Bab 1: Eksodus Kecil
Bab 2: Sentuhan
Malam kian larut. Udara di dalam vila terasa semakin dingin, merambat perlahan melalui sela-sela jendela dan celah bawah pintu. Berbeda dengan ruang tengah yang sepi, dapur justru terasa hangat. Aroma mie instan yang tengah dimasak berpadu dengan wangi bawang goreng, menghadirkan suasana sederhana yang menenangkan di tengah kesunyian pegunungan.
Gracia berdiri di depan kompor dengan rambut terikat seadanya. Ia mengenakan sweater tipis dan celana tidur longgar. Tangan kanannya mengaduk mie yang hampir matang, sementara tangan kirinya menyiapkan telur setengah matang serta taburan bawang goreng di piring kecil. Gerakannya cekatan, menunjukkan sisi dirinya yang terbiasa mengurus hal-hal domestik di balik layar.
Suara sendok yang beradu dengan pinggiran panci serta desis air mendidih memenuhi dapur kecil itu. Ecen duduk di meja makan dengan dagu bertumpu pada tangan. Tatapannya mengikuti setiap gerak-gerik Gracia.
"Lo kayak chef drama Korea, Ci. Tinggal kurang apron sama kamera muter-muter," katanya santai.
Gracia terkekeh pelan tanpa menoleh. "Chef spesialis mie rebus. Menunya cuma satu, tapi tingkat kepercayaan dirinya tinggi."
Di ruang tengah, Aten duduk berselimutkan kain tipis. Dari tempatnya, ia bisa melihat cahaya kekuningan dari dapur dan siluet Gracia yang sibuk di balik pintu kaca. Pemandangan biasa saja, tapi entah mengapa cukup membuat dadanya terasa lebih lapang. Namun di sisi lain, ada perasaan lain yang mengendap, sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Seperti ada yang tertahan di ulu hati, menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan.
Tak lama kemudian, Gracia keluar dari dapur membawa dua mangkuk besar. Ecen langsung menyambar salah satunya begitu diletakkan di meja dan mulai menyantapnya dengan lahap.
"Enak banget, Ci," ujarnya tulus. "Serius, rasanya beda kalau lo yang masak."
Gracia duduk di sampingnya, meniup uap panas yang mengepul dari mangkuknya sendiri. "Cici tuh punya banyak skill tersembunyi, Cen. Kalian aja yang jarang merhatiin."
Jam dinding menunjukkan pukul 01.32. Vila sepenuhnya sunyi setelah Ecen memutuskan untuk masuk ke kamar lebih dulu. Tapi Gracia masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar untuk beberapa saat sebelum akhirnya bangkit. Sebuah kardigan tipis ia sampirkan di bahu untuk menahan dingin, lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar.
Ruang tengah terasa jauh lebih sunyi dibandingkan satu jam yang lalu. Angin malam sesekali berdesir menyentuh kaca jendela, menimbulkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar. Cahaya lampu gantung yang redup memberi atmosfer tenang sekaligus sendu.
Gracia melangkah mendekati sofa. Ia berhenti tepat di samping Aten yang masih duduk termenung.
"Ngapain, Ten?" tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.
Aten menoleh sekilas, lalu mematikan layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. "Gak bisa tidur."
Gracia duduk di sebelahnya, melipat kaki di atas sofa hingga tubuhnya menghadap sedikit ke arah adiknya. "Masih kepikiran skripsi?"
Aten menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. "Iya. Revisi gue udah beres, tapi kata dosen pembimbing masih kurang ini dan itu. Kadang gue juga bingung maunya mereka apa."
Gracia menatap wajah adiknya sejenak. "Lo stres, ya?"
"Enggak tahu. Capek aja. Rasanya tiap hari lewat gitu-gitu aja."
Gracia mengangguk paham. "Lo kalau lagi ngerasa kayak gitu emang jarang cerita."
Aten meliriknya, ada senyum getir di wajahnya. "Emang gue tipe yang suka cerita?"
