Bab 1: Ruang yang Diratakan
Kamar kost itu terasa terlalu luas sekaligus terlalu sepi. Setelah tiga tahun berbagi ruang dengan Gita, Eli merasakan kamarnya kehilangan keseimbangan. Bagian atas yang kosong, tempat ranjang Gita dulu berada, terus mengingatkannya bahwa sekarang dia benar-benar sendirian di kamar kost ini.
Eli menyeka pelipis yang mulai lembap dan berdiri di depan cermin panjang. Kaos oblong putih yang ia kenakan tampak sedikit kebesaran, jatuh lurus di tubuh tinggi dan rampingnya. Lehernya jenjang, tulang selangka tegas, namun tubuhnya memang tipis. Baginya yang penting pakaian itu nyaman untuk digunakan hari ini.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Eli melongok dari jendela lantai dua dan melihat sebuah SUV perak dengan plat D baru saja masuk ke parkiran. Ia mengernyit saat menyadari hanya satu orang yang turun dari kursi kemudi.
"Loh, kok Abah cuma sendirian aja ke sininya?" Eli langsung menegur pas ayahnya baru sampai di ambang pintu kamar sambil mikul kardus besar.
Abah menghela napas panjang dengan wajah yang terlihat merah karena hawa Jakarta yang sedang panas-panasnya. "Iya, Helisma. Tadi tuh Mang Asep mendadak harus bawa anaknya ke puskesmas subuh-subuh. Daripada kamu di kamar kosong terus nggak beres-beres, ya udah Abah berangkat sendiri aja jadinya."
Eli memperhatikan peluh yang sampai bikin kemeja ayahnya basah kuyup. "Aduh, kudunya nggak usah dipaksain atuh, Bah. Kan bisa besok-besok lagi nunggu ada temannya biar nggak capek begini."
"Nggak apa-apa, Neng. Udah kepalang sampai sini juga kan," jawab Abah sambil naruh kardus itu di lantai.
Mereka mulai bekerja untuk menata ulang kamar agar tidak terlihat timpang. Meja rias kayu dari Bandung digeser ke sudut bawah yang kosong. Ranjang bekas Gita berada di lantai atas, pada bagian mezanin kecil di kamar itu, sehingga Abah harus berkali-kali menaiki tangga lipat untuk menaruh barang yang jarang dipakai.
"Helisma, tolong pegangin tangganya ya, jangan dilepas," perintah Abah.
Eli mendekat dan menahan kaki tangga kuat-kuat. Saat Abah berada di anak tangga atas, posisi kepala ayahnya tepat berada di atas Eli. Ketika Eli menyerahkan kotak kecil ke arah atas, kaosnya sedikit terangkat dan memperlihatkan pinggangnya yang ramping.
Waktu berlalu sampai kumandang adzan Maghrib terdengar dari masjid di seberang jalan. Seluruh barang akhirnya tertata rapi, kamar terasa penuh dan simetris. Namun Abah terduduk lemas di atas karpet baru dengan punggung bersandar pada lemari jati.
"Aduh, capek pisan ya ternyata di Jakarta teh, hawa sama kerjanya kerasa banget di badan," gumam Abah sambil mengatur napasnya yang mulai berat.
Eli merasa cemas melihat kondisi ayahnya yang tampak tidak berdaya. Wajah pria itu pucat dan tangannya gemetar akibat kelelahan menyetir jarak jauh serta melakukan pekerjaan fisik tanpa henti.
"Bah, mending jangan maksa pulang sekarang deh. Bahaya kalau nekat nyetir malam-malam kondisi badan udah gempur kayak gini," ucap Eli sambil menyodorkan segelas air putih.
Abah menatap Eli sebentar, lalu melirik ke arah ranjang atas yang kini sudah rapi dan siap pakai. "Tapi emangnya boleh kalau Abah istirahat di sini dulu, Neng?"
Eli menghela napas dengan tatapan mata yang masih tersirat rasa khawatir. "Ya nggak apa-apa lah, daripada ada apa-apa di jalan. Tapi nanti Eli turun dulu ke lantai dasar mau izin sama penjaga kosan, biar semuanya enak dan aman. Eh, iya Bah, sekalian Eli pinjam KTP-nya dong. Biasanya penjaga sini minta identitas tamu kalau ada yang mau nginep."
Abah mengangguk pelan lalu merogoh dompet untuk menyerahkan kartu identitasnya. "Iya, ini sok ambil aja KTP-nya."
Eli tersenyum tipis kemudian segera beranjak menuju pintu. Ia menarik napas sejenak untuk menenangkan diri sebelum turun ke bawah untuk melapor pada penjaga kos. Kamar yang baru saja mereka rapikan kini terasa lebih hangat. Sunyi malam itu tidak lagi terasa dingin, melainkan memberi ruang bagi Eli untuk fokus mengurus ayahnya.
Bab 2: Derit di Tengah Malam
Karena pakaian di dalam lemari masih berantakan di dalam kardus, Eli membuka tas ransel miliknya. Ia mengambil daster tanpa lengan yang nyaman untuk tidur saat cuaca Jakarta sedang panas. Ia sama sekali tidak berpikiran buruk karena sosok di dalam kamar adalah ayahnya sendiri yang telah merawatnya sejak kecil.
Saat ia keluar dari kamar mandi, lampu utama masih menyala terang benderang. Ayahnya tampak berbaring miring di ranjang atas. Suara derit kayu terdengar setiap kali pria itu bergerak mencari posisi yang nyaman.
"Masih kerasa gerah banget ya, Bah?" tanya Eli sembari menyampirkan handuk di kursi.
Ayahnya menoleh dan sempat tertegun melihat penampilan Eli di bawah sorot lampu putih yang terang itu.
