Gracia puncak backup 1

 

 ​Bab 1: Eksodus Kecil

Sore itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah-celah tirai, membentuk garis-garis tipis di lantai ruang tamu. Udara di dalam ruangan terasa hangat, tidak terlalu terik. Gracia duduk bersila di atas sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Ia hanya mengenakan kaus putih oversized dan celana pendek, rambutnya dikuncir asal-asalan. Tidak berlebihan, tidak berusaha terlihat rapi, tapi tetap enak dipandang.

Di layar laptopnya, terbuka halaman pemesanan sebuah vila di kawasan Puncak. Denah bangunan, foto-foto kamar, daftar fasilitas, hingga rute akses jalan terpampang jelas.

"Aten, Ecen, lo berdua denger gak sih gue ngomong?" tanya Gracia tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Jason yang sedang tengkurap di atas karpet mengangkat wajahnya sedikit. "Denger kok. Intinya ada jacuzzi, kan?"

Sebuah bantal melayang dan mendarat tepat di bahunya.

"Fokus dulu bisa gak sih?" kata Gracia.

Jason terkekeh, menggeser bantal itu. "Ya maaf, Ci. Gue cuma memastikan prioritas."

Aten berdiri di dekat meja makan, satu tangan dimasukkan ke saku celana. Ia mengamati layar laptop dari kejauhan. "Kita beneran cuma bertiga, Ci?"

Gracia akhirnya menoleh. "Emangnya gue pernah ngajak orang lain tanpa bilang?"

"Bukan gitu," jawab Aten, suaranya tenang. "Cuma nanya aja. Biar jelas."

"Jelas. Cuma kita," sahut Gracia singkat.

Suasana hening beberapa detik, lalu Jason kembali bersuara, kali ini lebih santai.

"Yang penting jangan vila yang jalannya ekstrem banget. Motor gue bukan motor trail."

Gracia menghela napas kecil. "Udah gue cek. Aman. Lo tinggal bawa badan sama duit bensin."

---

Malam itu mereka sepakat untuk tidur lebih cepat karena ingin berangkat pagi-pagi. Kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa cepat terlelap. Ada rasa antusias yang membuat kepala rasanya masih aktif, memutar rencana besok. Ngabisin waktu di vila, nyobain kuliner, atau sekadar jalan-jalan keliling.

Keesokan paginya, dua motor matic melaju meninggalkan hiruk-pikuk jalan utama. Aten berada di depan dengan Gracia di belakangnya. Jason mengikuti dari jarak beberapa meter, menjaga ritme.

Bangunan beton perlahan berganti jadi sawah dan pepohonan. Udara berubah terasa lebih sejuk. Suara mesin motor terdengar semakin jelas di telinga karena lalu lintas mulai jarang.

Sesampainya di vila, Jason turun lebih dulu. Ia berdiri tegak, lalu memegang pinggangnya.

"Gila, pinggang gue kaku banget. Kayak habis duduk tiga jam di bangku nikahan," keluhnya sambil meringis.

Aten mematikan mesin motor. Ia turun dan langsung menoleh ke belakang. "Pelan-pelan, Ci."

Ia mengulurkan tangan, membantu Gracia turun dari motor. Tangannya sempat menahan sebentar di pinggang Gracia, memastikan kakaknya itu benar-benar berdiri stabil.

"Aman?" tanyanya singkat.

"Aman," jawab Gracia.

"Yang ringan aja buat lo," lanjut Aten sambil mengangkat ransel paling besar dari bagasi.

"Siap, Ten. Makasih."

Pintu vila terbuka setelah Jason memasukkan kode yang dikasih pemilik. Aroma kayu langsung menyambut. Ruang tamu cukup luas, didominasi dinding kayu dan jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan serta siluet gunung di kejauhan.

Jason masuk lebih dulu, berputar sambil mengamati sekeliling. "Oke, ini baru liburan."

Gracia tersenyum kecil. Aten hanya mengangguk pelan, matanya memeriksa setiap sudut ruangan dengan lebih teliti.

Tanpa perlu dibagi secara formal, mereka langsung bergerak. Gracia memilih kamar di ujung lorong dan mulai menata pakaian di lemari. Aten memeriksa dapur, memastikan kompor menyala dan kulkas dingin. Jason, seperti biasa, langsung mengeluarkan speaker Bluetooth-nya.

Beberapa menit kemudian, musik dengan tempo santai mengalun pelan.

"Lo setel apaan sih?" tanya Aten dari dapur. "Kayak backsound ruang tunggu."

Jason menjawab tanpa rasa bersalah. "Biar santai. Masa liburan sunyi."

"Sunyi juga gak apa-apa," balas Aten.

"Lo itu terlalu serius, Ten," sahut Jason santai.

Gracia yang baru keluar dari kamar hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

---

Sore harinya mereka menuju sebuah adventure park yang lokasinya tidak terlalu jauh. Jason mencoba hampir semua wahana yang ada. Tawanya yang khas pecah setiap kali ia berhasil melewati satu tantangan.

Aten memilih panahan dan flying fox. Ia berdiri dengan tenang, memperhitungkan arah angin dan tarikan sebelum melepas anak panah. Gerakannya tidak pernah terburu-buru.

Gracia mencoba ATV menyusuri jalur berbatu. Saat rodanya selip sedikit di bebatuan, ia malah tertawa kecil. Tangannya tetap mantap di setang.

Menjelang petang, awan mulai menutup langit. Warna biru perlahan berubah menjadi kelabu. Hujan turun tepat ketika mereka sampai di teras vila.

"Timing-nya pas banget," ujar Gracia sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah. "Untung gak kehujanan di tengah jalan."

Mereka duduk di teras yang beratap. Tiga cangkir teh hangat ada di tangan masing-masing. Hujan menggelinding di atas atap dengan suara berirama, menciptakan orkestra sederhana yang menenangkan. Udara terasa dingin, tapi cukup nyaman.

"Ten, Cen," ucap Gracia pelan, memecah keheningan. "Kita udah lama gak kayak gini, ya."

Jason mengangguk, meniup tehnya sebentar. "Iya. Lo sibuk latihan teater. Gue juga lagi kejar-kejaran sama ujian."

"Skripsi gue juga gak kelar-kelar," tambah Aten. "Isinya revisi terus."

Gracia menatap mereka bergantian. "Dulu tiap minggu pasti ketemu."

Jason tersenyum tipis. "Main kartu sampe ribut. Masak mie yang ujungnya gosong."

"Lo yang bikin gosong," kata Aten cepat.

"Itu namanya eksperimen," bela Jason.

"Eksperimen arang," sahut Gracia.

Mereka tertawa bersamaan. Setelah itu kembali diam. Tidak ada rasa canggung, hanya keheningan yang terasa wajar.

Aten akhirnya duduk di kursi sebelah Gracia. "Sekarang nyari waktu kosong aja susah."

"Makanya gue ngajak ke sini," kata Gracia. "Biar kita inget lagi rasanya punya waktu bareng."

Jason menatap hujan yang belum juga reda. "Kadang kita terlalu fokus sama urusan masing-masing."

