Oniel hujan

  

Bab 1: Basah Sebelum Masuk

​Hujan telah mengguyur sejak pukul tiga sore. Intensitasnya meningkat secara tiba-tiba tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bersiap. Langit menggantung kelabu, menahan cahaya matahari agar tidak menembus awan, sehingga menciptakan atmosfer yang jauh lebih sunyi di dalam rumah.

​Oniel telah terduduk di sofa ruang tengah selama beberapa jam. Sebuah laptop diletakkan di atas bantal yang memangku kakinya. Meskipun sepasang earphone menutupi telinga dan mengalirkan audio, fokusnya sama sekali tidak tertuju pada apa yang ia dengar. Pandangannya terpaku pada layar, namun pikirannya mengembara ke tempat lain.

​Rumah itu terasa begitu lengang.

​Ibu telah pergi sejak pagi dengan membawa koper kecil berisi kostum tari yang tertata rapi. Ayah yang mengantarkannya. Oniel hanya sempat memberikan respons singkat dari balik selimut saat mereka berpamitan, sebelum akhirnya ia kembali terlelap.

​Hari ini ia tidak memiliki agenda, begitu pula dengan esok hari. Waktu seolah membentang tanpa arah, dan ia memilih untuk tetap diam di tengah keheningan tersebut.

​Kesunyian itu pecah ketika terdengar suara kunci yang berputar di pintu depan.

​Oniel melepas salah satu earphone dan sedikit mendongakkan kepala. Saat pintu terbuka, suara deru hujan sempat menyerbu masuk sebelum akhirnya kembali teredam ketika daun pintu ditutup dengan rapat.

​Cornelio berdiri di sana. Kemeja kantornya tampak basah pada bagian bahu, sementara tas kerja dipeluk di depan dada sebagai pelindung darurat. Rambutnya lembap, dan raut wajahnya menyiratkan kelelahan serta kekesalan yang mendalam.

​Tatapan Cornelio segera tertuju ke arah ruang tengah.

​"Nyokap bokap mana? Tadi gue pikir nggak ada orang."

​Oniel menekan tombol jeda pada laptopnya, kemudian melepas earphone yang tersisa. Ia menjawab dengan nada santai. "Lagi pergi. Nyokap ada acara pentas. Tadi pagi dianter bokap."

​Cornelio mengembuskan napas panjang sembari menutup pintu lebih rapat. Ia mengibaskan sisa-sisa air dari lengannya. "Hujan deres gini tetep berangkat juga ya. Mana di jalan kacau banget, macetnya ampun deh."

​Oniel hanya mengangguk pelan. Pandangannya kembali tertuju pada layar laptop yang menampilkan gambar diam. "Emang dari siang nggak berenti-berenti sih. Kayaknya bakal awet nih."

​Cornelio melangkah masuk, lalu meletakkan tasnya di atas meja dekat pintu. Ia mengusap rambutnya yang masih basah dengan telapak tangan. "Emangnya mereka balik jam berapa?"

​Oniel mengangkat bahu tanpa menoleh sepenuhnya. "Nggak tahu, nggak nanya juga tadi. Gue cuma bangun bentar pas mereka mau jalan, terus tidur lagi."

​Cornelio terdiam sejenak. Ia memperhatikan Oniel yang masih enggan beranjak dari posisinya, meskipun tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan saudaranya itu di depan layar.

​"Lo dari tadi di situ mulu?"

​"Iya. Nonton doang sih, lagi nggak mood ngapa-ngapain juga," jawab Oniel dengan nada datar.

​Cornelio mengangguk, menerima alasan tersebut tanpa niat untuk berdebat lebih lanjut. "Udah makan belum lo?"

​Oniel melirik sekilas ke arah meja makan yang tampak kosong, lalu kembali menyandarkan punggungnya. "Belum. Lagian belum laper juga."

​"Nasi ada di rice cooker?"

​"Ada kok. Nyokap masak tadi pagi sebelum pergi. Lauk paling cari aja di kulkas."

​Tanpa banyak bicara, Cornelio berjalan menuju dapur. Suara pintu lemari es yang dibuka terdengar singkat, diikuti bunyi gesekan wadah plastik di dalamnya.

​"Dingin semua nih," teriaknya dari dapur. "Lo nggak ada niat buat ngangetin apa?"

​Oniel menyunggingkan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Entar deh. Lagi males gerak gue."

​Cornelio kembali ke ruang tengah sambil menggenggam sebotol air mineral. Ia meneguk air tersebut beberapa kali, lalu kembali menatap Oniel.

​"Ya udah. Gue mandi dulu deh. Badan udah lengket banget gara-gara kehujanan."

​"Sip."

​Langkah Cornelio sempat tertahan sejenak, seolah ada kalimat lain yang ingin ia sampaikan. Namun, ia mengurungkan niat tersebut, hanya memberikan anggukan kecil sebelum berjalan menuju kamar.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang, berganti dengan suara hujan yang terus jatuh dengan ritme yang konsisten.

​Oniel kembali mengenakan earphone-nya. Layar laptop kembali bergerak, menampilkan tayangan yang dibarengi suara tawa samar. Di luar sana, hujan masih terus turun, seolah belum memiliki rencana untuk segera reda.