"Iya, Neng. Di atas mah pengap pisan euy. Angin dari AC nggak nyampe ke sini, ketutup sekat," jawab ayahnya.
Eli merasa tidak tega melihat ayahnya yang tampak gelisah. "Ya sudah atuh, Bah. Turun aja ke bawah sini. Tidur di bawah bareng Eli aja biar adem. Eli juga belum mau langsung tidur kok, mau lanjut nonton sinetron dulu sebentar."
Ayahnya menuruni tangga kayu secara perlahan. Begitu kakinya menapak lantai, ia berdiri tepat di samping Eli. Jarak yang sangat dekat membuat interaksi mereka terasa lebih akrab. Eli menepuk sisi kasur yang masih kosong di sebelahnya.
"Sini duduk dulu, Bah. Kita nonton Asmara Gen-Z bentar biar pikirannya rileks dikit," ajak Eli sembari menyalakan tablet.
Ayahnya duduk bersisihan dengan Eli dan menyandarkan punggung pada tembok. Mereka mulai menonton sinetron kesukaan Eli. Suara musik dan dialog khas anak muda memenuhi ruangan. Karena layar tablet yang kecil, mereka duduk sangat rapat agar bisa melihat gambar dengan jelas. Bahu Eli yang polos beberapa kali bersentuhan dengan lengan kemeja ayahnya.
Di tengah adegan mesra pada sinetron tersebut, Eli membiarkan tubuhnya sedikit merosot hingga bahunya benar-benar menempel pada lengan ayahnya. Ia bisa merasakan otot lengan pria itu yang mendadak mengeras.
"Asli deh Bah, Jakarta mah emang nggak ada obat gerahnya. Maaf ya Eli cuma dasteran begini, kalau di Bandung mah mana berani Eli begini, yang ada bisa kena semprot terus sama Mang Asep," bisik Eli pelan sembari tetap fokus menatap layar.
Ayahnya terdiam sejenak. Ia mencoba membenarkan posisi duduknya yang mulai terasa pegal, hal itu membuat punggung tangannya yang kasar sempat bergesekan dengan paha Eli. Bukannya segera menjauh, tangan itu seolah tertahan di sana selama beberapa detik, seirama dengan napasnya yang mulai terasa berat.
"Iya, Neng. Abah juga kerasa gerah di sini. Rasanya emang agak beda ya kalau cuma lagi berdua begini," jawab ayahnya dengan suara yang terdengar parau.
Eli tersenyum tipis dan semakin menyandarkan berat badannya ke bahu ayahnya. "He-em, Bah. Ya sudah, lanjut tonton lagi aja itu."
"Anak muda zaman sekarang mah berani-berani ya kalau udah ngomongin soal cinta," komentar ayahnya mencoba mengalihkan suasana yang mulai canggung.
Eli tertawa kecil hingga bahunya ikut bergetar. "Namanya juga zaman sekarang atuh, Bah. Segalanya serba cepat."
Setiap kali ada adegan lucu, gerakan tubuh Eli membuat dasternya sedikit terangkat. Ayahnya lebih banyak diam dan hanya sesekali mengangguk, namun pandangannya sering kali teralih ke arah Eli.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam saat episode tersebut berakhir. Rasa kantuk mulai menyerang Eli. Ia beranjak sejenak untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang remang. Suasana kamar berubah menjadi kuning temaram dan sunyi.
Eli merentangkan tangan sambil menguap kecil. Ia menoleh ke arah ayahnya yang masih duduk terpaku di sisi kasur.
"Eli tidur duluan ya, Bah. Udah nggak kuat banget ini matanya mau merem," kata Eli pelan.
Ayahnya mengangguk lalu berdiri perlahan. Ia melihat ke arah kasur kemudian beralih ke sofa panjang yang letaknya tepat di bawah embusan angin AC.
"Iya, Neng. Sok tidur aja duluan. Abah di sofa aja deh biar kena angin AC langsung, beneran gerah kalau di atas mah," jawab ayahnya.
Eli merebahkan tubuhnya dan menarik selimut tipis sampai sebatas pinggang. "Ya sudah kalau emang mau di situ, Bah. Nggak apa-apa kan ya tidur di sofa? Maaf ya Eli nggak ada kasur lagi."
Ayahnya berjalan menuju sofa dan mencoba merebahkan punggungnya di sana. "Nggak apa-apa atuh, empuk juga kok ini sofanya. Lebih adem juga di sini."
Eli memejamkan mata sambil membelakangi sofa. "He-em, Bah. Selamat tidur ya."
"Selamat tidur juga, Neng," balas ayahnya dengan suara yang masih terdengar parau di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi sedikit cahaya dari lampu tidur.
Bab 3: Sentuhan Dini Hari
Suara dengung pendingin ruangan di pojok kamar terdengar semakin nyaring saat jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Abah terbangun dengan leher yang terasa sangat kaku. Sofa panjang yang terletak tepat di bawah embusan angin itu ternyata terlalu sempit untuk ukuran tubuhnya yang besar. Ia sempat terlelap selama kurang lebih dua jam sebelum rasa pegal dan hawa dingin yang menusuk kulit memaksanya untuk membuka mata.
Abah duduk tegak sambil memijat tengkuknya yang berdenyut tidak nyaman. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur berwarna kuning remang, ia menoleh ke arah kasur. Eli tampak meringkuk membelakangi sofa. Sebagian selimutnya sudah melorot hingga menyentuh lantai, membiarkan betis hingga paha atasnya terbuka polos terpapar udara dingin. Tubuh Eli sesekali tampak sedikit menggigil, seolah sedang mencari posisi yang lebih hangat di tengah tidurnya.