Hujan terus turun, konsisten. Di teras yang mulai digelayuti hawa dingin itu, tanpa rencana besar dan tanpa gangguan siapa pun, tiga orang duduk berdampingan. Tidak ada yang istimewa secara dramatis. Hanya waktu yang akhirnya mereka sediakan kembali untuk satu sama lain.

​Bab 2: Sentuhan

​Malam kian larut. Udara di dalam vila terasa semakin dingin, merambat perlahan melalui sela-sela jendela dan celah bawah pintu. Berbeda dengan ruang tengah yang sepi, dapur justru terasa hangat. Aroma mie instan yang tengah dimasak berpadu dengan wangi bawang goreng, menghadirkan suasana sederhana yang menenangkan di tengah kesunyian pegunungan.

​Gracia berdiri di depan kompor dengan rambut terikat seadanya. Ia mengenakan sweater tipis dan celana tidur longgar. Tangan kanannya mengaduk mie yang hampir matang, sementara tangan kirinya menyiapkan telur setengah matang serta taburan bawang goreng di piring kecil. Gerakannya cekatan, menunjukkan sisi dirinya yang terbiasa mengurus hal-hal domestik di balik layar.

​Suara sendok yang beradu dengan pinggiran panci serta desis air mendidih memenuhi dapur kecil itu. Ecen duduk di meja makan dengan dagu bertumpu pada tangan. Tatapannya mengikuti setiap gerak-gerik Gracia.

​"Lo kayak chef drama Korea, Ci. Tinggal kurang apron sama kamera muter-muter," katanya santai.

​Gracia terkekeh pelan tanpa menoleh. "Chef spesialis mie rebus. Menunya cuma satu, tapi tingkat kepercayaan dirinya tinggi."

Di ruang tengah, Aten duduk berselimutkan kain tipis. Dari tempatnya, ia bisa melihat cahaya kekuningan dari dapur dan siluet Gracia yang sibuk di balik pintu kaca. Pemandangan biasa saja, tapi entah mengapa cukup membuat dadanya terasa lebih lapang. Namun di sisi lain, ada perasaan lain yang mengendap, sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Seperti ada yang tertahan di ulu hati, menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan.

​Tak lama kemudian, Gracia keluar dari dapur membawa dua mangkuk besar. Ecen langsung menyambar salah satunya begitu diletakkan di meja dan mulai menyantapnya dengan lahap.

"Enak banget, Ci," ujarnya tulus. "Serius, rasanya beda kalau lo yang masak."

Gracia duduk di sampingnya, meniup uap panas yang mengepul dari mangkuknya sendiri. "Cici tuh punya banyak skill tersembunyi, Cen. Kalian aja yang jarang merhatiin."

​Jam dinding menunjukkan pukul 01.32. Vila sepenuhnya sunyi setelah Ecen memutuskan untuk masuk ke kamar lebih dulu. Tapi Gracia masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar untuk beberapa saat sebelum akhirnya bangkit. Sebuah kardigan tipis ia sampirkan di bahu untuk menahan dingin, lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Ruang tengah terasa jauh lebih sunyi dibandingkan satu jam yang lalu. Angin malam sesekali berdesir menyentuh kaca jendela, menimbulkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar. Cahaya lampu gantung yang redup memberi atmosfer tenang sekaligus sendu.

Gracia melangkah mendekati sofa. Ia berhenti tepat di samping Aten yang masih duduk termenung.

"Ngapain, Ten?" tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.

Aten menoleh sekilas, lalu mematikan layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. "Gak bisa tidur."

Gracia duduk di sebelahnya, melipat kaki di atas sofa hingga tubuhnya menghadap sedikit ke arah adiknya. "Masih kepikiran skripsi?"

Aten menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. "Iya. Revisi gue udah beres, tapi kata dosen pembimbing masih kurang ini dan itu. Kadang gue juga bingung maunya mereka apa."

Gracia menatap wajah adiknya sejenak. "Lo stres, ya?"

"Enggak tahu. Capek aja. Rasanya tiap hari lewat gitu-gitu aja."

Gracia mengangguk paham. "Lo kalau lagi ngerasa kayak gitu emang jarang cerita."

Aten meliriknya, ada senyum getir di wajahnya. "Emang gue tipe yang suka cerita?"

"Enggak. Tapi bukan berarti gak bisa, kan?"

Suasana kembali hening. Tidak ada kecanggungan, hanya kehampaan yang dipenuhi oleh pikiran masing-masing. Dalam jarak sedekat itu, Aten tanpa sadar mulai memperhatikan wajah Gracia lebih lama dari yang seharusnya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, sebuah tahi lalat kecil di bawah bibir kakaknya tampak begitu jelas.

"Gue baru sadar, lo masih punya tahi lalat itu," ucap Aten tiba-tiba. Suaranya rendah.

Gracia refleks menyentuh bagian bawah bibirnya dengan ujung jari, meraba permukaan kulitnya sendiri. "Yang ini? Dari dulu juga ada, Ten."

"Iya. Tahu."

Gracia mengangkat alis, menatap Aten dengan intensitas yang berbeda. "Cukup keliatan?"

Aten tersenyum tipis, matanya tidak beralih dari bibir Gracia. "Ya... kelihatan banget."

Jarak mereka kini hanya sejengkal. Gracia menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, namun ia memilih untuk tidak bergeser satu milimeter pun.

"Gampang fokus, ya?" tanya Gracia, nada ringannya kontras dengan sorot matanya yang tajam.

Aten mengangguk kecil. "Lumayan."

"Ganggu?"

"Bukan ganggu. Cuma bikin susah buat gak merhatiin."

Gracia menatap Aten tepat di matanya. Tidak ada sisa senyum, tidak ada nada bercanda. Hening mengisi celah di antara mereka, berat dan menyesakkan. Beberapa detik berlalu sebelum Gracia akhirnya bersuara, suaranya nyaris seperti desir angin di balik jendela.

“Mau sentuh?”

Pertanyaan itu menggantung, lebih berat dari kabut yang membungkus hutan di luar. Aten membeku. Ia tidak segera bergerak, tapi pandangannya terpaku pada titik kecil di bawah bibir Gracia. Keheningan di antara mereka kini bukan lagi tentang skripsi atau kelelahan, melainkan tentang garis batas yang mulai retak.

Tangan Aten bergerak lambat, seperti sedang menguji apakah ini nyata atau hanya halusinasi akibat udara dingin. Ujung jarinya yang dingin menyentuh kulit lembut di bawah bibir Gracia. Ia merasakan getaran halus di sana, tapi Gracia diam saja, membiarkan jemari adiknya menelusuri tahi lalat itu dengan usapan yang amat hati-hati.

“Dingin, Ten,” bisik Gracia. Suaranya serak, matanya sayu, menatap Aten dengan ekspresi yang sulit diterka.

Aten tak menjawab. Ia malah mendekat, memangkas jarak yang tersisa. Aroma parfum Gracia bercampur dengan sisa wangi dapur tadi, memenuhi penciumannya. Aten memiringkan kepala, lalu perlahan menempelkan bibirnya tepat di atas tahi lalat itu.

Sentuhan itu kaku, penuh keraguan. Seperti Aten masih menunggu Gracia memprotes atau memukulnya seperti biasa. Tapi Gracia tak bergeming. Ia malah sedikit mendongak, memberi lebih banyak akses.

