Bab 1: Lantai Tiga dan Keputusan Terakhir
Kepala Ella masih terasa berat, sisa kelelahan dari penerbangan Tokyo ke Jakarta belum hilang sepenuhnya. Di dalam koper besarnya, masih tersisa beberapa barang dari kunjungannya ke paviliun di Jepang tempo hari. Seharusnya, kepulangannya disambut dengan kebanggaan, tapi yang ia temukan justru neraka di linimasa X.
Sejak mendarat di Soekarno-Hatta, Ella sudah mematikan semua notifikasi, tapi rasa penasaran yang beracun membuatnya sempat mengintip sebentar. Foto-foto itu ada di mana-mana. Meskipun diambil dari kejauhan dan dalam kondisi remang-remang, siluet dirinya yang sedang berada di sebuah bioskop bersama seorang pria itu sudah cukup sebagai bukti bagi para penggemar. Narasi "pelanggaran golden rules" dan tuntutan pemecatan menduduki jajaran trending topic. Setiap kali ia menyegarkan laman, hujatan baru muncul, menghakimi setiap langkah yang ia ambil selama ini.
Dua hari Ella mengurung diri di kamar, hanya berani menatap langit-langit tanpa menyentuh ponselnya lagi. Dia tahu fans sedang mengamuk, menuntut penjelasan yang bahkan Ella sendiri bingung bagaimana cara menyampaikannya. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon dari staf manajemen memaksanya untuk berangkat ke Menara Global sore itu.
Suasana di ruang rapat lantai tiga terasa sangat mencekam, seolah menghimpit jantung Ella yang memang sudah berdegup tidak karuan sejak sore tadi. Di hadapannya, tiga sosok yang biasanya ia temui dengan senyum kini duduk dengan raut wajah yang membeku. Fritz Hernandez duduk di tengah, membiarkan Rino dan Iin yang membuka suara terlebih dahulu. Tidak ada suara lain selain dengung pelan pendingin ruangan yang membuat oksigen seolah menipis bagi Ella yang hanya bisa menatap jari tangannya sendiri yang sedang gelisah.
Rino melempar sebuah tablet ke tengah meja, layarnya masih menyala menampilkan kompilasi tangkapan layar dari linimasa X yang penuh dengan caci maki. Di samping tablet itu, ada salinan draf rilis pers yang judulnya masih dikosongkan, seolah sedang menunggu nasib Ella ditentukan sore itu juga. Rino tidak memaki, dia hanya bersandar di kursinya sambil memijat pangkal hidung. Raut wajahnya menunjukkan keletihan orang yang sudah dua hari tidak tidur hanya untuk meredam api yang dinyalakan oleh satu orang di depannya ini.
"Jujur ya Ella, saya tuh bingung mau ngomong apa lagi sama kamu. Intinya manajemen itu sudah habis-habisan buat nge-push kamu setahun ini. Kamu lihat saja sendiri jadwal kamu, dari project yang kemarin sampai semua jadwal yang kita setor ke direksi, semuanya nama kamu yang kita prioritasin. Kita itu sudah kasih karpet merah buat karir kamu, tapi kamu malah bikin manuver yang benar-benar di luar nalar kayak gini."
Rino mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja, memberikan penekanan pada poin tersebut dengan nada bicara yang tetap terjaga formalitasnya namun terasa sangat menusuk. Dia kemudian terdiam dan hanya memperhatikan reaksi Ella, seolah membiarkan data di atas meja yang berbicara lebih banyak.
Iin menghela napas panjang, tatapannya masih tertuju pada Ella yang terus menunduk. Dia memajukan posisi duduknya sedikit, mencoba mencari celah agar matanya bisa bertemu dengan mata anak didiknya itu. Suaranya tidak meledak, justru terdengar berat karena rasa kecewa yang menumpuk di dadanya.
"Ell, lihat saya sebentar. Kamu tahu kalau kak iin sayang banget sama kamu? Saya itu orang yang paling rajin pasang badan pas rapat penentuan member buat setiap project kemarin. Saya bilang ke Pak Fritz kalau kamu itu anak yang paling siap dan punya mental buat dikasih tanggung jawab. Saya sudah anggap kamu anak saya sendiri yang saya bimbing dari nol di sini. Tapi kamu ini, ya... ngerusak kepercayaan saya cuma demi hal sepele kayak gitu? Kamu itu tau ga? bodoh banget, Ell. Coba kasih tahu saya sekarang, apa yang ada di pikiran kamu pas mutusin buat ngelakuin itu?"