---

Dua belas menit berlalu sebelum Cornelio kembali menampakkan diri dari balik pintu kamar.

​Penampilannya kini telah bertransformasi menjadi jauh lebih santai. Kemeja kerja yang sebelumnya melekat ketat telah digantikan oleh kaus rumah yang sederhana, begitu pula dengan celana bahan yang kini berganti menjadi jogger. Rambutnya masih tampak berantakan, menyisakan jejak kelembapan setelah diseka secara tergesa menggunakan handuk.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia melangkah menuju dapur. Gerakannya tenang, namun masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan yang belum sepenuhnya sirna.

​Suara engsel pintu lemari es yang dibuka terdengar memecah keheningan rumah. Beberapa wadah makanan di dalamnya terdengar bergeser saat Cornelio memeriksa isinya satu demi satu dengan teliti.

​Oniel sempat melirik sekilas dari balik layar laptopnya, meskipun ia tidak benar-benar mengalihkan perhatiannya secara utuh.

​Cornelio mengambil salah satu wadah, membuka tutupnya, lalu mendekatkan makanan tersebut ke penciumannya. Seketika, raut wajahnya berubah. Keningnya berkerut tipis, mengindikasikan sebuah kesimpulan yang didapat tanpa perlu banyak pertimbangan. Ia segera menutup kembali wadah tersebut.

​"Ini beneran masih enak nggak sih? Kok baunya agak aneh ya," ucapnya setengah bergumam, namun suaranya tetap terdengar jelas.

​Oniel akhirnya benar-benar menoleh dan melepas fokusnya dari layar. "Ayam yang dimasak tadi pagi bukan?"

​"Iya. Tapi bau kulkasnya kuat banget. Berasa kayak udah kelamaan di dalem," jawab Cornelio sembari menggeser wadah lain, berharap menemukan sesuatu yang lebih layak dikonsumsi.

​Ia membuka satu wadah lagi, lalu menutupnya kembali dengan gerakan cepat.

​"Sama aja deh. Nggak ada yang meyakinkan buat dimakan nih."

​Oniel mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa. "Padahal kan baru tadi pagi masaknya."

​"Ya itu dia. Tapi daripada gue paksain makan terus malah kenapa-kenapa, mending jangan deh," kata Cornelio sembari mengembalikan seluruh wadah ke tempat semula.

​Pintu kulkas ditutup perlahan. Ia berdiri mematung sejenak di area dapur, seolah tengah menimbang keputusan selanjutnya.

​Oniel lah yang akhirnya memecah kebuntuan tersebut. "Order makanan aja apa ya? Gue juga sebenernya belum makan dari siang."

​Cornelio menoleh ke arah ruang tengah. "Emang lo udah laper banget?"

​"Lumayan sih. Tadi cuma ngemil-ngemil doang, belum makan nasi," sahut Oniel.

​Cornelio mengangguk kecil, ekspresi wajahnya kini tampak jauh lebih rileks dibandingkan saat ia baru tiba di rumah. "Ya udah, lo pesen aja duluan. Buat lo dulu nggak apa-apa kok. Gue entar nyusul kalau emang laper. Perut gue masih agak nggak enak, tadi di kantor sempet ganjel roti."

​"Ok. Nanti gue kasih tau kalau udah dapet driver."

​Cornelio tidak memberikan banyak respons verbal. Ia hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik menuju wastafel untuk membilas tangannya.

​Aliran air terdengar mengalir sejenak sebelum kemudian berhenti total.

​"Gue balik ke kamar dulu ya," ucapnya sambil mengeringkan tangan.

​"Yo."

​Cornelio melangkah menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.

​Oniel menarik selimutnya hingga sedikit lebih tinggi dan kembali memasang earphone pada telinganya. Layar laptop kembali menyala, memutar tayangan yang suara tawanya mengisi kekosongan ruang tersebut.

​Di luar, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Langit kini telah sepenuhnya menjadi gelap, menyisakan suara jatuhan air yang konsisten menghantam bumi tanpa jeda sedikit pun.

Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan

​​Waktu merambat perlahan menuju pukul setengah delapan malam. Intensitas hujan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, tetap konsisten dengan ritme yang sama sejak sore hari. Fenomena alam tersebut seolah mengisolasi dunia di luar rumah, menyisakan suara monoton yang justru menghadirkan ketenangan tersendiri. Di dalam bangunan tersebut, atmosfer tetap statis. Ruang tengah masih didominasi oleh kesunyian, hanya terinterupsi oleh pendar cahaya layar serta suara samar dari earphone yang sesekali tertangkap indra pendengaran.

​Oniel masih mempertahankan posisinya di sofa dengan tubuh yang setengah tenggelam dalam kemalasan. Ia menatap layar ponsel dalam durasi yang cukup lama, seolah tengah melakukan pertimbangan matang atas sebuah keputusan sederhana. Akhirnya, setelah mengembuskan napas pendek, ia menyentuh layar perangkat tersebut dengan gerakan yang lebih pasti.

​"Bang, lo mau makan apa nih? Gue mau pesen sekarang biar nggak kemaleman sampainya," seru Oniel.