Kecupan di tahi lalat itu berlangsung beberapa detik, terasa dalam dan posesif. Perlahan, tanpa melepas kontak, Aten menggeser bibirnya ke atas. Gerakannya ragu, ujung hidung mereka bersentuhan, menimbulkan gesekan halus yang membuat napas Gracia tertahan.

Saat bibir Aten akhirnya menyentuh bibir Gracia, waktu seolah melambat. Awalnya hanya kecupan canggung, seperti mencoba mengenali sensasi baru yang asing dan berbahaya. Tapi ketika tangan Aten berpindah ke tengkuk Gracia, menahannya di tempat, kecupan itu berubah lebih dalam, lebih intens.

Kepatuhan yang selama ini melekat pada Aten sirna, tergantikan oleh naluri yang lebih kuat. Gracia tak melawan. Ia justru memejamkan mata, membiarkan adiknya yang biasanya penurut itu mengambil alih kendali. Di ruang tengah dengan lampu temaram, batas antara kakak dan adik larut bersama derasnya hujan di luar.

Bibir mereka terlepas perlahan, tapi jarak tak berubah. Napas mereka memburu, pendek dan berat, menciptakan uap hangat yang bertabrakan di udara dingin. Di luar, hujan masih mengguyur atap dengan keras, tapi di sofa itu, segalanya seolah berhenti.

Tangan Aten masih bertahan di leher Gracia, jari-jarinya yang hangat menyusup di sela rambut tengkuk. Ujung hidung mereka masih bersentuhan, berbagi sisa napas dalam hening yang menyesakkan. Mata Gracia yang biasanya tegas, kini tampak sayu, menatap dalam ke mata Aten yang gelap.

“Ten...” bisik Gracia, nyaris tak terdengar.

Aten tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma parfum dari lekuk leher Gracia. Seperti tarikan gravitasi yang tak bisa dilawan.

“Jangan salahin gue ya, Ci,” bisiknya serak, tepat di depan bibir Gracia.

Tanpa menunggu jawaban, Aten menunduk. Bibirnya menyapu rahang Gracia, lalu mendarat di leher jenjang itu. Ia melumat kulit di sana dengan pelan tapi menuntut, seperti mencari jawaban dari rasa penasaran yang selama ini dipendam.

Gracia tersentak. Refleks ia mendongak, mengekspos lehernya lebih luas, sementara jemarinya meremas lengan kaus Aten. Napasnya tertahan, kepala bersandar di sofa, membiarkan sensasi panas dari bibir Aten menjalar, melawan dingin malam yang menggigit.

Napas Gracia makin pendek. Bibir Aten terus menekan lehernya, memberikan panas yang kontras dengan kulitnya yang merinding. Gracia menarik rambut Aten pelan, memaksanya menatapnya lagi. Wajah mereka hanya berjarak satu tarikan napas.

​"Pindah ke kamar, Ten. Sekarang," bisik Gracia, suaranya serak hampir hilang.

​Aten tidak membantah. Ia berdiri, menarik tangan Gracia dan menuntunnya dengan langkah cepat menuju kamar paling pojok. Begitu pintu tertutup, Aten langsung menguncinya. Bunyi klik logam itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar dan keberadaan Ecen sudah tidak lagi ada bagi mereka.

​Aten berdiri membelakangi pintu, menatap Gracia yang kini bersandar pada meja kecil di samping kasur. Tanpa banyak bicara, Aten mendekat, tangannya masuk ke bawah sweater Gracia, merasakan kulit perut kakaknya yang hangat. Ia mengangkat kain itu melewati kepala Gracia, menyisakan kakaknya hanya dengan bra tipis yang hampir tidak bisa menutupi dadanya yang membusung karena napas yang memburu.

​Aten tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik Gracia mendekat, lalu menunduk untuk melumat puting Gracia di balik kain bra yang tipis itu, membasahinya hingga kainnya jiplak. Gracia mendongak, matanya terpejam erat sambil mengeluarkan lenguhan tertahan. Tangannya meraba pinggang Aten, lalu turun ke bawah, merasakan tonjolan keras yang sudah menegang di balik celana adiknya.

​"Ten... lepasin," pinta Gracia sambil jemarinya sibuk dengan kancing celana Aten.

​Aten membiarkan Gracia membuka ritsletingnya. Ketika celana itu merosot, penis Aten yang sudah tegang sepenuhnya menyembul keluar, berdenyut pelan karena suhu kamar yang dingin. Gracia terdiam sejenak, menatap milik adiknya yang kini berada tepat di depan wajahnya.

​Tanpa ragu, Gracia berlutut di lantai kayu yang dingin itu. Ia meraih pangkal penis Aten dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap kepalanya yang sudah basah oleh cairan pre-cum. Gracia mulai memasukkan ujungnya ke dalam mulut, merasakan tekstur keras dan panas yang memenuhi rongga mulutnya.

​Aten tersentak, punggungnya menempel keras ke pintu kayu di belakangnya. Ia mencengkeram rambut Gracia, mengarahkan gerakan kakaknya saat bibir Gracia mulai melakukan oral dengan ritme yang dalam. Suara basah dan decakan memenuhi kesunyian kamar, beradu dengan deru napas Aten yang kian berat.

​"Ci... ah, gila," gerutu Aten rendah, kepalanya mendongak ke langit-langit sementara ia membiarkan Gracia terus melumatnya dengan intens, menghabiskan sisa kesabaran yang selama ini ia jaga sebagai seorang adik.

​Napas Aten makin pendek, jemarinya meremas rambut Gracia makin kuat saat sensasi panas di mulut kakaknya itu hampir membawanya ke puncak. Kepalanya mendongak, matanya terpejam erat, dan ia sudah hampir melepaskan segalanya.


​Namun, tepat sebelum ia sampai di titik itu, Gracia melepaskan lumatannya. Ia menjauhkan mulutnya, menyisakan penis Aten yang basah dan berdenyut hebat di udara dingin kamar. Gracia mendongak, menatap Aten dengan tatapan sayu namun penuh kemenangan.
​"Jangan sekarang, Ten." bisik Gracia.

​Aten menggeram rendah. Rasa tanggung yang menyiksa itu meledakkan emosinya. Tanpa bicara, ia merangkul pinggang Gracia, mengangkat tubuh kakaknya yang ringan itu dan memindahkannya ke atas kasur dengan sekali gerakan.

​Begitu tubuh Gracia mendarat di atas seprai yang dingin, Aten tidak memberikan napas sedikit pun. Ia langsung menindih tubuh kakaknya, tangannya dengan cekatan membuka pengait bra Gracia hingga kedua payudaranya yang putih bersih menyembul bebas di bawah cahaya lampu nakas.

​Aten menatap pemandangan di depannya dengan lapar. Tanpa menunggu, ia langsung membenamkan wajahnya, melumat dan ngedot puting Gracia dengan rakus. Suara basah dari hisapan Aten memenuhi kamar, beradu dengan lenguhan Gracia yang semakin keras. Gracia mendongak, punggungnya melengkung saat merasakan tarikan kuat di dadanya.

​"Ah... Ten... pelan-pelan," rintih Gracia, tangannya meremas bahu Aten yang keras.

