SENTINEL: THE HIDDEN SHIFT
Bab 1: Midnight Drive
Malam itu Jakarta masih menyisakan panas yang tertahan di aspal. Udara lembap membuat kaca mobil sedikit berembun dari dalam. Sebuah Mazda merah gelap melaju pelan menyusuri kawasan Duren Sawit yang mulai lengang. Hanya beberapa motor dan truk logistik yang melintas dengan jarak berjauhan.
Di balik kemudi, Reva Fidela, yang lebih dikenal sebagai Adel, menyandarkan punggungnya sejenak. Syuting sejak pagi, lanjut rapat konsep proyek berikutnya, ditambah sesi reading dadakan membuat pelipisnya berdenyut halus. Ia menghela napas panjang sambil melirik dashboard.
Kamera mirrorless-nya tertinggal di Sentinel.
Bukan sekadar kamera. Di dalamnya ada rekaman behind the scene yang harus dikirim ke editor malam ini. Jika tertunda, jadwal rilis konten besok bisa ikut berantakan.
Mazda itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan bangunan berlantai dua dengan papan neon bertuliskan Sentinel Cyber Arena. Lampu utama sudah padam. Hanya cahaya redup dari dalam yang tersisa, cukup untuk menandakan listrik belum sepenuhnya dimatikan.
“Untung masih searah,” gumamnya pelan.
Ia mematikan mesin, mengambil tas kecilnya, lalu keluar dari mobil. Udara malam langsung menyentuh kulitnya yang masih terasa hangat setelah seharian beraktivitas. Tanktop putih yang ia kenakan sedikit lembap di bagian punggung. Ia merapikannya cepat, menarik bahunya yang pegal, lalu membenahi tali pakaian dalam yang sempat bergeser karena gerakannya tadi. Gerakan kecil, refleks, nyaris tanpa pikir panjang.
Langkahnya terdengar jelas di trotoar yang sepi.
Duren Sawit terasa berbeda setelah lewat tengah malam. Terlalu sunyi untuk ukuran Jakarta.
Dengan kunci cadangan di tangan, Adel membuka pintu kaca Sentinel perlahan. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang menggema lebih keras dari seharusnya.
Gelap menyambutnya.
Hanya satu lampu di sudut ruangan yang masih menyala, berkedip sesekali seperti kehabisan tenaga.
Adel berhenti sejenak di ambang pintu.
Ia yakin tadi semua lampu sudah dimatikan.
Bab 2: Pertemuan di Balik Monitor
Suasana di dalam Sentinel nyaris tak bersuara. Hanya dengung stabil dari kipas CPU dan hembusan AC ruang server yang terdengar seperti napas panjang bangunan itu sendiri. Cahaya minim, sekadar pantulan lampu indikator biru dan merah dari barisan komputer yang tertidur.
Adel melangkah ke arah meja admin area VIP. Suara sepatunya terdengar jelas di lantai vinyl.
Ia berhenti saat melihat satu monitor masih menyala di meja utama.
“Gila. Jam segini masih belum kelar juga?” celetuknya. “Sentinel nggak bakal kabur kok kalau lo pulang.”
Dari bawah meja, Aldo tersentak.
Kepalanya hampir membentur sisi meja karena refleks berdiri terlalu cepat. Ia sedang berlutut, satu tangan menjangkau kabel server yang terselip jauh di belakang panel. Jersey Barcelona miliknya tergeletak di kursi gaming. Punggungnya basah oleh keringat setelah hampir satu jam utak-atik sambungan.
“Lah, Rev?” Aldo mendongak. “Ngagetin aja. Lo ngapain ke sini?”
“Kamera gue ketinggalan,” jawab Adel sambil meletakkan tasnya. “Ada file yang harus gue kirim malam ini.”
Tanpa menunggu Aldo bergeser, Adel langsung membungkuk dalam di depan meja itu untuk meraba-raba laci bawah yang posisinya tepat di hadapan Aldo yang masih jongkok. Karena posisi meja yang rendah, Adel terpaksa nunduk sangat dalam sampai wajahnya hampir sejajar dengan Aldo.
Karena Aldo berada di posisi bawah, ia mendapatkan sudut pandang yang sangat gamblang. Dari jarak yang hanya puluhan centimeter, Aldo bisa melihat dengan jelas bagaimana tanktop putih tipis itu meregang maksimal karena posisi nunduk Adel, mengikuti lekuk dada adiknya yang naik-turun karena napas yang lelah.
