspresi lain yang sulit diuraikan.

​"Makasih," suara Ayah terdengar lebih rendah dari biasanya.

​Raisha tersenyum tipis. "Aku ke dapur lagi ya, mau isi air termos."

​Ia mundur perlahan, namun tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Raisha berbalik dan menoleh pada Ayah sembari menahan senyum. Jari-jemarinya perlahan menyentuh bibir bawah, menggigitnya sekilas dengan tatapan mata yang terasa mengundang. Barulah ia menutup pintu, meninggalkan Ayah dalam keheningan yang tiba-tiba terasa kacau.


Ayah masih memegang cangkir kopi yang baru saja diserahkan Raisha. Kehangatan minuman itu terasa kontras dengan kekacauan yang tiba-tiba menyerbu benaknya. Buku yang tadi dipegangnya kini terasa asing dan berat. Sejak kapan ia kehilangan fokus sebegitu mudah?

​Ia menarik napas panjang, aroma kopi bercampur dengan aroma lembut sabun dari kamar mandi yang terbawa oleh kehadiran putrinya. Namun, yang paling mengganggu bukanlah aroma, melainkan bayangan yang terekam sepersekian detik di retina matanya: kerah piyama yang terbuka, kelalaian lembut yang memperlihatkan siluet yang selama ini ia anggap tabu.

​Kemudian, ada gairah yang membara dalam mata Raisha saat ia menggigit bibirnya di ambang pintu. Tatapan itu bukan sekadar kenakalan seorang anak yang menggoda Ayah. Itu adalah undangan. sinyal yang begitu jelas, memecahkan batas-batas kesadaran yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah.

​Batinnya bergejolak, mendesis liar: Sudah lama, batinnya mengakui, sejak ia merasakan keinginan yang begitu membakar untuk seorang wanita. Tapi ini Raisha. Putri bungsunya. Namun, di tempat sunyi ini, jauh dari hiruk pikuk rumah, ia hanyalah seorang perempuan yang berdiri di sana, tanpa perlindungan, menanti.

​Ia memejamkan mata. Jantungnya berdentum kencang. Pikiran ini terasa keliru, dosa, namun sungguh memikat. Vila ini terlalu sepi, hanya ada mereka berdua. Tidak ada tembok, tidak ada saksi.

Ini adalah momennya, bisikan itu semakin kuat. Kesempatan yang telah lama ditunggu, untuk mencumbu Raisha, untuk merasakan kehangatan yang tak terucapkan di balik tatapan matanya yang provokatif. Tidak ada yang akan tahu.

​Ayah perlahan meletakkan cangkir itu di meja. Ia bangkit dari kursi, melangkah menuju pintu. Tujuannya hanya satu: lorong temaram tempat Raisha berdiri diam, menunggu, membiarkan takdir mengambil alih.

Ayah bangkit dari kursi, langkahnya mantap, tanpa keraguan yang berarti. Ia tidak lagi memikirkan buku, kopi, atau etika. Yang ada hanyalah dorongan primal, dipicu oleh bayangan dan tatapan yang baru saja ia saksikan. Ia meraih kenop pintu dan memutarnya, keluar dari kamar.

​Lorong itu gelap, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram yang memantulkan bayangan panjang. Raisha masih berdiri di sana, seperti yang ia duga. Punggungnya bersandar pada dinding kayu, kepala sedikit mendongak, seolah menikmati keheningan yang mencekik.

​Ayah melangkah pelan mendekatinya. Setiap langkah terasa berat, namun tak terhindarkan. Ketika jarak mereka hanya tinggal sejengkal, Raisha membuka matanya, menatap lurus ke arah Ayah. Tidak ada kejutan, hanya penerimaan yang tenang.

“Mau ngapain, Pah?” tanya Raisha pelan, suaranya nyaris berbisik.

​Ayah tidak menjawab. Ia mengangkat tangan, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Raisha, membelai pelan. Ia menatap dalam ke mata putrinya, mencari jejak penolakan. Ia tak menemukannya. Yang ada hanyalah pantulan api yang sama.

“Kamu masih di sini,” bisik Ayah, suaranya serak.

​Raisha tersenyum tipis, sorot matanya tajam. “Gue tahu kok, Lo bakalan keluar.”

​Mendengar kata ganti 'Gue-Lo' yang tiba-tiba digunakan Raisha untuknya, Ayah merasakan sensasi aneh, perasaan terlarang yang justru membebaskan.

​Tanpa berkata apa-apa lagi, Ayah menundukkan kepala. Ia mempertemukan dahi mereka, merasakan napas Raisha yang hangat menerpa wajahnya. Raisha menutup mata, menanggapi keintiman yang terlarang itu dengan keheningan. Ayah merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia tak bisa menahannya lagi.

​Ayah memegang wajah Raisha dengan kedua tangan, lalu mencondongkan tubuhnya. Ciuman pertama itu lembut, terasa ragu, namun sarat kerinduan yang terpendam lama. Raisha membalasnya, dengan cepat mengubah kelembutan itu menjadi tuntutan yang liar. Tangan Raisha segera melingkari leher Ayah, menariknya agar semakin dekat, seolah ingin memastikan Ayah tidak akan kembali mundur.

​Di lorong sepi vila itu, di tengah kegelapan yang hanya ditemani suara jangkrik, batas-batas kesadaran mereka runtuh.


Ciuman itu terlepas. Raisha menarik diri sedikit, memutus kontak yang memabukkan itu hanya untuk sepersekian detik. Wajahnya memerah, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.

“Jangan di sini, Pah,” bisik Raisha, suaranya tercekat namun penuh perintah. “Nanti ada yang liat.”

​Ayah terdiam. Matanya masih tampak gelap oleh gejolak yang baru saja ia rasakan.

​Raisha tak menunggu jawaban. Ia meraih tangan Ayah, menggenggamnya erat, seolah tak ingin memberinya kesempatan untuk berpikir atau menolak. Ia berbalik, menuntun Ayah melangkah mundur, perlahan menuju kamar yang tadi ia tempati.

​Mereka memasuki kamar Raisha. Udara di dalam kamar terasa lebih dingin, diselimuti bayangan yang samar. Raisha mendorong pintu kamar hingga tertutup sepenuhnya. Suara kenop pintu yang terkunci terdengar nyaring, memecah keheningan, dan sekaligus menjadi penanda bahwa segala keraguan telah ditinggalkan di luar.

​Ayah memandang sekeliling, kemudian pandangannya kembali tertuju pada Raisha yang kini berdiri mematung di depannya. Di bawah cahaya rembulan yang samar menembus jendela, sosok Raisha dalam balutan piyama putih tipis tampak begitu rapuh, sekaligus mengundang.

“Kita beneran di sini, Pah. Berdua,” ucap Raisha, suaranya kini kembali pelan, namun nadanya terdengar seperti sebuah penegasan.

​Ayah melangkah mendekat, perlahan meraih pinggang Raisha, menarik tubuh putrinya hingga menempel rapat di tubuhnya. Ia menunduk, mencium kening Raisha dengan kelembutan yang kontras dengan hasrat membara di benaknya.

“Iya, Nak. Berdua,” jawab Ayah, membenamkan wajahnya di antara rambut Raisha yang masih lembap.

​Ia menyadari, di tempat yang sunyi ini, di bawah bayangan vila tua yang menyimpan banyak kenangan, mereka bukan lagi Ayah dan anak. Mereka adalah dua orang dewasa yang saling merindukan kehangatan terlarang.


Ayah memeluknya erat, membenamkan wajahnya di antara rambut Raisha, namun momen keintiman itu tiba-tiba terputus.

Raisha secara spontan mendorong tubuh Ayah dengan kedua tangannya. Dorongan itu cukup kuat hingga Ayah kehilangan keseimbangan dan terjatuh telentang di atas kasur. Ia sempat terkejut, namun matanya langsung tertuju pada Raisha yang masih berdiri di depannya, menaunginya.

Dalam bayangan temaram kamar itu, Raisha memulai gerakan yang disengaja. Jemarinya yang ramping menyentuh kancing piyama putihnya, melepaskannya satu per satu dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan. Setiap kancing yang terbuka seolah menghilangkan satu lapis pertahanan yang tersisa.

Piyama itu akhirnya meregang. Di balik celah kain, tampak jelas lekukan bra berwarna hitam yang membungkus tubuh bagian atasnya. Raisha mendongak, matanya menatap tajam ke arah Ayah yang terbaring di bawahnya. Sambil menahan senyum tipis, ia perlahan menggigit bibir bawahnya, sebuah gestur provokatif yang secara eksplisit mengundang.

Ayah tertegun. Pandangannya terpaku pada pemandangan di hadapannya. Ia tidak bisa mengalihkan mata. Melihat putrinya berdiri di sana, dengan pakaian yang terbuka, penuh kesadaran dan daya pikat, reaksi fisik Ayah tak bisa dibendung. Darah berdesir kencang, dan dalam sepersekian detik, gairah yang terlarang itu merespons dengan keras.

Ya Tuhan, bisik batin Ayah. Ia tahu persis apa yang dia lakukan.

Ayah kini menatapnya bukan sebagai anak bungsu yang polos, melainkan sebagai sosok perempuan yang berani menantang.

“Mau sampai kapan Lo di situ, Pah?” tanya Raisha, suaranya kini terdengar menggoda, seolah menantang Ayah untuk mengambil langkah selanjutnya.

Ayah tidak bisa menahannya lagi. Ia mengulurkan tangan, meraih pinggang Raisha, dan menariknya turun ke atas tubuhnya, kehangatan yang mendesak itu segera menyelimuti mereka berdua.


Ayah tidak menunggu lagi. Ia mengulurkan tangan, meraih pinggang Raisha, dan menarik tubuh putrinya hingga jatuh menindihnya di atas kasur. Sentuhan itu terasa cepat, kasar, dipenuhi desakan hasrat yang tak lagi bisa dikendalikan.

Raisha terengah, namun ia menyambut tarikan itu tanpa protes. Wajahnya yang memerah berada sangat dekat di atas wajah Ayah. Di antara napas mereka yang memburu, Raisha menunduk, mencari bibir Ayah kembali. Kali ini ciuman mereka bukan lagi sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan yang mendesak, penuh gairah yang terpendam.

Tangan Ayah bergerak cepat, menyelipkan jemarinya ke balik piyama Raisha yang sudah terbuka, meremas pinggang dan punggungnya. Raisha mendesah pelan, suara yang tertahan di tengah ciuman mereka.

Raisha kemudian bangkit sedikit, menahan berat tubuhnya dengan kedua lengan. Ia menatap Ayah sejenak, tatapan penuh kobaran api. Piyama putih itu kini dibuka sepenuhnya, hanya menyisakan bra hitam dan celana pendeknya.

"Kenapa diem aja, Pah? Lo mau Gue buka sendiri?" tanya Raisha, nadanya bercampur antara tantangan dan godaan.

Ayah tersentak, hasrat yang membakar segera menggantikan keterkejutan itu. Ia tahu ini bukan lagi waktunya untuk basa-basi atau keraguan.

"Jangan anggap gue Papah sekarang," bisik Ayah, suaranya dalam dan serak, nadanya tegas, meruntuhkan peran yang selama ini ia sandang.

Pernyataan itu adalah pemantik terakhir. Ayah segera membalikkan posisi, kini ia yang menaungi Raisha. Ia tidak lagi peduli dengan batasan, moral, atau siapa mereka sebelumnya. Yang ada hanyalah Ayah dan Raisha, dua jiwa yang tenggelam dalam kehangatan malam di vila sunyi itu.


Ayah membalikkan posisi, tubuhnya kini mendominasi Raisha. Tak ada lagi kelembutan; kehangatan yang mereka cari telah berubah menjadi kebutuhan yang mendesak dan brutal.

Tanpa jeda, Ayah mencium Raisha lagi. Ciuman itu kasar, menuntut, dipenuhi gairah yang lama terpendam dan kini meledak tak terkendali. Ia meraup bibir Raisha, tangannya menarik piyama putih yang sudah terlepas, melemparnya ke lantai kamar.

Raisha mengerang di sela ciuman mereka. Tangannya mencengkeram erat bahu Ayah, merasakan tegangan otot di sana. Ayah tidak memberi kesempatan bagi Raisha untuk mengatur napas. Jari-jemarinya segera bergerak ke punggung Raisha, mencari pengait bra hitam. Dengan satu sentakan, bra itu terlepas dan ditarik kasar, ikut menyusul piyama di lantai.

Ayah menatap sebentar. Di bawah cahaya rembulan yang tembus, dada Raisha yang telanjang terlihat jelas, memancarkan kecantikan yang terlarang. Ia segera menunduk, mencium leher Raisha, kemudian turun menuju dadanya, memberikan tanda-tanda kepemilikan yang terburu-buru.

"Sakit, Pah," desah Raisha, suaranya tercekik, lebih karena kenikmatan yang menyakitkan daripada rasa sakit yang sebenarnya.

Mendengar desahan itu, Ayah semakin liar. Ia memindahkan fokusnya ke pinggang Raisha, menarik celana pendeknya hingga terlepas dari tubuhnya.

"Gue suka Lo kayak gini," bisik Ayah, napasnya panas, bergesekan dengan kulit leher Raisha.

Raisha menarik rambut Ayah, memaksanya menatap matanya. "Gue juga suka, Pah. Jangan berhenti."

Permintaan itu adalah izin yang tak terbantahkan. Ayah segera melepaskan semua sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya sendiri. Ia kemudian kembali menindih Raisha, membenamkan dirinya dalam kehangatan yang telah lama ia idamkan.

Ranjang di vila sunyi itu berderit, menjadi saksi bisu peleburan batas terlarang, dipimpin oleh kekuatan hasrat yang mendominasi dan tak terpuaskan.

 

membebaskan diri dari semua penghalang, ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Raisha. Keduanya saling memandang sejenak, tatapan mata yang penuh api dan janji terlarang.

Raisha melingkarkan kakinya di pinggang Ayah, gestur penuh penerimaan dan dorongan. Ayah mengerti. Tanpa ragu, ia membenamkan dirinya.

Raisha menjerit tertahan, perpaduan antara kejutan dan kenikmatan yang luar biasa. Ia mencengkeram sprei kasur dengan erat, merasakan sensasi yang begitu kuat, asing, namun sudah lama dinantikannya.

Ayah mulai bergerak. Awalnya lambat, seolah mengecap setiap inchi kehangatan yang ia dapatkan. Namun, ritme itu segera berubah. Dorongan hasrat yang menumpuk selama bertahun-tahun kini meledak menjadi gerakan yang cepat, brutal, dan tak terelakkan.

"Oh, shit... Lo gila, Pah," desah Raisha, suaranya kini putus-putus dan tercekat.

Ayah membungkuk, wajahnya tenggelam di leher Raisha, menghirup aroma kulitnya. Ia tidak menjawab, hanya menggencet pinggang Raisha dengan genggaman tangannya yang kuat, menyesuaikan ritme demi intensitas yang lebih tinggi.

Ia menggenjot Raisha dengan dorongan yang dalam dan dominan, seakan ingin mematri batas-batas kesadaran mereka. Kasur berderit kencang seiring dengan gerakan ritmis dan kasar yang mereka ciptakan. Desahan Raisha berubah menjadi rintihan kepuasan, memanggil nama Ayah yang kini terasa seperti sebuah mantra terlarang.

"Lebih cepat, Pah! Lebih keras!" Raisha memohon, suaranya nyaris hilang.

Permintaan itu seperti bahan bakar. Ayah mengikutinya, membawa keduanya ke dalam pusaran gairah yang menghapus segalanya—peran, nama, moral, semua melebur dalam ritme yang memabukkan dan tak tertahankan. Malam itu, di vila sunyi tepi danau, mereka mencapai puncak pelepasan yang penuh dosa dan kenikmatan.


Ayah mempercepat dorongannya. Gerakan mereka kini telah mencapai frekuensi yang tak terkendali, menghadirkan hentakan yang kuat dan terus menerus. Suara decitan ranjang menjadi latar dari ritme yang memabukkan dan brutal.

Raisha mencengkeram erat bahu Ayah, merasakan setiap goncangan yang menghantam tubuhnya. Desahan dan rintihan Raisha tak lagi tertahan, menjadi melodi tunggal yang memecah kesunyian malam. Ayah membenamkan wajahnya di leher Raisha, membisikkan kata-kata yang hilang ditelan oleh napas yang memburu.

