Bab 2: Gang, Bayang-Bayang Masa Lalu
Setelah pertemuan itu, gang sempit ini jadi tujuan tetap gue setiap pagi. Gue selalu punya alasan untuk ke pasar, meski kulkas rumah masih penuh. Kadang bawa pulang kantong kosong, kadang cuma belanja receh, dua siung bawang merah, tiga biji cabe rawit. Apapun itu yang penting seakan habis belanja.
Sampai akhirnya nyokap mulai curiga.
“Kenapa tiap hari ke pasar sih?”
Nada suaranya, kayak lagi nge-interogasi.
Gue menarik napas panjang, pura-pura yakin, “Lagi coba disiplin, Ma. Biar lebih mandiri.”
Nyokap cuma diam, tatap gue agak lama, kayak nunggu gue cerita lebih. Tapi akhirnya ga dilanjut lagi.
Setiap sore, gue kembali ke gang itu. Dan setiap kali, Ekin hampir selalu ada. Bangku plastik biru yang nyaris pincang jadi singgasananya. Seolah memang jadi pemilik tetap dari warung sederhana itu.
Kami berbagi tawa, percakapan sederhana yang entah kenapa terasa begitu berarti. Saat dia bercerita tentang kebiasaannya bernyanyi pelan saat hujan turun, ada jeda hening yang tiba-tiba mengisi ruang dalam diri gue, sebuah ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tapi seperti kata pepatah, cerita yang terlalu mulus selalu punya celah untuk retak.
Sore itu, kami duduk berdampingan. Ekin lagi asik cerita tentang temannya yang salah sangka, mengira Haikyuu itu anime masak-masakan. Gue sudah bersiap ngakak, tiba-tiba… seseorang muncul. Tanpa aba-aba, tanpa permisi, kehadirannya langsung mengubah suasana dalam sekejap.
Elin.
Teman SMA yang dulu pernah hampir jadi “kita”. Hubungan yang pernah nyaris menyatu tapi kandas di tengah jalan, menggantung tanpa jawaban. Entah karena gue yang bebal, dia yang rumit, atau kami berdua yang terlalu takut jujur.
“Gi,” suaranya pelan tapi menusuk, “Kamu kenapa nggak pernah bales chat aku?”
Duar. Kalimat itu jatuh tepat di hadapan Ekin, menusuk seperti pisau tajam.
Gue kaku. Otak gue blank. Tangan gue cuma bisa menggenggam kantong cireng yang tiba-tiba terasa ringan, absurd, seperti barang paling tak berarti di dunia.
Ekin diam saja. Tapi wajahnya berubah.Matanya yang biasanya penuh kisah dan tawa, mendadak jadi seperti jendela yang ditutup rapat, dingin dan hampa. Hening.
“E-Elin… gue pikir kita udah…” suara gue kecil, setengah menyesal, setengah bingung.
“Gak apa-apa kok.” Dia potong, tenang tapi senyumnya berbeda. Senyum yang dipakai untuk menyembunyikan luka. Senyum yang lebih dekat ke tangis daripada tawa.“Aku cuma kira kamu butuh waktu.”
Dan saat itu, Ekin berdiri.
Tanpa sepatah kata, tanpa menatap ke arah gue. Dia angkat tasnya dan melangkah pergi. Langkahnya pelan tapi pasti, seperti seseorang yang sudah memutuskan menutup bab lama dalam hidupnya.
Elin pun mundur, melangkah ke arah lain, seperti baru menyadari dia salah masuk dalam cerita ini.
Gue?
Masih duduk di bangku plastik itu, tangan erat menggenggam kantong cireng yang kini terasa hambar.
Gang yang biasanya hidup dengan aroma sate, suara pedagang, teriakan anak-anak, dan deru motor mendadak sunyi, seolah menyiksa.
Kepala gue penuh suara tapi tubuh gue membeku.
Yang tersisa cuma satu, rasa salah yang menyesakkan.
Gue tahu ini salah gue.
Masa lalu yang tak pernah gue urus dengan benar, akhirnya mengejar gue, menabrak keras saat gue sedang berusaha membangun cerita baru.
Bab 3: Klarifikasi
Malam itu, HP gue bergetar.
Elin.
“Gi... bisa ketemu nggak? Aku pengen ngobrol. Klarifikasi, kalau kamu nggak keberatan.”
Gue baca pesan itu berulang kali, jari gue sempat ragu. Tapi akhirnya, gue ketik satu kata: iya.
Bukan karena sungkan. Lebih karena gue capek membiarkan semua ini menggantung terlalu lama.
Warkop kecil itu tak banyak berubah sejak SMA. Bangku kayu yang reyot, lampu remang yang redup, dan suara motor lalu-lalang tetap jadi lagu pengiring yang familiar.
Gue sampai duluan. Duduk di pojokan, tempat biasa kami dulu nyanyi dan tertawa lepas.
Tak lama, Elin datang. Duduk di seberang gue, diam. Dia cuma pesan Ovaltine dingin lalu tetap terdiam.
Tangannya terus memutar sedotan, matanya tertunduk menatap meja. Sama sekali tak menatap gue.
Keheningan di antara kami terasa berat, penuh dengan rasa yang tak terucap, penuh kikuk dan luka yang masih mengendap.
“Aku kira kamu cuma butuh waktu,” suaranya lirih, setajam pisau.
Gue menahan napas, lalu pelan berucap, “Elin… gue pikir kita udah selesai.
”Dia mendongak, tatapannya tajam tapi rapuh sekaligus.“
Jadi, kamu sudah punya orang baru?”
Hening. Satu kata keluar dari mulut gue.
“Iya.”
Satu kata singkat tapi membawa beban lebih berat dari ribuan alasan yang tak terucap.