"Enggak. Tapi bukan berarti gak bisa, kan?"
Suasana kembali hening. Tidak ada kecanggungan, hanya kehampaan yang dipenuhi oleh pikiran masing-masing. Dalam jarak sedekat itu, Aten tanpa sadar mulai memperhatikan wajah Gracia lebih lama dari yang seharusnya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, sebuah tahi lalat kecil di bawah bibir kakaknya tampak begitu jelas.
"Gue baru sadar, lo masih punya tahi lalat itu," ucap Aten tiba-tiba. Suaranya rendah.
Gracia refleks menyentuh bagian bawah bibirnya dengan ujung jari, meraba permukaan kulitnya sendiri. "Yang ini? Dari dulu juga ada, Ten."
"Iya. Tahu."
Gracia mengangkat alis, menatap Aten dengan intensitas yang berbeda. "Cukup keliatan?"
Aten tersenyum tipis, matanya tidak beralih dari bibir Gracia. "Ya... kelihatan banget."
Jarak mereka kini hanya sejengkal. Gracia menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, namun ia memilih untuk tidak bergeser satu milimeter pun.
"Gampang fokus, ya?" tanya Gracia, nada ringannya kontras dengan sorot matanya yang tajam.
Aten mengangguk kecil. "Lumayan."
"Ganggu?"
"Bukan ganggu. Cuma bikin susah buat gak merhatiin."
"Pindah ke kamar, Ten. Sekarang," bisik Gracia, suaranya serak hampir hilang.
Aten tidak membantah. Ia berdiri, menarik tangan Gracia dan menuntunnya dengan langkah cepat menuju kamar paling pojok. Begitu pintu tertutup, Aten langsung menguncinya. Bunyi klik logam itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar dan keberadaan Ecen sudah tidak lagi ada bagi mereka.
Aten berdiri membelakangi pintu, menatap Gracia yang kini bersandar pada meja kecil di samping kasur. Tanpa banyak bicara, Aten mendekat, tangannya masuk ke bawah sweater Gracia, merasakan kulit perut kakaknya yang hangat. Ia mengangkat kain itu melewati kepala Gracia, menyisakan kakaknya hanya dengan bra tipis yang hampir tidak bisa menutupi dadanya yang membusung karena napas yang memburu.
Aten tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik Gracia mendekat, lalu menunduk untuk melumat puting Gracia di balik kain bra yang tipis itu, membasahinya hingga kainnya jiplak. Gracia mendongak, matanya terpejam erat sambil mengeluarkan lenguhan tertahan. Tangannya meraba pinggang Aten, lalu turun ke bawah, merasakan tonjolan keras yang sudah menegang di balik celana adiknya.
"Ten... lepasin," pinta Gracia sambil jemarinya sibuk dengan kancing celana Aten.
Aten membiarkan Gracia membuka ritsletingnya. Ketika celana itu merosot, penis Aten yang sudah tegang sepenuhnya menyembul keluar, berdenyut pelan karena suhu kamar yang dingin. Gracia terdiam sejenak, menatap milik adiknya yang kini berada tepat di depan wajahnya.
Tanpa ragu, Gracia berlutut di lantai kayu yang dingin itu. Ia meraih pangkal penis Aten dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap kepalanya yang sudah basah oleh cairan pre-cum. Gracia mulai memasukkan ujungnya ke dalam mulut, merasakan tekstur keras dan panas yang memenuhi rongga mulutnya.
Aten tersentak, punggungnya menempel keras ke pintu kayu di belakangnya. Ia mencengkeram rambut Gracia, mengarahkan gerakan kakaknya saat bibir Gracia mulai melakukan oral dengan ritme yang dalam. Suara basah dan decakan memenuhi kesunyian kamar, beradu dengan deru napas Aten yang kian berat.
"Ci... ah, gila," gerutu Aten rendah, kepalanya mendongak ke langit-langit sementara ia membiarkan Gracia terus melumatnya dengan intens, menghabiskan sisa kesabaran yang selama ini ia jaga sebagai seorang adik.