Ia menggempur Raisha tanpa henti, dengan kekuatan dan kecepatan yang didorong oleh gairah terlarang yang membakar. Sensasi itu begitu kuat, begitu kasar, hingga batas antara rasa sakit dan kenikmatan telah hilang. Mereka berdua tenggelam sepenuhnya dalam pusaran itu, di mana identitas dan peran mereka tak lagi berarti.

Ayah merasakan energi di tubuhnya memuncak, mencapai titik didih yang tak terhindarkan. Raisha, di bawahnya, juga mencapai ujung batasnya, tubuhnya menegang dan melengkung, menyerukan nama Ayah dalam erangan panjang yang penuh pelepasan.

Pada detik-detik akhir, Ayah menahan Raisha kuat-kuat, membenamkan dirinya untuk yang terakhir kalinya, melepaskan semua hasrat yang tertahan. Getaran hebat itu menjalar ke seluruh tubuh Raisha, membuat keduanya terdiam, terengah, namun terasa terhubung dalam keheningan yang penuh dosa.



Ayah roboh di atas tubuh Raisha. Napas keduanya memburu, bersahutan dengan detak jantung yang masih berdentum kencang. Keheningan tiba-tiba kembali, namun kali ini terasa berat, dipenuhi sisa-sisa gairah yang baru saja melanda.

Ayah mengangkat tubuhnya sedikit, menyandarkan beratnya pada lengan, membiarkan dirinya menatap Raisha. Ia melihat wajah Raisha yang masih memerah, mata yang terpejam, dan bibir yang sedikit bengkak.

Meskipun Ayah baru saja mencapai pelepasan, melihat Raisha di bawahnya, telanjang dan kelelahan, memicu gairah yang belum sepenuhnya padam. Ayah merasakan tubuhnya menegang kembali. Kejadian ini terasa nyata, dan ia tidak bisa memungkiri desakan yang muncul lagi.

Tiba-tiba, mata Raisha 

terbuka. Ia menatap Ayah dengan pandangan tajam, tak ada lagi kelelahan di sana, hanya tuntutan.

“Apa Lo liat-liat, Pah? Masih mau lagi?!” seru Raisha, suaranya lantang dan keras, memecah keheningan kamar.

Ayah tersentak, tidak menyangka Raisha akan bersuara sekeras itu. Ia menunduk, mencoba membaca ekspresi Raisha, namun yang ia lihat hanya kobaran api.

“Tidur sekarang, atau Gue yang bakal mainin Lo sampai pagi! Lo udah tau kan, Gue nggak akan mundur lagi,” ancam Raisha, nadanya penuh dominasi.

Ayah terdiam. Ia merasakan dominasi Raisha dalam kata-kata itu. Ia sadar, ini bukan hanya tentang dirinya; Raisha telah mengambil kendali penuh atas situasi terlarang ini. Ayah perlahan menyunggingkan senyum, senyum pasrah yang penuh gairah.

"Gila kamu, Nak," bisik Ayah, nadanya mengandung campuran takjub dan hasrat yang tak terhindarkan.


​Fajar menyingsing perlahan. Cahaya pagi yang pucat menembus tirai jendela, menyinari kamar yang semalam menjadi saksi bisu. Udara dingin khas tepi danau menyusup, namun di dalam kamar, kehangatan tubuh Raisha dan Ayah masih terasa samar.

​Ayah terbangun lebih dulu. Ia merasakan lengan Raisha melingkar erat di pinggangnya. Ia perlahan memiringkan badan, menatap wajah putrinya yang tertidur pulas. Piyama putih yang tadi dikenakan Raisha kini teronggok di sudut kamar, bersama pakaiannya sendiri.

​Ia merasakan perpaduan aneh antara rasa bersalah yang tajam dan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia membelai rambut Raisha, memastikan ia masih bernapas dan nyata. Kejadian semalam terasa seperti mimpi demam yang intens.

​Tak lama kemudian, Raisha bergerak. Matanya terbuka perlahan, lalu ia menatap Ayah yang ada di sebelahnya. Tidak ada rasa malu, kaget, atau penyesalan yang terlihat di wajahnya. Hanya ada ketenangan yang mengejutkan.

“udah bangun, Pah?” tanya Raisha, suaranya serak dan khas bangun tidur.

​Ayah menarik napas dalam. “Udah. Tidur kamu nyenyak?”

​Raisha tersenyum tipis. Ia menarik tangannya dari pinggang Ayah, lalu menelungkupkan badan, menatap Ayah dengan kedua tangannya menopang dagu.

“Nyenyak banget. nggak pergi sampai pagi, kan?”

​Ayah merasa tenggorokannya tercekat. Ia meraih tangan Raisha, menggenggamnya erat. “papa nggak akan pergi.”

​Keheningan melingkupi mereka, bukan lagi keheningan yang tegang, melainkan keheningan yang familiar keheningan setelah sebuah rahasia besar dibagikan.

​Raisha kemudian bangkit, tanpa peduli dengan ketelanjangan mereka. Ia menggapai kaus Ayah yang terlempar di lantai.

“laper. Bikin kopi lagi, yuk?,” ujar Raisha santai, seolah baru saja meminta Ayah membawakan sarapan.

​Ayah menatap punggung telanjang Raisha yang kini berjalan menuju kamar mandi. 

Backup menyambut leo

 


Di tengah keheningan malam yang menyelimuti kota, jarum jam telah melewati pukul satu dini hari ketika Olla, member JKT48, melangkah pelan memasuki rumahnya. Tubuhnya masih dibalut rasa lelah setelah sesi latihan panjang dan pertunjukan teater yang baru berakhir sekitar pukul sebelas. Riasan tipis di wajahnya mulai memudar; eyeliner menghitam samar di sudut mata, sementara lipstik yang tersisa hanya menjadi noda lembut di bibirnya. Daster hijau emerald berbahan tipis dan ringan membungkus tubuhnya dengan nyaman, selaras dengan sunyi malam yang memeluk seisi rumah.

Suasana rumah terasa jauh lebih hening dari biasanya. Asisten rumah tangga sedang pulang kampung, sementara Amel, adik bungsunya, tengah mengikuti kegiatan camping sekolah. Malam itu, Olla benar-benar sendirian.


Ketukan halus tiba-tiba memecah kesunyian ruang tamu. Olla mengernyit, lalu melangkah perlahan menuju pintu. Saat daun pintu dibuka, sosok yang sangat dikenalnya berdiri di sana.

Bermanleo tersenyum tipis. Kulitnya tampak sedikit lebih gelap dibanding terakhir kali Olla melihatnya, mungkin karena terlalu sering bekerja di luar ruangan. Jaket lusuh menempel di tubuhnya, dan ransel besar tergantung di bahunya.

“Lho?” Olla terkejut, matanya membesar. “Kukira maling. Datang tengah malam banget, Bang!”

Leo terkekeh pelan sambil mengusap rambut adiknya yang berantakan. Olla memeluknya singkat, lalu menutup pintu di belakang mereka.

“Tumben pulang malam. Biasanya datang pagi biar nggak ribet. Kenapa sekarang?” tanya Olla sambil memungguti bekas glitter di lengannya.

“Kerjaan kelar lebih cepat. Jadi ya… langsung cabut aja,” jawab Leo sambil menurunkan tasnya dengan suara berdebam.

“Amel mana?” Ia menatap sekeliling, seolah mencari sosok lain di rumah.

“Camping. Besok baru pulang,” jawab Olla sambil menyandarkan tubuh di dinding. “Jadi malam ini cuma gue. Sepi banget rumah.”

Pandangan Leo bergerak tanpa banyak usaha untuk disamarkan. Daster yang dikenakan Olla jatuh ringan di tubuhnya, terlalu tipis untuk sekadar disebut pakaian rumahan biasa. Garis bahu, pinggang, sampai lekuk tubuhnya terbaca jelas kalau diperhatikan lebih lama. Cahaya lampu ruang tamu yang redup justru membuat semuanya terasa lebih terbuka, lebih dekat.

Olla sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian. Ia bisa merasakannya tanpa perlu menoleh. Namun ia tak buru-buru menjauh. Punggungnya tetap bersandar di dinding, mencoba bertahan dengan sikap santai, walau tubuhnya terasa sedikit goyah setelah hari yang panjang.

Keheningan di antara mereka mendadak berubah. Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang menunggu sesuatu terjadi.


“Lo haus, Bang?” tanyanya pelan. Suaranya agak serak, lebih karena lelah daripada hal lain.

Leo masih diam. 
Matanya tak langsung menjawab, tapi rahangnya mengeras sedikit, seolah ia sedang memilih sikap. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Ia melangkah maju. Pelan, tapi pasti. Satu langkah, lalu berhenti sebentar. Dua langkah, jaraknya kini cukup dekat untuk membuat Olla sadar betul akan keberadaannya.

“Nggak, bukan haus,” bisik Leo. Tangannya yang kasar bergerak pelan, menyusuri pipi adiknya, seperti orang yang baru nemu tempat pulang setelah hari panjang.

Olla mengalihkan pandangan. Dadanya naik turun mengikuti napas Leo yang berat dan tidak teratur. “Lo capek, ya?” ucapnya pelan. Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, “Capek banget, kan.”

Leo menarik napas dalam-dalam, seolah dadanya terlalu sempit buat semua yang ia simpan. Suaranya turun, agak serak. “Iya. Capek. Gue butuh lo.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, lebih jujur dari yang ia rencanakan.

“Makanya gue buru-buru pulang. Gue cuma pengin ada di sini. Sama lo.”

Olla tidak menjawab. Ia hanya mendekat, membiarkan Leo bersandar.

“Temenin abang malam ini,” kata Leo pelan. “Itu aja udah cukup buat ngisi ulang tenaga gue.”


Sunyi mengisi ruang di antara mereka."Ngomong-ngomong, cantik banget kali kau ini, Lla," suara Leo pelan, berat dan penuh arti. "Capek-capek begini, tetap aja mata abang nggak bisa ngedip liat lo."Olla tersenyum tipis, lalu dengan santai mengibas tangan di hadapan wajahnya. "Ih, lebay banget abang. Itu bekas make-up teater, belum gue hapus."

"Tapi gue serius, Lla," bisik Leo, nada suaranya penuh kegelisahan, seperti menahan rasa yang lama terpendam di dada. "Dua bulan setiap malam di sana, yang kebayang cuma lo. Lo terus, Lo mulu. Bah, kangen gue parah sama lo."Lembut, Olla membalas bisikan itu, nyaris tak terdengar, "Lo sebenernya mau apa, Bang?"

Leo menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan nyali yang selama ini tersembunyi. Matanya tak lepas dari Olla, penuh harap tapi juga ragu."Kau tahu kan, Lla?" suaranya menurun jadi sangat rendah. "Gue cuma butuh lo. Lo satu-satunya yang bisa ngasih gue energi buat hari esok. Biar semangat lagi." Ia mengangkat dagu Olla, memaksa dia menatap matanya. "Malam ini, abang minta tolong banget, ya, dek?"

Olla menelan ludah, pipinya memerah. Ia enggan menatap mata Leo, hanya fokus pada kerah jaket lusuh abangnya.

Permintaan itu bukan hal baru bagi Olla. Sudah sering terdengar, bahkan lebih dari sekadar kata-kata biasa. Leo bukan hanya abang baginya, dia adalah tiang penyangga, pelindung yang setia, tulang punggung keluarga yang tak pernah lelah berkorban. Keringat dan jerih payahnya, mimpi-mimpinya yang tak pernah ia ucapkan, semua diberikan untuk Olla dan Amel.

Namun, di balik ketegaran itu, ada beban berat yang terus membebani hati Leo. Beban yang tak terlihat dan sengaja disimpan rapat, yang mencari jalan keluar dengan cara yang tak pernah bisa ia ungkapkan secara langsung. Sesuatu yang bisa memberikan kekuatan, meski hanya sesaat, semacam pelarian dari semua penat dan lelah.

Olla menyimpan rasa utang yang tak bisa dibayar hanya dengan ucapan terima kasih atau kasih sayang biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, rumit, dan tak mudah diungkapkan. Kadang, dukungan yang Leo pinta terasa aneh, sulit dimengerti, bahkan tabu. Namun selama ini mereka memilih untuk tidak membicarakannya. Mereka berdua sudah terbiasa dengan ritme yang tak biasa itu; sebuah hubungan penuh rahasia, keanehan, tapi juga kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

"Olla menelan ludah, jantung berdegup kencang. Ia tahu arti permintaan itu, tahu risiko yang mereka hadapi, tapi dalam keheningan malam itu, ia memilih merangkul beban Leo, meski dengan cara yang terlalu dalam dan sulit untuk dijelaskan.

Dalam diam, mereka berbagi sesuatu yang tidak bisa diucapkan secara terbuka. Sebuah ikatan yang mengikat mereka dalam tabir rahasia, yang meski tabu, tak terpisahkan dari kenyataan hidup mereka.

Back-up adel Sentinel

 

​SENTINEL: THE HIDDEN SHIFT

Bab 1: Midnight Drive

Malam itu Jakarta masih menyisakan panas yang tertahan di aspal. Udara lembap membuat kaca mobil sedikit berembun dari dalam. Sebuah Mazda merah gelap melaju pelan menyusuri kawasan Duren Sawit yang mulai lengang. Hanya beberapa motor dan truk logistik yang melintas dengan jarak berjauhan.

Di balik kemudi, Reva Fidela, yang lebih dikenal sebagai Adel, menyandarkan punggungnya sejenak. Syuting sejak pagi, lanjut rapat konsep proyek berikutnya, ditambah sesi reading dadakan membuat pelipisnya berdenyut halus. Ia menghela napas panjang sambil melirik dashboard.

Kamera mirrorless-nya tertinggal di Sentinel.

Bukan sekadar kamera. Di dalamnya ada rekaman behind the scene yang harus dikirim ke editor malam ini. Jika tertunda, jadwal rilis konten besok bisa ikut berantakan.

Mazda itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan bangunan berlantai dua dengan papan neon bertuliskan Sentinel Cyber Arena. Lampu utama sudah padam. Hanya cahaya redup dari dalam yang tersisa, cukup untuk menandakan listrik belum sepenuhnya dimatikan.

“Untung masih searah,” gumamnya pelan.

Ia mematikan mesin, mengambil tas kecilnya, lalu keluar dari mobil. Udara malam langsung menyentuh kulitnya yang masih terasa hangat setelah seharian beraktivitas. Tanktop putih yang ia kenakan sedikit lembap di bagian punggung. Ia merapikannya cepat, menarik bahunya yang pegal, lalu membenahi tali pakaian dalam yang sempat bergeser karena gerakannya tadi. Gerakan kecil, refleks, nyaris tanpa pikir panjang.

Langkahnya terdengar jelas di trotoar yang sepi.

Duren Sawit terasa berbeda setelah lewat tengah malam. Terlalu sunyi untuk ukuran Jakarta.

Dengan kunci cadangan di tangan, Adel membuka pintu kaca Sentinel perlahan. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang menggema lebih keras dari seharusnya.

Gelap menyambutnya.

Hanya satu lampu di sudut ruangan yang masih menyala, berkedip sesekali seperti kehabisan tenaga.

Adel berhenti sejenak di ambang pintu.

Ia yakin tadi semua lampu sudah dimatikan.

Bab 2: Pertemuan di Balik Monitor

Suasana di dalam Sentinel nyaris tak bersuara. Hanya dengung stabil dari kipas CPU dan hembusan AC ruang server yang terdengar seperti napas panjang bangunan itu sendiri. Cahaya minim, sekadar pantulan lampu indikator biru dan merah dari barisan komputer yang tertidur.

Adel melangkah ke arah meja admin area VIP. Suara sepatunya terdengar jelas di lantai vinyl.

Ia berhenti saat melihat satu monitor masih menyala di meja utama.

“Gila. Jam segini masih belum kelar juga?” celetuknya. “Sentinel nggak bakal kabur kok kalau lo pulang.”

Dari bawah meja, Aldo tersentak.

Kepalanya hampir membentur sisi meja karena refleks berdiri terlalu cepat. Ia sedang berlutut, satu tangan menjangkau kabel server yang terselip jauh di belakang panel. Jersey Barcelona miliknya tergeletak di kursi gaming. Punggungnya basah oleh keringat setelah hampir satu jam utak-atik sambungan.