Ella tersentak kecil, jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan tampak semakin gemetar. Dia menarik napas pendek yang terasa sesak, berusaha mengumpulkan suara di tengah tenggorokannya yang terasa sangat kering.
"Maaf, Kak Iin. Saya beneran nggak kepikiran bakal jadi kayak gini. Saya cuma ngerasa penat banget pas itu, terus ada temen lama yang ngajak nonton dan saya ngerasa aman-aman saja. Saya beneran menyesal."
Mendengar jawaban itu, Iin hanya bisa menggelengkan kepala dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan yang terlihat sangat lesu, seolah energinya terkuras habis setelah mendengar pengakuan tersebut.
Fritz Hernandez akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam, memutus pembicaraan emosional antara Iin dan Ella. Dia menatap Ella dengan pandangan yang sangat tenang namun penuh kuasa, seolah sedang menilai apakah gadis di depannya ini masih layak untuk dipertahankan atau tidak.
"Saya rasa penjelasan dari Pak Rino dan Iin sudah sangat jelas menggambarkan posisi kamu sekarang di mata manajemen. Kita sudah investasi banyak buat kamu, tapi kamu malah kasih pengembalian yang buruk buat grup. Untuk sekarang, saya belum bisa kasih keputusan apa-apa soal hukuman kamu. Kamu silakan pulang dulu, tenangkan pikiran kamu. Tapi ingat ya, jangan coba-coba hubungi siapa pun atau posting apa pun di media sosial sampai ada instruksi lebih lanjut dari saya."
Ella berdiri dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba memberikan hormat terakhir sebelum melangkah keluar dengan bahu yang merosot jatuh. Dia tahu, pintu yang tertutup di belakangnya itu mungkin saja menjadi tanda berakhirnya semua mimpi yang baru saja ia mulai genggam.
Bab 2: Pintu Samping Menara Global
Dua hari setelah interogasi itu, kamar Ella tidak lagi terasa seperti tempat istirahat. Baginya, setiap sudut ruangan itu kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Dia sengaja membiarkan gorden tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang seolah mengejek kegagalannya. Ponselnya lebih banyak dalam keadaan mati, namun sekalinya ia nyalakan, linimasa X masih saja melepaskan racun yang sama. Ella sudah berada di titik di mana dia tidak lagi peduli dengan prosedur atau aturan organisasi, dia hanya ingin ketidakpastian ini segera berakhir.
Pukul sembilan malam, sebuah getaran singkat dari ponselnya memecah keheningan. Sebuah pesan singkat dari Fritz Hernandez muncul di layar yang redup.
"Ke kantor sekarang. Ada dokumen sanksi dari direksi yang harus kamu tanda tangani malam ini juga kalau kamu mau saya bantu ringankan di rapat pleno besok pagi. Lewat pintu samping lantai tiga, jangan sampai ada staf lain atau siapapun yang lihat kamu masuk. Saya tunggu."
Ella tidak berpikir dua kali. Logikanya sudah lumpuh oleh rasa takut dan putus asa yang mendalam. Dia segera menyambar hoodie hitamnya, menutupi wajahnya yang sembab. Sebelum melangkah keluar kamar, dia sempat terhenti di depan cermin, menatap matanya yang masih merah karena kurang tidur. Dia harus keluar rumah, dan itu berarti dia harus melewati ruang tengah di mana ayahnya biasanya masih terjaga menonton berita malam.
"Mau ke mana, Ell? Sudah jam sembilan lewat," suara ayahnya terdengar pelan dari balik sofa, matanya tidak beralih dari layar televisi.
Ella menelan ludah, berusaha menormalkan suaranya yang serak. Dia tidak mungkin bilang kalau dia dipanggil ke kantor secara rahasia oleh atasan tertingginya. Ayahnya tidak tahu Ella sedang dalam masalah besar karena skandal itu.
"Ada urusan mendadak di kantor, Pah. Biasa, ada jadwal latihan tambahan buat project baru yang harus difinalisasi malam ini. Katanya mumpung studionya kosong," jawab Ella sambil sibuk memakai sepatunya, menghindari kontak mata yang terlalu lama.