Tali bra hitam bertuliskan "Victoria’s Secret" itu tampak begitu kontras di atas kulit putih Adel yang berkilau karena peluh. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma keringat hangat dari tubuh Adel tiba-tiba menyerang indra penciuman Aldo dengan kuat. Dalam posisi sedekat itu, Aldo bisa melihat setiap detail bulir keringat yang mengalir di belahan dada Adel yang terekspos jelas.
Aldo terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia yang biasanya melihat Adel sebagai adik yang usil dan berisik, malam itu seolah dipaksa melihat kenyataan lain yang jauh lebih provokatif.
Bab 3: Basa-basi Tengah Malam
Adel mengembuskan napas panjang setelah berhasil mengamankan kameranya dari laci meja admin. Bukannya langsung pamit, ia justru melangkah menuju kulkas minuman yang ada di sudut area VIP.
"Do, gue ambil satu ya? Haus banget asli, tenggorokan gue berasa kayak di padang pasir," seru Adel tanpa menunggu jawaban.
Ia mengambil sebotol air mineral dingin, membukanya, dan meminumnya dengan rakus. Beberapa tetes air tumpah dari sudut bibirnya, mengalir melewati dagu dan jatuh ke area tulang selangkanya, membasahi kain putih tank top-nya yang sudah lembap.
Aldo yang baru saja berdiri dari bawah meja, menyandarkan pinggangnya di pinggiran meja admin. Ia mengambil handuk kecil yang tersampir di kursinya dan mulai menyeka keringat di leher dan dadanya yang telanjang. "Pelan-pelan kali, Rev. Kayak nggak ketemu air setahun aja lo."
Adel duduk di salah satu kursi gaming yang empuk, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata sejenak menikmati dinginnya botol air mineral di pipinya. "Lo nggak tau aja tadi lokasinya kayak apa. AC mati, lampu syuting di mana-mana. Gue berasa dipanggang, Do. Mana adegannya harus diulang-ulang terus gara-gara lawan main gue nggak fokus."
"Ya risiko jadi artis," sahut Aldo pendek. Ia memperhatikan adiknya dari atas ke bawah. "Tapi emang lo nggak ada baju lain apa? Syuting cuma modal tank top doang? Pantesan lo keringetan parah gitu."
Adel membuka matanya, lalu melirik bajunya sendiri. "Ini tuh inner, Do. Tadi harusnya pakai jaket lagi buat adegannya, tapi pas udah selesai ya langsung gue lepas lah. Gila aja kalau gue pakai jaket terus di cuaca kayak gini."
Adel berdiri, berjalan mendekat ke arah Aldo yang masih berdiri di dekat meja admin. Ia berdiri tepat di bawah hembusan AC central yang ada di atas meja tersebut, sambil menarik-narik bagian depan tank top-nya agar angin bisa masuk ke dalam.
"Duh, mendingan dikit," gumam Adel lega.
Bab 4: Sinyal yang Terganggu
Aldo berdehem keras, berusaha mengusir kecanggungan yang mulai menyumbat kerongkongannya. Ia meraih jersey Barca yang tadi tergeletak di kursi dan mulai memakainya. Gerakan lengannya yang kekar saat masuk ke dalam lubang kaos membuat otot-otot dada dan perutnya yang berkeringat terlihat menonjol dengan jelas.
Adel yang masih berdiri di bawah hembusan AC, tanpa sadar memperhatikan gerakan abangnya. Tatapannya tertuju pada garis otot perut Aldo yang basah sebelum akhirnya tertutup kain jersey. Ada rasa kagum yang tipis di mata Adel, insting perempuan yang mengakui kalau abangnya emang punya badan atletis, meski ia segera menutupinya dengan seringai usil.
"Udah kan ambil kameranya? Buruan balik, istirahat. Besok lo telat bangun mampus lo ditungguin kru," ujar Aldo ketus. Ia mencoba menghindar dengan cara sibuk merapikan tumpukan kabel di atas meja admin, tanpa mau menoleh sedikit pun ke arah Adel.
Adel justru tertawa melihat reaksi Aldo yang mendadak galak.
"Do. Gue Baru juga duduk lima menit," ledek Adel. Ia menempelkan botol air mineral yang masih sangat dingin dan berembun itu ke lehernya yang jenjang. Embun dari botol itu mencair, menciptakan aliran air kecil yang mengalir melewati tulang selangkanya dan menghilang di balik kain tank top putihnya yang basah.