​Namun Aten tidak berhenti. Setelah puas di satu sisi, ia berpindah ke sisi lainnya, meninggalkan bekas merah yang kontras di kulit mulus kakaknya. Tiba-tiba, Aten menarik tubuhnya sedikit ke atas. Ia meraih kedua payudara Gracia dengan tangannya, lalu menghimpitnya ke tengah hingga menciptakan celah yang rapat.

​Gracia mengerutkan dahi, menatap adiknya dengan bingung. "Ten? Mau ngapain?"

​Aten tidak menjawab. Ia meraih penisnya yang masih tegang sempurna dan basah oleh sisa air liur Gracia tadi, lalu memposisikannya di tengah-tengah belahan payudara kakaknya. Aten mulai menggerakkan pinggulnya, menggesekkan batangnya yang panas dan keras naik-turun di antara jepitan payudara Gracia.

​Mata Gracia membelalak. Ia baru pertama kali merasakan sensasi ini, gesekan kulit penis yang sensitif dengan kelembutan dadanya. "Ten... kok... digituin?"

​"Diem aja, Ci," bisik Aten serak, matanya terkunci pada pemandangan penisnya yang keluar-masuk di antara payudara kakaknya yang berguncang.

​Gracia yang awalnya bingung, perlahan mulai menikmati sensasi aneh itu. Ia secara insting membantu Aten dengan menekan payudaranya lebih rapat menggunakan tangannya sendiri, membuat jepitan itu semakin ketat. Suara gesekan kulit dan sisa cairan yang melumasi batang Aten menciptakan bunyi splat-splat yang sangat erotis di telinga mereka.

​Aten makin mempercepat temponya, napasnya menderu di depan wajah Gracia. Ia menikmati ekspresi kaget sekaligus nikmat di wajah kakaknya yang selama ini selalu terlihat berwibawa di matanya. Di detik ini, Gracia bukan lagi seorang kakak atau idol, melainkan wanita yang sedang tunduk di bawah eksplorasinya.

​Tempo gerakan Aten semakin cepat. Gesekan antara batang penisnya yang panas dengan kulit payudara Gracia yang lembut menciptakan sensasi yang hampir tak tertahankan. Gracia, yang kini sudah mulai terbiasa dengan ritme itu, menggunakan kedua tangannya untuk menekan dadanya lebih rapat, membantu adiknya mencapai puncak.

​Napas Aten menderu, pendek dan berat. Matanya memerah, menatap lekat pada penisnya yang basah oleh cairan pre-cum dan air liur, bergerak keluar-masuk di antara belahan dada kakaknya.

​"Ten... dikit lagi?" bisik Gracia, suaranya parau melihat ekspresi Aten yang sudah di ujung tanduk.

​Aten tidak menjawab. Ia memberikan beberapa hentakan kuat yang terakhir. Tubuhnya menegang hebat, punggungnya kaku, dan sedetik kemudian, ia mengerang rendah saat cairan putih kental menyemprot keluar dengan deras.

Crot. Crot.

​Cairan hangat itu membasahi dada Gracia, menyiprat hingga ke leher dan rahangnya. Gracia tersentak, merasakan panasnya sperma Aten di kulitnya. Ia terengah-engah, matanya sayu menatap cairan itu, lalu beralih menatap Aten yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Gracia, mencoba mengatur napasnya yang hancur.

​Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara hujan di luar dan detak jantung mereka yang beradu. Di tengah keheningan itu, kenyataan mulai merayap masuk.

​Gracia mengusap rambut Aten pelan dengan tangan yang masih gemetar. "Ten..."

​Aten tidak bergerak, wajahnya masih tersembunyi di ceruk leher Gracia. "Maafin gue, Ci."

​Gracia terdiam sejenak. Ia melihat sisa-sisa pelepasan Aten di dadanya, lalu teringat rumah, teringat ruang tamu di Jakarta, dan foto keluarga yang terpajang di sana.

​"Gue ini Cici lo, Ten," bisik Gracia, suaranya terdengar bergetar antara nikmat yang tersisa dan rasa bersalah yang muncul. "Kalau Mama sama Papa tahu kita begini di sini... mereka bakal benci banget sama kita, kan?"

​Aten semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gracia, seolah takut kakaknya akan pergi setelah menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. "Jangan bahas itu sekarang, Ci. Gue nggak mau ingat siapa-siapa selain lo malam ini."

​Gracia memejamkan mata erat, membiarkan air mata kecil menetes di sudut matanya. Ia tahu ini salah, ia tahu ini gila. Tapi saat ia merasakan detak jantung Aten yang masih liar di atas dadanya yang basah, ia sadar bahwa malam ini, peran sebagai "Cici" itu sudah kalah telak oleh rasa lapar yang selama ini mereka pendam rapat-rapat.

​Aten masih terdiam dengan wajah yang disembunyikan di ceruk leher Gracia. Napasnya mulai melambat, tapi tubuhnya masih terasa panas. Cairan putih yang tadi ia semprotkan perlahan mulai mendingin di atas kulit dada Gracia, menciptakan rasa lengket yang ganjil namun intim.

​Perlahan, Aten mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu menatap cairan miliknya sendiri yang mengotori tubuh kakaknya. Tanpa kata, ia meraih ujung kaos yang tadi ia lepas, lalu mulai mengusap dada Gracia dengan gerakan yang sangat lembut. Ia membersihkan sisa-sisa pelepasannya di antara belahan payudara Gracia, naik ke leher, hingga ke rahang kakaknya yang tadi terkena cipratan.

​Gracia hanya diam mematung, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dalam.

​"Tadi itu... punya lo banyak banget, Ten," bisik Gracia pelan, suaranya pecah saat ia akhirnya berani menatap mata adiknya.

​Aten berhenti mengusap. Tangannya masih tertahan di atas dada Gracia, merasakan detak jantung kakaknya yang kembali memompa kencang. "Gue nggak tahu, Ci. Mungkin karena udah kelamaan gue pendam sendiri."

​Aten membuang kaos itu ke lantai, lalu tangannya kembali merambat, mengusap tahi lalat di bawah bibir Gracia yang tadi ia cium. "Ci, lo beneran nggak apa-apa? Kita udah beneran kacau sekarang."

​Gracia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di tengah kesunyian kamar. "Kacau? Kita udah lewat dari kata kacau sejak di sofa tadi, Ten. Mama sama Papa pasti nggak akan pernah nyangka anak-anak kebanggaannya lagi begini di Puncak."

Oniel hujan

  

Bab 1: Basah Sebelum Masuk

​Hujan telah mengguyur sejak pukul tiga sore. Intensitasnya meningkat secara tiba-tiba tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bersiap. Langit menggantung kelabu, menahan cahaya matahari agar tidak menembus awan, sehingga menciptakan atmosfer yang jauh lebih sunyi di dalam rumah.

​Oniel telah terduduk di sofa ruang tengah selama beberapa jam. Sebuah laptop diletakkan di atas bantal yang memangku kakinya. Meskipun sepasang earphone menutupi telinga dan mengalirkan audio, fokusnya sama sekali tidak tertuju pada apa yang ia dengar. Pandangannya terpaku pada layar, namun pikirannya mengembara ke tempat lain.

​Rumah itu terasa begitu lengang.