​Ia mengarahkan suaranya ke arah kamar dengan volume yang cukup namun tidak berlebihan. Tidak ada jawaban yang menyahut. Hanya suara hujan yang tetap setia mengisi kekosongan tersebut. Oniel sedikit menggeser posisi duduknya, lalu kembali menyandarkan punggung sembari menunggu respons selama beberapa detik. Namun, keadaan tetap nihil.

​"Bang, denger nggak sih? Jangan pura-pura budek deh, ini laper beneran gue."

​Beberapa saat kemudian, pintu kamar pun terbuka secara perlahan. Cornelio muncul dengan raut wajah yang tampak berat, menyerupai seseorang yang baru saja dipaksa terjaga dari tidur yang belum tuntas. Matanya tampak memerah, rambutnya berantakan, dan langkah kakinya belum sepenuhnya seimbang.

​"Apa sih, berisik amat," gumamnya dengan suara serak.

​Oniel tetap tidak memalingkan wajah. Jemarinya masih sibuk mengusap layar ponsel yang menampilkan beragam daftar menu makanan. "Ya makanya dijawab dong. Mau makan apa? Gue mau pesen sekarang. Tadi kan lo sendiri yang bilang ragu mau makan nasi sisa di kulkas."

​"Samain aja sama yang lo pesen deh. Gue lagi males mikir," jawabnya akhirnya.

​Mendengar respons tersebut, Oniel berdecak. "Hih, samain itu bukan nama menu ya, Bang. Gue mau beli ayam nih. Lo mau ikut pesen ayam juga atau mau cari yang lain? Biar sekalian satu kurir gitu lho."

​Cornelio mengusap wajahnya pelan guna mengumpulkan kesadaran, lalu menarik napas panjang. "Ya udah, ayam aja. Samain. Tapi yang biasa aja ya, jangan pesen yang aneh-aneh rasanya, lagi nggak pengen yang macem-macem gue."

​Oniel memberikan anggukan kecil sebagai tanda mengerti. "Pedes apa nggak?"

​"Nggak usah. Lambung gue lagi nggak enak. Ntar malah jadi masalah."

​"Ya udah, gue ambil yang original."

​Interaksi tersebut berakhir tanpa ada kalimat tambahan. Kendati demikian, Cornelio tidak lantas kembali ke dalam kamar. Ia berdiri mematung selama beberapa detik sembari menatap layar televisi yang menyala tanpa suara, seolah sedang berusaha menyesuaikan diri kembali dengan tempo kehidupan di dalam rumah yang terasa melambat.

​Ia kemudian melangkah perlahan menuju ruang tengah dan mendudukkan dirinya di ujung sofa yang berseberangan. Sebuah jarak yang cukup lebar sengaja dibiarkan membentang di antara mereka berdua. Oniel yang kini telah memperbaiki posisi duduknya segera menyelesaikan transaksi tersebut. Terdengar bunyi klik pelan saat ia meletakkan ponselnya di atas meja.

​"Udah tuh. Tinggal nunggu abangnya dateng aja," kata Oniel tanpa sedikit pun memandang ke arah lawan bicaranya.

​Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya suara ketukan di pintu depan memecah suasana.

​Oniel bangkit tanpa memberikan banyak komentar. Ia segera membuka pintu, menerima pesanan tersebut, lalu kembali menuju sofa seolah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat pindah ke meja makan. Ruang tengah tetap menjadi titik pusat aktivitas, sama seperti kondisi sejak sore tadi.

​Bungkus makanan tersebut kemudian dibuka di atas meja kecil yang terletak tepat di depan sofa. Suara plastik yang berdesir pelan serta bunyi sendok sekali pakai yang dibuka tanpa suara berlebih mengisi rungu. Aroma hangat dari makanan perlahan mulai menyebar ke seluruh penjuru ruangan, sedikit demi sedikit mengusir hawa dingin yang sejak tadi menggantung di udara.

​Cornelio mulai menyantap makanannya terlebih dahulu. Gerakannya tampak sangat tenang dan rapi, tanpa ada kesan tergesa. Perhatiannya tercurah sepenuhnya pada isi kotak makanan di tangannya. Sementara itu, Oniel makan dengan ritme yang berbeda. Ia sesekali berhenti untuk memeriksa ponselnya, sebelum akhirnya kembali mengambil suapan.

​Beberapa saat berlalu dalam diam yang statis.

​"Yah, kurang nampol pedesnya ini mah."

​Oniel tetap fokus pada makanannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. "Kan tadi lo sendiri yang milih menu yang biasa, gimana sih."

​"Gue kan juga bilang terserah tadi, lo tinggal pesen beda aja sebenernya," sahut Cornelio dengan nada santai.

​Oniel menoleh sedikit, keningnya tampak mengernyit tanda tidak setuju. "Terserah itu bukan jawaban yang ngebantu, Bang. Dari tadi gue udah bilang begitu."

​Cornelio tidak lagi memberikan balasan verbal. Ia terus mengunyah makanannya, namun sudut bibirnya tampak sedikit tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang berusaha ia sembunyikan. Tampaknya, ia memang sengaja ingin memancing kekesalan adiknya tersebut.