Abah bangkit dari sofa dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi derit pada lantai. Ia melangkah satu dua langkah kecil hingga berdiri tepat di sisi tempat tidur. Niat awalnya hanyalah ingin mengambil selimut yang jatuh agar anaknya tidak jatuh sakit atau masuk angin. Namun, saat ia membungkuk dan meraih ujung kain tersebut, pandangannya tertahan pada siluet kulit Eli yang diterpa cahaya kuning temaram.
Saat menarik selimut ke atas, punggung tangan Abah tidak sengaja bersentuhan dengan paha Eli. Kulit itu terasa sangat dingin. Abah langsung mematung seketika sambil menahan napasnya. Ia menunggu selama beberapa detik dengan perasaan waswas, khawatir jika gerakan sekecil itu akan membuat Eli terbangun.
Eli tetap diam, namun tarikan napasnya sedikit berubah saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh kulitnya. Secara refleks, kaki Eli bergerak pelan, seolah sedang mencari sumber kehangatan di tengah udara kamar yang membeku. Ujung jari kasar Abah yang tadinya ragu-ragu kini mulai menetap di sana, mencoba meresapi tekstur kulit yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam diam.
Sentuhan itu merasuk ke dalam alam bawah sadar Eli. Dalam tidurnya yang lelap, Eli mengerang halus dan sedikit menggeser posisi kakinya. Alih-alih menepis, ia justru secara perlahan menarik kakinya lebih dekat ke arah tangan Abah untuk mencari kehangatan yang baru saja ia rasakan. Hingga akhirnya, posisi paha Eli seolah menjepit pelan punggung tangan ayahnya yang masih mematung di sana.
Abah tersentak dan jantungnya berdegup kencang hingga terasa sampai ke kerongkongan. Ia hampir saja menarik tangannya dengan paksa, namun Eli justru bergumam tidak jelas dengan mata yang tetap terpejam rapat. Tangan Eli yang bebas bergerak lunglai ke bawah, menyentuh lengan Abah tanpa sadar, seolah ingin memastikan sumber hangat itu tetap berada di sisinya.
"Duh, dingin banget kipasnya..." gumam Eli nyaris tidak terdengar, suaranya parau dan langsung hilang ditelan suara mesin AC.
Abah membeku di tempat dengan posisi membungkuk yang mulai terasa kaku dan pegal. Ia benar-benar tidak bisa bergerak sedikit pun karena takut mengejutkan anaknya. Tarikan napas Eli perlahan kembali teratur, namun sentuhan tangan Eli pada lengannya tidak kunjung lepas. Di tengah keheningan dini hari Jakarta yang sebenarnya pengap, Abah hanya bisa menatap wajah anaknya yang tampak begitu tenang, sementara tangannya sendiri terjebak di antara hangatnya kulit Eli dan dinginnya udara kamar.
Abah masih membeku, namun posisi membungkuk itu mulai menyiksa punggungnya. Perlahan, dengan sangat hati-hati agar tidak mengubah posisi tangan Eli yang melingkari lengannya, ia mendudukkan diri di pinggir kasur. Kasur busa itu sedikit amblas menerima beban tubuhnya, beruntung tidak ada suara derit yang berarti.
Kini posisi mereka sangat dekat. Hawa hangat dari tubuh Eli menguar, melawan dinginnya AC dan mendesak indra penciuman Abah. Aroma sabun mandi yang dipakai Eli tadi sore bercampur dengan aroma alami tubuhnya, menciptakan wangi yang memabukkan di indra penciuman ayahnya. Jantung Abah berpacu semakin liar, dentumannya seolah berlomba dengan suara dengung AC.
Punggung tangan Abah masih terjepit di antara paha Eli. Rasa hangat dan lembut yang menjepit tangannya itu mengirimkan sinyal tajam ke seluruh tubuhnya. Dengan gerakan yang nyaris kasat mata, Abah mulai menggerakkan jari-jarinya. Sedikit demi sedikit, ujung-ujung jarinya yang kasar mulai mengusap permukaan kulit paha Eli yang halus dan dingin.
Usapan itu sangat perlahan, penuh keraguan namun juga penuh rasa ingin tahu. Seiring dengan keberanian yang terkumpul, area usapannya meluas. Jari-jarinya merayap naik, melewati batas daster tanpa lengan yang dikenakan Eli. Sentuhan itu berpindah ke pinggang Eli yang ramping, di mana daster itu sedikit terangkat akibat posisi tidurnya. Kulit di area itu terasa lebih hangat dan kencang.
Abah menahan napas saat telapak tangannya kini sepenuhnya mendarat di pinggang Eli. Ia bisa merasakan lekukan tubuh anaknya dengan jelas. Ibu jarinya mulai membuat gerakan memutar kecil di permukaan kulit tersebut. Nafas Abah mulai memburu, berat dan parau, tertahan di tenggorokan.
Pikirannya mulai melayang, membayangkan hal-hal yang jauh lebih berani. Tangan yang berada di pinggang itu bersiap untuk merayap lebih ke atas, mendekati area dada yang samar-samar tercetak di balik daster tipis itu. Sementara tangan yang terjepit di paha berniat untuk menyusup lebih dalam ke sela-sela kakinya. Keinginan itu begitu kuat, mendesak egonya untuk melupakan segalanya.
Namun, tepat saat tangannya akan bergerak lebih jauh, pandangannya jatuh pada wajah Eli. Sinar remang lampu tidur menerpa wajah yang sedang terlelap itu. Eli tampak begitu polos, damai, dan penuh kepercayaan dalam tidurnya. Tidak ada setitik pun kecurigaan atau ketakutan di wajah itu.