Ayahnya terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut. Kalau sudah selesai, langsung kabari Papah biar dijemput."
"Nggak apa-apa, Pah. Ella naik ojek online saja biar cepat. Ella pamit ya."
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Ella segera melangkah keluar rumah. Angin malam Jakarta yang lembap langsung menyapa kulitnya, namun rasa dingin yang ia rasakan justru datang dari dalam dadanya sendiri. Di dalam kepalanya, pesan Fritz terus berputar, memberikan harapan semu yang ia genggam erat-erat sepanjang perjalanan menuju Kuningan.
Lobi Menara Global sudah nampak lengang, hanya menyisakan beberapa petugas keamanan yang berjaga di balik meja resepsionis. Ella melangkah dengan kepala tertunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun saat ia masuk ke lift menuju lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, lorong kantor JKT48 terlihat gelap, hanya lampu darurat yang menyala remang-remang di sepanjang jalan. Langkah kakinya yang gemetar bergema di lantai keramik yang dingin, menuju satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala terang di ujung koridor, ruangan Fritz.
Ella mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan. Suaranya terdengar sangat kecil di tengah kesunyian gedung yang kosong.
"Masuk," suara Fritz terdengar berat namun tenang dari dalam.
Begitu Ella melangkah masuk, ia melihat Fritz sedang duduk di balik meja besarnya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Beberapa tumpuk kertas berserakan di depannya, menciptakan kesan bahwa pria itu memang sedang bekerja keras lembur demi sesuatu yang mendesak. Fritz tidak langsung menatapnya, dia sengaja membiarkan Ella berdiri dalam kecanggungan selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajah.
"Duduk, Ell."
Fritz menutup laptopnya dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Ella dengan pandangan yang seolah-olah penuh simpati namun menyimpan otoritas yang mutlak.
"Saya sebenarnya sudah capek banget hari ini. Tadi siang saya habis debat panjang sama Pak Rino dan terutama Iin. Kamu tahu sendiri kan gimana Iin kalau sudah kecewa? Dia tadi bahkan bilang ke saya kalau dia sudah nggak mau lagi ngelihat kamu ada di grup ini. Dia minta kamu dipecat secara tidak hormat besok pagi."
Ella tersentak, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata saat mendengar nama Iin disebut dengan nada sedingin itu. Fritz yang melihat reaksi tersebut justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.
"Tapi saya coba tahan mereka. Saya bilang kalau kamu itu aset yang masih bisa kita selamatkan kalau caranya benar. Nah, dokumen di depan kamu ini adalah kesempatan terakhir kamu. Kalau kamu tanda tangan sekarang, saya bisa punya alasan buat ngebela kamu di depan direksi besok tanpa perlu lewat prosedur formal yang ribet."
Fritz menggeser selembar kertas ke arah Ella, namun tangannya tetap menempel di atas kertas itu, seolah-olah menahan Ella agar tidak membacanya terlalu detail. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja itu, Ella merasa Fritz adalah satu-satunya orang yang masih berdiri di pihaknya, tanpa ia sadari bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang lebih besar.
Bab 3: Sisi Gelap Lantai Tiga
Hening di ruangan itu terasa sangat menekan, hanya deru halus AC yang menemani suara detak jam dinding yang seolah melambat. Ella masih menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat sampai kulit di sekitar persendiannya pucat karena tekanan yang terlalu kuat. Di depannya, Fritz tidak lagi duduk tegak di balik meja. Dia sudah berpindah, duduk di pinggiran meja kayu jati itu, sangat dekat dengan posisi duduk Ella sampai aroma parfum maskulinnya memenuhi indra penciuman gadis itu.
"Kamu tahu kan, Ell, posisi saya sekarang ini sulit banget?" Fritz memulai pembicaraan dengan nada bicara yang sangat rendah, hampir berbisik. "Rino sudah buat draf pemecatan kamu. Iin bahkan nggak mau dengar nama kamu lagi di kantor ini. Cuma saya yang masih di sini, jam sepuluh malam, nyari celah biar kamu tidak didepak."
Ella mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang sembab menatap Fritz dengan sisa-sisa harapan yang rapuh. "Saya... saya beneran terima kasih banget, Pak. Saya nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Bapak."