“Lah, Rev?” Aldo mendongak. “Ngagetin aja. Lo ngapain ke sini?”

“Kamera gue ketinggalan,” jawab Adel sambil meletakkan tasnya. “Ada file yang harus gue kirim malam ini.”

Tanpa menunggu Aldo bergeser, Adel langsung membungkuk dalam di depan meja itu untuk meraba-raba laci bawah yang posisinya tepat di hadapan Aldo yang masih jongkok. Karena posisi meja yang rendah, Adel terpaksa nunduk sangat dalam sampai wajahnya hampir sejajar dengan Aldo.

​Karena Aldo berada di posisi bawah, ia mendapatkan sudut pandang yang sangat gamblang. Dari jarak yang hanya puluhan centimeter, Aldo bisa melihat dengan jelas bagaimana tanktop putih tipis itu meregang maksimal karena posisi nunduk Adel, mengikuti lekuk dada adiknya yang naik-turun karena napas yang lelah.

​Tali bra hitam bertuliskan "Victoria’s Secret" itu tampak begitu kontras di atas kulit putih Adel yang berkilau karena peluh. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma keringat hangat dari tubuh Adel tiba-tiba menyerang indra penciuman Aldo dengan kuat. Dalam posisi sedekat itu, Aldo bisa melihat setiap detail bulir keringat yang mengalir di belahan dada Adel yang terekspos jelas.

​Aldo terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia yang biasanya melihat Adel sebagai adik yang usil dan berisik, malam itu seolah dipaksa melihat kenyataan lain yang jauh lebih provokatif.

​Bab 3: Basa-basi Tengah Malam

​Adel mengembuskan napas panjang setelah berhasil mengamankan kameranya dari laci meja admin. Bukannya langsung pamit, ia justru melangkah menuju kulkas minuman yang ada di sudut area VIP.

​"Do, gue ambil satu ya? Haus banget asli, tenggorokan gue berasa kayak di padang pasir," seru Adel tanpa menunggu jawaban.

​Ia mengambil sebotol air mineral dingin, membukanya, dan meminumnya dengan rakus. Beberapa tetes air tumpah dari sudut bibirnya, mengalir melewati dagu dan jatuh ke area tulang selangkanya, membasahi kain putih tank top-nya yang sudah lembap.

​Aldo yang baru saja berdiri dari bawah meja, menyandarkan pinggangnya di pinggiran meja admin. Ia mengambil handuk kecil yang tersampir di kursinya dan mulai menyeka keringat di leher dan dadanya yang telanjang. "Pelan-pelan kali, Rev. Kayak nggak ketemu air setahun aja lo."

​Adel duduk di salah satu kursi gaming yang empuk, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata sejenak menikmati dinginnya botol air mineral di pipinya. "Lo nggak tau aja tadi lokasinya kayak apa. AC mati, lampu syuting di mana-mana. Gue berasa dipanggang, Do. Mana adegannya harus diulang-ulang terus gara-gara lawan main gue nggak fokus."

​"Ya risiko jadi artis," sahut Aldo pendek. Ia memperhatikan adiknya dari atas ke bawah. "Tapi emang lo nggak ada baju lain apa? Syuting cuma modal tank top doang? Pantesan lo keringetan parah gitu."

​Adel membuka matanya, lalu melirik bajunya sendiri. "Ini tuh inner, Do. Tadi harusnya pakai jaket lagi buat adegannya, tapi pas udah selesai ya langsung gue lepas lah. Gila aja kalau gue pakai jaket terus di cuaca kayak gini."

​Adel berdiri, berjalan mendekat ke arah Aldo yang masih berdiri di dekat meja admin. Ia berdiri tepat di bawah hembusan AC central yang ada di atas meja tersebut, sambil menarik-narik bagian depan tank top-nya agar angin bisa masuk ke dalam.

​"Duh, mendingan dikit," gumam Adel lega.

​Bab 4: Sinyal yang Terganggu 

​Aldo berdehem keras, berusaha mengusir kecanggungan yang mulai menyumbat kerongkongannya. Ia meraih jersey Barca yang tadi tergeletak di kursi dan mulai memakainya. Gerakan lengannya yang kekar saat masuk ke dalam lubang kaos membuat otot-otot dada dan perutnya yang berkeringat terlihat menonjol dengan jelas.

​Adel yang masih berdiri di bawah hembusan AC, tanpa sadar memperhatikan gerakan abangnya. Tatapannya tertuju pada garis otot perut Aldo yang basah sebelum akhirnya tertutup kain jersey. Ada rasa kagum yang tipis di mata Adel, insting perempuan yang mengakui kalau abangnya emang punya badan atletis, meski ia segera menutupinya dengan seringai usil.

​"Udah kan ambil kameranya? Buruan balik, istirahat. Besok lo telat bangun mampus lo ditungguin kru," ujar Aldo ketus. Ia mencoba menghindar dengan cara sibuk merapikan tumpukan kabel di atas meja admin, tanpa mau menoleh sedikit pun ke arah Adel.

​Adel justru tertawa melihat reaksi Aldo yang mendadak galak. 

​"Do. Gue Baru juga duduk lima menit," ledek Adel. Ia menempelkan botol air mineral yang masih sangat dingin dan berembun itu ke lehernya yang jenjang. Embun dari botol itu mencair, menciptakan aliran air kecil yang mengalir melewati tulang selangkanya dan menghilang di balik kain tank top putihnya yang basah.

​Aldo melirik dari sudut matanya. Pemandangan aliran air di kulit adiknya itu bikin pikirannya kacau, tapi dia berusaha tetep fokus ke monitor.

​"Si Yeye nggak protes apa lo tiap malem nangkring di sini mulu?" tanya Adel santai, kali ini nadanya seperti ngeledek abangnya. "Gue aja bosen liat lo di sini terus, apalagi cewek lo. Kayak nggak ada tempat dating lain aja selain Sentinel."

​Mendengar nama pacarnya disebut dengan nada ledek, Aldo mendengus. "Dia lagi ada acara keluarga. Lagian dia juga udah paham ini kerjaan gue, nggak usah sotoy lo," jawab Aldo dengan nada yang sedikit lebih parau karena nahan diri dari jarak mereka yang makin deket.

​Adel mengangkat bahu, lalu sedikit membungkuk buat ngelihat hasil foto di kamera yang tadi dia taruh di meja, tepat di depan posisi Aldo duduk. Gerakan membungkuk ini bikin aroma parfum dan panas tubuhnya makin menguar, memenuhi ruang pribadi Aldo.

​"Terserah deh. Tapi kalau lo jomblo lagi gara-gara lebih sayang kabel daripada cewek, jangan nangis ke gue ya," ucap Adel sambil menoleh ke arah Aldo, nyengir lebar tanpa sadar kalau jarak wajah mereka sekarang cuma sejengkal.

Bab 5: Batas yang Menipis 

​Adel masih tertawa kecil setelah puas meledeki Aldo soal hubungannya dengan Yeye. Namun, tawa itu mendadak surut saat matanya menangkap sesuatu di dekat rahang abangnya. Ada noda hitam tipis di sana, mungkin bekas oli atau debu pekat dari kolong meja server yang tadi Aldo otak-atik dengan susah payah.

​"Duh, Do, ini apaan sih? Kotor banget lo habis ngolong tadi," gumam Adel tanpa pikir panjang.

​Dengan gerakan spontan, Adel mengulurkan jari-jarinya yang masih terasa dingin karena embun dari botol air mineral. Ia mulai mengusap lembut bagian rahang Aldo, mencoba menghilangkan noda tersebut. Agar bisa melihat lebih jelas di bawah cahaya monitor yang remang, Adel mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memastikan sapuan jarinya tepat sasaran. Jarak mereka terpangkas habis dalam sekejap.

​Aroma maskulin yang panas dari tubuh Aldo, bercampur dengan aroma keringat yang lembap, mendadak menyerbu indra penciuman Adel. Ia sedikit tertegun. Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa kerasnya garis rahang kakaknya dan betapa berat napas yang keluar dari hidung Aldo.

​Saat itulah, Aldo yang sejak tadi diam membeku, mulai menatap langsung ke dalam mata Adel. Ia tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya memberikan tatapan yang begitu gelap dan berat, seolah sedang mengunci seluruh kesadaran Adel di tempat itu juga.

​Adel menyadari perubahan suasana tersebut. Jari-jarinya yang tadinya bergerak lincah di rahang Aldo perlahan berhenti, namun ia tidak segera menarik tangannya. Ada rasa canggung yang mendadak melumpuhkan akal sehatnya. Ia terjebak dalam sorot mata Aldo yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Ini bukan tatapan seorang abang yang sedang kesal, melainkan tatapan seorang pria yang sedang tertahan.

​Hening menyelimuti area VIP Sentinel, hanya menyisakan suara deru mesin server yang konstan di latar belakang.

​Tangan Aldo bergerak pelan namun pasti. Jemarinya yang besar melingkar di pergelangan tangan Adel, menurunkan tangan adiknya itu dari wajahnya, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Tangan Aldo yang lain merayap naik, mencengkeram rahang Adel dengan mantap. Ibu jarinya menekan pelan di bawah dagu, memaksa wajah adiknya itu tetap mendongak dan terkunci sepenuhnya pada tatapannya yang tajam.

​Adel membeku. Logikanya berteriak keras bahwa ini adalah abang kandungnya sendiri, namun tubuhnya yang lelah seolah kehilangan kemampuan untuk memberikan perlawanan yang berarti. Sentuhan tangan Aldo di rahangnya terasa begitu panas, seolah kulit kakaknya itu sedang membakar seluruh pertahanan diri yang ia miliki. Adel hanya bisa menatap mata Aldo yang semakin mendekat, menelan ludah dengan susah payah saat merasakan hembusan napas Aldo mulai menerpa bibirnya.

​"Do, jangan ngaco lo..." bisik Adel, suaranya terdengar sangat lemah dan tidak yakin.

​Aldo tidak memberikan jawaban dengan kata-kata. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan akhirnya mempertemukan bibir mereka.

​Awalnya hanya sentuhan ragu yang menekan pelan, namun saat merasakan bibir Adel yang lembut dan sedikit basah oleh sisa air mineral tadi, Aldo tidak bisa lagi membendung ledakan yang ada di dadanya. Ia mulai mendesak lebih dalam, mencium Adel dengan penuh rasa lapar yang sudah lama ia simpan rapat-rapat di bawah sadarnya. Adel tidak langsung membalas, namun ia juga tidak memberontak. Ia hanya terdiam dalam kondisi freezing dengan mata terpejam rapat, membiarkan sensasi panas yang tabu itu menjalar ke seluruh saraf tubuhnya di tengah kegelapan Sentinel.

Bab 6: Tarik Ulur di Sentinel

Ciuman yang tadinya terasa memabukkan itu tiba-tiba terputus saat Adel berhasil mengumpulkan sisa kesadarannya. Ia menyentak kepalanya menjauh, napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang karena syok atas apa yang baru saja terjadi.

​"Stop, Do! Lo gila ya?!" desis Adel sambil mengusap bibirnya. Matanya menatap Aldo antara bingung dan marah. "Kita... kita ngapain, anjing. Lo sadar nggak sih?!"

​Aldo tidak menjawab dengan logika. Tatapannya justru jatuh ke arah dada Adel yang naik-turun cepat. "Gue nggak aneh, Rev. Gue cuma baru sadar kalau adik gue yang paling usil ini ternyata udah... sebesar ini," bisiknya parau.

​Tanpa ragu, telapak tangan Aldo mendarat tepat di dada Adel, meremas pelan kain tank top putih yang lembap itu. Sensasi itu membuat Adel tersentak hebat, antara kaget dan terhina.

PLAK!

​Suara tamparan keras menggema di ruangan Sentinel yang sunyi. Kepala Aldo terlempar ke samping. Adel bernapas memburu, tangannya yang tadi menampar masih gemetar hebat. "Jangan kurang ajar lo, Do! Inget Yeye!"

​Aldo sempat terdiam, jemarinya mengusap pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Namun, bukannya sadar, ia justru menyeringai tipis, sebuah seringai gelap yang belum pernah Adel lihat sebelumnya.

​"Yeye lagi tidur jam segini. Dan Sentinel juga udah tutup, kan? Cuma ada gue sama lo di sini, Rev," bisik Aldo.

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Adel untuk kabur, Aldo kembali merapatkan tubuhnya. Tekanan dari tubuh Aldo yang jauh lebih besar memaksa Adel mundur hingga punggungnya terbentur pinggiran meja admin.

​Adel meronta, tangannya mencoba mendorong bahu Aldo, membuat tumpukan kertas billing dan sebuah keyboard mekanik di atas meja tersenggol hingga jatuh ke lantai dengan bunyi yang nyaring. Kabel mouse tertarik tegang, hampir membuat monitor di dekat mereka ikut bergeser.

​Posisi Adel kini setengah berbaring di atas meja yang keras itu, terhimpit di antara tumpukan barang warnet dan tubuh kekar Aldo yang menindihnya sepenuhnya. Aldo mengunci ruang gerak Adel, menaruh kedua tangannya di sisi kepala Adel, mengurung adiknya itu dalam kuasa penuh.

​"Do, lepasin... Anjing!" teriak Adel parau. Ia mencoba memalingkan wajahnya saat Aldo mulai menciumi lehernya lagi dengan paksa.

​Liat ke atas! CCTV, goblok! Lepasin gue!" teriak Adel, berharap ancaman itu bakal bikin Aldo panik dan menjauh.

​Namun, Aldo sama sekali tidak menoleh. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kamera yang berkedip di pojok plafon. Matanya tetap terkunci pada wajah Adel, dengan sorot yang makin dalam dan gelap.

​"Gue nggak peduli, Rev," bisik Aldo parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri. "Biarin aja. Besok gue yang hapus rekamannya."

Pandangan Aldo turun, terpaku pada tank top putih yang meregang mengikuti napas Adel yang pendek dan cepat. Tanpa aba-aba, tangan Aldo menyusup ke bawah pinggiran tank top itu. Dengan satu gerakan kasar, ia menyibak kain tipis tersebut ke atas, disusul dengan mendorong bra hitam yang menghalangi pandangannya.

​"Do! Jangan! Anjing!" teriak Adel, tangannya berusaha menggapai tangan Aldo, tapi Aldo dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangan Adel ke atas meja admin dengan satu tangan besarnya.

​Kedua payudara Adel yang putih dan kenyal kini terekspos sepenuhnya di bawah cahaya remang monitor. Aldo terdiam sejenak, matanya seolah berpesta melihat pemandangan yang selama ini tersembunyi di balik gaya tomboy adiknya. "Gue bilang juga apa... lo udah sebesar ini, Rev," gumamnya dengan suara yang makin dalam.

​Tanpa menunggu balasan, Aldo langsung menundukkan kepalanya. Ia mulai menghisap salah satu puncak dada Adel dengan rakus.

​Adel memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya melengkung secara refleks. Ia merasakan sensasi panas dan basah yang menjalar ke seluruh sarafnya, sebuah rasa yang sangat salah tapi sangat kuat. Bibir Aldo tidak hanya menghisap, tapi juga menggigit kecil, memberikan tanda yang pasti akan membekas lama di sana.


​Mencoba mengembalikan harga dirinya sebagai adik yang "galak", Adel tiba-tiba memberikan perlawanan fisik yang biasanya manjur ia gunakan untuk menjahili Robby. Ia mencengkeram lengan bawah Aldo yang sedang memegang lehernya, lalu mencoba memelintirnya sedikit sambil menyentakkan lututnya ke arah paha Aldo.

​"Jangan ngaco, Do! Lepasin nggak!" seru Adel, berusaha memasang wajah judesnya yang paling ikonik.

​Namun, Aldo bukan Robby yang kurus dan pasrah. Aldo adalah Rivaldo Pandjoro, pria yang setiap harinya melatih otot-ototnya. Saat Adel mencoba memiting lengannya, Aldo justru tidak bergeming. Ia malah memanfaatkan momentum itu untuk semakin mengunci kedua tangan Adel ke belakang punggung gadis itu hanya dengan satu tangan kekarnya.

​"A-aldo! Sakit, bego!" ringik Adel, wajahnya kini benar-benar memerah karena emosi bercampur sensasi lain yang sulit ia jelaskan.