​Ibu telah pergi sejak pagi dengan membawa koper kecil berisi kostum tari yang tertata rapi. Ayah yang mengantarkannya. Oniel hanya sempat memberikan respons singkat dari balik selimut saat mereka berpamitan, sebelum akhirnya ia kembali terlelap.

​Hari ini ia tidak memiliki agenda, begitu pula dengan esok hari. Waktu seolah membentang tanpa arah, dan ia memilih untuk tetap diam di tengah keheningan tersebut.

​Kesunyian itu pecah ketika terdengar suara kunci yang berputar di pintu depan.

​Oniel melepas salah satu earphone dan sedikit mendongakkan kepala. Saat pintu terbuka, suara deru hujan sempat menyerbu masuk sebelum akhirnya kembali teredam ketika daun pintu ditutup dengan rapat.

​Cornelio berdiri di sana. Kemeja kantornya tampak basah pada bagian bahu, sementara tas kerja dipeluk di depan dada sebagai pelindung darurat. Rambutnya lembap, dan raut wajahnya menyiratkan kelelahan serta kekesalan yang mendalam.

​Tatapan Cornelio segera tertuju ke arah ruang tengah.

​"Nyokap bokap mana? Tadi gue pikir nggak ada orang."

​Oniel menekan tombol jeda pada laptopnya, kemudian melepas earphone yang tersisa. Ia menjawab dengan nada santai. "Lagi pergi. Nyokap ada acara pentas. Tadi pagi dianter bokap."

​Cornelio mengembuskan napas panjang sembari menutup pintu lebih rapat. Ia mengibaskan sisa-sisa air dari lengannya. "Hujan deres gini tetep berangkat juga ya. Mana di jalan kacau banget, macetnya ampun deh."

​Oniel hanya mengangguk pelan. Pandangannya kembali tertuju pada layar laptop yang menampilkan gambar diam. "Emang dari siang nggak berenti-berenti sih. Kayaknya bakal awet nih."

​Cornelio melangkah masuk, lalu meletakkan tasnya di atas meja dekat pintu. Ia mengusap rambutnya yang masih basah dengan telapak tangan. "Emangnya mereka balik jam berapa?"

​Oniel mengangkat bahu tanpa menoleh sepenuhnya. "Nggak tahu, nggak nanya juga tadi. Gue cuma bangun bentar pas mereka mau jalan, terus tidur lagi."

​Cornelio terdiam sejenak. Ia memperhatikan Oniel yang masih enggan beranjak dari posisinya, meskipun tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan saudaranya itu di depan layar.

​"Lo dari tadi di situ mulu?"

​"Iya. Nonton doang sih, lagi nggak mood ngapa-ngapain juga," jawab Oniel dengan nada datar.

​Cornelio mengangguk, menerima alasan tersebut tanpa niat untuk berdebat lebih lanjut. "Udah makan belum lo?"

​Oniel melirik sekilas ke arah meja makan yang tampak kosong, lalu kembali menyandarkan punggungnya. "Belum. Lagian belum laper juga."

​"Nasi ada di rice cooker?"

​"Ada kok. Nyokap masak tadi pagi sebelum pergi. Lauk paling cari aja di kulkas."

​Tanpa banyak bicara, Cornelio berjalan menuju dapur. Suara pintu lemari es yang dibuka terdengar singkat, diikuti bunyi gesekan wadah plastik di dalamnya.

​"Dingin semua nih," teriaknya dari dapur. "Lo nggak ada niat buat ngangetin apa?"

​Oniel menyunggingkan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Entar deh. Lagi males gerak gue."

​Cornelio kembali ke ruang tengah sambil menggenggam sebotol air mineral. Ia meneguk air tersebut beberapa kali, lalu kembali menatap Oniel.

​"Ya udah. Gue mandi dulu deh. Badan udah lengket banget gara-gara kehujanan."

​"Sip."

​Langkah Cornelio sempat tertahan sejenak, seolah ada kalimat lain yang ingin ia sampaikan. Namun, ia mengurungkan niat tersebut, hanya memberikan anggukan kecil sebelum berjalan menuju kamar.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang, berganti dengan suara hujan yang terus jatuh dengan ritme yang konsisten.

​Oniel kembali mengenakan earphone-nya. Layar laptop kembali bergerak, menampilkan tayangan yang dibarengi suara tawa samar. Di luar sana, hujan masih terus turun, seolah belum memiliki rencana untuk segera reda.

---

Dua belas menit berlalu sebelum Cornelio kembali menampakkan diri dari balik pintu kamar.

​Penampilannya kini telah bertransformasi menjadi jauh lebih santai. Kemeja kerja yang sebelumnya melekat ketat telah digantikan oleh kaus rumah yang sederhana, begitu pula dengan celana bahan yang kini berganti menjadi jogger. Rambutnya masih tampak berantakan, menyisakan jejak kelembapan setelah diseka secara tergesa menggunakan handuk.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia melangkah menuju dapur. Gerakannya tenang, namun masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan yang belum sepenuhnya sirna.

​Suara engsel pintu lemari es yang dibuka terdengar memecah keheningan rumah. Beberapa wadah makanan di dalamnya terdengar bergeser saat Cornelio memeriksa isinya satu demi satu dengan teliti.

​Oniel sempat melirik sekilas dari balik layar laptopnya, meskipun ia tidak benar-benar mengalihkan perhatiannya secara utuh.

​Cornelio mengambil salah satu wadah, membuka tutupnya, lalu mendekatkan makanan tersebut ke penciumannya. Seketika, raut wajahnya berubah. Keningnya berkerut tipis, mengindikasikan sebuah kesimpulan yang didapat tanpa perlu banyak pertimbangan. Ia segera menutup kembali wadah tersebut.

​"Ini beneran masih enak nggak sih? Kok baunya agak aneh ya," ucapnya setengah bergumam, namun suaranya tetap terdengar jelas.

​Oniel akhirnya benar-benar menoleh dan melepas fokusnya dari layar. "Ayam yang dimasak tadi pagi bukan?"

​"Iya. Tapi bau kulkasnya kuat banget. Berasa kayak udah kelamaan di dalem," jawab Cornelio sembari menggeser wadah lain, berharap menemukan sesuatu yang lebih layak dikonsumsi.

​Ia membuka satu wadah lagi, lalu menutupnya kembali dengan gerakan cepat.

​"Sama aja deh. Nggak ada yang meyakinkan buat dimakan nih."

​Oniel mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa. "Padahal kan baru tadi pagi masaknya."

​"Ya itu dia. Tapi daripada gue paksain makan terus malah kenapa-kenapa, mending jangan deh," kata Cornelio sembari mengembalikan seluruh wadah ke tempat semula.

​Pintu kulkas ditutup perlahan. Ia berdiri mematung sejenak di area dapur, seolah tengah menimbang keputusan selanjutnya.

​Oniel lah yang akhirnya memecah kebuntuan tersebut. "Order makanan aja apa ya? Gue juga sebenernya belum makan dari siang."

​Cornelio menoleh ke arah ruang tengah. "Emang lo udah laper banget?"

​"Lumayan sih. Tadi cuma ngemil-ngemil doang, belum makan nasi," sahut Oniel.