Fritz hanya menatap Ella dengan pandangan datar yang sulit dibaca. Dia tidak bergerak untuk menenangkan, malah membiarkan Ella tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Tatapan matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi ketakutan Ella.
"Terima kasih saja nggak cukup, Ell. Saya sudah pasang badan buat kamu, saya pertaruhkan jabatan saya di depan direksi demi anak nakal kayak kamu," Fritz menghela napas, nadanya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. "Saya capek banget seharian ini. Pikiran saya kacau gara-gara ngurusin kamu. Kamu mau kan bantu saya biar saya bisa sedikit rileks malam ini?"
Darah Ella seolah membeku. Dia bukan anak kecil yang tidak paham arah pembicaraan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya menyakitkan di dada. Dia ingin berdiri, ingin lari keluar dari ruangan gelap itu dan turun ke lobi, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai.
"Maksud... maksud Bapak?" suara Ella bergetar hebat, nyaris hilang.
Fritz tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu ruangan dan memutar kunci dari dalam dengan suara klik yang sangat tajam di telinga Ella. Dia kemudian mematikan lampu utama, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu meja yang membuat bayangan mereka memanjang di dinding.
"Ell, jangan bikin ini jadi susah buat kita berdua. Saya cuma minta sedikit bentuk apresiasi dari kamu karena posisi kamu itu sebenarnya sudah di ujung tanduk," Fritz kembali mendekat, berdiri tepat di depan Ella yang masih mematung di kursinya tanpa menyentuh seujung kuku pun, namun kehadirannya terasa sangat mendominasi. "Cukup nurut sama saya malam ini, dan besok pagi draf pemecatan itu hilang dari meja saya. Kamu masih punya nama besar, masih bisa naik panggung teater, dan kamu tidak kehilangan project. Kamu mau kan semuanya kembali kayak biasa?"
Ella merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Pikirannya melayang ke bayangan panggung teater, ke sorak-sorai fans, dan ke wajah Iin yang pernah sangat ia banggakan. Semuanya kini terasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar oleh Fritz.
"Tapi Pak... saya nggak bisa..." Ella berbisik dengan air mata yang mulai luruh tanpa suara.
"Pilihan kamu cuma dua, Ell," Fritz memotong dengan suara tenang namun penuh ancaman. "Kamu keluar dari ruangan ini sekarang dan besok pengumuman pemecatan kamu rilis, atau kamu tetap di sini, bantu saya sebentar, dan semuanya selesai. Kamu mau karier kamu hancur cuma gara-gara ego kamu malam ini?"
Ella merasa dunia di sekitarnya runtuh. Ketakutan akan kehilangan statusnya sebagai member, ketakutan akan mempermalukan keluarganya jika dipecat secara tidak hormat, jauh lebih besar daripada harga dirinya saat itu. Dia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya jatuh ke dalam disosiasi yang dingin. Dia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.
Pasrah. Ella hanya bisa terisak pelan saat Fritz akhirnya memberikan isyarat agar dia berdiri. Di dalam kegelapan kantor Menara Global yang sepi, Ella menyadari bahwa harga untuk tetap bersinar di bawah lampu panggung ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.
Penebusan Ella
Bab 4: Denting di Meja Jati
Fritz meraih sebuah benda kecil dari sudut mejanya. Sebuah lonceng servis berbahan krom mengkilap yang biasanya cuma jadi pajangan atau alat pemanggil asisten. Dia meletakkannya tepat di tengah, di antara Ella dan draf pemecatan yang masih terbuka lebar.
Suara logam yang beradu dengan kayu jati itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang kedap suara.
"Saya nggak suka paksaan, Ell. Kamu tahu itu," Fritz bersandar, melipat tangan di depan dada sambil menatap lonceng itu, lalu beralih ke mata Ella. "Keputusan sepenuhnya ada di tangan kamu. Kamu tekan lonceng ini, artinya kamu setuju dengan penawaran saya. Kita selesaikan administrasi kamu malam ini, dan besok kamu bisa tidur tenang."
Ella mundur selangkah, napasnya mulai pendek-pendek seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Matanya menatap nanar ke arah lonceng kecil tersebut, sementara jemarinya meremas kain celana levis panjangnya dengan sangat kuat. "Pak... ini... ini nggak ada hubungannya sama kontrak saya. Kenapa Bapak harus minta ini? Saya datang ke sini buat nyari jalan keluar, bukan buat jual diri saya sendiri."