​Aldo tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar begitu dominan di tengah keheningan Sentinel. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Adel. "Lo pikir gue si Robby?"

​Selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya, waktu seolah berhenti di dalam Sentinel Cyber Arena. Adel hanya bisa merasakan berat tubuh Aldo, bau keringat maskulin yang menyengat, dan tangan abangnya yang terus menjelajahi lekuk tubuhnya dengan penuh rasa ingin tahu yang sudah lama terpendam.

​Ia tidak bisa melawan, tidak bisa lari, dan entah mengapa, mulutnya terkunci rapat seolah ia takut jika ia bersuara, kenyataan ini akan menjadi lebih buruk dari yang sudah terjadi.

Bab 7: Pecahnya Keheningan

​Oksigen di dalam ruangan itu terasa semakin tipis, namun sisa-sisa kekuatan Adel mulai terkumpul kembali. Sebagai perempuan yang sering melakukan adegan fisik di lokasi syuting dan memiliki dasar tubuh yang atletis, ia tidak membiarkan dirinya lumpuh lebih lama lagi. Rasa syok di kepalanya perlahan digantikan oleh luapan emosi yang membara.

​Saat Aldo sedikit melonggarkan tekanannya karena mengira Adel sudah sepenuhnya pasrah, Adel mengambil kesempatan itu. Ia menyentakkan lututnya dengan tenaga penuh ke arah pinggul Aldo, menciptakan celah yang cukup untuknya mendorong dada bidang abangnya itu dengan kedua tangan.

PLAK!

​Suara tamparan keras menggema di seluruh penjuru ruangan Sentinel, mengalahkan deru mesin server yang sejak tadi menderu. Kepala Aldo terlempar ke samping. Bekas telapak tangan Adel tercetak merah di pipinya yang berkeringat.

​Dunia seolah berhenti berputar. Aldo mematung, tangannya masih menggantung di udara, sementara napasnya memburu. Ia perlahan menoleh kembali ke arah Adel, namun sorot matanya kini bukan lagi lapar, melainkan kosong—seolah baru saja tersambar petir yang menyadarkannya dari kegilaan sesaat.

​Adel berdiri dengan napas tersengal-sengal. Ia menarik paksa tank top putihnya yang berantakan dan membetulkan tali bra Victoria's Secret di bahunya dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya berkaca-kaca karena marah dan kecewa, tapi ia menolak untuk meneteskan air mata di depan Aldo.

​"Jangan pernah... berani sentuh gue lagi kayak gitu, Do," desis Adel dengan suara yang tajam dan dingin.

​Ia menyambar kamera di atas meja dengan gerakan kasar, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkah kakinya yang cepat terdengar berat saat melintasi lantai vinyl menuju pintu keluar.

​Aldo tetap berdiri di tempatnya, bersandar pada meja admin yang masih menyimpan sisa kehangatan tubuh adiknya. Ia tidak mengejar. Ia hanya diam menatap punggung Adel yang menghilang di balik pintu kaca. Ia tahu, mulai malam ini, ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di antara mereka yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.

Bab 8: Urusan yang Belum Selesai

​Suasana di dalam Sentinel Cyber Arena kembali sunyi setelah deru mesin Mazda milik Reva menjauh. Aldo masih terpaku di posisi semula selama beberapa menit, sebelum akhirnya ia melangkah gontai menuju salah satu kursi gaming di area VIP. Ia duduk di sana, membiarkan tubuh atasnya yang telanjang tetap terekspos. Keringat yang membasahi otot-otot dada dan perutnya tampak berkilau tertimpa cahaya biru dari monitor. Ia mencoba membuka sebuah game, namun jemarinya hanya diam di atas mouse. Matanya menatap kosong ke layar yang menampilkan karakter tak bergerak.

​Sekitar dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Tiba-tiba, Aldo merasakan hembusan angin tipis saat pintu depan terbuka pelan. Ia tidak menoleh, mengira itu hanya halusinasinya. Namun, sedetik kemudian, ia merasakan sentuhan dingin di leher belakangnya. Jemari yang lentur namun tegas itu mengusap perlahan kulit lehernya, naik menuju tengkuknya.

​Aldo membeku. Ia menoleh cepat dan menemukan sosok yang sama berdiri di sana. Reva kembali. Rambutnya jauh lebih berantakan, dan tank top putihnya masih nampak lembap, namun kali ini sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi ketakutan atau kemarahan yang meluap-luap. Yang ada hanyalah tatapan menantang yang tajam.

​"Ngapain lo balik?" suara Aldo terdengar serak dan parau.

​Reva tidak langsung menjawab. Ia justru menyeringai tipis, sebuah ekspresi usil yang paling menyebalkan sekaligus mematikan. Matanya tidak lepas dari dada bidang Aldo yang naik turun. "Gue pikir-pikir, tamparan tadi belum cukup buat bikin lo diem, Do."

​Tanpa aba-aba, Reva bergerak lincah. Dengan sifat impulsifnya, ia langsung naik ke pangkuan Aldo yang sedang duduk di kursi gaming. Ia duduk menghadap abangnya, mengunci pinggang Aldo dengan kedua kaki jenjangnya yang kuat.

​"Rev, lo apa-apaan..." Aldo tersentak, tangannya secara refleks memegang pinggiran kursi agar tidak terjungkal.

​"Tadi lo bilang gue udah gede, kan?" potong Reva cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, menempelkan dada yang terbungkus kain tipis itu langsung ke dada telanjang Aldo yang berkeringat. "Tadi lo berani banget pas gue lagi kaget. Sekarang, pas gue udah sadar begini dan liat lo kayak gini... masih berani nggak lo? Apa cuma jago pas gue lagi meleng doang?"

Bab 9: Ruang Tanpa Sudut Pandang

​Posisi mereka kini benar-benar intim. Dada mereka saling beradu dengan kuat, membuat kain tank top putih Reva yang lembap tidak lagi menjadi penghalang berarti bagi kulit Aldo yang panas. Mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain yang berpacu kencang.

​Ujung hidung mereka bersentuhan. Aldo, yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam dirinya, mulai memajukan wajahnya. Namun, tepat sebelum bibir mereka bertemu, Reva dengan cepat mengangkat tangannya, menahan bibir Aldo dengan jari telunjuk.

​"Jangan di sini, Aldo," bisik Reva rendah.

​"Kenapa lagi sih, Rev?" Aldo mendengus, napasnya sudah pendek-pendek karena menahan gairah.

​Reva melirik ke arah plafon. "Ada CCTV, bego. Lo mau rekaman kita ditonton anak-anak admin besok pagi? Atau mau gue kirim ke Yeye biar lo mampus sekalian?"

​Mendengar nama pacarnya disebut, Aldo hanya bisa menggeram rendah. Reva perlahan turun dari pangkuan Aldo, tapi ia tidak menjauh. Ia justru menarik kasar tangan Aldo, memaksa kakaknya itu untuk berdiri. Ia menuntun Aldo berjalan melewati deretan PC yang gelap menuju area belakang.

​"Kamar mandi," gumam Reva saat mereka sampai di depan pintu kayu di pojok ruangan. "Di sana nggak ada kamera. Nggak ada siapa-siapa."

​Ia membuka pintu, lalu masuk lebih dulu sebelum menarik kerah jersey yang tersampir di bahu Aldo agar ikut masuk ke dalam. Reva mengunci pintunya dari dalam dengan bunyi klik yang tajam.

Bab 10: Wastafel Sentinel

​Begitu pintu terkunci, hawa pengap kamar mandi langsung menyergap. Reva tidak membuang waktu. Ia membelakangi Aldo, lalu membungkuk dalam, bertumpu pada pinggiran wastafel porselen yang dingin.

​"Katanya tadi lo mau liat kan?" suara Reva terdengar berat, memantul di dinding keramik. "Buktiin sekarang, Do. Lepasin semuanya. Jangan cuma berisik di mulut doang."

​Aldo tidak perlu diperintah dua kali. Dengan napas yang menderu di belakang telinga Reva, tangan kekarnya langsung menyambar ujung tank top putih yang sudah lembap itu. Ia menariknya ke atas dengan gerakan kasar hingga kain itu terlepas sepenuhnya. Begitu Aldo melepaskan pengait bra hitam di punggungnya, kain itu merosot jatuh ke dalam wastafel, meninggalkan tubuh atas Reva sepenuhnya polos.

​Aldo merapatkan tubuh telanjangnya ke punggung Reva. Pertemuan kulit dengan kulit yang panas itu menciptakan sensasi yang membakar akal sehat. Aldo menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Reva, sementara tangannya mulai bekerja melepaskan kancing celana adiknya.

​"Rev... lo bener-bener gila malam ini," bisik Aldo parau.

​"Berisik," sahut Reva ketus, matanya terpejam rapat merasakan jemari Aldo yang mulai menjelajah. "Kerjain aja yang mau lo kerjain sebelum gue berubah pikiran, Do."

Bab 11: Final Shift

​Udara di dalam kamar mandi semakin berat. Aldo menarik pinggang Reva agar kembali berdiri tegak menghadapnya. Matanya yang merah menatap liar ke arah wajah adiknya yang tampak berantakan namun cantik.

​"Berlutut, Rev," perintah Aldo dengan suara berat yang penuh kuasa.

​Reva tidak membantah. Dengan gerakan perlahan, ia turun dan berlutut di atas lantai keramik yang dingin. Wajahnya kini tepat berada di depan kejantanan Aldo yang sudah menegang maksimal. Aldo mencengkeram rambut Reva, memaksa kepala adiknya untuk mendongak.

​"Rev... gue keluar... gue keluar!" geram Aldo saat puncaknya tiba.

​Detik berikutnya, tubuh Aldo menegang hebat. Ia memuntahkan cairannya di sana, memenuhi rongga mulut Reva. Reva tetap diam dalam posisinya sampai Aldo benar-benar selesai. Setelah Aldo menarik miliknya keluar, Reva menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan, lalu menelan sisa yang ada di mulutnya tanpa ekspresi.

​Tidak ada kata maaf. Tidak ada penyesalan.

​Reva berdiri perlahan, membetulkan letak bra dan mengenakan kembali tank top-nya yang kini makin kotor. Ia merapikan rambutnya sebentar di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

​"Gue cabut. Syuting gue jauh," ucap Reva singkat tanpa menoleh lagi ke arah Aldo.

​"Rev..." Aldo mau memanggil, tapi lidahnya kelu.

​"Udah, anggep aja ini lemburan Sentinel," potong Reva sambil berjalan keluar menembus kegelapan warnet. Ia langsung menuju Mazda-nya, meninggalkan Aldo yang mematung di kamar mandi sambil mendengarkan suara mesin mobil Reva yang menderu menjauh. Malam itu, di Sentinel, garis antara abang dan adik sudah benar-benar musnah.

oniel backup



Bab 1: Basah Sebelum Masuk

Hujan turun sejak pukul tiga sore.

Bukan sekadar rintik, melainkan hujan deras yang datang tiba-tiba tanpa tanda. Oniel sudah duduk di sofa sejak tadi, laptop bertumpu di atas bantal, earphone menutup kedua telinganya. 

Rumah terasa lengang.

Mama sudah pergi sejak pagi, membawa kostum tari yang tersusun rapi dalam koper kecil. Ayah ikut mengantar seperti biasa. Oniel hanya sempat menjawab singkat dari balik selimut sebelum kembali tidur.

Tidak ada jadwal hari ini. Besok juga tidak ada. Untuk pertama kali dalam beberapa minggu, waktunya benar-benar kosong. Dia tidak tahu harus mengisinya dengan apa. Maka, dia memilih diam.

Suara kunci berputar memecah keheningan.

Oniel melepas satu earphone. Kepalanya sedikit terangkat. Pintu terbuka, membiarkan suara hujan masuk sejenak sebelum tertutup lagi.

Cornelio berdiri di depan pintu. Kemeja kantornya basah di bagian bahu. Tas kerja dipegang di depan dada, seperti terlambat dijadikan pelindung. Rambutnya lembap, wajahnya tampak kesal.

Tatapannya langsung menuju sofa.

"Nyokap sama bokap ke mana?" 

Oniel tidak langsung menjawab. Ia menekan pause di layar, lalu melepas earphone satunya lagi. "Pergi. Nyokap ada pentas, bokap yang nganter."

Cornelio mendecakkan pelan, kemudian menutup pintu dengan lebih rapat. "Hujan gini malah keluar juga, ya. Tadi jalan lumayan macet."

Oniel hanya mengangguk kecil, matanya kembali ke layar yang sudah diam. "Iya, dari tadi juga hujannya nggak reda."

"Balik jam berapa katanya?" Cornelio menaruh tasnya di meja dekat pintu, lalu mengusap rambutnya yang basah dengan telapak tangan.

Oniel mengedikkan bahu, kali ini menoleh sedikit. "Nggak tahu. Tadi gue juga cuma bangun bentar, terus tidur lagi. Nggak sempet nanya."

Cornelio menghela napas panjang, lalu berjalan beberapa langkah mendekat ke ruang tengah. Ia berdiri sebentar, memperhatikan Oniel yang kembali menatap layar.

"Lo dari tadi di situ aja?" tanyanya lagi.

"Iya. Nonton doang. Nggak ngapa-ngapain juga," jawab Oniel santai, tanpa merasa perlu menjelaskan lebih jauh.

Cornelio mengangguk pelan. "Makan udah?"

Oniel melirik ke arah meja makan yang kosong. "Belum. Nggak lapar juga sih."

"Minimal nasi ada di rice cooker?" nada suara Cornelio mulai terdengar lebih biasa, tidak setegang saat pertama masuk.

"Ada. Tadi pagi nyokap masak. Lauknya paling di kulkas."

Cornelio diam sebentar, lalu berjalan ke arah dapur. Suara kulkas dibuka terdengar singkat, disusul bunyi tutup plastik yang digeser.

"Dingin semua," katanya dari dapur. "Lo nggak kepikiran ngangetin dulu apa gimana?"

Oniel mengangkat bahu lagi, kali ini sambil sedikit tersenyum tipis. "Nanti juga. Lagi males gerak."

Cornelio kembali muncul dari dapur sambil membawa botol air minum. Ia membuka tutupnya, minum beberapa teguk, lalu menatap Oniel lagi.

"Ya udah. Gue mandi dulu. Badan lengket kena hujan."

"Hm."

Cornelio sempat berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tidak jadi. Ia hanya mengangguk kecil dan berjalan ke arah kamar.

Suara langkah kakinya yang berat perlahan menghilang.

Oniel memasang kembali earphone-nya. Layar laptop kembali bergerak, tawa dari acara yang diputar terdengar samar di telinganya.

Di luar sana, hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

---

Dua belas menit kemudian, Cornelio muncul kembali.

Kemeja kantornya sudah berganti kaus rumah, celana bahan ditukar dengan jogger. Rambutnya sedikit berantakan karena baru saja diusap handuk dengan cepat. Ia berjalan ke dapur tanpa mengatakan apa pun. Suara pintu kulkas terbuka lalu tertutup terdengar jelas, disusul bunyi plastik wadah yang bergeser.

Oniel melirik sekilas dari balik layar laptopnya.

Cornelio berdiri di depan kulkas sambil memperhatikan isinya. Ia mengambil salah satu wadah, membukanya sebentar, lalu mendekatkannya ke hidung. Keningnya langsung berkerut tipis. Wadah itu ditutup lagi tanpa banyak pertimbangan.

"Masih enak nggak sih ini," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.

Oniel akhirnya menoleh sedikit. "Yang ayam itu?"

"Iya. Kayaknya udah berubah. Bau kulkas banget," jawab Cornelio, lalu menggeser wadah lain sekadar mengecek, tetapi hasilnya tidak jauh berbeda.

Oniel menghela napas kecil. "Padahal tadi pagi masak."

"Iya, tapi rasanya nggak yakin gue makan itu sekarang," kata Cornelio sambil mengembalikan semuanya ke tempat semula.

Ia menutup kulkas pelan, lalu berdiri sebentar seolah masih berpikir.

Oniel baru angkat suara lagi. "Berarti pesen aja kali ya. Gue juga belum makan dari tadi."

Cornelio melirik sekilas ke arah ruang tengah. "Lo laper?"

"Lumayan. Dari siang belum makan berat."