Aldo melirik dari sudut matanya. Pemandangan aliran air di kulit adiknya itu bikin pikirannya kacau, tapi dia berusaha tetep fokus ke monitor.
"Si Yeye nggak protes apa lo tiap malem nangkring di sini mulu?" tanya Adel santai, kali ini nadanya seperti ngeledek abangnya. "Gue aja bosen liat lo di sini terus, apalagi cewek lo. Kayak nggak ada tempat dating lain aja selain Sentinel."
Mendengar nama pacarnya disebut dengan nada ledek, Aldo mendengus. "Dia lagi ada acara keluarga. Lagian dia juga udah paham ini kerjaan gue, nggak usah sotoy lo," jawab Aldo dengan nada yang sedikit lebih parau karena nahan diri dari jarak mereka yang makin deket.
Adel mengangkat bahu, lalu sedikit membungkuk buat ngelihat hasil foto di kamera yang tadi dia taruh di meja, tepat di depan posisi Aldo duduk. Gerakan membungkuk ini bikin aroma parfum dan panas tubuhnya makin menguar, memenuhi ruang pribadi Aldo.
"Terserah deh. Tapi kalau lo jomblo lagi gara-gara lebih sayang kabel daripada cewek, jangan nangis ke gue ya," ucap Adel sambil menoleh ke arah Aldo, nyengir lebar tanpa sadar kalau jarak wajah mereka sekarang cuma sejengkal.
Bab 5: Batas yang Menipis
Adel masih tertawa kecil setelah puas meledeki Aldo soal hubungannya dengan Yeye. Namun, tawa itu mendadak surut saat matanya menangkap sesuatu di dekat rahang abangnya. Ada noda hitam tipis di sana, mungkin bekas oli atau debu pekat dari kolong meja server yang tadi Aldo otak-atik dengan susah payah.
"Duh, Do, ini apaan sih? Kotor banget lo habis ngolong tadi," gumam Adel tanpa pikir panjang.
Dengan gerakan spontan, Adel mengulurkan jari-jarinya yang masih terasa dingin karena embun dari botol air mineral. Ia mulai mengusap lembut bagian rahang Aldo, mencoba menghilangkan noda tersebut. Agar bisa melihat lebih jelas di bawah cahaya monitor yang remang, Adel mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memastikan sapuan jarinya tepat sasaran. Jarak mereka terpangkas habis dalam sekejap.
Aroma maskulin yang panas dari tubuh Aldo, bercampur dengan aroma keringat yang lembap, mendadak menyerbu indra penciuman Adel. Ia sedikit tertegun. Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa kerasnya garis rahang kakaknya dan betapa berat napas yang keluar dari hidung Aldo.
Saat itulah, Aldo yang sejak tadi diam membeku, mulai menatap langsung ke dalam mata Adel. Ia tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya memberikan tatapan yang begitu gelap dan berat, seolah sedang mengunci seluruh kesadaran Adel di tempat itu juga.
Adel menyadari perubahan suasana tersebut. Jari-jarinya yang tadinya bergerak lincah di rahang Aldo perlahan berhenti, namun ia tidak segera menarik tangannya. Ada rasa canggung yang mendadak melumpuhkan akal sehatnya. Ia terjebak dalam sorot mata Aldo yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Ini bukan tatapan seorang abang yang sedang kesal, melainkan tatapan seorang pria yang sedang tertahan.
Hening menyelimuti area VIP Sentinel, hanya menyisakan suara deru mesin server yang konstan di latar belakang.
Tangan Aldo bergerak pelan namun pasti. Jemarinya yang besar melingkar di pergelangan tangan Adel, menurunkan tangan adiknya itu dari wajahnya, namun ia tidak melepaskan genggamannya. Tangan Aldo yang lain merayap naik, mencengkeram rahang Adel dengan mantap. Ibu jarinya menekan pelan di bawah dagu, memaksa wajah adiknya itu tetap mendongak dan terkunci sepenuhnya pada tatapannya yang tajam.
Adel membeku. Logikanya berteriak keras bahwa ini adalah abang kandungnya sendiri, namun tubuhnya yang lelah seolah kehilangan kemampuan untuk memberikan perlawanan yang berarti. Sentuhan tangan Aldo di rahangnya terasa begitu panas, seolah kulit kakaknya itu sedang membakar seluruh pertahanan diri yang ia miliki. Adel hanya bisa menatap mata Aldo yang semakin mendekat, menelan ludah dengan susah payah saat merasakan hembusan napas Aldo mulai menerpa bibirnya.