Bayangan Eli kecil yang merengek minta digendong, Eli yang bangga memamerkan nilai rapornya, dan Eli yang menangis saat harus ditinggal di kost ini, tiba-tiba berkelebat di pikiran Abah. Sosok di depannya ini adalah Helisma, putri kecilnya, darah dagingnya sendiri. Anak yang telah ia rawat dan lindungi seumur hidupnya dengan susah payah.
Realita menghantam Abah dengan keras, bagaikan siraman air es di tengah malam. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menyergap hatinya. Tangannya di pinggang Eli mendadak terasa kaku dan panas, seolah-olah ia sedang menyentuh bara api. Apa yang baru saja ia pikirkan? Bagaimana mungkin ia bisa memiliki pikiran sekotor itu terhadap anaknya sendiri?
Dengan gemetar, Abah perlahan menarik tangannya dari pinggang Eli. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar Eli tidak terbangun. Sementara tangan yang terjepit di paha, ia biarkan tetap di sana untuk sementara, takut gerakan tiba-tiba akan mengejutkan Eli. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan lagi karena gairah, melainkan karena ketakutan dan penyesalan yang mendalam.
Abah memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan sensasi hangat dari kulit Eli merambat naik dan meledak di dadanya. Ia seolah terhipnotis, hanyut dalam kenyamanan terlarang yang membuatnya lupa daratan untuk sejenak. Namun, tepat saat imajinasinya mulai liar, sebuah suara parau membelah kesunyian kamar yang pengap itu.
"Bah..." gumam Eli pelan sekali. Bibirnya bergerak kecil meski matanya masih terpejam rapat.
Abah tersentak hebat seolah baru saja tersengat listrik. Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya mau copot. Dengan gerakan kasar yang refleks, ia segera menarik tangannya keluar dari jepitan paha Eli. Napasnya memburu tidak beraturan. Ia mematung, menatap lekat-lekat wajah anaknya di bawah temaram lampu, memastikan apakah Eli benar-benar bangun atau cuma sekadar mengigau karena kedinginan.
"Neng? Eli?" bisik Abah pelan, suaranya gemetar hebat.
Eli tidak menjawab dan tidak bergerak lagi, tapi tarikan napasnya terdengar sedikit berubah, jadi lebih berat. Abah buru-buru membuang muka, merasa dadanya sesak karena rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam. Ia bangkit berdiri dan beranjak menuju sofa panjang dengan langkah kaki yang goyah, seolah tulang-tulangnya baru saja diloloskan dari engselnya.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa, tapi pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Bayangan kelembutan kulit Eli dan aroma sabun mandi yang menguar dari daster tipis itu terus menghantui setiap embusan napasnya. Abah mengusap wajahnya berkali-kali dengan kedua telapak tangan yang entah kenapa masih terasa panas bekas sentuhan tadi.
"Aduh, gusti... kenapa jadi begini pikiran teh," bisik Abah pada dirinya sendiri.
Ia benar-benar terjepit dalam dilema yang menyiksa batinnya. Separuh hatinya merasa kalau ini adalah kesempatan yang jarang ada, apalagi mereka cuma berdua di perantauan begini. Tapi separuh jiwanya yang lain menjerit, mengingatkan kalau yang di sana itu darah dagingnya sendiri. Risiko besar mengintai di balik pintu kamar yang terkunci ini, taruhannya bukan cuma nama baik, tapi hancurnya kepercayaan anak yang paling ia sayangi.
Bab 4: Sisa Dingin di Ambang Pintu
Cahaya matahari Jakarta mulai menembus celah gorden, menciptakan garis terang yang kontras di atas lantai semen yang masih menyimpan sisa dingin dari mesin pendingin ruangan. Abah terbangun dengan posisi tubuh yang terasa sangat kaku. Ia masih berbaring di atas sofa sempit tempatnya merebahkan diri semalam, sementara aroma parfum Eli yang tertinggal di bantal sofa itu terasa menyesakkan paru-parunya. Rasa pegal di punggungnya seolah menjadi pengingat betapa tidak nyamannya tidur dalam kegelisahan batin yang hebat.
Di sudut ruangan, Eli sudah duduk tenang di ujung sofa panjang yang sama sembari menyesap segelas kopi instan yang uapnya masih mengepul tipis. Di depannya, dua bungkus nasi uduk sudah terbuka lebar, menguapkan aroma santan dan bawang goreng yang menggugah selera. Eli menatap ke arah Abah yang baru saja terduduk tegak dengan nyawa yang tampaknya belum terkumpul sepenuhnya.
"Kayaknya semalam Abah tidurnya nggak nyenyak ya? Itu matanya kelihatan merah banget, mana mukanya pening gitu kayak yang kurang istirahat," tegur Eli tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang sedang ia pegang.
Abah memijat tengkuknya yang terasa kaku dan berdenyut tidak keruan. Ia membetulkan posisi duduknya di sofa itu, lalu sedikit menggeser tubuhnya mendekat ke arah Eli agar bisa menjangkau bungkusan nasi. Jarak yang sangat dekat ini membuat ia bisa melihat dengan jelas sisa kantuk yang masih menggantung di kelopak mata anaknya.
"Iya nih, Neng. Udara di sini mah emang beda jauh sama di Bandung, rasanya bikin kepala Abah berat banget pas bangun tadi," jawab Abah dengan suara yang masih agak serak. Ia kemudian meraih piring plastiknya, lalu mulai menyuap nasi uduk itu sedikit demi sedikit.
Eli meletakkan tabletnya di atas meja kecil, lalu sedikit menggeser posisi duduknya sampai bahu mereka bersentuhan cukup erat di atas sofa itu. "Ya udah atuh dimakan dulu nasinya biar habis, Bah. Soalnya kan Abah rencananya mau langsung balik ke Bandung siang ini, biar ada tenaganya pas nyetir mobil di jalan nanti."