Elin menunduk, suara berat, “Kenapa bukan aku dari dulu?”
Gue menarik napas panjang, suara gue parau tapi jujur, “Dulu, waktu SMA... gue pernah suka sama lo. Gue coba deket, cari celah. Tapi setiap kali gue maju, lo mundur. Seolah ada jarak yang nggak pernah bisa gue lewati.”
Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku sebenernya peka, Gi. Aku tau. Tapi kamu nggak pernah sadar kalau aku juga nunggu kamu… nunggu kamu berani.”
Gue menatapnya lama, dada sesak. “Mungkin itu masalahnya, Lin. Kita sama-sama nunggu, sama-sama berharap. Tapi nggak pernah ketemu di tengah. Gue capek terus-terusan nebak arah yang nggak jelas. Sekarang… gue nemuin seseorang yang jelas, yang hadir, yang nggak bikin gue nunggu tanda.”
Elin menutup wajahnya sebentar, lalu tersenyum tipis dengan mata basah.“Jadi selama ini… kita cuma saling lewatin, ya?”
Gue mengangguk pelan.
“Mungkin… kita memang udah beda arah.”
Dia berdiri, meraih tasnya. Gelas Ovaltine di meja cuma sisa es yang meleleh.
Sebelum pergi, dia berhenti. Menoleh ke arah gue. Tatapan lurus, suara tenang.
“Jaga dia, Gi. Jangan sampai cerita kita terulang di dia.”
Langkahnya pelan, tapi gema kata itu terus menghantui kepala gue, meninggalkan bayangan yang susah dihapus.
Bab 4: Kesempatan
Beberapa hari gue nggak balik ke gang itu.
Gue perlu waktu buat merapikan benak yang kacau.
Bayangan Ekin pergi tanpa sepatah kata terus muter di kepala. Diamnya dia... entah kenapa, lebih menusuk daripada apa pun.
Gue nggak bisa sepenuhnya nyalahin Elin.
Ekin pun nggak salah.
Yang salah? Ya gue sendiri.
Karena gue nggak pernah menutup masa lalu dengan benar.
Dan sekarang, masa kini gue yang kena getahnya.
Hari Minggu. Jam tiga sore. Matahari cukup nyengat.
Tapi hati gue justru dingin.
Lebih dingin dari es teh yang biasa Ekin pesan.
Gue memaksakan diri balik ke gang itu.
Dan dia ada di sana.
Duduk sendirian di bangku plastik biru, yang kaki bangkunya masih miring seperti biasa.
Gelas es teh setengah meleleh di sampingnya.
Matanya lurus ke jalan, tapi gue tahu... dia sadar gue datang.
Gue melangkah pelan. Duduk di sampingnya.
Ada jeda panjang, ruang kosong di antara kami yang tak terlihat, tapi terasa begitu pekat.
“Masih suka cireng, kan?” gue coba memecah keheningan.
Dia menoleh singkat, matanya sekejap menatap gue lalu kembali ke jalan.
“Masih. Asal nggak keras.”
Gue senyum tipis.
Padahal jantung gue berdentum tak karuan.
Kami diam beberapa saat.
Suara pasar bergema dari kejauhan.
Orang lalu-lalang.
Teriakan pedagang.
Tapi semua itu seperti kejadian di dunia lain, jauh dari kami.
Gue menarik napas dalam-dalam.
Nyari keberanian yang tersisa.
“Gue balik... biar lo nggak salah paham lebih lama.”
Dia tak segera menjawab.
Tangannya terus memutar sedotan.
Ada sesuatu yang dia tahan, sesuatu yang berat.
“Aku nggak ngerti kenapa aku pergi waktu itu,” suaranya pelan, nyaris bergetar.
“Kita kan belum jadi apa-apa. Tapi waktu lihat kalian... Aku merasa cuma bayangan di latar belakang.”
Gue menunduk.
Kata-katanya menusuk.
Dan bener.
Justru karena itu, gue makin merasa bersalah.
“Waktu Elin dateng, gue benar-benar bingung,” gue bicara pelan.
“Gue nggak tahu gimana ngejelasin semuanya ke lo... tanpa bikin lo merasa disudutkan.”
Akhirnya dia menoleh.
Tatapannya menyelam ke mata gue.
Bukan tajam, tapi penuh kejujuran dan kedalaman.“
Aku cuma pengen tahu, Gi.”
“Nih ya... kamu balik ke sini karena kamu peduli? Atau karena kamu nggak siap kehilangan?”
Pertanyaan itu nggak teriak, tapi terasa seperti tamparan keras.
Jujur, gue juga pernah tanya itu ke diri sendiri.
Tapi setelah diam cukup lama, gue tahu jawabannya.“
Gue balik... karena gue ngerasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat gue punya.”
Suara gue kecil, nyaris bisikan.
“Elin itu masa lalu, Kin. Lo bikin gue pengen mulai dari awal... dengan cara yang bener.”
Dia tatap gelas es tehnya, yang esnya mulai mencair.
Diam lama, seperti sedang membaca tanda dari es itu.
Lalu dia ngomong.“Aku nggak butuh janji manis, Gi. Nggak butuh omongan muluk.”
“Aku cuma mau lihat minggu depan... kamu masih dateng atau nggak.”
“Nggak semua orang bisa bertahan. Dan aku capek berharap orang datang buat tinggal... padahal cuma numpang lewat.”
Gue mengangguk pelan.
Tak janji apa-apa.
Tapi dalam hati, ini sudah jadi keputusan.
Bukan buat nebus masa lalu.
Tapi buat nunjukin kalau gue belajar.
Dan kali ini, gue benar-benar akan datang.