"Do, jangan ngaco lo..." bisik Adel, suaranya terdengar sangat lemah dan tidak yakin.
Aldo tidak memberikan jawaban dengan kata-kata. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan akhirnya mempertemukan bibir mereka.
Awalnya hanya sentuhan ragu yang menekan pelan, namun saat merasakan bibir Adel yang lembut dan sedikit basah oleh sisa air mineral tadi, Aldo tidak bisa lagi membendung ledakan yang ada di dadanya. Ia mulai mendesak lebih dalam, mencium Adel dengan penuh rasa lapar yang sudah lama ia simpan rapat-rapat di bawah sadarnya. Adel tidak langsung membalas, namun ia juga tidak memberontak. Ia hanya terdiam dalam kondisi freezing dengan mata terpejam rapat, membiarkan sensasi panas yang tabu itu menjalar ke seluruh saraf tubuhnya di tengah kegelapan Sentinel.
Bab 6: Tarik Ulur di Sentinel
Ciuman yang tadinya terasa memabukkan itu tiba-tiba terputus saat Adel berhasil mengumpulkan sisa kesadarannya. Ia menyentak kepalanya menjauh, napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdegup kencang karena syok atas apa yang baru saja terjadi.
"Stop, Do! Lo gila ya?!" desis Adel sambil mengusap bibirnya. Matanya menatap Aldo antara bingung dan marah. "Kita... kita ngapain, anjing. Lo sadar nggak sih?!"
Aldo tidak menjawab dengan logika. Tatapannya justru jatuh ke arah dada Adel yang naik-turun cepat. "Gue nggak aneh, Rev. Gue cuma baru sadar kalau adik gue yang paling usil ini ternyata udah... sebesar ini," bisiknya parau.
Tanpa ragu, telapak tangan Aldo mendarat tepat di dada Adel, meremas pelan kain tank top putih yang lembap itu. Sensasi itu membuat Adel tersentak hebat, antara kaget dan terhina.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di ruangan Sentinel yang sunyi. Kepala Aldo terlempar ke samping. Adel bernapas memburu, tangannya yang tadi menampar masih gemetar hebat. "Jangan kurang ajar lo, Do! Inget Yeye!"
Aldo sempat terdiam, jemarinya mengusap pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Namun, bukannya sadar, ia justru menyeringai tipis, sebuah seringai gelap yang belum pernah Adel lihat sebelumnya.
"Yeye lagi tidur jam segini. Dan Sentinel juga udah tutup, kan? Cuma ada gue sama lo di sini, Rev," bisik Aldo.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Adel untuk kabur, Aldo kembali merapatkan tubuhnya. Tekanan dari tubuh Aldo yang jauh lebih besar memaksa Adel mundur hingga punggungnya terbentur pinggiran meja admin.
Adel meronta, tangannya mencoba mendorong bahu Aldo, membuat tumpukan kertas billing dan sebuah keyboard mekanik di atas meja tersenggol hingga jatuh ke lantai dengan bunyi yang nyaring. Kabel mouse tertarik tegang, hampir membuat monitor di dekat mereka ikut bergeser.
Posisi Adel kini setengah berbaring di atas meja yang keras itu, terhimpit di antara tumpukan barang warnet dan tubuh kekar Aldo yang menindihnya sepenuhnya. Aldo mengunci ruang gerak Adel, menaruh kedua tangannya di sisi kepala Adel, mengurung adiknya itu dalam kuasa penuh.
"Do, lepasin... Anjing!" teriak Adel parau. Ia mencoba memalingkan wajahnya saat Aldo mulai menciumi lehernya lagi dengan paksa.
Liat ke atas! CCTV, goblok! Lepasin gue!" teriak Adel, berharap ancaman itu bakal bikin Aldo panik dan menjauh.
Namun, Aldo sama sekali tidak menoleh. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kamera yang berkedip di pojok plafon. Matanya tetap terkunci pada wajah Adel, dengan sorot yang makin dalam dan gelap.
"Gue nggak peduli, Rev," bisik Aldo parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri. "Biarin aja. Besok gue yang hapus rekamannya."