Abah hanya mengangguk pelan menanggapi perhatian anaknya yang terasa tulus. "Iya, Neng. Enak kok ini rasa nasi uduknya, pas banget di lidah Abah."
Suasana mendadak menjadi hening, hanya terdengar suara kunyahan pelan dan bising kendaraan yang mulai ramai dari balik jendela kamar. Abah berkali-kali melirik ke arah kaki Eli yang tampak polos di bawah meja. Ingatannya tentang jepitan paha semalam mendadak kembali dengan sangat tajam dan mendetail di kepalanya. Ada secercah rasa menyesal karena ia sempat menarik tangannya dengan terburu-buru, namun ada pula ketakutan besar yang terus membayangi pikirannya hingga saat ini.
Selesai makan, Abah mulai merapikan tas ranselnya yang diletakkan di sudut ruangan, tepat di samping lemari jati yang baru saja mereka geser kemarin. Kondisi ruangan sebenarnya masih terasa agak sesak dengan beberapa kardus yang belum sempat dibongkar seluruhnya. Saat Abah hendak menarik tas miliknya, ia baru menyadari kalau surat-surat kendaraannya tidak ada di tempat biasanya.
"Neng, kamu sempat lihat STNK mobil pick-up Abah nggak ya? Tadi Abah cari-cari di kantong tas kok nggak ketemu," tanya Abah sembari membungkukkan badan untuk mencari di sela-sela tumpukan barang.
Eli ikut bangkit dari sofa dan mendekat ke arah ayahnya untuk membantu mencari. "Perasaan tadi Eli lihat ada di atas meja rias deh, Bah. Coba cek lagi di situ, atau jangan-jangan malah jatuh ke belakang lemari pas kita geser-geser kemarin?"
Abah terdiam sejenak sembari memutar kembali ingatannya tentang kejadian kemarin sore. Ia baru teringat kalau sempat menaruh dompet kecilnya di atas ranjang mezanin setelah selesai merapikan sprei di sana, dan kemungkinan besar surat-surat itu terselip saat ia sedang sibuk memindahkan bantal.
Abah memutuskan untuk mengecek area di sekitar lemari jati yang berat itu terlebih dahulu. Ia berlutut di lantai, lalu menyipitkan mata untuk mengintip ke celah sempit antara bagian belakang lemari dengan dinding kamar. Di sana, di antara debu tipis yang belum sempat dibersihkan, tampak ujung plastik bening yang mencuat sedikit.
"Eh, beneran itu kayaknya nyelip di belakang lemari jati ini, Neng. Duh, kok bisa sampai situ ya jatuhnya," gumam Abah sembari mencoba menjangkau plastik itu dengan ujung jarinya, namun tangannya terlalu besar untuk masuk ke celah yang sempit.
Eli ikut berjongkok di samping ayahnya, mencoba mengintip ke arah yang sama. "Tuh kan bener kata Eli juga apa, pasti nyelip pas kita lagi repot geser-geser kemarin sore itu mah. Masih bisa diambil nggak itu kalau ditarik pelan-pelan pakai tangan?"
Abah menarik kembali tangannya dan menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. "Nggak bisa, Neng. Tangannya Abah nggak masuk ke celahnya, terlalu mepet banget ini posisinya sama tembok. Harus digeser dulu sedikit lemarinya biar ada ruang buat tangan Abah masuk."
Eli menatap lemari jati yang tampak kokoh dan berat itu dengan ragu. "Waduh, berat banget atuh itu mah kalau mau digeser lagi sekarang. Tapi ya udah ayo, mau nggak mau harus diambil kan STNK-nya, mana Abah mau langsung jalan siang ini."
Abah berdiri dan memposisikan dirinya di sisi lemari, bersiap untuk mendorong sekuat tenaga. "Iya, makanya itu. Sini atuh bantu Abah sebentar, kamu dorong dari sisi sana ya biar lemarinya agak miring dikit. Pelan-pelan aja yang penting ada celah buat Abah ngambil itu surat."
Abah dan Eli mengambil posisi masing-masing di sisi lemari jati yang besar itu. Lemari tua tersebut memang sangat berat karena terbuat dari kayu solid, sehingga membutuhkan tenaga ekstra hanya untuk sekadar menggesernya beberapa sentimeter dari dinding. Abah mulai memberikan aba-aba agar gerakan mereka bisa seirama.
"Ayo, Neng, satu, dua, tiga, dorong!" seru Abah sembari mengerahkan seluruh tenaganya ke arah badan lemari.
Eli membungkuk dalam-dalam, menumpukan kedua telapak tangannya ke sisi kayu yang kasar. Karena ia hanya mengenakan daster tanpa lengan yang memiliki potongan leher cukup rendah, posisi membungkuk itu secara tidak sengaja membuat bagian dadanya sedikit terbuka. Saat ia mengerahkan tenaga untuk mendorong, lipatan dadanya menimbul dengan sangat jelas di balik kain tipis itu.
Abah yang posisinya berada sedikit lebih tinggi di sampingnya, tidak sengaja melirik ke bawah tepat ke arah celah daster Eli. Matanya terpaku selama beberapa detik, terpana melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya secara langsung. Konsentrasi Abah mendadak buyar, dan tangannya yang tadi mendorong kuat kini justru terasa lemas seketika.
Eli yang sedang fokus mengerahkan sisa tenaganya, mendadak merasakan tatapan yang berbeda dari arah ayahnya. Ia mendongak sedikit dan menyadari arah pandangan Abah yang tertuju tepat ke bagian dadanya yang terbuka. Seketika itu juga, Eli tersadar dan langsung menarik diri dari posisi mendorong.