Cornelio mengangguk kecil. "Ya udah, pesen aja dulu buat lo. Gue nanti nyusul kalau emang jadi laper. Perut gue masih aneh, tadi sempet makan roti di kantor."

"Oke. Nanti gue kabarin kalau udah pesen," jawab Oniel.

Cornelio tidak menanggapi lagi. Ia hanya mengangguk, lalu membilas tangannya sebentar di wastafel.

"Gue ke kamar dulu," ucapnya setelah itu.

"Iya."

Langkah Cornelio kembali menjauh menuju kamar.

Oniel menarik selimutnya lebih tinggi, lalu memasang kembali earphone miliknya. Layar laptop kembali bergerak, suara tawa dari acara yang diputar mengisi ruang yang masih terasa sepi.

Di luar, hujan masih turun deras. Langit sudah gelap sepenuhnya.

Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan

Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan

Jam setengah delapan, Oniel akhirnya memutuskan untuk memesan makan.

Ia berteriak ke arah kamar Cornelio dari sofa tanpa beranjak sedikit pun. "Bang, mau makan apa? Gue mau pesen sekarang, biar nggak kemaleman."

Tidak ada jawaban.

Oniel menghela napas, lalu berteriak lagi, kali ini lebih keras sambil melempar bantal kecil ke arah pintu kamar. "Bang, denger nggak sih?"

Pintu kamar terbuka sedikit. Cornelio muncul dengan wajah orang yang baru saja setengah tertidur. Matanya masih merah, rambutnya sedikit berantakan lagi.

"Apa sih," katanya pelan.

"Mau makan apa? Gue mau pesen sekarang. Tadi lo juga bilang nggak yakin makan yang di kulkas," ucap Oniel sambil tetap fokus ke layar ponselnya.

Cornelio menyandarkan bahu di kusen pintu. "Samain aja sama yang kamu pesen. Gue nggak mau mikir."

Oniel langsung berdecak. "Samain itu bukan nama menu, Bang. Gue mau pesen ayam. Lo mau ayam juga atau beda? Biar sekalian satu tempat."

Cornelio mengusap wajahnya sebentar, seperti baru sadar sepenuhnya. "Ya udah, ayam aja. Yang biasa. Jangan yang aneh-aneh bumbunya."

Oniel mengangguk kecil. "Pedes nggak?"

"Nggak usah. Lambung gue lagi nggak enak kalau makan pedes malam-malam."

"Ya udah, gue ambil yang original."

Cornelio tidak langsung kembali ke kamar. Ia berdiri sebentar, menatap ke arah televisi yang menyala tanpa suara, lalu akhirnya melangkah ke ruang tengah. Ia duduk di ujung sofa yang lain, menjaga jarak dari Oniel yang kini sudah duduk lebih tegak.

Oniel menyelesaikan pesanannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Keheningan yang terjadi bukan sesuatu yang canggung. Lebih seperti kebiasaan yang sudah lama terbentuk, ketika dua orang tidak merasa perlu terus berbicara untuk tetap merasa dekat.

Cornelio meraih remote, lalu menaikkan volume televisi sedikit.

"Nonton apa sih? Dari tadi gue denger suara ketawa-ketawa dari laptop," tanyanya tanpa menoleh.

"Variety show yang kemarin itu," jawab Oniel sambil memeluk lututnya.

"Yang Korea lagi?"

"Iya. Lagi males mikir. Kalau nonton yang udah tahu, tinggal ngikut aja."

Cornelio mengangguk pelan. Ia tidak berkomentar lagi. Perhatiannya beralih ke layar televisi yang menampilkan berita malam.

Oniel meliriknya sebentar.

"Bang, lo masih di kantor yang di pusat itu, kan?"

Cornelio menoleh sekilas. "Masih. Kenapa?"

"Nggak tahu. Cuma kepikiran aja. Soalnya tiap pulang lo kelihatan capek terus."

Cornelio menghela napas pelan. "Masih di sana. Belum dapet yang lebih deket. Sekarang susah."

Oniel mengangguk kecil. "Iya juga sih."

Percakapan kembali berhenti. Suara televisi mengisi ruang. Di luar, hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya.

Dua puluh menit kemudian, pesanan mereka datang.

Mereka makan di ruang tengah. Tidak ada yang berpindah ke meja makan. Bungkus makanan dibuka di atas coffee table, sendok plastik dipakai tanpa banyak suara.

Cornelio makan dengan tenang, fokus pada makanannya. Oniel makan lebih santai, sesekali melirik ponsel, lalu kembali melihat televisi.

"Kurang pedes sih ini," komentar Oniel setelah beberapa suap.

Cornelio tidak menoleh. "Kan lo sendiri yang pilih yang biasa."

"Itu kan buat lo."

"Tadi gue bilang terserah."

Oniel menghela napas pendek. "Terserah itu bukan jawaban, Bang. Dari tadi gue udah bilang."

Cornelio tidak membalas dengan kata-kata. Ia tetap makan, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir seperti menahan senyum.

Oniel menyadari itu.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya menoleh ke arah lain, seolah tidak melihat, padahal jelas menangkap reaksi kecil itu.

Makan malam selesai tanpa kejadian berarti. Bungkus makanan dibuang, gelas dikembalikan ke dapur. Cornelio membereskan bagiannya sendiri. Oniel menyusul setelah mendapat tatapan yang tidak perlu dijelaskan.

Mereka kembali duduk di sofa.

Kali ini jarak di antara mereka sedikit berkurang.

Cornelio yang lebih dulu berbicara, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

"Sibuk banget sekarang?"

Oniel menoleh. "Hm?"

"JKT48. Lagi sibuk?"

"Oh." Oniel berpikir sejenak. "Lumayan. Kemarin habis rangkaian show. Sekarang agak longgar."

Cornelio mengangguk pelan.

Oniel kembali memeluk lututnya. "Emang kenapa nanya?"

"Jarang lihat lo di rumah."

Kalimat itu diucapkan datar. Namun Oniel sempat diam beberapa detik.

"Lo perhatiin juga ternyata," katanya pelan, bukan menyindir, lebih ke heran.

Cornelio tidak langsung menjawab. "Nyokap yang sering ngomong."

"Ngomongin apa?"

"Katanya lo jarang pulang. Kalau pulang juga udah malam, langsung tidur."

Oniel mengembuskan napas pelan. "Ya emang jadwalnya begitu."

"Oh."

Hening lagi.

"Lo nggak pernah nonton show gue ya," ucap Oniel tiba-tiba.

Cornelio melirik. "Pernah."

Oniel langsung menoleh. "Kapan?"

"Waktu pertama debut."

Oniel menghela napas kecil, lalu tertawa tipis. "Itu udah lama banget."

"Emang."

Oniel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Jujur banget."

Cornelio tidak bereaksi, tetapi juga tidak mengalihkan pandangan.

Oniel meluruskan kakinya di sofa. Ujung kakinya hampir menyentuh paha Cornelio. Ia tidak menariknya kembali.

"Kapan-kapan nonton lagi lah."

Cornelio menjawab singkat. "Nanti."

"Nanti itu kapan?"

"Nanti."

Oniel menggeleng pelan, senyumnya masih ada.

Cornelio tetap menatap televisi, tetapi cara duduknya berubah. Bahunya tidak setegang tadi.

Di luar, hujan berhenti tanpa mereka sadari. Yang tersisa hanya suara televisi yang pelan dan napas dua orang yang perlahan terbiasa kembali berada dalam satu ruang yang sama.

Bab 3: Tidak Jadi Pulang

Malam berjalan jauh lebih lambat daripada biasanya. Televisi masih menyala di depan mereka, namun tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikan siaran yang diputar. Oniel duduk dengan posisi setengah rebah, membiarkan selimut menutupi sebagian besar tubuhnya agar tetap hangat. Sementara itu, Cornelio berada di ujung sofa yang lain, jemarinya sesekali menekan tombol remote tanpa tujuan yang jelas.

​Keheningan itu pecah saat ponsel di atas meja bergetar pendek. Oniel meraih benda tersebut dan membaca pesan yang masuk dengan mata yang sedikit menyipit. Setelah terdiam sejenak, ia mengembuskan napas panjang.

​"Bang, kayaknya orang tua kita nggak jadi balik deh malam ini," ucap Oniel sambil tetap memandangi layar ponselnya.

​Cornelio mengalihkan pandangan sepenuhnya dari televisi, wajahnya menunjukkan sedikit rasa heran. "Kok tiba-tiba? Padahal tadi katanya cuma bentar di sana."

​"Mama bilang hujan di sana masih deras banget, terus jalanan juga nggak enak kalau dipaksain buat pulang sekarang. Kayaknya mereka milih buat menginap aja sekalian di rumah saudara," jawab Oniel setelah membaca ulang pesan tersebut. Ia kemudian meletakkan ponselnya kembali dan menatap Cornelio. "Oia, Mama juga pesan supaya besok kita jangan sampai lupa sarapan. Ada nasi di magic com yang harus dihabisin."

​Cornelio mengangguk paham sambil menyandarkan punggungnya. "Ya sudahlah, emang bahaya kalau nekat nyetir kondisi hujan begini. Paling besok pagi mereka baru sampai sini."

​Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat. Cornelio memperhatikan Oniel yang masih betah meringkuk di atas sofa. "Lo nggak mau masuk ke kamar aja? Sudah lumayan malam juga ini."

​"Lagi malas sendirian di dalam kamar. Tadi sore kan gue ketiduran lama banget, jadinya sekarang malah merasa seger dan belum mau tidur," sahut Oniel sambil meluruskan kakinya hingga ujung jarinya hampir menyentuh paha Cornelio.

​Oniel kemudian bangkit sebentar untuk mematikan lampu ruang tengah. Ruangan itu seketika meredup, menyisakan cahaya remang yang berasal dari layar televisi saja. Setelah kembali duduk, ia merasa suasana di antara mereka menjadi sedikit berbeda.

​"Lo sadar nggak sih kalau belakangan ini kita jarang banget bisa duduk santai begini?" tanya Cornelio tiba-tiba dengan nada suara yang lebih rendah.

​Oniel menoleh sedikit. "Jarang gimana maksudnya?"

​"Ya begini, cuma duduk berdua tanpa harus buru-buru pergi atau masuk kamar masing-masing. Dulu rumah ini selalu berisik sama suara kita, tapi sekarang kadang buat ketemu di ruang tengah aja susah," jelas Cornelio sambil menatap lurus ke depan.

​Oniel tersenyum tipis mendengarnya. "Ya mau gimana lagi, jadwal gue kan emang lagi nggak jelas banget belakangan ini. Pulang selalu larut dan langsung pengen istirahat."

​"Gue juga sama sih, kerjaan di kantor lagi numpuk banget sampai jarang ada waktu buat sekadar ngobrol begini di rumah," timpal Cornelio. Ia mengembuskan napas pendek. "Lucu aja, kita tinggal satu rumah tapi rasanya kayak ketemu cuma karena kebetulan."

​Cornelio membetulkan posisi duduknya, bergeser perlahan hingga jarak di antara mereka terpangkas banyak. Oniel tidak menunjukkan tanda ingin menjauh. Ia justru tetap di posisinya, membiarkan kehadiran Cornelio terasa sangat dekat di sampingnya.

​Cornelio menoleh, memperhatikan wajah Oniel di bawah cahaya televisi yang temaram. Tangannya kemudian terangkat secara perlahan. Dengan gerakan lembut yang tidak terburu-buru, ia menyentuh helai rambut Oniel yang jatuh menutupi dahi. Ujung jarinya menyapu pelan kulit wajah Oniel, sebuah gerakan yang jauh dari kesan candaan yang biasa mereka lakukan.

​Oniel terdiam, namun ia tidak memalingkan wajah. Ia justru membalas tatapan Cornelio dengan cara yang lebih tenang dan sadar. Jarak yang ada sekarang sudah terlalu dekat untuk dianggap sebagai interaksi biasa antar penghuni rumah.

​"Oniel," panggil Cornelio dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.

​Oniel tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia membiarkan Cornelio terus menatapnya. Ketika Cornelio mulai memiringkan wajah dan mendekat, Oniel tetap pada posisinya, seolah memberikan izin tanpa perlu bicara.

​Sentuhan itu akhirnya terjadi. Awalnya hanya sebuah tekanan lembut yang terasa ragu di permukaan bibir Oniel, namun perlahan berubah menjadi lebih pasti. Oniel memejamkan matanya, merespons tautan itu dengan tarikan napas yang mulai tidak beraturan. Rasa hangat menjalar dengan cepat saat Cornelio memperdalam pagutan mereka, mengubah suasana ruang tengah yang dingin menjadi terasa begitu intim. Tidak ada keterkejutan, hanya ada penerimaan yang sunyi di antara deru suara televisi yang kini terlupakan.

Sentuhan itu berakhir secepat saat ia dimulai. Cornelio menarik wajahnya sedikit, hanya beberapa sentimeter, membiarkan napas mereka yang menderu saling beradu di udara yang mendadak terasa tipis. Oniel masih memejamkan mata, jemarinya meremas pelan pinggiran selimut yang menutupi pangkuannya. Ada jeda yang sangat sunyi di sana, seolah mereka berdua sedang mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

​Refleks itu terasa ganjil namun nyata. Cornelio menatap bibir Oniel yang sedikit terbuka di bawah cahaya televisi yang berpendar redup. Dadanya naik-turun dengan tidak beraturan.

​"Sorry," bisik Cornelio pelan, meski tangannya masih tertahan di rahang Oniel, seolah enggan untuk benar-benar menjauh.

​Oniel akhirnya membuka mata. Tatapannya tampak sedikit kosong, namun tidak ada kemarahan di sana. Ia justru menarik napas panjang, menatap Cornelio dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Rasa canggung yang sempat muncul seolah segera terkubur oleh sesuatu yang jauh lebih mendesak untuk dituntaskan.

Suasana di ruang tengah mendadak jadi sangat pengap meskipun hujan di luar sudah reda. Cornelio masih terdiam, namun tatapannya tidak lepas dari Oniel. Ia mengatur napasnya yang berat, mencoba menguasai diri yang sebenarnya sudah di ambang batas.

​Cornelio perlahan berdiri lebih dulu. Ia membetulkan posisi jogger miliknya sebentar, lalu mengulurkan tangan ke arah Oniel yang masih meringkuk di balik selimut. Ia tidak langsung bicara, hanya menunggu jemari Oniel menyambut uluran tangannya untuk membantu adiknya itu bangkit dari sofa.

​"Di sini nggak enak, Niel. Pindah ke dalam aja yuk," ajak Cornelio dengan suara yang rendah dan agak serak.

​Oniel menatap tangan yang terulur itu cukup lama. Ia tahu persis pindah ke kamar bukan sekadar untuk tidur. Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang menuntut untuk dituntaskan, sesuatu yang tadi sempat terputus di sofa.

​"Ke kamar lo?" tanya Oniel pelan, suaranya sedikit bergetar.

​Cornelio mengangguk sekali. Ia tidak menjelaskan lebih jauh, namun sorot matanya yang gelap sudah cukup menjadi jawaban atas apa yang ia inginkan di dalam sana. Keheningan di antara mereka terasa makin menekan, membuat Oniel harus memalingkan wajah sejenak untuk menetralkan rasa canggung yang menyerang.

​"Aneh banget lo, Bang," gumam Oniel pelan. Nada suaranya terdengar seperti sedang berusaha denial padahal jantungnya sendiri sudah berpacu tidak keruan.

​Cornelio tidak membantah. Ia tetap bergeming dengan tangan yang masih terulur, menunggu Oniel berhenti bergelut dengan pikirannya sendiri. "Banget. Gue emang lagi aneh sekarang."

​Oniel mengembuskan napas panjang. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya pada selimut, lalu akhirnya menyambut uluran tangan Cornelio. Cornelio menariknya perlahan, membantu Oniel berdiri hingga posisi mereka kini sangat dekat. Kulit mereka bersentuhan, terasa hangat dan sedikit lembap karena keringat dingin yang mulai muncul di telapak tangan.

​Begitu mereka masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, Cornelio segera menutup pintu dan memutar kunci. Bunyi klik dari pintu itu seolah menjadi penanda bahwa dunia di luar sana sudah tidak lagi penting bagi mereka malam ini.


















Bab 4: Tangan yang Diulurkan

​Oniel tidak tahu kapan tepatnya kelopak matanya mulai terasa berat.