Pandangan Aldo turun, terpaku pada tank top putih yang meregang mengikuti napas Adel yang pendek dan cepat. Tanpa aba-aba, tangan Aldo menyusup ke bawah pinggiran tank top itu. Dengan satu gerakan kasar, ia menyibak kain tipis tersebut ke atas, disusul dengan mendorong bra hitam yang menghalangi pandangannya.
"Do! Jangan! Anjing!" teriak Adel, tangannya berusaha menggapai tangan Aldo, tapi Aldo dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangan Adel ke atas meja admin dengan satu tangan besarnya.
Kedua payudara Adel yang putih dan kenyal kini terekspos sepenuhnya di bawah cahaya remang monitor. Aldo terdiam sejenak, matanya seolah berpesta melihat pemandangan yang selama ini tersembunyi di balik gaya tomboy adiknya. "Gue bilang juga apa... lo udah sebesar ini, Rev," gumamnya dengan suara yang makin dalam.
Tanpa menunggu balasan, Aldo langsung menundukkan kepalanya. Ia mulai menghisap salah satu puncak dada Adel dengan rakus.
Adel memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya melengkung secara refleks. Ia merasakan sensasi panas dan basah yang menjalar ke seluruh sarafnya, sebuah rasa yang sangat salah tapi sangat kuat. Bibir Aldo tidak hanya menghisap, tapi juga menggigit kecil, memberikan tanda yang pasti akan membekas lama di sana.
Mencoba mengembalikan harga dirinya sebagai adik yang "galak", Adel tiba-tiba memberikan perlawanan fisik yang biasanya manjur ia gunakan untuk menjahili Robby. Ia mencengkeram lengan bawah Aldo yang sedang memegang lehernya, lalu mencoba memelintirnya sedikit sambil menyentakkan lututnya ke arah paha Aldo.
"Jangan ngaco, Do! Lepasin nggak!" seru Adel, berusaha memasang wajah judesnya yang paling ikonik.
Namun, Aldo bukan Robby yang kurus dan pasrah. Aldo adalah Rivaldo Pandjoro, pria yang setiap harinya melatih otot-ototnya. Saat Adel mencoba memiting lengannya, Aldo justru tidak bergeming. Ia malah memanfaatkan momentum itu untuk semakin mengunci kedua tangan Adel ke belakang punggung gadis itu hanya dengan satu tangan kekarnya.
"A-aldo! Sakit, bego!" ringik Adel, wajahnya kini benar-benar memerah karena emosi bercampur sensasi lain yang sulit ia jelaskan.
Aldo tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar begitu dominan di tengah keheningan Sentinel. Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Adel. "Lo pikir gue si Robby?"
Selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya, waktu seolah berhenti di dalam Sentinel Cyber Arena. Adel hanya bisa merasakan berat tubuh Aldo, bau keringat maskulin yang menyengat, dan tangan abangnya yang terus menjelajahi lekuk tubuhnya dengan penuh rasa ingin tahu yang sudah lama terpendam.
Ia tidak bisa melawan, tidak bisa lari, dan entah mengapa, mulutnya terkunci rapat seolah ia takut jika ia bersuara, kenyataan ini akan menjadi lebih buruk dari yang sudah terjadi.
Bab 7: Pecahnya Keheningan
Oksigen di dalam ruangan itu terasa semakin tipis, namun sisa-sisa kekuatan Adel mulai terkumpul kembali. Sebagai perempuan yang sering melakukan adegan fisik di lokasi syuting dan memiliki dasar tubuh yang atletis, ia tidak membiarkan dirinya lumpuh lebih lama lagi. Rasa syok di kepalanya perlahan digantikan oleh luapan emosi yang membara.
Saat Aldo sedikit melonggarkan tekanannya karena mengira Adel sudah sepenuhnya pasrah, Adel mengambil kesempatan itu. Ia menyentakkan lututnya dengan tenaga penuh ke arah pinggul Aldo, menciptakan celah yang cukup untuknya mendorong dada bidang abangnya itu dengan kedua tangan.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di seluruh penjuru ruangan Sentinel, mengalahkan deru mesin server yang sejak tadi menderu. Kepala Aldo terlempar ke samping. Bekas telapak tangan Adel tercetak merah di pipinya yang berkeringat.
Dunia seolah berhenti berputar. Aldo mematung, tangannya masih menggantung di udara, sementara napasnya memburu. Ia perlahan menoleh kembali ke arah Adel, namun sorot matanya kini bukan lagi lapar, melainkan kosong—seolah baru saja tersambar petir yang menyadarkannya dari kegilaan sesaat.