​Cornelio mengangguk kecil, ekspresi wajahnya kini tampak jauh lebih rileks dibandingkan saat ia baru tiba di rumah. "Ya udah, lo pesen aja duluan. Buat lo dulu nggak apa-apa kok. Gue entar nyusul kalau emang laper. Perut gue masih agak nggak enak, tadi di kantor sempet ganjel roti."

​"Ok. Nanti gue kasih tau kalau udah dapet driver."

​Cornelio tidak memberikan banyak respons verbal. Ia hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik menuju wastafel untuk membilas tangannya.

​Aliran air terdengar mengalir sejenak sebelum kemudian berhenti total.

​"Gue balik ke kamar dulu ya," ucapnya sambil mengeringkan tangan.

​"Yo."

​Cornelio melangkah menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.

​Oniel menarik selimutnya hingga sedikit lebih tinggi dan kembali memasang earphone pada telinganya. Layar laptop kembali menyala, memutar tayangan yang suara tawanya mengisi kekosongan ruang tersebut.

​Di luar, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Langit kini telah sepenuhnya menjadi gelap, menyisakan suara jatuhan air yang konsisten menghantam bumi tanpa jeda sedikit pun.

Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan

​​Waktu merambat perlahan menuju pukul setengah delapan malam. Intensitas hujan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, tetap konsisten dengan ritme yang sama sejak sore hari. Fenomena alam tersebut seolah mengisolasi dunia di luar rumah, menyisakan suara monoton yang justru menghadirkan ketenangan tersendiri. Di dalam bangunan tersebut, atmosfer tetap statis. Ruang tengah masih didominasi oleh kesunyian, hanya terinterupsi oleh pendar cahaya layar serta suara samar dari earphone yang sesekali tertangkap indra pendengaran.

​Oniel masih mempertahankan posisinya di sofa dengan tubuh yang setengah tenggelam dalam kemalasan. Ia menatap layar ponsel dalam durasi yang cukup lama, seolah tengah melakukan pertimbangan matang atas sebuah keputusan sederhana. Akhirnya, setelah mengembuskan napas pendek, ia menyentuh layar perangkat tersebut dengan gerakan yang lebih pasti.

​"Bang, lo mau makan apa nih? Gue mau pesen sekarang biar nggak kemaleman sampainya," seru Oniel.

​Ia mengarahkan suaranya ke arah kamar dengan volume yang cukup namun tidak berlebihan. Tidak ada jawaban yang menyahut. Hanya suara hujan yang tetap setia mengisi kekosongan tersebut. Oniel sedikit menggeser posisi duduknya, lalu kembali menyandarkan punggung sembari menunggu respons selama beberapa detik. Namun, keadaan tetap nihil.

​"Bang, denger nggak sih? Jangan pura-pura budek deh, ini laper beneran gue."

​Beberapa saat kemudian, pintu kamar pun terbuka secara perlahan. Cornelio muncul dengan raut wajah yang tampak berat, menyerupai seseorang yang baru saja dipaksa terjaga dari tidur yang belum tuntas. Matanya tampak memerah, rambutnya berantakan, dan langkah kakinya belum sepenuhnya seimbang.

​"Apa sih, berisik amat," gumamnya dengan suara serak.

​Oniel tetap tidak memalingkan wajah. Jemarinya masih sibuk mengusap layar ponsel yang menampilkan beragam daftar menu makanan. "Ya makanya dijawab dong. Mau makan apa? Gue mau pesen sekarang. Tadi kan lo sendiri yang bilang ragu mau makan nasi sisa di kulkas."

​"Samain aja sama yang lo pesen deh. Gue lagi males mikir," jawabnya akhirnya.

​Mendengar respons tersebut, Oniel berdecak. "Hih, samain itu bukan nama menu ya, Bang. Gue mau beli ayam nih. Lo mau ikut pesen ayam juga atau mau cari yang lain? Biar sekalian satu kurir gitu lho."

​Cornelio mengusap wajahnya pelan guna mengumpulkan kesadaran, lalu menarik napas panjang. "Ya udah, ayam aja. Samain. Tapi yang biasa aja ya, jangan pesen yang aneh-aneh rasanya, lagi nggak pengen yang macem-macem gue."

​Oniel memberikan anggukan kecil sebagai tanda mengerti. "Pedes apa nggak?"

​"Nggak usah. Lambung gue lagi nggak enak. Ntar malah jadi masalah."

​"Ya udah, gue ambil yang original."

​Interaksi tersebut berakhir tanpa ada kalimat tambahan. Kendati demikian, Cornelio tidak lantas kembali ke dalam kamar. Ia berdiri mematung selama beberapa detik sembari menatap layar televisi yang menyala tanpa suara, seolah sedang berusaha menyesuaikan diri kembali dengan tempo kehidupan di dalam rumah yang terasa melambat.

​Ia kemudian melangkah perlahan menuju ruang tengah dan mendudukkan dirinya di ujung sofa yang berseberangan. Sebuah jarak yang cukup lebar sengaja dibiarkan membentang di antara mereka berdua. Oniel yang kini telah memperbaiki posisi duduknya segera menyelesaikan transaksi tersebut. Terdengar bunyi klik pelan saat ia meletakkan ponselnya di atas meja.

​"Udah tuh. Tinggal nunggu abangnya dateng aja," kata Oniel tanpa sedikit pun memandang ke arah lawan bicaranya.

​Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya suara ketukan di pintu depan memecah suasana.

​Oniel bangkit tanpa memberikan banyak komentar. Ia segera membuka pintu, menerima pesanan tersebut, lalu kembali menuju sofa seolah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat pindah ke meja makan. Ruang tengah tetap menjadi titik pusat aktivitas, sama seperti kondisi sejak sore tadi.

​Bungkus makanan tersebut kemudian dibuka di atas meja kecil yang terletak tepat di depan sofa. Suara plastik yang berdesir pelan serta bunyi sendok sekali pakai yang dibuka tanpa suara berlebih mengisi rungu. Aroma hangat dari makanan perlahan mulai menyebar ke seluruh penjuru ruangan, sedikit demi sedikit mengusir hawa dingin yang sejak tadi menggantung di udara.

​Cornelio mulai menyantap makanannya terlebih dahulu. Gerakannya tampak sangat tenang dan rapi, tanpa ada kesan tergesa. Perhatiannya tercurah sepenuhnya pada isi kotak makanan di tangannya. Sementara itu, Oniel makan dengan ritme yang berbeda. Ia sesekali berhenti untuk memeriksa ponselnya, sebelum akhirnya kembali mengambil suapan.

​Beberapa saat berlalu dalam diam yang statis.

​"Yah, kurang nampol pedesnya ini mah."

​Oniel tetap fokus pada makanannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. "Kan tadi lo sendiri yang milih menu yang biasa, gimana sih."

​"Gue kan juga bilang terserah tadi, lo tinggal pesen beda aja sebenernya," sahut Cornelio dengan nada santai.

​Oniel menoleh sedikit, keningnya tampak mengernyit tanda tidak setuju. "Terserah itu bukan jawaban yang ngebantu, Bang. Dari tadi gue udah bilang begitu."

​Cornelio tidak lagi memberikan balasan verbal. Ia terus mengunyah makanannya, namun sudut bibirnya tampak sedikit tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang berusaha ia sembunyikan. Tampaknya, ia memang sengaja ingin memancing kekesalan adiknya tersebut.