​Laptop yang tadi memutar variety show sudah lama ditutup dan diletakkan di lantai. Televisi masih menyala, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar tahu acara apa yang sedang diputar di sana. Selimut yang tadinya hanya menutupi bahu Oniel, sekarang sudah melingkupi mereka berdua. Di antara kehangatan kain itu dan sisa dingin malam yang merayap masuk, Oniel tidak punya alasan lagi untuk tetap terjaga.

​Kepalanya perlahan jatuh dan bersandar di bahu Cornelio.

​Gerakan itu tidak sepenuhnya disengaja, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk menggeser posisi.

​Cornelio terdiam. Hembusan napasnya berubah, menjadi lebih pelan dan seolah jauh lebih sadar akan kehadiran adiknya di sana. Matanya tidak lagi tertuju pada layar televisi.

​Oniel berada dalam kondisi antara tidur dan terjaga, kondisi di mana filter pikirannya sudah tidak lagi bekerja dengan sempurna. Rasa hangat di bahu Cornelio terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama ada di sana, dan dia sedang tidak ingin kehilangannya.

​"Bang," panggil Oniel lirih.

​"Hm?"

​Oniel tidak langsung melanjutkan ucapannya. Matanya masih setengah terpejam, menatap pendar cahaya dari televisi. "Berarti beneran nggak ada yang pulang malam ini ya?"

​"Iya, nggak ada," sahut Cornelio pendek.

​Hening kembali menyergap.

​Sebenarnya itu bukan pertanyaan besar atau kalimat yang mendalam. Namun, cara Oniel mengucapkannya dengan suara pelan dan kepala yang masih bersandar di bahu, membuat kalimat itu memiliki makna yang sepenuhnya berbeda.

​Cornelio menoleh pelan ke arah Oniel. Cahaya biru dari televisi menyentuh tulang pipinya, lekukan hidungnya, hingga bibirnya yang sedikit terbuka karena rasa kantuk. Rambut Oniel yang tidak diikat jatuh berantakan ke satu sisi, sebagian helaiannya menyentuh lengan Cornelio.

​Sesuatu di dalam diri Cornelio bergerak. Tangannya terangkat pelan, lalu jemarinya menyentuh dan mengangkat dagu Oniel agar menghadap ke arahnya.

​Oniel membuka mata.

​Mereka saling menatap dalam jarak yang terlalu dekat, jarak yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk salah tafsir. Oniel tidak bergerak menjauh, sementara Cornelio tidak terlihat terburu-buru.

​Lalu, Cornelio menundukkan kepalanya perlahan.

​Ciuman itu berlangsung singkat dan tidak dramatis. Hanya pertemuan bibir dalam keheningan ruang tengah yang gelap, selama beberapa detik yang rasanya jauh lebih panjang dari hitungan waktu yang sebenarnya.

​Cornelio yang menarik diri lebih dulu. Dia menatap Oniel, dan Oniel membalas tatapan itu dengan dalam.

​Sunyi kembali menguasai ruangan. Beberapa menit berlalu hanya dengan iringan suara televisi yang rendah dan napas Cornelio yang mulai tidak beraturan. Pada satu titik, Cornelio kembali menoleh ke arah Oniel, memperhatikan profil wajah adiknya di bawah siraman cahaya biru.

​"Kita nggak bisa di sini," kata Cornelio akhirnya. Suaranya terdengar serak.

​Oniel menoleh sepenuhnya. "Kenapa emangnya?"

​"Ini ruang tengah, Niel," Cornelio menatapnya tajam. "Gimana kalau nanti tiba-tiba ada yang..."

​"Nggak akan ada yang pulang malam ini, Bang," potong Oniel cepat.

​Mereka kembali saling mengunci pandangan. Cornelio tahu kalau dia benar, dan Oniel pun menyadari hal yang sama. Ruang tengah, dengan jendela yang tidak terkunci sempurna dan pintu depan yang hanya terpaut beberapa langkah, bukan tempat yang tepat untuk melanjutkan apa pun yang sedang terjadi di bawah selimut itu.

​Cornelio bangkit berdiri.

​Oniel mengangkat kepalanya, menatap sosok abangnya yang kini menjulang di hadapannya. Cornelio berdiri diam, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arah Oniel.

​Oniel menatap tangan yang terulur itu untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, dia mengulurkan tangannya sendiri dan meletakkannya di sana.

Bab 5: Tepian

Kamar Cornelio jauh lebih gelap daripada ruang tengah.

​Lampu tidak dinyalakan. Satu-satunya cahaya masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa sisa pendar lampu jalanan yang redup dan hawa dingin malam. Oniel berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja ditutup oleh Cornelio di belakang mereka. Telapak tangannya masih terasa hangat, sisa dari genggaman abangnya di ruang tengah tadi.

​Cornelio berdiri tepat di depannya.

​"Jadi nggak nih?" tanya Cornelio. Suaranya rendah dan serak.

​Oniel menatapnya lurus-lurus. "Lah, kok nanya? Kan lo yang narik gue ke sini tadi, Bang."

​"Ya gue cuma nggak mau lo nyesel aja entar," sahut Cornelio pelan.

​Oniel diam sejenak. Matanya mencari sesuatu di wajah Cornelio, mencoba menemukan ekspresi yang bisa dia jadikan alasan untuk mundur. Namun, dia tidak menemukan apa pun di sana.

​"Ya udah sih," jawab Oniel akhirnya. "Nggak usah banyak tanya. Cepetan."

​Cornelio mendekat. Tangannya naik ke wajah Oniel, ibu jarinya mengusap tulang pipi adiknya sekali dengan sangat pelan. Lalu dia mencium Oniel, jauh lebih dalam daripada saat mereka berada di sofa tadi. Tangannya memegang rahang Oniel, mengarahkan posisi kepala agar semakin dalam.

​Oniel merespons. Tangannya naik ke dada Cornelio, menggenggam kain kaus rumah yang dikenakan abangnya itu hingga kusut. Cornelio menarik tubuh Oniel lebih dekat dengan satu tangan berada di punggung bawahnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka sekarang. Dada Oniel menempel rapat pada dada Cornelio, suhu tubuh mereka mulai bercampur dalam gelapnya kamar.

​Oniel melepaskan ciuman itu sebentar, napasnya keluar tidak beraturan. "Bang, lampunya dong. Gelap banget, gue nggak mau kalau bener-bener gelap-gelapan gini."

​Cornelio menyalakan lampu tidur kecil di atas nakas. Cahaya yang keluar berwarna kuning redup.

​"Gini cukup?"

​Oniel menoleh ke arah lampu, lalu kembali menatap abangnya. "Cukup. Makasih."

​Cornelio kembali berdiri di depan Oniel. Tangannya melingkar ke pinggang, menarik adiknya itu hingga benar-benar rapat ke tubuhnya. Oniel sedikit berjinjit di ujung jari kakinya, sementara tangannya melingkar erat ke leher Cornelio.

​Mereka berpelukan dalam diam. Itu bukan jenis pelukan kakak dan adik. Terlalu erat, terlalu sadar. Cornelio menarik napas panjang di sela rambut Oniel, sementara tangannya mulai menelusuri punggung dari atas ke bawah secara perlahan, tidak terburu-buru.

​Tangannya berhenti sejenak di punggung bagian bawah. Dia merasakan lekukan tubuh di balik kain tipis baju rumah yang dikenakan Oniel. Lalu, dia meremasnya pelan, hanya satu kali.

​Oniel spontan menahan napas di ceruk leher abangnya.

​Cornelio meremasnya lagi. Kali ini lebih penuh, jari-jarinya mencengkeram dalam dan mengangkat sedikit.

​Oniel mengeluarkan suara kecil yang tidak disengaja. "Bang."

​"Hm?"

​"Baju gue dulu kali, masa langsung main tangan aja ke situ," gumam Oniel pelan.

​Sudut bibir Cornelio bergerak sedikit, nyaris tidak kelihatan. Tangannya kemudian meraih tepi kaus Oniel dan menariknya ke atas perlahan-lahan. Oniel mengangkat kedua tangannya untuk membantu, hingga kaus itu terlepas dan diletakkan begitu saja di lantai.

​Cornelio menatap Oniel di bawah cahaya lampu tidur yang remang. Tangannya bergerak ke punggung Oniel, mencari pengait bra dengan jemarinya. Terdengar bunyi klik pelan saat pengaitnya terlepas. Tali bra itu melorot dari bahu Oniel, dan Cornelio yang menarik sisanya hingga jatuh.

​Oniel secara refleks menyilangkan tangannya untuk menutupi dadanya.

​"Jangan," kata Cornelio pelan. "Nggak usah ditutupin."

​Oniel menurunkan tangannya perlahan, meski pipinya terasa sangat panas sekarang. "Aneh tahu Bang, dilihatin jelas kayak gitu."

​"Gue tahu."

​"Terus kenapa dilihatin lama-lama?"

​"Karena bagus."

​Oniel tidak punya jawaban untuk itu. Dia membuang muka sebentar ke arah lain, pura-pura memperhatikan pajangan di dinding kamar.

Cornelio berlutut di depannya. Tangannya meraih pinggang celana pendek Oniel, jemarinya menyangkut di karet celana dan pakaian dalam di baliknya sekaligus. Dia menariknya pelan ke bawah, melewati lutut, melewati pergelangan kaki, hingga terlepas sepenuhnya.

​Cornelio berdiri kembali, menatap Oniel dari posisinya yang lebih tinggi. Matanya menelusuri tubuh adiknya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Mulai dari dada, lekukan pinggang, hingga ke bawah.

​"Ih, Bang, nggak usah segitunya juga kali lihatnya," Oniel mengerutkan hidung, tangannya refleks mau nutupin badan tapi ditahan. "Creepy tahu nggak kalau lo diem doang gitu."

​"Creepy gimana maksud lo? Orang emang lagi dilihatin juga," tanya Cornelio datar, tapi matanya nggak geser.

​"Ya ya jangan gitu tatapannya. Lo natap gue kayak lagi lihat makanan yang mau lo sikat habis, sumpah," protes Oniel lagi.

​"Ya emang lagi laper, mau gimana lagi?"

​Oniel sempat membuka mulut, mau ngebales tapi mendadak kehilangan kata-kata. Itu bukan jawaban yang dia antisipasi dari seorang Cornelio yang biasanya gengsian.

​Cornelio mendekat lagi, tangannya kembali mendarat di pinggang Oniel. Bibirnya menyentuh pelipis adiknya sebentar, hembusan napasnya terasa panas. "Santai aja kali, nggak usah tegang banget. Punya lo bagus padahal, gue aja baru sadar."

​Oniel diam selama beberapa detik, ngerasain jantungnya yang makin nggak karuan. "Ya lo mana pernah sih bilang gitu sebelumnya? Yang ada juga lo komplain mulu kalau gue di rumah."

​"Ya kan situasinya lagi beda sekarang, mana mungkin gue puji-puji lo pas lagi sarapan bareng Nyokap," sahut Cornelio pendek.

​Oniel mengembuskan napas pelan, nggak berniat memperpanjang perdebatan itu karena dia juga mulai ngerasa gerah.

​Cornelio melepas kausnya sendiri, lalu tangannya beralih ke celana jogging yang dia pakai. Karet celana itu ditarik ke bawah bersama pakaian dalamnya, dilepas sepenuhnya hingga jatuh ke lantai. Oniel menatap sosok di depannya secara utuh untuk pertama kali. Ada rasa aneh yang muncul pas dia sadar abangnya punya bentuk badan yang beneran dijaga.

​Cornelio menangkap basah tatapan itu.

​"Sekarang kita sama-sama nggak pakai apa-apa nih," gumam Oniel pelan, berusaha mencairkan suasana yang makin berat.

​"Iya, biar adil kan?"

​Cornelio menatapnya selama beberapa detik lagi, seolah lagi ngumpulin niat buat langkah selanjutnya. Tangannya bergerak ke bahu Oniel, lalu menekannya pelan ke arah bawah sebagai instruksi yang jelas.

​Oniel menatap ke bawah, lalu mendongak lagi menatap abangnya dengan wajah bingung yang dibuat-buat. "Hah? Serius lo, Bang? Lo mau gue yang mulai duluan?"

​"Iya, serius. Emang kenapa?"

​"Aduh Bang, lo tahu sendiri kan gue ini orangnya gampang jijian kalau masalah begituan? Lo tau sendiri gue gimana kalau ada kotor dikit aja langsung heboh," Oniel mulai nego sambil masih berdiri tegak.

​"Tahu, hafal banget gue soal itu," sahut Cornelio.

​"Terus lo masih minta gue buat... itu? Nggak mau ganti menu apa?"

​"Iya, gue tetep minta itu. Kenapa sih? Banyak nawar banget lo," Cornelio mulai kelihatan nggak sabar.

​Oniel mengerutkan hidungnya lagi, bibirnya maju dikit karena kesel negonya gagal. Matanya melirik ke bawah sebentar sebelum kembali menatap wajah Cornelio yang udah nggak bisa diajak bercanda lagi. "Ya udah sih, nggak bisa langsung skip aja apa ke bagian yang lebih gampang?"

​Cornelio cuma diem, tapi matanya nggak lepas dari Oniel, ngasih isyarat kalau nggak ada pilihan buat skip.

​Oniel mendengus pelan, akhirnya nyerah juga. "Ya udah, oke. Tapi gue nggak tanggung jawab ya kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Terus janji, kalau gue capek terus tiba-tiba berhenti, lo nggak boleh protes lebih dari dua kali. Deal?"

​Tangannya bergerak memegang bahu Cornelio sebagai tumpuan, lalu perlahan dia berlutut. Lututnya langsung bersentuhan dengan lantai kamar yang terasa dingin. Dia mendongak menatap Cornelio dengan ekspresi yang antara pasrah sama mau ketawa karena situasinya beneran gila.

​"Awas ya kalau lo protes," ancam Oniel terakhir kali sebelum dia bener-bener mulai.

​Lalu, dia mulai.

​Caranya memang menunjukkan kalau dia sama sekali tidak berpengalaman. Ada keraguan di awal, terlalu banyak berhenti untuk sekadar mengatur napas, dan beberapa kali dia menarik diri sebentar dengan ekspresi yang jelas mencerminkan kalau dia masih belum sepenuhnya berdamai dengan situasi ini. Tapi, dia tidak berhenti sepenuhnya.

​Cornelio membiarkan tangannya tetap berada di rambut Oniel. Dia tidak memaksa atau menekan, hanya menahannya di sana sebagai jangkar. Hembusan napasnya berubah, semakin tidak beraturan seiring berjalannya waktu.

​Di satu titik, Oniel tiba-tiba berhenti dan menarik diri sepenuhnya. "Udah, kan? Segitu doang harusnya cukup."

​"Belum," sahut Cornelio pendek.

​"Menurut gue udah, Bang. Udah lah," protes Oniel sambil masih berlutut.

​Cornelio menatapnya dari atas dengan rahang yang mengeras, matanya terlihat gelap. "Lanjutin."

​"Nah, itu kan jatuhnya lo protes ya? Berarti ini protes lo yang pertama," Oniel menunjuk ke arah abangnya dengan wajah serius. "Ingat kan deal tadi? Lo cuma punya jatah protes satu kali lagi setelah ini."

​Cornelio diam sebentar, mencoba mengatur ritme jantungnya yang berantakan. "Ya udah. Buruan lanjut."

​Oniel mendengus kesal, tapi dia tetap melanjutkan kegiatannya.

​Ketika Cornelio akhirnya menarik rambut Oniel pelan sebagai sinyal untuk berhenti, Oniel langsung mundur secepat kilat. Dia segera bangkit berdiri dari lantai kamar yang dingin itu.

​"Ih, sumpah ya..." Oniel menyeka mulutnya berkali-kali pakai punggung tangan. Ekspresinya persis kayak orang yang baru saja dipaksa makan sesuatu yang paling dia benci di dunia. Dia mengusap bibirnya lagi sekali untuk memastikan, lalu mengusapnya lagi sekali lagi dengan lebih keras.

​Cornelio masih berdiri di depannya, napasnya belum sepenuhnya normal, matanya masih menatap Oniel dengan intens.

​Oniel menatap balik dengan sisa-sisa rasa sebal. "Gue minta ini jangan sampai jadi kebiasaan ya. Sekali ini aja."