Adel berdiri dengan napas tersengal-sengal. Ia menarik paksa tank top putihnya yang berantakan dan membetulkan tali bra Victoria's Secret di bahunya dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya berkaca-kaca karena marah dan kecewa, tapi ia menolak untuk meneteskan air mata di depan Aldo.
"Jangan pernah... berani sentuh gue lagi kayak gitu, Do," desis Adel dengan suara yang tajam dan dingin.
Ia menyambar kamera di atas meja dengan gerakan kasar, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkah kakinya yang cepat terdengar berat saat melintasi lantai vinyl menuju pintu keluar.
Aldo tetap berdiri di tempatnya, bersandar pada meja admin yang masih menyimpan sisa kehangatan tubuh adiknya. Ia tidak mengejar. Ia hanya diam menatap punggung Adel yang menghilang di balik pintu kaca. Ia tahu, mulai malam ini, ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di antara mereka yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Bab 8: Urusan yang Belum Selesai
Suasana di dalam Sentinel Cyber Arena kembali sunyi setelah deru mesin Mazda milik Reva menjauh. Aldo masih terpaku di posisi semula selama beberapa menit, sebelum akhirnya ia melangkah gontai menuju salah satu kursi gaming di area VIP. Ia duduk di sana, membiarkan tubuh atasnya yang telanjang tetap terekspos. Keringat yang membasahi otot-otot dada dan perutnya tampak berkilau tertimpa cahaya biru dari monitor. Ia mencoba membuka sebuah game, namun jemarinya hanya diam di atas mouse. Matanya menatap kosong ke layar yang menampilkan karakter tak bergerak.
Sekitar dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Tiba-tiba, Aldo merasakan hembusan angin tipis saat pintu depan terbuka pelan. Ia tidak menoleh, mengira itu hanya halusinasinya. Namun, sedetik kemudian, ia merasakan sentuhan dingin di leher belakangnya. Jemari yang lentur namun tegas itu mengusap perlahan kulit lehernya, naik menuju tengkuknya.
Aldo membeku. Ia menoleh cepat dan menemukan sosok yang sama berdiri di sana. Reva kembali. Rambutnya jauh lebih berantakan, dan tank top putihnya masih nampak lembap, namun kali ini sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi ketakutan atau kemarahan yang meluap-luap. Yang ada hanyalah tatapan menantang yang tajam.
"Ngapain lo balik?" suara Aldo terdengar serak dan parau.
Reva tidak langsung menjawab. Ia justru menyeringai tipis, sebuah ekspresi usil yang paling menyebalkan sekaligus mematikan. Matanya tidak lepas dari dada bidang Aldo yang naik turun. "Gue pikir-pikir, tamparan tadi belum cukup buat bikin lo diem, Do."
Tanpa aba-aba, Reva bergerak lincah. Dengan sifat impulsifnya, ia langsung naik ke pangkuan Aldo yang sedang duduk di kursi gaming. Ia duduk menghadap abangnya, mengunci pinggang Aldo dengan kedua kaki jenjangnya yang kuat.
"Rev, lo apa-apaan..." Aldo tersentak, tangannya secara refleks memegang pinggiran kursi agar tidak terjungkal.
"Tadi lo bilang gue udah gede, kan?" potong Reva cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, menempelkan dada yang terbungkus kain tipis itu langsung ke dada telanjang Aldo yang berkeringat. "Tadi lo berani banget pas gue lagi kaget. Sekarang, pas gue udah sadar begini dan liat lo kayak gini... masih berani nggak lo? Apa cuma jago pas gue lagi meleng doang?"
Bab 9: Ruang Tanpa Sudut Pandang
Posisi mereka kini benar-benar intim. Dada mereka saling beradu dengan kuat, membuat kain tank top putih Reva yang lembap tidak lagi menjadi penghalang berarti bagi kulit Aldo yang panas. Mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain yang berpacu kencang.
Ujung hidung mereka bersentuhan. Aldo, yang sudah tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam dirinya, mulai memajukan wajahnya. Namun, tepat sebelum bibir mereka bertemu, Reva dengan cepat mengangkat tangannya, menahan bibir Aldo dengan jari telunjuk.
"Jangan di sini, Aldo," bisik Reva rendah.
"Kenapa lagi sih, Rev?" Aldo mendengus, napasnya sudah pendek-pendek karena menahan gairah.