"Aduh, Bah!" seru Eli sembari cepat-cepat menutup bagian depan dasternya dengan sebelah tangan.
Wajah Eli memerah padam karena malu, ia segera membetulkan posisi pakaiannya yang sempat melorot itu. Suasana di pojok kamar yang sempit itu mendadak berubah menjadi sangat canggung. Suara napas mereka yang masih terengah-engah karena habis berolahraga fisik terdengar sangat jelas di tengah keheningan yang tiba-tiba datang.
"Eh, iya, maaf, Neng. Abah nggak sengaja tadi lihatnya," gumam Abah sembari membuang muka ke arah lain, suaranya terdengar sangat parau dan gugup.
Eli masih memegangi bagian leher dasternya dengan erat, matanya menatap ke arah lantai tanpa berani melihat wajah ayahnya. "Iya, nggak apa-apa, Bah. Tadi kayaknya posisinya emang terlalu nunduk banget Eli-nya jadi begitu."
"Ya sudah, kamu berdiri dulu aja biar Abah coba dorong sendiri pelan-pelan pakai kaki. Bahaya kalau kamu nunduk-nunduk gitu lagi di sini," lanjut Abah mencoba mencari alasan agar suasana tidak semakin aneh, meski jantungnya sendiri masih berdegup tidak keruan.
Bab 5: Permintaan di Balik Pintu Terkunci
Suasana di pojok kamar itu masih terasa kaku setelah kejadian di depan lemari tadi. Abah berdiri mematung, sementara Eli masih sibuk merapikan kerah dasternya yang sempat melorot. Namun, bukannya merasa malu yang mendalam, sisa bayangan dari balik daster Eli justru memicu kembali gejolak yang sempat Abah tekan habis-habisan semalam. Rasa sesal karena tidak melakukan apa pun saat Eli terlelap tadi subuh kini berganti menjadi keberanian yang mendesak.
Abah menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Seharusnya ia sudah bersiap untuk memanaskan mesin mobil pick-up di bawah, tapi kakinya seolah tertanam di lantai semen kamar itu.
"Neng, kayaknya Abah beneran belum kuat kalau harus nyetir sekarang mah. Kepala masih cenat-cenut, tenaga juga rasanya amblas habis geser lemari barusan," ucap Abah dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sangat kelelahan.
Eli mendongak, menatap wajah ayahnya dengan raut khawatir yang tulus. "Tuh kan, apa kata Eli juga. Makanya tadi disuruh sarapan yang banyak biar nggak lemes begini. Terus gimana atuh, Bah? Mau rebahan dulu sebentar?"
Abah mengangguk pelan, matanya menatap lekat ke arah Eli. "Iya, kayaknya Abah butuh istirahat sebentar lagi buat mulihin tenaga. Tapi, Neng... boleh nggak Abah minta tolong sekali lagi sebelum balik ke Bandung?"
Eli mengernyitkan dahi, sedikit bingung dengan permintaan ayahnya yang terdengar ragu-ragu. "Minta tolong apa, Bah? Mau dipijetin atau gimana?"
Abah terdiam sejenak, menimbang kata-kata yang tepat agar niatnya tidak terdengar terlalu frontal, meski batinnya sudah tidak sabar ingin menuntaskan rasa penasarannya sejak semalam. "Iya, badannya Abah pegal semua ini, apalagi bagian punggung sama pinggang. Kalau boleh mah, Abah pengen dipijet dikit biar ototnya nggak kaku pas di jalan nanti."
Eli tampak menimbang sejenak. Ia melihat ayahnya yang memang tampak lelah, meski ia tidak tahu ada api yang sedang menyala di balik tatapan mata pria itu. "Ya udah, boleh aja sih kalau cuma dipijet mah. Abah rebahan aja di kasur bawah sini biar Eli gampang."
Namun, sebelum Eli sempat beranjak mengambil minyak urut di atas meja, Abah menahan lengan anaknya dengan lembut tapi tegas.
"Tapi Neng, tolong pintunya ditutup rapat dulu ya. Malu atuh kalau kelihatan Abah lagi dipijetin begini, mana kamar lagi berantakan kardus-kardus," bisik Abah sembari menunjuk ke arah pintu kayu di belakang mereka.
Eli sempat terdiam, menatap pintu kamar yang masih terbuka sedikit itu. Ia tidak menaruh curiga sama sekali, menganggap itu hanya sekadar urusan privasi domestik antara bapak dan anak.
"Oh, iya juga sih ya, takutnya ada yang lewat nanti malah dikira ada apa-apa. Ya udah, bentar Eli tutup dulu pintunya," jawab Eli sembari melangkah menuju pintu.
Suara klik kunci yang diputar bergema pelan di dalam ruangan yang mulai terasa sunyi. Abah memperhatikan punggung Eli dari belakang, melihat bagaimana daster tipis itu berayun mengikuti langkah kaki anaknya. Begitu pintu tertutup rapat dan kunci sudah terpasang, Abah merasakan aliran adrenalin yang luar biasa deras. Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja seperti semalam.
Bab 6: Pijatan yang Berubah Arah
Bab 6: Pijatan yang Berubah Arah
Eli melangkah menuju meja rias dan mengambil sebotol minyak urut yang aromanya cukup menyengat. Ia kembali ke sisi kasur sambil membuka tutup botol tersebut, sementara Abah sudah duduk di pinggiran tempat tidur dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ya sudah atuh, Bah. Mending dilepas dulu bajunya biar minyaknya meresap ke kulit, daripada nanti kemeja Abah malah jadi kotor semua kena noda minyak," ucap Eli sembari menuangkan sedikit cairan bening itu ke telapak tangannya.