​Oniel menyadari gerakan kecil di wajah kakaknya. Ia pun memutuskan untuk diam dan tidak melanjutkan protesnya lebih jauh. Kepalanya kini beralih menatap layar televisi, berpura-pura tidak peduli sama sekali, meskipun dalam hati ia memahami bahwa Cornelio baru saja mengerjainya. Di luar rumah, hujan masih saja turun, membasahi bumi dengan keteguhan yang luar biasa.

---

​Makan malam tersebut berakhir tanpa meninggalkan kesan yang benar-benar berarti. Tidak ada percakapan penting yang tercipta, tidak pula terdapat momen yang menonjol. Segalanya berjalan selayaknya rutinitas yang telah terlampau sering terjadi, hingga setiap detiknya terasa biasa saja.

​Bungkus makanan dirapikan dengan serangkaian gerakan yang bersifat otomatis. Plastik dilipat, kotak ditutup kembali, lalu dibawa menuju tempat pembuangan sampah. Gelas-gelas kosong pun dipindahkan ke dapur. Cornelio mengerjakan bagiannya terlebih dahulu dengan tenang, tanpa suara berlebih, seolah ia telah terbiasa menuntaskan segala sesuatu secara mandiri. Oniel menyusul beberapa saat kemudian. Ia beranjak setelah menerima satu tatapan singkat dari Cornelio, sebuah isyarat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun, namun cukup untuk dipahami maknanya.

​Dapur kini hanya dipenuhi oleh suara aliran air dan denting halus peralatan makan yang saling bersentuhan. Tidak ada percakapan di sana; hanya kehadiran dua orang yang berbagi ruang tanpa benar-benar saling menginterupsi.

​Setelah segala sesuatunya kembali rapi, mereka berdua kembali menuju ruang tengah.

"Bang, kayaknya Nyokap sama Bokap nggak balik malem ini deh," ucap Oniel memecah kesunyian.

​Cornelio langsung menoleh, sebelah alisnya terangkat menunjukkan rasa heran yang tidak disembunyikan. "Lho, kok gitu? Bukannya tadi bilangnya cuma bentar doang ya di sana?"

​Oniel masih terpaku pada layar ponselnya, memastikan tidak ada kata yang terlewat. "Iya, tapi katanya di sana hujan masih deres banget, nggak reda-reda. Terus jalanannya juga bahaya kalau dipaksain nyetir malem gini. Jadi mereka mutusin buat nginep dulu di rumah saudara."

​Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja, lalu melirik ke arah abangnya. "Oiya, Nyokap juga nitip pesen nih. Besok jangan sampe lupa sarapan, terus itu nasi yang di magic com disuruh habisin, jangan sampe basi katanya."

​Cornelio mengangguk paham, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai ke sofa. "Ya udahlah kalau gitu, bener juga sih. Daripada mereka maksa pulang terus malah kenapa-kenapa di jalan kan serem juga. Palingan besok pagi-pagi banget mereka udah sampe sini."

Setelah percakapan singkat itu, sunyi kembali bertahta. Cornelio sempat melirik adiknya yang masih meringkuk di balik selimut, tampak enggan untuk bergeser satu inci pun.

​"Lo nggak mau masuk ke kamar aja sekalian? Udah makin malem lho ini, nanti malah masuk angin di sini," tanya Cornelio.

​Oniel menggeleng pelan tanpa ragu sedikit pun. "Nggak ah, lagi males banget sendirian di dalem kamar. Tadi sore kan gue udah ketiduran lama banget, sekarang malah ngerasa seger gini matanya. Belum ngantuk sama sekali gue."

​Ia meluruskan kakinya, hingga ujung jemarinya hampir menyentuh paha Cornelio. Namun, ia membiarkannya begitu saja, tidak ada niat untuk menariknya kembali. Seketika, ruangan itu tenggelam dalam remang. Hanya cahaya dari televisi yang kini menjadi sumber penerangan, memantulkan bayangan samar di dinding dan menyinari separuh wajah mereka yang tampak lebih tenang.

​"Sibuk sekarang?"

​Oniel yang baru saja mendaratkan tubuhnya menoleh dengan kening berkerut. "Hah? Maksudnya apa nih?"

​"Di JKT. Lagi padat apa gimana jadwal lo sekarang?"

​"Oh itu." Oniel menarik napas sejenak sebelum bersandar pada bantalan sofa. "Kemarin sih lumayan padat. Habis rangkaian show juga kan. Sekarang udah agak mendingan, nggak sepadet itu lagi."

​Cornelio memberikan anggukan pelan, matanya tetap terpaku pada layar di hadapannya.

​Oniel mengangkat satu kakinya ke atas sofa, kemudian disusul oleh kaki yang lain. Ia memeluk lututnya dengan santai. "Kenapa emang? Tiba-tiba nanya gitu."

​"Nggak apa-apa sih, cuma ngerasa jarang banget lihat batang hidung lo di rumah akhir-akhir ini," jawab Cornelio tanpa memberikan penekanan khusus pada kalimatnya.

​Oniel menoleh lebih jelas ke arah Cornelio. "Oh, lo merhatiin juga ternyata."

​Cornelio baru memberikan respons setelah jeda singkat. "Bukan gue yang merhatiin, tapi Nyokap sering banget ngomongin lo kalau lagi teleponan."