Reva melirik ke arah plafon. "Ada CCTV, bego. Lo mau rekaman kita ditonton anak-anak admin besok pagi? Atau mau gue kirim ke Yeye biar lo mampus sekalian?"
Mendengar nama pacarnya disebut, Aldo hanya bisa menggeram rendah. Reva perlahan turun dari pangkuan Aldo, tapi ia tidak menjauh. Ia justru menarik kasar tangan Aldo, memaksa kakaknya itu untuk berdiri. Ia menuntun Aldo berjalan melewati deretan PC yang gelap menuju area belakang.
"Kamar mandi," gumam Reva saat mereka sampai di depan pintu kayu di pojok ruangan. "Di sana nggak ada kamera. Nggak ada siapa-siapa."
Ia membuka pintu, lalu masuk lebih dulu sebelum menarik kerah jersey yang tersampir di bahu Aldo agar ikut masuk ke dalam. Reva mengunci pintunya dari dalam dengan bunyi klik yang tajam.
Bab 10: Wastafel Sentinel
Begitu pintu terkunci, hawa pengap kamar mandi langsung menyergap. Reva tidak membuang waktu. Ia membelakangi Aldo, lalu membungkuk dalam, bertumpu pada pinggiran wastafel porselen yang dingin.
"Katanya tadi lo mau liat kan?" suara Reva terdengar berat, memantul di dinding keramik. "Buktiin sekarang, Do. Lepasin semuanya. Jangan cuma berisik di mulut doang."
Aldo tidak perlu diperintah dua kali. Dengan napas yang menderu di belakang telinga Reva, tangan kekarnya langsung menyambar ujung tank top putih yang sudah lembap itu. Ia menariknya ke atas dengan gerakan kasar hingga kain itu terlepas sepenuhnya. Begitu Aldo melepaskan pengait bra hitam di punggungnya, kain itu merosot jatuh ke dalam wastafel, meninggalkan tubuh atas Reva sepenuhnya polos.
Aldo merapatkan tubuh telanjangnya ke punggung Reva. Pertemuan kulit dengan kulit yang panas itu menciptakan sensasi yang membakar akal sehat. Aldo menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Reva, sementara tangannya mulai bekerja melepaskan kancing celana adiknya.
"Rev... lo bener-bener gila malam ini," bisik Aldo parau.
"Berisik," sahut Reva ketus, matanya terpejam rapat merasakan jemari Aldo yang mulai menjelajah. "Kerjain aja yang mau lo kerjain sebelum gue berubah pikiran, Do."
Bab 11: Final Shift
Udara di dalam kamar mandi semakin berat. Aldo menarik pinggang Reva agar kembali berdiri tegak menghadapnya. Matanya yang merah menatap liar ke arah wajah adiknya yang tampak berantakan namun cantik.
"Berlutut, Rev," perintah Aldo dengan suara berat yang penuh kuasa.
Reva tidak membantah. Dengan gerakan perlahan, ia turun dan berlutut di atas lantai keramik yang dingin. Wajahnya kini tepat berada di depan kejantanan Aldo yang sudah menegang maksimal. Aldo mencengkeram rambut Reva, memaksa kepala adiknya untuk mendongak.
"Rev... gue keluar... gue keluar!" geram Aldo saat puncaknya tiba.
Detik berikutnya, tubuh Aldo menegang hebat. Ia memuntahkan cairannya di sana, memenuhi rongga mulut Reva. Reva tetap diam dalam posisinya sampai Aldo benar-benar selesai. Setelah Aldo menarik miliknya keluar, Reva menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan, lalu menelan sisa yang ada di mulutnya tanpa ekspresi.
Tidak ada kata maaf. Tidak ada penyesalan.
Reva berdiri perlahan, membetulkan letak bra dan mengenakan kembali tank top-nya yang kini makin kotor. Ia merapikan rambutnya sebentar di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Gue cabut. Syuting gue jauh," ucap Reva singkat tanpa menoleh lagi ke arah Aldo.
"Rev..." Aldo mau memanggil, tapi lidahnya kelu.
"Udah, anggep aja ini lemburan Sentinel," potong Reva sambil berjalan keluar menembus kegelapan warnet. Ia langsung menuju Mazda-nya, meninggalkan Aldo yang mematung di kamar mandi sambil mendengarkan suara mesin mobil Reva yang menderu menjauh. Malam itu, di Sentinel, garis antara abang dan adik sudah benar-benar musnah.