​"Ya tergantung," jawab Cornelio santai.

​Oniel langsung melotot. "Tergantung apanya? Kan tadi katanya cuma buat sekarang doang gara-gara sepi!"

​Cornelio tidak menjawab. Tangannya justru menarik Oniel mendekat, membimbingnya mundur sampai ke tepian kasur yang empuk. Oniel duduk di sana dengan napas yang mulai pendek-pendek, dan di titik itulah Cornelio baru mengambil ancang-ancang.

​Oniel yang menangkap situasinya duluan.

​​"Bang, bentar," Oniel nahan dada Cornelio pakai tangannya. "Di luar aja."

​Cornelio berhenti mendadak.

​Suasana mendadak hening sebentar, hanya diisi suara detak jam di dinding dan napas mereka yang saling berburu. Cornelio akhirnya berbalik ke arah nakas, meraih dompetnya yang tergeletak di sana. Dia membukanya, mencari sesuatu di balik selipan kartu, lalu mengeluarkan satu bungkus kondom.

​Oniel menatap benda kecil itu, lalu beralih menatap muka abangnya dengan tatapan menyelidik. "Ih, lo nyimpen beginian di dompet?" Oniel bertanya dengan nada datar, tapi penuh selidik. "Bagus ya. Emang siapa yang lo rencanain buat pake itu?"

​"Nggak ada," jawab Cornelio pendek sambil berusaha fokus.

​"Nggak ada tapi ready gitu di dompet?" Oniel menaikkan alisnya sebelah, nggak percaya gitu aja. "Persiapan banget lo kayak mau ke mana aja."

​Cornelio nggak menanggapi ocehan itu. Dia membuka bungkusnya tanpa komentar tambahan, mengabaikan tatapan Oniel yang masih nunggu jawaban lebih lengkap.

​Oniel akhirnya merebahkan dirinya di tepian kasur. Cornelio memegang kedua pergelangan kakinya, membukanya lebar dan menekuknya pelan sampai posisinya pas. Oniel berbaring di pinggir kasur dengan kaki terbuka dan lutut tertekuk, sementara Cornelio berdiri di antara kedua kakinya, tepat di lantai.

​"Bang, pelan-pelan ya. Gue serius, jangan kasar-kasar," Oniel mengingatkan lagi dengan suara yang sedikit bergetar.

​"Iye, bawel," sahut Cornelio pelan, berusaha menenangkan diri sendiri juga.

​Ketika ujung penisnya mulai bersentuhan dengan vagina Oniel, keduanya mendadak berhenti sebentar. Ada sensasi yang bikin mereka berdua sama-sama tersentak.

​Napas Oniel keluar makin nggak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat.

​Cornelio menatapnya dari atas dengan tatapan yang sangat dalam, seolah dia benar-benar sedang melihat Oniel sebagai seorang perempuan dewasa, bukan lagi sebagai adik kecilnya. "Oniel," panggilnya dengan suara rendah yang bergetar.

​"Iya," bisik Oniel hampir tidak terdengar. "Langsung aja, Bang. Nggak usah ditahan-tahan."

​Cornelio mulai bergerak masuk secara perlahan.

​Napas Oniel seketika tertahan di tenggorokan. Tangannya mencengkeram sprei kasur Cornelio hingga sangat erat, sementara punggungnya sedikit melengkung karena sensasi yang menyerangnya. Vagina Oniel dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan ukuran Cornelio secara bertahap. Cornelio sendiri tidak terburu-buru; dia memberikan waktu bagi Oniel untuk terbiasa, sementara kedua tangannya memegang pinggang adiknya dengan mantap.

​Ketika sudah sepenuhnya berada di dalam, Cornelio berhenti sejenak untuk membiarkan mereka berdua mengatur napas.

​Oniel mengembuskan napas panjang yang terasa berat. "Gila, punya lo besar banget sih, Bang? Sakit dikit tahu nggak," protesnya dengan suara yang masih gemetar.

​Cornelio tidak menjawab secara verbal, namun hembusan napasnya yang berat terasa panas di atas wajah Oniel.

​Lalu, Cornelio mulai bergerak. Pinggulnya maju mundur dengan ritme yang pelan pada awalnya, terasa sangat terukur. Kedua tangannya kini memegang tepian pinggul Oniel dengan kuat. Suara kulit yang bertemu kulit terdengar samar di dalam kamar yang redup itu, bercampur dengan suara napas mereka yang semakin tidak beraturan.

​Salah satu tangan Cornelio bergerak naik menuju payudara Oniel. Dia meremasnya pelan, sementara ibu jarinya bergerak di atas puting. Oniel yang awalnya hanya mencengkeram sprei kini mulai mengeluarkan suara-suara yang tidak lagi dia coba tahan.

​Oniel menatap langit-langit kamar Cornelio yang sudah sangat dia hafal sejak mereka kecil. Cahaya lampu tidur yang kuning di atas nakas, hingga poster kecil di dinding yang sudah bertahun-tahun ada di sana.

​Semuanya masih terlihat sama.

​Namun, Oniel sadar bahwa tidak akan ada lagi yang sama di antara mereka setelah malam ini berakhir.

​Ritme gerakan Cornelio mulai menemukan polanya. Setiap sentakannya terasa dalam dan terukur, membuat suasana di kamar itu semakin panas.

​"Ah... Ah... Bang," napas Oniel keluar pendek-pendek dan tidak beraturan. "Lagi, Bang. Lebih dalam lagi dong."


Ritme Cornelio berubah sepenuhnya, menjadi lebih dalam dan tampak jauh lebih tidak sabar dari sebelumnya. Tangannya menarik pinggang Oniel agar semakin merapat ke tepi kasur, sementara tangan yang satunya masih tertahan di atas payudara adiknya, meremasnya dengan tekanan yang semakin kuat.

​Oniel mencengkeram sprei kasur dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih.

​Ketika Oniel akhirnya sampai di titik yang sudah tidak bisa lagi dia tahan, tubuhnya bergetar hebat. Sebuah suara panjang keluar dari mulutnya tanpa bisa dikontrol lagi. Otot-otot vagina Oniel mengencang secara refleks di sekeliling penis Cornelio, dan sensasi itulah yang membuat Cornelio seketika kehilangan ritme teraturnya.

​Cornelio menyusul tidak lama setelahnya. Tangannya menarik pinggang Oniel sekuat tenaga di detik-detik terakhir, sementara napasnya keluar dengan suara berat dan panjang.

​Lalu, mendadak diam.

​Hanya suara napas mereka berdua yang perlahan-lahan mulai kembali ke ritme normal di tengah keheningan kamar.

​Cornelio tidak langsung bergerak menjauh. Tangannya masih menetap di pinggang Oniel, kepalanya menunduk dalam, dan napasnya masih terdengar sangat berat di telinga Oniel. Sementara itu, Oniel hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan dada yang naik turun perlahan, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

​Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya salah satu dari mereka berani membuka suara.

​"Bang," panggil Oniel lirih.

​"Hm?" sahut Cornelio singkat.

​"Itu tadi..." Oniel berhenti sebentar, mencoba mencari kata yang pas untuk menggambarkan situasi barusan, tapi dia tidak kunjung menemukannya. "Nggak tahu deh, gue beneran nggak tahu mau ngomong apa sebenernya."

​Cornelio akhirnya bergerak. Dia melepaskan kondomnya dengan hati-hati, lalu membungkusnya menggunakan beberapa helai tisu yang dia ambil dari atas nakas. Dia menatap Oniel yang masih terbaring diam di tepian kasur dengan rambut yang berantakan.

​"Naik dulu sana," kata Cornelio pelan.

​Oniel mengerutkan alisnya. "Naik ke mana lagi maksud lo?"

​"Ya ke atas kasur lah, jangan di tepian gitu. Nanti lo jatuh atau kedinginan," jawab Cornelio sambil menepuk bagian tengah kasurnya yang kosong.

​Oniel bergeser pelan ke tengah kasur, lalu segera menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh polosnya. Cornelio kemudian ikut berbaring di sampingnya, menjaga jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak bersentuhan.

​Mereka berdua menatap langit-langit kamar dalam diam selama beberapa saat.

​"Bang," panggil Oniel lagi, suaranya terdengar lebih jernih sekarang.

​"Iya, kenapa?"

​"Besok pagi pas bangun, kita bakal pura-pura normal lagi nggak?" tanya Oniel dengan nada yang sedikit khawatir.

​Cornelio tidak langsung menjawab. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya bersuara. "Nggak tahu gue."

​Oniel menoleh ke arah abangnya. "Kok nggak tahu gimana maksudnya? Ya masa mau begini terus?"

​"Ya emang beneran nggak tahu," Cornelio tetap menatap langit-langit tanpa berpaling. "Gue beneran belum kepikiran besok harus gimana di depan Nyokap sama Bokap."

​Oniel mengembuskan napas pelan, lalu kembali membuang pandangannya ke langit-langit. Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya.

​Di luar, angin bergerak pelan melewati celah jendela yang tidak tertutup rapat. Udara dingin malam merayap masuk ke dalam kamar, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak untuk menutup jendela itu.

​Mereka masih tetap berada di sana, terjaga dalam pikiran masing-masing, ketika jarum jam di dinding perlahan menyentuh angka satu pagi.

Bab 6: Setelah Hujan

Mereka berdua masih berbaring berdampingan di atas kasur yang berantakan.

​Selimut tipis yang ditarik Oniel tadi kini menutupi mereka berdua sampai sebatas pinggang. Sebenarnya tidak ada yang menarik di langit-langit kamar itu, hanya ada jejak air hujan yang mengering di sudut plafon, namun keduanya tetap menatap ke sana seolah sedang menonton sesuatu yang penting.

​Cornelio yang bergerak lebih dulu.

​Tangannya keluar dari balik selimut, mulai menelusuri lengan Oniel dengan gerakan pelan yang terasa sangat sadar. Oniel yang merasa terusik pun menoleh ke arah abangnya.

​"Apaan? Lo udah mau tidur sekarang?" tanya Oniel dengan suara serak.

​"Belum," jawab Cornelio pendek.

​Oniel menatapnya selama beberapa saat, mencoba membaca ekspresi di wajah abangnya. "Terus? Masih mau ngapain lagi sih, Bang?"

​Cornelio tidak langsung menjawab. Alih-alih bicara, tangannya justru bergerak masuk kembali ke balik selimut, mencari payudara Oniel lalu meremasnya pelan sekali.

​Oniel langsung menangkap maksud gerakan itu. "Hah? Mau lagi? Serius lo?"

​"Iya," sahut Cornelio datar, tapi tatapannya nggak bisa bohong.

​"Bang, gue ini beneran baru aja selesai, capek tahu nggak," keluh Oniel sambil berusaha menggeser tangan abangnya.

​"Gue tahu lo capek. Tapi gue mendadak pengen nyoba sesuatu yang lain nih," Cornelio berujar sambil memperbaiki posisi duduknya sedikit agar bisa menatap Oniel lebih jelas.

​Oniel mengerutkan dahinya, merasa ada yang nggak beres. "Nyoba apaan lagi emangnya? Aneh-aneh aja lo."

​Cornelio menatapnya selama beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus mengatakannya atau tidak. "Titjob," katanya akhirnya.

​Oniel terdiam sebentar. Ekspresi wajahnya berubah drastis, mulai dari bingung, lalu paham maksudnya, hingga berakhir pada rasa tidak percaya dalam waktu kurang dari tiga detik. "Ih, Bang! Sumpah ya, itu aneh banget kedengerannya. Lo dapet ide dari mana sih?"

​"Nggak aneh, Oniel. Biasa aja kali," balas Cornelio membela diri.

​"Ya menurut lo nggak aneh, tapi menurut gue itu aneh banget," Oniel kembali membuang pandangannya ke langit-langit, merasa konyol dengan obrolan mereka. "Lagian emang lo nggak capek apa dari tadi?"

​"Nggak tuh. Masih oke gue," jawab Cornelio santai.

​"Bohong lo. Muka lo aja kelihatan capek gitu," tuduh Oniel.

​"Gue nggak bohong, Oniel. Masih sanggup kalau cuma buat itu doang mah," Cornelio meyakinkan lagi.

​Oniel menoleh kembali ke arah Cornelio. Dia menatap wajah abangnya selama beberapa detik, mencoba mencari tanda-tanda kalau Cornelio cuma lagi bercanda atau ngerjain dia. Tapi ternyata tidak ada. Tatapan itu beneran serius dan penuh tuntutan.

Oniel mengembuskan napas panjang, suaranya terdengar sangat pasrah di tengah sunyi kamar. "Sumpah ya, Bang. Lo tuh kalau mau apa-apa beneran nggak mau kalah ya orangnya."

"Kan gue nanya baik-baik, Niel. Mau nggak?" Cornelio masih tidak bergeming. Tangannya tetap di sana, menunggu jawaban pasti dari adiknya.

"Ya terus kalau gue bilang nggak mau, lo bakal diem terus tidur gitu?" Oniel bertanya balik. Nadanya sedikit mengejek, meskipun dia sudah tahu apa jawabannya.

"Ya nggak juga sih," Cornelio akhirnya mengakui dengan jujur.

Oniel mendengus pelan. Dia kemudian menarik selimutnya sedikit lebih bawah, membiarkan dadanya yang masih kemerahan terpapar cahaya lampu tidur yang remang. "Ya udah sih, sini. Daripada lo makin bawel terus gue malah nggak bisa tidur sampai subuh."

Cornelio tidak perlu diperintah dua kali. Dia segera menggeser posisinya, duduk berlutut di antara kaki Oniel yang masih selonjoran di atas kasur. Tangannya meraih kedua payudara Oniel, lalu merapatkannya hingga posisinya pas berada di tengah-tengah.

Oniel merasakan sensasi aneh saat melihat abangnya mulai menyelipkan penisnya di sela-sela payudaranya. Dia mengerutkan hidung kembali, sebenarnya ingin berkomentar, namun dia memilih untuk diam terlebih dahulu.

"Gini kan?" tanya Oniel saat dia merasakan gesekan yang sepenuhnya berbeda dari apa yang mereka lakukan di lantai atau di sofa tadi.

"Iya, diem aja lo," sahut Cornelio pendek. Napasnya mulai terdengar berat kembali.

Oniel sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi wajah abangnya yang terlihat sangat fokus, namun lama-kelamaan dia juga mulai merasakan sensasi yang tidak terduga. Rasanya ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan sebelumnya. Tangan Oniel kini terangkat, memegang lengan Cornelio yang sedang bekerja keras menahan beban tubuh di atasnya.

"Geli tahu, Bang. Pelan-pelan kek," gumam Oniel pelan.

"Iya, bentar. Lo jangan gerak-gerak mulu," Cornelio melayangkan protes balik, namun gerakannya justru menjadi semakin konsisten.

Oniel hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Dia merasa seluruh situasi ini semakin tidak masuk akal. Barusan mereka baru saja melakukan kesalahan yang paling fatal, dan sekarang mereka justru lanjut bereksperimen dengan hal yang sebelumnya hanya dia ketahui lewat internet.

"Aneh banget, Bang. Sumpah," bisik Oniel lagi di sela napasnya yang mulai ikut berantakan.

"Berisik, Niel. Nikmatin aja kenapa sih," potong Cornelio sambil menunduk. Dia mencium leher Oniel sekali sebelum melanjutkan gerakannya dengan ritme yang lebih cepat.

Oniel tidak menjawab lagi. Dia benar-benar terdiam, hanya bisa merasakan tiap gesekan panas di antara dadanya sembari menunggu kapan abangnya ini akan merasa puas dan membiarkannya tidur.

Cornelio masih terus melakukan gerakannya, menggesekkan miliknya di antara belahan payudara adik kandungnya sendiri. Di tengah gerakan yang monoton namun panas itu, Oniel tiba-tiba membuka suara.

​"Bang," panggil Oniel pelan.

​"Hm?" sahut Cornelio singkat tanpa membuka matanya.

​"Gue mau nanya sesuatu ke lo," Oniel tidak berhenti bergerak, meski tangannya kini memegang lengan abangnya lebih erat. "Dan lo harus jawab jujur ke gue."

​Cornelio akhirnya membuka mata, menatap wajah Oniel dari posisinya di bawah. "Mau nanya apaan emangnya?"