Abah menurut tanpa membantah sedikit pun. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan punggungnya yang lebar dan sedikit legam karena sering bekerja kasar. Begitu Abah merebahkan diri dengan posisi telungkup, Eli mulai menggerakkan tangannya di atas otot-otot punggung ayahnya yang kaku.
"Aduh, ini mah keras banget uratnya, Bah. Pantesan aja Abah ngeluh pening dari tadi juga," gumam Eli sambil memberikan tekanan pada jempolnya agar otot ayahnya sedikit mengendur.
Abah hanya mengerang halus, menikmati sensasi tangan Eli yang lembut namun bertenaga di atas kulitnya. Suasana kamar yang tertutup rapat itu mendadak terasa semakin panas. Abah membenamkan wajahnya di bantal, lalu dengan suara yang sangat rendah dan bergetar, ia mulai mengumpulkan keberanian yang tersisa.
"Neng... Abah teh sebenarnya mau minta sesuatu sama kamu sebelum balik ke Bandung siang ini," bisik Abah dengan nada yang sangat pelan, seolah takut suaranya sendiri akan terdengar sampai ke luar kamar.
Gerakan tangan Eli melambat sebentar, namun ia tetap melanjutkan pijatannya. "Minta apa atuh, Bah? Kan tadi sudah Eli bikinin kopi sama nasi uduk juga. Masih ada yang kurang emangnya?"
Abah menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering dan jantungnya berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak. Ia takut setengah mati membayangkan reaksi Eli, khawatir jika anaknya akan marah besar atau bahkan mengusirnya detik itu juga.
"Bu... bukan itu, Neng. Abah... Abah m... mau minta jatah sama kamu. Ja... jatah yang beneran, ka... kayak suami istri," ucap Abah akhirnya dengan suara gagap yang sangat kentara, napasnya memburu dan suaranya hampir hilang ditelan rasa takut.
Tangan Eli benar-benar berhenti memijat. Ia terdiam mematung di atas punggung ayahnya selama beberapa saat yang terasa sangat lama.
"Gusti... Abah beneran mau minta itu dari Eli?" tanya Eli dengan suara yang tenang namun terdengar sedikit bergetar karena terkejut.
Eli kemudian melanjutkan dengan nada menasihati, "Abah teh sadar nggak apa yang baru diomongin? Eli kan anak Abah sendiri. Harusnya Abah jagain Eli, bukan malah minta yang nggak-nggak begini."
Mendengar nasihat Eli, Abah langsung bangkit dari posisi telungkupnya. Ia menatap anaknya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafin Abah, Neng. Abah khilaf pisan, nggak tahu kenapa tiba-tiba kepikiran sampai ngomong begitu," ucapnya pelan sambil menundukkan kepala.
Eli mengerutkan dahi, menatap ayahnya dengan raut bingung sekaligus heran. "Maksud Abah teh yang kayak gimana atuh? Eli nggak ngerti."
Melihat Eli yang akhirnya melunak, Abah sempat tertegun tidak percaya. Matanya membelalak kecil, menatap wajah anaknya seolah sedang mencari tanda-tanda penolakan yang tadi sempat ia takutkan.
"Neng... beneran ini teh? Kamu nggak marah sama Abah?" tanya Abah dengan suara yang masih bergetar, memastikan pendengarannya tidak salah.
Eli menghela napas kasar, wajahnya menoleh ke arah lain dengan raut yang tampak gusar. "Ya kesal atuh, Bah! Abah teh gimana sih, malah minta yang aneh-aneh begini ke anak sendiri. Harusnya mah Eli yang dimanja, bukan malah Eli yang disuruh melayani begini," semprot Eli dengan nada bicara yang meninggi.
Abah tersentak, nyalinya sempat menciut mendengar ketegasan suara anaknya. Namun, Eli tidak lantas mengusirnya. Ia hanya mendengus kesal sembari merapikan posisi bantalnya dengan kasar.
Abah menelan ludah, tangannya yang gemetar kini bergerak sedikit lebih berani di dekat Eli, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang itu. "Pijat aja dulu, Neng. Kamu cukup rebahan di bawah Abah, nanti juga tegang sendiri kalau sudah nempel mah," lanjut Abah sembari mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
Eli mengerutkan dahi lebih dalam, menatap ayahnya dengan tatapan yang menuntut jawaban logis. Ia merasa ucapan Abah barusan terdengar sangat janggal di telinganya.
"Tegang nempel gimana maksudnya, Bah? Nggak usah pakai bahasa muter-muter begitu, Eli beneran nggak paham," tanya Eli dengan nada ketus, menuntut penjelasan lebih gamblang.
Abah semakin salah tingkah, keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Ia menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Eli, sementara tangannya yang kasar menyentuh permukaan kasur dengan gemetar.
"Ya... itu, Neng. Maksud Abah teh, nanti kalau badan kita sudah rapat, sudah nempel banget satu sama lain... anu Abah bakal tegang. Terus nanti kalau sudah kena ke bagian kamu, kamunya juga bakal kerasa panas, terus ikutan tegang juga di bawah sana," jelas Abah dengan suara yang hampir tenggelam karena menahan malu.
Abah menarik napas panjang, mencoba memberanikan diri menatap mata anaknya. "Pokoknya kerasa enak pisan, Neng. Badan jadi enteng semua. Makanya Abah bilang pijat aja dulu, biar Abah tunjukin maksudnya."