Fritz tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, tipe senyuman yang sering dia pakai saat sedang negosiasi kontrak besar. Dia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja tanpa melepaskan pandangannya dari Ella.
"Kamu pikirkan baik-baik, Ell. Kalau kamu tekan lonceng itu, saya jamin semua project yang tertunda bakal balik ke tangan kamu. Endorse, event luar negeri, bahkan posisi senbatsu buat single depan. Saya yang atur semuanya," Fritz berhenti tepat di belakang kursi Ella, suaranya kini tepat di samping telinga gadis itu. "Tentu, hukuman penangguhan tiga bulan itu tetap harus jalan. Itu formalitas wajib supaya Rino, Iin, dan fans nggak curiga. Tapi setelah tiga bulan itu lewat? Kamu bakal balik lebih bersinar dari sebelumnya. Anggap saja ini investasi kecil buat masa depan kamu yang masih panjang."
Fritz kembali ke depan, telunjuknya mengetuk pelan pinggiran lonceng itu. Ting. Bunyinya pendek, tapi terasa menusuk sampai ke ulu hati Ella.
"Pilihannya simpel. Kamu keluar dari sini, jadi warga biasa, dan lupakan semua tepuk tangan di teater. Atau, kamu tekan ini, lalui malam ini, dan tetap jadi bintang. Saya kasih waktu satu menit."
Ella menatap benda krom itu. Pantulan lampu meja membuat lonceng itu berkilau indah, namun di mata Ella, itu adalah alat eksekusi harga dirinya. Sejenak, pikirannya melayang ke bayangan jika karirnya berakhir dengan cara sehina ini di grup. Skandal ini pasti bakal terus membekas, jadi noda yang nggak bakal hilang seumur hidup kalau dia keluar sebagai pecundang.
Padahal masih banyak mimpi yang belum ia sentuh. Dia masih ingin terbang lebih sering ke luar negeri, masuk ke layar televisi nasional, mengembangkan bakat yang ia asah tiap malam di ruang latihan, sampai kolaborasi dengan musisi papan atas yang dulu ia idolakan. Ella tahu betul, kalau dia keluar sekarang, jalannya bakal jauh lebih sulit, mungkin malah tertutup rapat.
Perlahan, tangan Ella terangkat. Jarinya terasa sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang menahan gerakannya. Dia menatap Fritz yang masih menunggu dengan tenang, seolah yakin dengan hasil akhirnya.
Ting!
Suara lonceng itu bergema jauh lebih keras dari sebelumnya. Ella memejamkan mata rapat-rapat saat telapak tangannya menekan dinginnya permukaan logam itu. Dia sudah memilih.
Fritz bertepuk tangan pelan beberapa kali, suara hantam telapak tangannya terdengar pelan namun sarat akan kepuasan yang dingin. "Keputusan yang sangat berani, Ella. Sekarang, hapus air mata kamu itu. Naik ke atas meja, dan kita laksanakan kesepakatan kita."
Bab 5: Administrasi di Atas Kayu Jati
Fritz menjauh dari lonceng itu, matanya masih mengunci pandangan Ella yang tampak kosong. Dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang bersiap untuk tidur di rumahnya sendiri, dia mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Suara gesekan kain itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan yang mencekam. Ella hanya bisa berdiri mematung, melihat setiap kancing yang terlepas sebagai tanda bahwa dunianya benar-benar sudah bergeser ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Fritz tidak terburu-buru. Setelah kemejanya tersampir di sandaran kursi kebesarannya, tangannya beralih ke ikat pinggang. Suara denting logam sabuk yang dibuka dan ditarik keluar dari lubang celananya membuat Ella tersentak kecil, namun kakinya tetap terasa seperti tertanam di lantai. Fritz kemudian berhenti sejenak, menatap Ella yang masih terbungkus hoodie hitam dan celana levis panjangnya.
"Kenapa masih diam saja di situ?" suara Fritz terdengar sangat rendah, namun penuh tuntutan. "Buka baju kamu. Saya nggak punya waktu semalaman cuma buat nunggu kamu siap."