​Oniel menyadari gerakan kecil di wajah kakaknya. Ia pun memutuskan untuk diam dan tidak melanjutkan protesnya lebih jauh. Kepalanya kini beralih menatap layar televisi, berpura-pura tidak peduli sama sekali, meskipun dalam hati ia memahami bahwa Cornelio baru saja mengerjainya. Di luar rumah, hujan masih saja turun, membasahi bumi dengan keteguhan yang luar biasa.

---

​Makan malam tersebut berakhir tanpa meninggalkan kesan yang benar-benar berarti. Tidak ada percakapan penting yang tercipta, tidak pula terdapat momen yang menonjol. Segalanya berjalan selayaknya rutinitas yang telah terlampau sering terjadi, hingga setiap detiknya terasa biasa saja.

​Bungkus makanan dirapikan dengan serangkaian gerakan yang bersifat otomatis. Plastik dilipat, kotak ditutup kembali, lalu dibawa menuju tempat pembuangan sampah. Gelas-gelas kosong pun dipindahkan ke dapur. Cornelio mengerjakan bagiannya terlebih dahulu dengan tenang, tanpa suara berlebih, seolah ia telah terbiasa menuntaskan segala sesuatu secara mandiri. Oniel menyusul beberapa saat kemudian. Ia beranjak setelah menerima satu tatapan singkat dari Cornelio, sebuah isyarat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun, namun cukup untuk dipahami maknanya.

​Dapur kini hanya dipenuhi oleh suara aliran air dan denting halus peralatan makan yang saling bersentuhan. Tidak ada percakapan di sana; hanya kehadiran dua orang yang berbagi ruang tanpa benar-benar saling menginterupsi.

​Setelah segala sesuatunya kembali rapi, mereka berdua kembali menuju ruang tengah.

"Bang, kayaknya Nyokap sama Bokap nggak balik malem ini deh," ucap Oniel memecah kesunyian.

​Cornelio langsung menoleh, sebelah alisnya terangkat menunjukkan rasa heran yang tidak disembunyikan. "Lho, kok gitu? Bukannya tadi bilangnya cuma bentar doang ya di sana?"

​Oniel masih terpaku pada layar ponselnya, memastikan tidak ada kata yang terlewat. "Iya, tapi katanya di sana hujan masih deres banget, nggak reda-reda. Terus jalanannya juga bahaya kalau dipaksain nyetir malem gini. Jadi mereka mutusin buat nginep dulu di rumah saudara."

​Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja, lalu melirik ke arah abangnya. "Oiya, Nyokap juga nitip pesen nih. Besok jangan sampe lupa sarapan, terus itu nasi yang di magic com disuruh habisin, jangan sampe basi katanya."

​Cornelio mengangguk paham, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai ke sofa. "Ya udahlah kalau gitu, bener juga sih. Daripada mereka maksa pulang terus malah kenapa-kenapa di jalan kan serem juga. Palingan besok pagi-pagi banget mereka udah sampe sini."

Setelah percakapan singkat itu, sunyi kembali bertahta. Cornelio sempat melirik adiknya yang masih meringkuk di balik selimut, tampak enggan untuk bergeser satu inci pun.

​"Lo nggak mau masuk ke kamar aja sekalian? Udah makin malem lho ini, nanti malah masuk angin di sini," tanya Cornelio.

​Oniel menggeleng pelan tanpa ragu sedikit pun. "Nggak ah, lagi males banget sendirian di dalem kamar. Tadi sore kan gue udah ketiduran lama banget, sekarang malah ngerasa seger gini matanya. Belum ngantuk sama sekali gue."

​Ia meluruskan kakinya, hingga ujung jemarinya hampir menyentuh paha Cornelio. Namun, ia membiarkannya begitu saja, tidak ada niat untuk menariknya kembali. Seketika, ruangan itu tenggelam dalam remang. Hanya cahaya dari televisi yang kini menjadi sumber penerangan, memantulkan bayangan samar di dinding dan menyinari separuh wajah mereka yang tampak lebih tenang.

​"Sibuk sekarang?"

​Oniel yang baru saja mendaratkan tubuhnya menoleh dengan kening berkerut. "Hah? Maksudnya apa nih?"

​"Di JKT. Lagi padat apa gimana jadwal lo sekarang?"

​"Oh itu." Oniel menarik napas sejenak sebelum bersandar pada bantalan sofa. "Kemarin sih lumayan padat. Habis rangkaian show juga kan. Sekarang udah agak mendingan, nggak sepadet itu lagi."

​Cornelio memberikan anggukan pelan, matanya tetap terpaku pada layar di hadapannya.

​Oniel mengangkat satu kakinya ke atas sofa, kemudian disusul oleh kaki yang lain. Ia memeluk lututnya dengan santai. "Kenapa emang? Tiba-tiba nanya gitu."

​"Nggak apa-apa sih, cuma ngerasa jarang banget lihat batang hidung lo di rumah akhir-akhir ini," jawab Cornelio tanpa memberikan penekanan khusus pada kalimatnya.

​Oniel menoleh lebih jelas ke arah Cornelio. "Oh, lo merhatiin juga ternyata."

​Cornelio baru memberikan respons setelah jeda singkat. "Bukan gue yang merhatiin, tapi Nyokap sering banget ngomongin lo kalau lagi teleponan."

​Oniel sedikit mengernyitkan dahi. "Bahas apaan emangnya?"

​"Katanya lo sering pulang malam. Kadang langsung masuk kamar, tidur. Nggak sempet ketemu juga."

​Oniel mengembuskan napas perlahan. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali bersuara. "Ya gimana ya. Jadwalnya emang kayak gitu. Nggak bisa gue atur juga sesuka hati."

​Cornelio hanya mengangguk kecil. "Iya, ngerti."

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Bukan jenis keheningan yang canggung, namun belum pula dapat dikatakan sepenuhnya hangat. Mereka berdua masih tampak seperti dua individu yang tengah berupaya menyesuaikan ritme satu sama lain kembali.

​Beberapa detik berlalu sebelum Oniel kembali memecah kesunyian.

​"Lo pernah nonton show gue nggak sih?"

​Cornelio melirik sekilas, cukup untuk memastikan bahwa pertanyaan tersebut memang dialamatkan kepadanya. "Pernah kok sekali."

​Oniel seketika menoleh sepenuhnya, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Serius? Kapan? Kok gue nggak tahu?"

​"Waktu lo pertama kali debut dulu. Pas masih awal banget."

​Oniel tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. "Lah, itu mah udah lama banget kali! Masa cuma pas debut doang nontonnya?"

​"Iya, emang itu doang."

​"Jujur banget sih jawabnya, nggak ada basa-basinya dikit apa," gerutu Oniel sambil terkekeh pelan.

​Cornelio tidak memberikan tanggapan lebih lanjut, namun ia juga tidak menunjukkan gelagat menghindar. Ia tetap berada di posisinya dengan sikap yang perlahan-lahan mulai melonggar.

​"Kapan-apan nonton lagi lah," ucap Oniel santai, dengan nada suara yang jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

​Cornelio menarik napas panjang. "Iya, nanti gue coba sempetin."