​Oniel sedikit mengernyitkan dahi. "Bahas apaan emangnya?"

​"Katanya lo sering pulang malam. Kadang langsung masuk kamar, tidur. Nggak sempet ketemu juga."

​Oniel mengembuskan napas perlahan. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali bersuara. "Ya gimana ya. Jadwalnya emang kayak gitu. Nggak bisa gue atur juga sesuka hati."

​Cornelio hanya mengangguk kecil. "Iya, ngerti."

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Bukan jenis keheningan yang canggung, namun belum pula dapat dikatakan sepenuhnya hangat. Mereka berdua masih tampak seperti dua individu yang tengah berupaya menyesuaikan ritme satu sama lain kembali.

​Beberapa detik berlalu sebelum Oniel kembali memecah kesunyian.

​"Lo pernah nonton show gue nggak sih?"

​Cornelio melirik sekilas, cukup untuk memastikan bahwa pertanyaan tersebut memang dialamatkan kepadanya. "Pernah kok sekali."

​Oniel seketika menoleh sepenuhnya, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Serius? Kapan? Kok gue nggak tahu?"

​"Waktu lo pertama kali debut dulu. Pas masih awal banget."

​Oniel tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. "Lah, itu mah udah lama banget kali! Masa cuma pas debut doang nontonnya?"

​"Iya, emang itu doang."

​"Jujur banget sih jawabnya, nggak ada basa-basinya dikit apa," gerutu Oniel sambil terkekeh pelan.

​Cornelio tidak memberikan tanggapan lebih lanjut, namun ia juga tidak menunjukkan gelagat menghindar. Ia tetap berada di posisinya dengan sikap yang perlahan-lahan mulai melonggar.

​"Kapan-apan nonton lagi lah," ucap Oniel santai, dengan nada suara yang jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

​Cornelio menarik napas panjang. "Iya, nanti gue coba sempetin."

​Oniel langsung menggenggam bahu kakaknya tersebut. "Nanti itu kapan? Besok? Minggu depan? Apa nunggu tahun depan lagi?"

​"Ya pokoknya nanti aja, liat situasinya gimana," sahut Cornelio kembali.

​Oniel tertawa kecil, meskipun kali ini suaranya terdengar jauh lebih serak. Ia menggeser posisi duduknya hingga bahu mereka bersentuhan tanpa menyisakan ruang sedikit pun. 

​"Lihat situasi mulu bahasanya. Bilang aja emang mager, kan" gumam Oniel sangat pelan.

​Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Cornelio. Tekstur rambut Oniel yang halus menyentuh kulit leher Cornelio, seketika mengubah atmosfer percakapan santai tersebut menjadi lebih berat dan intens. Cornelio tetap bergeming. Ia tidak menunjukkan penolakan, namun juga tidak menjauh. Dalam keheningan itu, ia dapat merasakan embusan napas Oniel yang teratur di dekat pundaknya. Aroma sabun mandi yang segar berpadu dengan hawa dingin sisa hujan menciptakan sebuah sensasi yang asing baginya.

​"Bang," panggil Oniel lagi. Suaranya terdengar rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan yang masih menghantam atap dengan deras.

​"Apa?" Cornelio sedikit menundukkan kepala, berusaha memandang wajah adiknya yang sebagian tertutup bayangan sofa.

​Saat Cornelio menunduk, Oniel justru mendongakkan kepalanya. Jarak di antara mereka terkikis seketika, hingga Cornelio dapat melihat pantulan cahaya televisi di dalam manik mata Oniel yang jernih. Terjadi jeda yang cukup lama di antara mereka. Oniel tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menatap Cornelio seolah sedang mencari sesuatu di wajah kakaknya tersebut.

​Cornelio merasakan debaran jantungnya mendadak tidak beraturan. Ia berniat menanyakan sesuatu, namun kerongkongannya terasa sangat kering. Tangannya yang semula diam di atas paha perlahan bergerak naik, menyelipkan anak rambut Oniel yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut.

​Oniel tidak bergerak. Ia hanya diam dengan mata yang perlahan terpejam saat merasakan ibu jari Cornelio mengusap pipinya pelan. Dinginnya malam seolah tidak lagi terasa di ruangan tersebut.

​Cornelio perlahan memajukan wajahnya. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, seolah memberikan kesempatan bagi Oniel untuk menjauh jika memang diinginkan. Namun, Oniel tetap pada posisinya, dengan napas yang kian pendek. Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Cornelio dapat merasakan hangat napas adiknya. Tanpa sepatah kata pun, Cornelio menunduk lebih dalam dan menempelkan bibirnya pada bibir Oniel.

​Hanya sebuah sentuhan singkat dan lembut, namun memiliki tekanan yang begitu nyata. Di tengah ruang tengah yang gelap itu, hanya terdengar suara hujan dan deru napas mereka yang menyatu.


Cornelio melepaskan tautan bibirnya secara perlahan, namun ia tidak langsung menjauhkan wajahnya. Deru napas mereka masih saling beradu dalam jarak yang sangat dekat, menciptakan ketegangan yang justru terasa semakin menyesakkan di tengah ruang tengah yang remang. Cornelio menatap mata Oniel cukup lama, mencoba membaca reaksi adiknya di balik cahaya televisi yang berpendar redup.