​"Sebenernya sejak kapan sih lo mulai ngerasa... gitu ke gue? Maksud gue, ya perasaan yang kayak sekarang ini," Oniel tidak berani menatap Cornelio langsung; matanya justru tertuju pada dinding di samping mereka. "Gue beneran nggak nyangka, Bang. Kita ini udah hidup bareng dari kecil, tapi lo nggak pernah nunjukin tanda-tanda apa pun. Lo selama ini kelihatan normal aja, beneran memperlakukan gue kayak adek biasa. Nggak pernah ada yang aneh."

​Cornelio terdiam sejenak. Gerakan tangannya di pinggang Oniel sempat terhenti.

​"Udah lama," jawab Cornelio akhirnya dengan suara rendah.

​"Ya lama gimana maksud lo? Yang spesifik dong jawabnya," desak Oniel penasaran.

​"Beberapa tahun belakangan ini," sahut Cornelio jujur.

​Oniel seketika menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke arah Cornelio dengan ekspresi tidak percaya. "Beberapa tahun? Sumpah lo, Bang? Serius?"

​"Iya, serius. Ngapain juga gue bohong soal ginian," balas Cornelio datar.

​"Dan selama itu lo nggak pernah ngomong apa-apa ke gue? Nggak pernah kelihatan sama sekali di depan gue atau orang rumah?" Oniel masih merasa janggal.

​"Emang gue sengaja nggak mau kelihatan," jawab Cornelio pendek.

​Oniel kembali melanjutkan gerakannya, kali ini jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Pikirannya mulai berputar. "Terus mulainya gara-gara apa? Maksud gue, ada kejadian yang bikin lo tiba-tiba sadar atau emang rasanya muncul perlahan gitu aja?"

​Cornelio menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menjawab. "Perlahan sih. Nggak ada satu momen yang bener-bener spesifik. Lo makin tumbuh besar, gue perhatiin terus, dan akhirnya ada sesuatu yang berubah tanpa pernah gue minta sebelumnya."

​"Lo perhatiin gue gimana maksudnya?" tanya Oniel lagi.

​Cornelio tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang.

​"Bang?" pancing Oniel karena abangnya mendadak diam.

​"Fisik lo berubah, Niel," kata Cornelio pelan, suaranya terdengar sedikit parau. "Termasuk bagian yang lagi lo apit sekarang ini."

​Oniel terdiam seribu bahasa. Pipinya mendadak terasa sangat panas. "Jadi maksud lo, lo diem-diem perhatiin payudara adek lo sendiri selama ini?"

​"Iya," jawab Cornelio singkat tanpa ada nada ragu.

​"Sumpah ya, itu tuh bejat banget tahu nggak, Bang," gumam Oniel.

​"Gue tahu."

​"Lo bilang tahu, tapi kenapa ngomongnya bisa santai banget kayak gitu?" Oniel merasa heran dengan ketenangan abangnya.

​"Ya mau gimana lagi? Emang itu kenyataannya, kan?" sahut Cornelio.

​Oniel mengembuskan napas panjang, namun gerakannya tetap terjaga dengan teratur. "Gue beneran nggak habis pikir. Selama ini lo biasa aja. Nggak ada yang beda sedikit pun. Kalau ada temen lo yang tanya soal gue, lo jawabnya biasa. Pas Mama sama Papa cerita soal gue pun, lo dengerinnya juga biasa aja," Oniel berhenti sejenak untuk menata napas. "Lo beneran nggak pernah kelihatan kayak orang yang lagi nyimpen rahasia gila."

​"Ya karena emang gue nggak mau hal ini ketahuan siapa pun," ulang Cornelio lagi. "Lo itu adek gue, Niel. Hal kayak gini tuh nggak seharusnya terjadi di antara kita."

​"Tapi nyatanya tetep lo lakuin juga sekarang," sindir Oniel.

​"Iya," Cornelio menatap adiknya dalam-dalam dari bawah. "Dan malam ini, akhirnya gue lakuin."

​Oniel membalas tatapan itu, mencoba mencari sisa-sisa kewarasan di mata abangnya. "Gara-gara apa? Kenapa harus malam ini banget?"

​"Ya karena kebetulan lo ada di rumah. Terus nggak ada siapa-siapa juga di sini," Cornelio menjeda kalimatnya sebentar, matanya tampak sedikit menggelap. "Dan karena gue udah terlalu lama nahan ini sendirian."

Oniel terus bergerak, tapi kali ini lebih lambat, seolah kata-kata Cornelio barusan memberikan beban tambahan di pundaknya. Dia membayangkan orang tuanya yang sedang berada di tempat lain, sama sekali tidak menaruh curiga pada apa yang terjadi di kamar ini.

"Mama sama Ayah lagi nemenin pentas sekarang," kata Oniel pelan, suaranya nyaris berbisik. "Mereka di sana, sibuk sama urusan mereka, dan kita malah di sini... ngelakuin ini."

Cornelio tidak langsung menjawab. Dia hanya memejamkan mata, menikmati tekanan dari dada adiknya yang terasa hangat dan nyata. "Gue tahu. Nggak usah diingatin sekarang, Niel."

"Gue nggak ngingetin, gue cuma baru sadar aja betapa gila situasinya," Oniel mendengus pendek, matanya masih menatap ke arah lain. "Kalau mereka tiba-tiba mutusin buat pulang malam ini juga gimana? Lo udah kepikiran belum alasan apa yang mau lo kasih kalau mereka buka pintu kamar ini?"

"Nggak akan. Tadi kan mereka udah bilang mau nginep," sahut Cornelio. Suaranya terdengar lebih tenang, tapi ada ketegasan yang mutlak di sana. "Lagian pintu udah gue kunci rapat. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu kenapa sih."

Oniel diam sebentar, merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan napas Cornelio yang makin berat. "Gue cuma takut aja, Bang. Lo mah enak bisa santai gitu, lah gue? Gue dari tadi mikir besok pas sarapan gue harus pasang muka kayak gimana di depan mereka."

Cornelio menarik napas dalam, lalu tangannya bergerak naik dari pinggang Oniel ke tengkuk adiknya, menariknya sedikit agar Oniel menunduk. "Besok ya besok. Sekarang lo fokusnya ke gue dulu aja bisa nggak?"

Oniel akhirnya menyerah dan menatap wajah abangnya. Dia melihat ada semacam rasa haus yang tertahan lama di mata Cornelio, sesuatu yang akhirnya tumpah malam ini. Oniel tidak berkata apa-apa lagi. Dia kembali menyesuaikan posisinya, menekan dadanya lebih rapat ke arah Cornelio, memberikan apa yang diminta abangnya tanpa banyak tanya lagi.

Suara gesekan itu kembali terdengar di sela-sela napas mereka yang makin berantakan. Oniel bisa merasakan bagian sensitifnya sendiri mulai ikut bereaksi, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang justru menikmati situasi terlarang ini.

"Bang," gumam Oniel saat dia merasa Cornelio makin tidak sabar.

"Apa lagi?"

"Jangan keluar di dalem selimut ya, nanti bekasnya susah dicuci kalau Mama liat," Oniel masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu di tengah situasi panas mereka.

Cornelio sempat terkekeh pendek, suara tawa yang terdengar sangat langka. "Iya, bawel. Nggak bakal kena selimut juga."

Gerakan Cornelio semakin cepat, tenaganya makin besar seiring dengan pegangannya yang menguat di bahu Oniel. Oniel hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan bersalah sekaligus nikmat yang bercampur aduk jadi satu, sementara jam di dinding terus berdetak menuju pagi yang pasti akan terasa sangat berbeda.

Gerakan Cornelio semakin cepat, napasnya sekarang terdengar satu-satu dan berat. Oniel bisa merasakan gesekan itu semakin panas di sela payudaranya, sebuah sensasi yang bikin dia sendiri merasa aneh karena ternyata dia tidak se-jijik yang dia bayangkan tadi.

"Bang, pelanin dikit napa, lecet nih kalau lo semangat banget gitu," gumam Oniel sambil meringis dikit.

Cornelio tidak memelankan gerakannya, malah makin menekan. "Bentar lagi. Lagian punya lo empuk banget, nggak bakal lecet."

"Empuk pala lo. Ini kulit, Bang, bukan bantal," balas Oniel, meskipun dia tetap tidak menjauhkan tubuhnya. "Terus itu... lo nggak ngerasa aneh apa? Maksud gue, itu kan cuma dijepit doang, emang kerasa ya?"

Cornelio membuka matanya sebentar, menatap Oniel dengan pandangan yang bener-bener fokus. "Kerasa banget, Niel. Apalagi punya lo ternyata pas banget di tengah gini. Anget."

Oniel membuang muka, pipinya makin merah denger kejujuran abangnya yang nggak disaring sama sekali. "Dih, mesum banget omongan lo. Gue nggak nyangka abang gue kalau lagi begini mulutnya begini juga."

"Ya kan lo yang nanya, gue jawab jujur salah lagi," sahut Cornelio. Tangannya sekarang bergerak meremas payudara Oniel yang lagi menjepit miliknya, membantu mempererat jepitan itu. "Coba lo rapetin lagi tangannya ke sini. Nah, gitu."

Oniel menurut, dia mendekap dadanya sendiri biar jepitannya makin kencang buat Cornelio. "Gini? Puas lo?"

"Iya, gitu. Enak banget, sumpah," gumam Cornelio, suaranya makin serak. "Gue dari dulu kalau liat lo pake baju agak ketat, selalu kepikiran pengen nyobain ini."

"Sumpah ya, Bang, lo beneran sakit," Oniel mendengus, tapi nadanya nggak marah. Dia malah mulai ikut menikmati ritme yang dibuat Cornelio. "Jadi selama ini lo diem-diem ngebayangin gue dijepit begini?"

"Iya. Dan aslinya ternyata jauh lebih enak daripada yang gue bayangin," Cornelio mengakui tanpa rasa malu sedikit pun. Dia menarik napas panjang saat gerakannya mencapai puncak. "Niel, bentar lagi ya... jangan dilepas dulu."

"Iya, bawel. Gue nggak bakal kabur juga," Oniel memejamkan matanya, merasakan getaran di tubuh Cornelio yang mulai menjalar ke dia juga.

Suasana kamar itu beneran kerasa makin sempit sama suara napas mereka yang makin nggak beraturan. Oniel cuma bisa pasrah, ngerasain setiap inci dari abangnya yang bener-bener lagi dimanjain sama badannya sendiri. Dia ngerasa dunia luar kayak nggak ada gunanya lagi buat dipikirin sekarang, yang ada cuma dia, Cornelio, dan kegilaan yang mereka buat di atas kasur ini.

"Bang, lo jangan lama-lama, tangan gue mulai pegel nih nahan badan lo," protes Oniel terakhir kali sebelum suaranya hilang diganti sama lenguhan pendek.

"Bentar lagi, Niel... dikit lagi," sahut Cornelio, gerakannya sekarang bener-bener nggak terkendali.

Ritme gerakan itu semakin lama semakin cepat, menciptakan gesekan panas yang konsisten. Oniel yang tadinya skeptis dan banyak protes, kini justru terbawa suasana dan mulai menikmati sensasi aneh yang menjalar di dadanya.

"Hh... ah... mmh..."

Ritmenya terus naik, gerakannya menjadi jauh lebih tidak sabar dari sebelumnya. Suara-suara yang keluar dari mulut Oniel mengikuti setiap hentakan, terdengar pelan namun tidak lagi berusaha dia tahan.

"Ah... hh... mm... ahh..."

Kedua payudaranya mengapit lebih erat, menjepit milik Cornelio dengan mantap. Di titik itu, Oniel tidak lagi memikirkan konsekuensi apa pun selain ritme yang sedang dia kendalikan sendiri. Suaranya keluar lebih panjang di gerakan tertentu, lalu lebih pendek di gerakan yang lain; semuanya terdengar tidak beraturan dan tidak disengaja.

"Mmh... ah... hh... ahhh..."

Cornelio menutup matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan puncak yang sudah di depan mata.

Tubuh Cornelio mulai mengejang pelan dan tidak terkontrol, sementara tangannya mencengkeram sisi paha Oniel dengan kuat. Satu kejang, lalu dua. Napasnya keluar terputus-putus. Di detik terakhir, tangannya menarik pinggang Oniel ke bawah agar semakin erat menempel pada tubuhnya.

Milik Cornelio berdenyut kuat di antara belahan payudara Oniel. Cairan hangat menyembur pelan di sana, jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk meninggalkan jejak di lekukan payudara Oniel dan mengalir turun menuju perutnya karena posisi tubuh mereka yang sangat rapat.

Cornelio menghela napas panjang dan berat, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat besar.

Oniel langsung menunduk, menatap ke arah tubuhnya sendiri. Ekspresinya sempat datar selama dua detik sebelum akhirnya dia bersuara.

"Ih."

Cornelio membuka matanya perlahan, meskipun napasnya masih belum kembali normal sepenuhnya. Dia menatap Oniel dari posisinya di bawah.

"Dikit banget ternyata, Bang," komentar Oniel. Nadanya bukan terdengar kecewa, melainkan benar-benar sedang berkomentar jujur atas apa yang dia lihat.

"Iya, emang segitu," sahut Cornelio pendek.

"Gue kira bakal lebih banyak dari ini," gumam Oniel lagi.

"Kan ini udah dua kali, Niel. Ya wajar," bela Cornelio.

Oniel menatap abangnya sebentar. "Oh iya ya." Dia kembali menoleh ke bawah, menatap sisa cairan di perutnya sendiri. "Tapi tetap aja, ih. Lengket tahu."

Sudut bibir Cornelio bergerak sedikit, membentuk senyum tipis yang hampir tidak kelihatan. "Kan lo sendiri yang tadi setuju."

"Dih, gue nggak minta ya, lo yang maksa-maksa tadi," balas Oniel cepat.

"Tapi lo yang akhirnya bilang iya," Cornelio tidak mau kalah.

Oniel tidak punya jawaban yang cukup bagus untuk membalas itu. Dia akhirnya menggeser posisinya, turun dari atas tubuh Cornelio dan duduk di tepi kasur. Dia menatap kondisi dirinya sendiri dengan ekspresi seperti orang yang sedang mengevaluasi situasi gila yang baru saja dia lalui.

"Lo puas?" tanya Oniel tanpa menoleh sedikit pun.

Cornelio menatap punggung adiknya dari atas kasur. "Iya. Puas."

"Syukurlah kalau salah satu dari kita ada yang puas," sahut Oniel, meski nada bicaranya tidak sungguh-sungguh terdengar kesal.

"Emang lo nggak puas?" tanya Cornelio penasaran.

Oniel terdiam sebentar, menimang jawaban di kepalanya. "Gue nggak bilang gitu juga sih," jawabnya ambigu.

Cornelio tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, namun matanya tetap tertuju pada Oniel yang sekarang mulai berdiri dari kasur.

"Gue ke kamar mandi dulu, mau bersih-bersih," kata Oniel. "Dan pokoknya lo harus beliin gue sesuatu besok sebagai ganti rugi."

"Beliin apaan?" tanya Cornelio.

"Nggak tahu, pokoknya terserah lo. Tapi lo harus beliin," Oniel berjalan menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, lalu menutup pintunya dengan rapat.

Dari balik pintu, tak lama kemudian terdengar suara kucuran air.

Cornelio berbaring telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang redup. Napasnya perlahan mulai kembali ke ritme normal, menyisakan rasa lega sekaligus hampa yang aneh di dadanya.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali. Oniel keluar dari sana, berjalan kembali ke kasur, dan segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Cornelio menjangkau lampu tidur di atas nakas lalu mematikannya.

Kamar itu seketika kembali jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.

"Bang," panggil Oniel pelan di tengah kegelapan itu.

"Hm."

"Tetap bakal kerasa aneh ya besok paginya pas kita bangun," gumam Oniel, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Cornelio tidak memberikan jawaban verbal. Tangannya bergerak di balik kegelapan, menemukan kepala Oniel, lalu mengusap rambut adiknya itu sekali dengan sangat pelan dan lembut.

Oniel terdiam, membiarkan sentuhan itu menetap sejenak di kepalanya.

Di luar, tidak ada lagi suara sisa hujan yang terdengar. Malam sudah sepenuhnya menjadi sunyi, meninggalkan mereka berdua dalam rahasia yang terkunci rapat di balik pintu kamar itu.