​Oniel langsung menggenggam bahu kakaknya tersebut. "Nanti itu kapan? Besok? Minggu depan? Apa nunggu tahun depan lagi?"

​"Ya pokoknya nanti aja, liat situasinya gimana," sahut Cornelio kembali.

​Oniel tertawa kecil, meskipun kali ini suaranya terdengar jauh lebih serak. Ia menggeser posisi duduknya hingga bahu mereka bersentuhan tanpa menyisakan ruang sedikit pun. 

​"Lihat situasi mulu bahasanya. Bilang aja emang mager, kan" gumam Oniel sangat pelan.

​Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Cornelio. Tekstur rambut Oniel yang halus menyentuh kulit leher Cornelio, seketika mengubah atmosfer percakapan santai tersebut menjadi lebih berat dan intens. Cornelio tetap bergeming. Ia tidak menunjukkan penolakan, namun juga tidak menjauh. Dalam keheningan itu, ia dapat merasakan embusan napas Oniel yang teratur di dekat pundaknya. Aroma sabun mandi yang segar berpadu dengan hawa dingin sisa hujan menciptakan sebuah sensasi yang asing baginya.

​"Bang," panggil Oniel lagi. Suaranya terdengar rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan yang masih menghantam atap dengan deras.

​"Apa?" Cornelio sedikit menundukkan kepala, berusaha memandang wajah adiknya yang sebagian tertutup bayangan sofa.

​Saat Cornelio menunduk, Oniel justru mendongakkan kepalanya. Jarak di antara mereka terkikis seketika, hingga Cornelio dapat melihat pantulan cahaya televisi di dalam manik mata Oniel yang jernih. Terjadi jeda yang cukup lama di antara mereka. Oniel tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menatap Cornelio seolah sedang mencari sesuatu di wajah kakaknya tersebut.

​Cornelio merasakan debaran jantungnya mendadak tidak beraturan. Ia berniat menanyakan sesuatu, namun kerongkongannya terasa sangat kering. Tangannya yang semula diam di atas paha perlahan bergerak naik, menyelipkan anak rambut Oniel yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut.

​Oniel tidak bergerak. Ia hanya diam dengan mata yang perlahan terpejam saat merasakan ibu jari Cornelio mengusap pipinya pelan. Dinginnya malam seolah tidak lagi terasa di ruangan tersebut.

​Cornelio perlahan memajukan wajahnya. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, seolah memberikan kesempatan bagi Oniel untuk menjauh jika memang diinginkan. Namun, Oniel tetap pada posisinya, dengan napas yang kian pendek. Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Cornelio dapat merasakan hangat napas adiknya. Tanpa sepatah kata pun, Cornelio menunduk lebih dalam dan menempelkan bibirnya pada bibir Oniel.

​Hanya sebuah sentuhan singkat dan lembut, namun memiliki tekanan yang begitu nyata. Di tengah ruang tengah yang gelap itu, hanya terdengar suara hujan dan deru napas mereka yang menyatu.


Cornelio melepaskan tautan bibirnya secara perlahan, namun ia tidak langsung menjauhkan wajahnya. Deru napas mereka masih saling beradu dalam jarak yang sangat dekat, menciptakan ketegangan yang justru terasa semakin menyesakkan di tengah ruang tengah yang remang. Cornelio menatap mata Oniel cukup lama, mencoba membaca reaksi adiknya di balik cahaya televisi yang berpendar redup.

​"Dingin di sini," bisik Cornelio, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

​Oniel hanya terdiam, namun jemarinya yang tadi menggenggam bahu Cornelio kini beralih meremas pelan kaus yang dikenakan kakaknya. Ia tidak memberikan jawaban verbal, hanya tatapan matanya yang tampak lebih dalam, seolah sedang menunggu langkah selanjutnya.

​Cornelio menarik napas panjang, lalu ia menggerakkan kepalanya sedikit ke arah lorong kamar yang gelap. Isyarat yang sangat halus, namun cukup jelas untuk ditangkap.

​"Pindah ke dalem aja yuk? Di sini nggak enak, punggung gue pegel senderan begini," kata Cornelio dengan nada yang diusahakan terdengar biasa, meski ada sedikit getaran di sana.

​Oniel sempat tertegun sejenak. Ia melirik ke arah pintu kamar Cornelio yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap kakaknya. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibir Oniel. Ia melepaskan remasannya di kaus Cornelio, lalu perlahan mulai bangkit dari sofa sembari menarik selimut yang tadi membungkus kakinya.

​Cornelio berdiri lebih dulu, ia sempat mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Oniel. Mereka berdua melangkah beriringan membelah kegelapan ruang tengah menuju pintu kamar yang sudah menunggu. Di luar, hujan masih belum juga reda, terus menyamarkan suara langkah kaki mereka yang bergerak masuk dan menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup dengan suara klik yang sangat pelan.


Pintu kamar tertutup rapat, mengunci suara hujan di luar menjadi dengung yang lebih teredam. Cornelio tidak langsung menyalakan lampu utama; ia hanya menekan sakelar lampu meja di sudut ruangan yang memancarkan pendar kuning remang-remang. Kamar itu terasa jauh lebih hangat dibanding ruang tengah tadi, atau mungkin itu hanya perasaan mereka saja yang sedang diliputi kecanggungan yang aneh.

​Oniel duduk di tepi tempat tidur, masih dengan selimut yang tersampir di bahunya. Ia memperhatikan Cornelio yang berjalan pelan menuju jendela hanya untuk memastikan gorden tertutup sempurna.

​"Tadi lo bilang belum ngantuk kan?" tanya Cornelio sambil berbalik. Ia berdiri tepat di depan Oniel, menghalangi cahaya lampu hingga bayangannya jatuh menutupi tubuh adiknya.

​Oniel mendongak, matanya sedikit menyipit mengikuti siluet kakaknya. "Emang belum. Kenapa emangnya?"

​Bukannya menjawab, Cornelio justru duduk di samping Oniel, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Jarak mereka kembali terkikis. Cornelio meraih ujung selimut Oniel, menariknya perlahan agar tidak lagi menghalangi, lalu tangannya beralih menumpu di permukaan kasur, tepat di belakang tubuh Oniel.

​"Gue cuma mau lanjutin yang tadi," bisik Cornelio.

​Oniel tidak sempat membalas ketika Cornelio kembali mendekat. Kali ini tidak ada keraguan. Cornelio menangkup wajah Oniel dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik pinggang adiknya agar posisi mereka benar-benar rapat. Saat bibir mereka kembali bertemu, suasananya terasa berbeda dari yang di sofa; lebih menuntut, lebih dalam, dan penuh dengan emosi yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik status saudara.

​Oniel memejamkan mata erat, tangannya melingkar di leher Cornelio, menarik kakaknya itu agar tidak memberi jarak sedikit pun. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya minimalis itu, mereka seolah lupa dengan dunia di luar pintu. Hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling berkejaran di balik dada masing-masing.

​Cornelio perlahan merebahkan tubuh Oniel ke atas kasur tanpa memutuskan tautan mereka. Gerakannya sangat hati-hati, namun pasti. Dalam posisi itu, Cornelio berhenti sejenak, menatap Oniel yang tampak sedikit berantakan dengan pipi yang memerah.