Napas Aten makin pendek, jemarinya meremas rambut Gracia makin kuat saat sensasi panas di mulut kakaknya itu hampir membawanya ke puncak. Kepalanya mendongak, matanya terpejam erat, dan ia sudah hampir melepaskan segalanya.
Namun, tepat sebelum ia sampai di titik itu, Gracia melepaskan lumatannya. Ia menjauhkan mulutnya, menyisakan penis Aten yang basah dan berdenyut hebat di udara dingin kamar. Gracia mendongak, menatap Aten dengan tatapan sayu namun penuh kemenangan.
"Jangan sekarang, Ten." bisik Gracia.
Aten menggeram rendah. Rasa tanggung yang menyiksa itu meledakkan emosinya. Tanpa bicara, ia merangkul pinggang Gracia, mengangkat tubuh kakaknya yang ringan itu dan memindahkannya ke atas kasur dengan sekali gerakan.
Begitu tubuh Gracia mendarat di atas seprai yang dingin, Aten tidak memberikan napas sedikit pun. Ia langsung menindih tubuh kakaknya, tangannya dengan cekatan membuka pengait bra Gracia hingga kedua payudaranya yang putih bersih menyembul bebas di bawah cahaya lampu nakas.
Aten menatap pemandangan di depannya dengan lapar. Tanpa menunggu, ia langsung membenamkan wajahnya, melumat dan ngedot puting Gracia dengan rakus. Suara basah dari hisapan Aten memenuhi kamar, beradu dengan lenguhan Gracia yang semakin keras. Gracia mendongak, punggungnya melengkung saat merasakan tarikan kuat di dadanya.
"Ah... Ten... pelan-pelan," rintih Gracia, tangannya meremas bahu Aten yang keras.
Namun Aten tidak berhenti. Setelah puas di satu sisi, ia berpindah ke sisi lainnya, meninggalkan bekas merah yang kontras di kulit mulus kakaknya. Tiba-tiba, Aten menarik tubuhnya sedikit ke atas. Ia meraih kedua payudara Gracia dengan tangannya, lalu menghimpitnya ke tengah hingga menciptakan celah yang rapat.
Gracia mengerutkan dahi, menatap adiknya dengan bingung. "Ten? Mau ngapain?"
Aten tidak menjawab. Ia meraih penisnya yang masih tegang sempurna dan basah oleh sisa air liur Gracia tadi, lalu memposisikannya di tengah-tengah belahan payudara kakaknya. Aten mulai menggerakkan pinggulnya, menggesekkan batangnya yang panas dan keras naik-turun di antara jepitan payudara Gracia.
Mata Gracia membelalak. Ia baru pertama kali merasakan sensasi ini, gesekan kulit penis yang sensitif dengan kelembutan dadanya. "Ten... kok... digituin?"
"Diem aja, Ci," bisik Aten serak, matanya terkunci pada pemandangan penisnya yang keluar-masuk di antara payudara kakaknya yang berguncang.
Gracia yang awalnya bingung, perlahan mulai menikmati sensasi aneh itu. Ia secara insting membantu Aten dengan menekan payudaranya lebih rapat menggunakan tangannya sendiri, membuat jepitan itu semakin ketat. Suara gesekan kulit dan sisa cairan yang melumasi batang Aten menciptakan bunyi splat-splat yang sangat erotis di telinga mereka.
Aten makin mempercepat temponya, napasnya menderu di depan wajah Gracia. Ia menikmati ekspresi kaget sekaligus nikmat di wajah kakaknya yang selama ini selalu terlihat berwibawa di matanya. Di detik ini, Gracia bukan lagi seorang kakak atau idol, melainkan wanita yang sedang tunduk di bawah eksplorasinya.