​"Dingin di sini," bisik Cornelio, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

​Oniel hanya terdiam, namun jemarinya yang tadi menggenggam bahu Cornelio kini beralih meremas pelan kaus yang dikenakan kakaknya. Ia tidak memberikan jawaban verbal, hanya tatapan matanya yang tampak lebih dalam, seolah sedang menunggu langkah selanjutnya.

​Cornelio menarik napas panjang, lalu ia menggerakkan kepalanya sedikit ke arah lorong kamar yang gelap. Isyarat yang sangat halus, namun cukup jelas untuk ditangkap.

​"Pindah ke dalem aja yuk? Di sini nggak enak, punggung gue pegel senderan begini," kata Cornelio dengan nada yang diusahakan terdengar biasa, meski ada sedikit getaran di sana.

​Oniel sempat tertegun sejenak. Ia melirik ke arah pintu kamar Cornelio yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap kakaknya. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibir Oniel. Ia melepaskan remasannya di kaus Cornelio, lalu perlahan mulai bangkit dari sofa sembari menarik selimut yang tadi membungkus kakinya.

​Cornelio berdiri lebih dulu, ia sempat mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Oniel. Mereka berdua melangkah beriringan membelah kegelapan ruang tengah menuju pintu kamar yang sudah menunggu. Di luar, hujan masih belum juga reda, terus menyamarkan suara langkah kaki mereka yang bergerak masuk dan menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup dengan suara klik yang sangat pelan.


Pintu kamar tertutup rapat, mengunci suara hujan di luar menjadi dengung yang lebih teredam. Cornelio tidak langsung menyalakan lampu utama; ia hanya menekan sakelar lampu meja di sudut ruangan yang memancarkan pendar kuning remang-remang. Kamar itu terasa jauh lebih hangat dibanding ruang tengah tadi, atau mungkin itu hanya perasaan mereka saja yang sedang diliputi kecanggungan yang aneh.

​Oniel duduk di tepi tempat tidur, masih dengan selimut yang tersampir di bahunya. Ia memperhatikan Cornelio yang berjalan pelan menuju jendela hanya untuk memastikan gorden tertutup sempurna.

​"Tadi lo bilang belum ngantuk kan?" tanya Cornelio sambil berbalik. Ia berdiri tepat di depan Oniel, menghalangi cahaya lampu hingga bayangannya jatuh menutupi tubuh adiknya.

​Oniel mendongak, matanya sedikit menyipit mengikuti siluet kakaknya. "Emang belum. Kenapa emangnya?"

​Bukannya menjawab, Cornelio justru duduk di samping Oniel, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Jarak mereka kembali terkikis. Cornelio meraih ujung selimut Oniel, menariknya perlahan agar tidak lagi menghalangi, lalu tangannya beralih menumpu di permukaan kasur, tepat di belakang tubuh Oniel.

​"Gue cuma mau lanjutin yang tadi," bisik Cornelio.

​Oniel tidak sempat membalas ketika Cornelio kembali mendekat. Kali ini tidak ada keraguan. Cornelio menangkup wajah Oniel dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik pinggang adiknya agar posisi mereka benar-benar rapat. Saat bibir mereka kembali bertemu, suasananya terasa berbeda dari yang di sofa; lebih menuntut, lebih dalam, dan penuh dengan emosi yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik status saudara.

​Oniel memejamkan mata erat, tangannya melingkar di leher Cornelio, menarik kakaknya itu agar tidak memberi jarak sedikit pun. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya minimalis itu, mereka seolah lupa dengan dunia di luar pintu. Hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling berkejaran di balik dada masing-masing.

​Cornelio perlahan merebahkan tubuh Oniel ke atas kasur tanpa memutuskan tautan mereka. Gerakannya sangat hati-hati, namun pasti. Dalam posisi itu, Cornelio berhenti sejenak, menatap Oniel yang tampak sedikit berantakan dengan pipi yang memerah.


Cornelio melepaskan kausnya dengan gerakan terburu-buru, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai. Pandangannya tidak lepas dari Oniel yang masih terbaring di bawahnya dengan napas yang mulai tidak beraturan. Dalam keremangan cahaya lampu meja, Cornelio mulai menyusupkan tangannya ke balik kaus yang dikenakan Oniel, merasakan tekstur kulit adiknya yang hangat dan halus.

​Tangannya bergerak naik, dengan cekatan membuka pengait bra yang sempat menghalangi gerakannya. Begitu benda itu terlepas, Cornelio menyisihkan pakaian Oniel hingga bagian atas tubuh adiknya terekspos sepenuhnya. Ia tertegun sejenak, menatap lekuk payudara Oniel yang naik-turun seiring dengan napasnya yang memburu. Tanpa menunggu lebih lama, Cornelio menunduk, mengecup puncak payudara tersebut secara bergantian, memberikan sensasi yang membuat Oniel melengkungkan punggungnya sembari mengerang pelan.

​"Bang..." Oniel berbisik lirih, jemarinya meremas rambut Cornelio, menariknya agar semakin erat menempel pada tubuhnya.