Ella menelan ludah, tenggorokannya terasa perih dan sangat kering. Tangannya yang gemetar perlahan naik, meraih ujung hoodie hitamnya. Setiap inci kain yang ia angkat terasa seperti beban yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Dinginnya udara dari AC kantor langsung menusuk kulitnya yang kini terekspos, menyisakan tanktop putih tipis yang melekat di tubuhnya. Bulu kuduknya meremang bukan karena sejuk, melainkan karena rasa takut yang luar biasa.
"Celananya juga, Ell," tambah Fritz sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Ella yang kini hanya bisa menunduk, tidak sanggup lagi menatap wajah pria yang sedang memegang nasibnya itu.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, Ella melepas kancing celana levisnya. Suara ritsleting yang terbuka terdengar seperti lonceng kematian bagi mimpinya yang bersih. Dia membiarkan celana panjang itu jatuh ke lantai, menyisakan dirinya yang kini hanya mengenakan tanktop putih dan celana dalam. Ella menyilangkan tangannya di dada, mencoba menutupi tubuhnya seadanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"P-Pak... tolong... jangan dibuka semua. Boleh, kan?" Ella berbisik dengan nada memohon yang sangat rapuh.
Fritz menatap Ella sejenak, menilai ketakutan yang terpancar jelas dari raut wajah gadis itu. Dia menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan. Sebuah bentuk kemurahan hati yang semu.
"Oke. Anggap saja ini toleransi dari saya karena kamu sudah kooperatif," ujar Fritz datar. "Naik ke atas meja sekarang."
Fritz kemudian membimbing Ella untuk naik ke atas meja kerjanya yang luas. Dinginnya permukaan kayu jati itu merambat ke kulit paha Ella, kontras dengan hawa panas yang mulai ia rasakan dari kehadiran Fritz yang kini berada di antara kedua kakinya. Ella memejamkan mata rapat-rapat, mencoba membayangkan dirinya sedang berada di tempat lain, di mana saja asal bukan di ruangan gelap ini. Namun, sentuhan tangan Fritz yang kasar di pinggangnya segera menariknya kembali ke realitas yang pahit. Malam panjang itu baru saja dimulai.
Bab 6: Kayu Jati yang Dingin
Ella memposisikan dirinya di atas meja kerja Fritz yang luas. Permukaan kayu jati itu terasa sangat dingin saat bersentuhan langsung dengan kulit pahanya, sebuah sensasi yang mendadak bikin dia ingin lari, tapi Fritz sudah berdiri tepat di hadapannya. Ruangan itu hanya diterangi lampu meja yang menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang mengawasi mereka.
Fritz tidak langsung bergerak lebih jauh. Dia meraih laci meja kerjanya, menariknya pelan hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang halus. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil persegi berwarna perak yang berkilat terkena cahaya lampu meja.
Suara sobekan plastik kemasan itu terdengar begitu nyaring di telinga Ella, memicu debaran jantung yang makin tidak karuan. Ella hanya bisa mematung, melihat Fritz dengan sangat tenang mengenakan pelindung itu di hadapannya. Tidak ada keterburuan, tidak ada rasa bersalah, hanya sebuah prosedur teknis yang bagi Fritz mungkin tidak ada bedanya dengan menandatangani kontrak kerja.
"Saya nggak mau ada risiko tambahan buat karir kamu, Ell. Kamu juga kan?" Fritz bergumam datar sambil membuang bungkus plastik itu ke tempat sampah di bawah meja.
Fritz kemudian menempatkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan paha Ella, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa bergeser. Ella refleks mencengkeram pinggiran meja sampai buku-buku jarinya memutih. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat Fritz yang kini mulai menyingkap sedikit tanktop putih yang ia kenakan.
"Tatap saya, Ell," perintah Fritz dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Ingat kesepakatan kita. Ini cara kamu membayar kembali investasi yang sudah manajemen berikan."
Ella terpaksa menoleh, matanya yang basah bertemu dengan tatapan Fritz yang tetap dingin, tanpa ada sedikit pun rasa menyesal di sana. Fritz kemudian menarik pinggiran celana dalam Ella dengan perlahan namun pasti. Ella hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara isakan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Setiap sentuhan Fritz di kulitnya terasa seperti sengatan yang membakar harga dirinya perlahan-lahan.