Tempo gerakan Aten semakin cepat. Gesekan antara batang penisnya yang panas dengan kulit payudara Gracia yang lembut menciptakan sensasi yang hampir tak tertahankan. Gracia, yang kini sudah mulai terbiasa dengan ritme itu, menggunakan kedua tangannya untuk menekan dadanya lebih rapat, membantu adiknya mencapai puncak.
Napas Aten menderu, pendek dan berat. Matanya memerah, menatap lekat pada penisnya yang basah oleh cairan pre-cum dan air liur, bergerak keluar-masuk di antara belahan dada kakaknya.
"Ten... dikit lagi?" bisik Gracia, suaranya parau melihat ekspresi Aten yang sudah di ujung tanduk.
Aten tidak menjawab. Ia memberikan beberapa hentakan kuat yang terakhir. Tubuhnya menegang hebat, punggungnya kaku, dan sedetik kemudian, ia mengerang rendah saat cairan putih kental menyemprot keluar dengan deras.
Crot. Crot.
Cairan hangat itu membasahi dada Gracia, menyiprat hingga ke leher dan rahangnya. Gracia tersentak, merasakan panasnya sperma Aten di kulitnya. Ia terengah-engah, matanya sayu menatap cairan itu, lalu beralih menatap Aten yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Gracia, mencoba mengatur napasnya yang hancur.
Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara hujan di luar dan detak jantung mereka yang beradu. Di tengah keheningan itu, kenyataan mulai merayap masuk.
Gracia mengusap rambut Aten pelan dengan tangan yang masih gemetar. "Ten..."
Aten tidak bergerak, wajahnya masih tersembunyi di ceruk leher Gracia. "Maafin gue, Ci."
Gracia terdiam sejenak. Ia melihat sisa-sisa pelepasan Aten di dadanya, lalu teringat rumah, teringat ruang tamu di Jakarta, dan foto keluarga yang terpajang di sana.
"Gue ini Cici lo, Ten," bisik Gracia, suaranya terdengar bergetar antara nikmat yang tersisa dan rasa bersalah yang muncul. "Kalau Mama sama Papa tahu kita begini di sini... mereka bakal benci banget sama kita, kan?"
Aten semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gracia, seolah takut kakaknya akan pergi setelah menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. "Jangan bahas itu sekarang, Ci. Gue nggak mau ingat siapa-siapa selain lo malam ini."
Aten masih terdiam dengan wajah yang disembunyikan di ceruk leher Gracia. Napasnya mulai melambat, tapi tubuhnya masih terasa panas. Cairan putih yang tadi ia semprotkan perlahan mulai mendingin di atas kulit dada Gracia, menciptakan rasa lengket yang ganjil namun intim.
Perlahan, Aten mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu menatap cairan miliknya sendiri yang mengotori tubuh kakaknya. Tanpa kata, ia meraih ujung kaos yang tadi ia lepas, lalu mulai mengusap dada Gracia dengan gerakan yang sangat lembut. Ia membersihkan sisa-sisa pelepasannya di antara belahan payudara Gracia, naik ke leher, hingga ke rahang kakaknya yang tadi terkena cipratan.
Gracia hanya diam mematung, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dalam.
"Tadi itu... punya lo banyak banget, Ten," bisik Gracia pelan, suaranya pecah saat ia akhirnya berani menatap mata adiknya.
Aten berhenti mengusap. Tangannya masih tertahan di atas dada Gracia, merasakan detak jantung kakaknya yang kembali memompa kencang. "Gue nggak tahu, Ci. Mungkin karena udah kelamaan gue pendam sendiri."
Aten membuang kaos itu ke lantai, lalu tangannya kembali merambat, mengusap tahi lalat di bawah bibir Gracia yang tadi ia cium. "Ci, lo beneran nggak apa-apa? Kita udah beneran kacau sekarang."
Gracia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di tengah kesunyian kamar. "Kacau? Kita udah lewat dari kata kacau sejak di sofa tadi, Ten. Mama sama Papa pasti nggak akan pernah nyangka anak-anak kebanggaannya lagi begini di Puncak."