​Cornelio tidak berhenti. Tangannya kini turun menuju pinggang jogger yang dikenakan Oniel, menariknya turun bersamaan dengan pakaian dalamnya hingga menanggalkan segalanya. Kini, di depan matanya, Oniel sepenuhnya terbuka. Cornelio segera menanggalkan sisa pakaiannya sendiri, menampakkan penisnya yang sudah menegang sepenuhnya akibat gairah yang sudah tidak terbendung sejak mereka berada di ruang tengah tadi.

​Ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Oniel yang terbuka lebar. Jemari Cornelio mulai menjelajah ke bawah, menyentuh area vagina yang sudah mulai basah oleh cairan alami. Oniel tersentak, kakinya refleks melingkar di pinggang Cornelio, menarik kakaknya itu agar segera mengisi kekosongan yang ia rasakan.

​"Pelan-pelan, Bang," rintih Oniel saat merasakan ujung penis Cornelio mulai menekan di pintu masuknya.

​Cornelio mengangguk, ia mencium kening Oniel untuk menenangkannya sebelum perlahan-lahan mendorong miliknya masuk ke dalam vagina adiknya. Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara napas yang berat dan gesekan kulit yang bertemu. Cornelio bergerak dengan ritme yang konsisten, semakin lama semakin dalam, sementara Oniel hanya bisa memeluk leher kakaknya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cornelio saat sensasi panas itu mulai menguasai seluruh indranya. Di luar, hujan masih mengguyur, namun bagi mereka, dunia seolah berhenti di dalam kamar yang terkunci itu.


Suara derit kasur yang ritmis mulai mendominasi ruangan, beradu dengan hantaman hujan di balik jendela yang semakin menjadi-jadi. Setiap gerakan Cornelio menciptakan bunyi gesekan kayu dan pegas yang seolah menjadi pengiring bagi pergulatan mereka di atas sana. Kamar yang semula sunyi kini berubah penuh dengan suara-suara yang selama ini hanya terkunci dalam angan-angan.

​Oniel tidak lagi mampu menahan suaranya. Desahannya pecah, mengalir begitu saja setiap kali Cornelio menghujamkan miliknya lebih dalam ke dalam vaginanya. Suara rintihan itu terdengar serak, berpadu dengan deru napas Cornelio yang semakin memburu di dekat telinganya.

​"Bang... ahh... pelan, Bang," gumam Oniel tidak keruan, jemarinya mencengkeram sprei hingga kusut masai.

​Cornelio justru semakin mempercepat temponya. Ia mencengkeram pinggul Oniel dengan kuat, memastikan setiap sentuhannya terasa maksimal. Keringat mulai membasahi tubuh mereka berdua, membuat gesekan kulit ke kulit terdengar lebih nyata di antara suara hujan. Payudara Oniel berguncang hebat seiring dengan guncangan kasur yang semakin intens.

​"Dikit lagi, Niel," bisik Cornelio dengan suara yang amat rendah, nyaris menyerupai geraman.

​Puncaknya, derit kasur itu terdengar semakin cepat dan kasar sebelum akhirnya berhenti dalam satu sentakan panjang. Keheningan mendadak jatuh menyelimuti kamar, menyisakan suara napas yang terputus-putus dan detak jantung yang masih berpacu hebat. Di luar, hujan masih setia turun, seolah menjadi saksi bisu atas rahasia yang baru saja pecah di atas kasur yang kini kembali tenang.


Oniel masih terengah, tubuhnya terasa berat dan lemas di bawah dekapan Cornelio. Ia menyandarkan pipinya yang masih panas di dada bidang kakaknya, mendengarkan detak jantung Cornelio yang perlahan mulai stabil. Di tengah keheningan yang hanya diisi suara rintik hujan, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepalanya, menghadirkan rasa sesak yang berbeda dari sebelumnya.

​"Bang," panggil Oniel pelan, jemarinya memainkan ujung sprei yang berantakan.

​"Hmm?" Cornelio menyahut tanpa membuka mata, tangannya masih setia mengusap punggung polos adiknya dengan gerakan malas.

​Oniel terdiam sejenak, ragu untuk merusak suasana, tapi rasa penasaran itu sudah di ujung lidah. "Nanti kalau lo punya pacar, terus nikah... kita gimana?"

​Gerakan tangan Cornelio terhenti seketika. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang remang. Pertanyaan itu seperti siraman air es yang menariknya kembali ke realita bahwa apa yang baru saja mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak memiliki tempat di masa depan yang normal.

​"Kok tiba-tiba nanya gitu?" suara Cornelio terdengar datar, berusaha menutupi kegelisahan yang mulai muncul.

​Oniel mendongak, menatap mata kakaknya dengan sisa-sisa kelelahan yang masih nampak jelas. "Ya kan nggak mungkin lo selamanya sama gue gini terus. Pasti nanti ada cewek yang masuk ke hidup lo. Pas itu kejadian, apa gue bakal balik jadi cuma adek lo doang? Yang cuma bisa liat lo dari jauh?"

​Cornelio tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Oniel sepenuhnya. Ia bisa melihat ketakutan yang nyata di mata adiknya itu. Cornelio mengulurkan tangan, mengusap pipi Oniel yang masih kemerahan dengan jempolnya.