Dia merasa dunianya menyempit hanya di atas meja ini. Bayangan tentang panggung, lampu sorot, dan nyanyian ribuan fans mendadak terasa sangat jauh, seolah itu adalah memori dari kehidupan orang lain. Yang ada sekarang hanyalah kegelapan kantor Menara Global dan pria yang sedang mengeksploitasi keputusasaannya.
"Rileks, Ell. Jangan kaku begitu," bisik Fritz lagi.
Fritz mulai memajukan tubuhnya, menekan Ella agar lebih bersandar ke belakang di atas tumpukan dokumen yang mungkin saja berisi draf sanksinya sendiri. Ella memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang. Dia mencoba mematikan semua indranya, mencoba membayangkan kalau tubuh yang sedang disentuh ini bukan miliknya. Namun, rasa dingin dari kayu jati di bawahnya dan hangatnya napas Fritz di lehernya terus memaksanya untuk sadar bahwa ini nyata, dan ini sedang terjadi.
Malam itu, di lantai tiga yang sepi, Ella menyadari bahwa untuk tetap menjadi bintang yang dipuja banyak orang, dia harus rela hancur berkeping-keping di tangan satu orang yang memegang kendali atas segalanya.
Bab 7: Penyerahan di Bawah Lampu Meja
Fritz makin merapatkan tubuhnya, membuat Ella terdesak hingga punggungnya menyentuh tumpukan map dokumen di atas meja. Tangan Fritz yang kasar mulai bergerak liar, meraba pinggang Ella lalu perlahan naik ke balik tanktop putih yang ia kenakan. Ella hanya bisa menggigit bibir, merasakan kain tipis itu terangkat perlahan sampai akhirnya tersingkap ke atas, memperlihatkan payudara kecil miliknya yang membusung karena napas yang tidak teratur.
Di bawah temaram lampu meja, kulit Ella tampak pucat dan kontras dengan warna gelap kayu jati. Fritz menatap pemandangan itu tanpa emosi, seolah sedang memeriksa kualitas aset yang baru saja ia beli.
"Cantik, Ell. Kamu memang harusnya di sini, bukan di jalanan sama laki-laki nggak jelas itu," bisik Fritz sambil telapak tangannya menekan permukaan payudara kecil Ella dengan paksa.
Ella hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir melewati pelipisnya. Rasa malu yang luar biasa menghujam jantungnya saat Fritz mulai menarik paksa celana dalam yang tersisa di tubuhnya. Kini, Ella benar-benar merasa kehilangan perlindungan terakhirnya. Udara dingin AC kantor terasa menyengat saat menyentuh vagina miliknya yang kini terekspos sepenuhnya di depan mata Fritz.
Fritz tidak memberikan waktu bagi Ella untuk memproses rasa hancurnya. Dia meraih pangkal paha Ella, menariknya agar lebih maju hingga berada di tepi meja. Di sana, Ella bisa melihat penis milik Fritz yang sudah terbungkus kondom, siap untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan dirinya.
"Tatap saya, Ella. Lihat ini sebagai bayaran untuk semua kebohongan kamu," perintah Fritz dengan nada yang sangat rendah.
Tanpa peringatan, Fritz menekan tubuhnya maju, mendorong penis miliknya masuk ke dalam vagina Ella yang masih terasa kaku dan belum siap. Ella tersentak, punggungnya melengkung dan jemarinya mencengkeram pinggiran meja jati itu begitu kuat hingga kuku-kukunya terasa akan patah. Suara desahan tertahan yang menyakitkan keluar dari tenggorokan Ella, namun Fritz tidak melambat.
Dia mulai bergerak dengan ritme yang konstan dan berat. Setiap dorongan Fritz membuat tubuh Ella berguncang di atas meja, menciptakan suara gesekan kulit dan kayu yang bergema di ruangan sunyi itu. Ella merasa dunianya benar-benar runtuh. Di atas meja kantor yang dingin ini, di tengah draf pemecatan dan laporan performa, dia memberikan segalanya hanya agar lilin mimpinya tidak padam.
Dia tidak lagi merasa seperti manusia. Dia hanya merasa seperti raga kosong yang sedang digunakan untuk memuaskan ego seseorang yang memegang kunci masa depannya. Di sela-sela dorongan Fritz yang makin intens, Ella hanya bisa membayangkan wajah ayahnya di rumah, berharap pria tua itu tidak akan pernah tahu betapa busuknya harga yang harus ia bayar malam ini.