​"Nggak ada yang bakal gantiin posisi lo di sini, Niel," ucap Cornelio sambil menunjuk dadanya sendiri. "Pacar atau siapapun nanti, itu urusan lain. Tapi apa yang terjadi malem ini... ini cuma punya kita. Gue nggak tahu ke depannya gimana, tapi buat sekarang, jangan pikirin orang lain dulu. Cukup ada gue sama lo di kamar ini."

​Oniel menggigit bibir bawahnya, belum sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tapi ia memilih untuk memejamkan mata dan kembali masuk ke dalam pelukan Cornelio. Ia tahu, di dunia nyata, masalah ini bakal jadi bom waktu. Tapi untuk malam ini, di bawah suara hujan yang semakin menderu, Oniel cuma mau pura-pura kalau Cornelio adalah miliknya seutuhnya.


Cornelio kembali bergerak, kali ini dengan tempo yang lebih santai namun terasa lebih mendalam. Derit kasur kembali mengisi kekosongan ruang, berpadu dengan suara napas mereka yang mulai memburu lagi. Di tengah pergulatan panas itu, Cornelio merunduk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Oniel yang sudah memerah.

​"Niel, besok... ahh... mau sarapan apa kita?" tanya Cornelio dengan suara yang terputus-putus akibat aktivitas mereka.

​Oniel tersentak, matanya sedikit membelalak karena pertanyaan yang terasa sangat domestik di tengah situasi yang begitu liar. Ia mendesah kencang saat Cornelio memberikan satu dorongan yang cukup dalam pada vaginanya, membuat fokusnya buyar seketika.

​"Bang... lagi begini malah... ahh... nanya sarapan," rintih Oniel sambil mencengkeram bahu Cornelio kuat-kuat. Payudaranya berguncang hebat mengikuti setiap hentakan yang diberikan kakaknya.

​Cornelio justru terkekeh kecil, sebuah tawa serak yang terdengar sangat intim. Ia mencium leher Oniel, menghirup aroma keringat dan sabun yang bercampur jadi satu. "Kan disuruh Nyokap... ngabisin nasi. Mau gue bikinin nasi goreng?"

​Oniel hanya bisa mendongakkan kepala, matanya terpejam rapat saat sensasi nikmat itu kembali menguasai sarafnya. Penis Cornelio yang keras terasa menggesek dinding-dinding sensitif di dalamnya, menciptakan suara basah yang mengiringi setiap gerakan.

​"Terserah... ahh... apa aja asal lo yang buat," sahut Oniel lirih, suaranya nyaris hilang di balik desahan panjang.

​"Ya udah, nasi goreng ya," gumam Cornelio sebelum ia membungkam bibir Oniel dengan ciuman panas, mempercepat temponya untuk mencapai puncak bersama di bawah iringan suara hujan yang masih enggan berhenti.


Puncak gairah itu akhirnya pecah dalam satu hentakan panjang yang membuat keduanya terdiam kaku. Cornelio ambruk di atas tubuh Oniel, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher adiknya sambil mengatur napas yang terdengar seperti orang yang baru saja berlari jauh. Oniel pun sama, ia hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, tangannya masih mengelus rambut Cornelio yang basah oleh keringat.

Oniel menggeser tubuhnya, mencari posisi paling nyaman di pelukan Cornelio. Kulit mereka yang masih polos bersentuhan langsung di balik selimut, memberikan rasa hangat yang bikin makin malas buat bergerak. Di tengah keheningan yang mulai nyaman itu, Oniel mendongak sedikit, menatap dagu Cornelio yang ada tepat di depan matanya.

​"Bang," panggil Oniel pelan.

​"Hmm?" Cornelio menyahut tanpa membuka mata, jemarinya masih mengusap bahu Oniel dengan gerakan malas.

​"Ini kita... nggak mau pakai baju dulu apa gimana?" tanya Oniel, suaranya sedikit tertahan karena menahan tawa. "Nanti kalau tiba-tiba Nyokap sama Bokap berubah pikiran terus pulang malem ini, bisa gawat kalau kita bentukannya begini."

​Cornelio membuka matanya sebelah, lalu melirik ke tumpukan pakaian yang berserakan di lantai, tepat di samping tempat tidur. Ia mengembuskan napas panjang, seolah berat banget harus bangun dari posisi itu.

​"Hujan masih deres, Niel. Kecil kemungkinannya mereka nekat jalan," gumam Cornelio sambil mengeratkan pelukannya, bukannya malah beranjak. "Tapi ya udah, kalau lo ngerasa nggak enak, pakai sana. Kaus gue di lemari ambil aja kalau males nyari punya lo di bawah."

​Oniel diam sejenak, menimbang-nimbang antara rasa malas dan rasa aman. "Mager sih sebenernya. Badan gue lemes banget."

​"Ya udah, nggak usah kalau gitu. Besok pagi-pagi aja sebelum mereka sampe baru kita rapi-rapi," sahut Cornelio santai. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu Oniel sepenuhnya. "Udah, tidur aja. Gue jagain."

​Oniel akhirnya menyerah pada rasa kantuknya. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tetap polos di bawah dekapan kakaknya. Toh, malam ini cuma milik mereka berdua, dan untuk sementara, dia nggak mau pusing mikirin apa-apa lagi selain kehangatan yang ada di depannya ini.