Eli terdiam membisu selama beberapa saat, mencerna penjelasan ayahnya yang terdengar begitu vulgar namun jujur. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak begitu dikuasai hasrat, seolah harga dirinya sebagai orang tua sudah hilang entah ke mana. Ada keraguan besar di mata Eli, namun perlahan raut wajahnya melunak. Ia mengembuskan napas panjang, akhirnya luluh juga melihat kondisi pria di depannya itu.
"Ya sudah kalau emang maunya gitu mah, Eli kasih. Tapi Abah pastikan dulu pintunya benar-benar sudah terkunci rapat, terus itu jendelanya juga ditutup biar nggak ada orang yang iseng ngintip dari luar pas kita lagi begitu," jawab Eli dengan suara pasrah yang masih terselip nada ketus.
Bab 7: Pijatan yang Bergetar
Abah duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya tidak bisa lepas dari Eli yang berdiri di depannya hanya dengan pakaian dalam. Lampu tidur yang menyala remang membuat semuanya tampak lebih nyata dari yang seharusnya. Keheningan itu terasa berat dan panas sampai akhirnya Eli yang lebih dulu bicara.
"Maaf ya, Bah, Eli cuma pakai BH sama celana dalam begini di depan Abah. Habisnya gerah banget kalau harus pakai daster sambil dipijet, ribet juga nanti geraknya."
Suaranya pelan. Wajahnya agak menunduk, pipinya merona tipis.
Tanpa menunggu Abah menjawab, Eli langsung rebahan telungkup di kasur. Rambutnya ia singkap ke depan semua, memperlihatkan tengkuk, punggung mulus, dan tali bra yang melintang di sana.
"Ayo atuh, Bah, keburu siang. Nanti Abah malah kesorean baliknya ke Bandung."
Suaranya setengah tenggelam di bantal.
Abah menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat. Baru mau melangkah naik ke ranjang, Eli menoleh sedikit ke belakang.
"Eh iya, celana panjang Abah mending dilepas dulu aja. Nanti gerakannya kaku, terus kalau kena minyak susah nyucinya juga kan."
Nadanya biasa saja. Tapi bagi Abah, itu terdengar seperti sesuatu yang lain.
Tangannya masih gemetar waktu ia melepas celana panjangnya. Lalu perlahan ia naik ke kasur, berlutut tepat di atas pinggul Eli yang ramping, menahan berat badannya sendiri di kedua lututnya.
Saat telapak tangannya yang besar dan kasar itu menyentuh kulit punggung Eli pertama kali, ada yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mulai menggerakkan jempolnya, menekan pelan otot-otot di sekitar bahu dan tulang belikat.
"Duh, enak banget, Bah. Pas banget di situ, emang yang paling pegel."
Eli memejamkan mata, mengembuskan napas lega.
Tapi lama-lama, setiap kali Abah mencondongkan badan untuk menekan lebih dalam, ada sesuatu yang menyodok bagian bokong Eli. Keras. Berdenyut. Terasa jelas di balik kain tipis yang mereka kenakan masing-masing.
Eli sempat tersentak kecil saat tekanan itu makin terasa di sela paha belakangnya. Tapi ia tidak beranjak. Tidak memprotes. Ia hanya menarik napas lebih dalam dan membiarkan semuanya berlanjut, padahal gerakan Abah sudah lama bukan lagi sekadar pijatan biasa.
Eli sesekali menggeser posisi kepalanya di bantal. Tapi setiap kali Abah condong ke depan mengurut pundaknya, tekanan itu muncul lagi, tepat di celah yang sama.
"Aduh, Bah..." suara Eli tertahan di bantal, agak serak. "Itu apaan sih yang nyodok-nyodok terus di belakang Eli?"
Abah langsung kaku. Gerakannya berhenti sepenuhnya. Wajahnya panas sampai ke telinga karena ketahuan tidak bisa menyembunyikan reaksi tubuhnya sendiri.
"Eh, itu... anu, Neng. Maafin Abah. Kayaknya saking tegangnya jadi nggak karuan gini posisinya."
Eli menarik napas panjang. Ia bisa merasakan denyutan keras itu menempel di balik celana dalamnya. Bukannya menjauh, ia justru menggeliat pelan, menggeser pinggulnya sampai tekanan itu terasa lebih pas di tempatnya.
"Ya sudah atuh, jangan ditahan-tahan terus kalau emang udah sesak begitu. Kerasa banget ini di belakang Eli, nyodoknya keras pisan. Bikin risih kalau Abah cuma diem aja tapi nempel terus kayak begini."
Eli menoleh sedikit ke belakang. Tatapannya ke arah Abah sudah berbeda dari tadi pagi.
Abah menelan ludah. Tangannya yang masih di punggung Eli mulai gemetar. "Beneran nggak apa-apa ini, Neng? Abah takut malah kamunya yang jadi nggak nyaman kalau Abah terusin."
"Kan tadi Eli udah bilang," suara Eli pelan, sedikit tertahan di bantal. "Kalau emang Abah mau jatah ya sok aja atuh. Daripada nyiksa diri sendiri nahan-nahan sampe gemeteran begitu, nanti malah nggak jadi-jadi pijetnya."
Setelah itu Eli menenggelamkan lagi wajahnya ke bantal. Rambutnya tergerai berantakan di sisinya. Punggungnya naik turun mengikuti napasnya yang mulai tidak rata.
Ia tidak bicara lagi. Membiarkan Abah memutuskan sendiri apa yang akan dilakukan selanjutnya di atas tubuhnya.
Bab 8: Batas yang Luruh
Suasana di dalam kamar yang terkunci rapat itu semakin mencekam oleh hawa panas yang tidak lagi berasal dari cuaca Jakarta. Abah menghentikan pijatannya di punggung Eli, napasnya terdengar berat dan tersenggal tepat di telinga anaknya. Ia kemudian membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah.
"Neng, coba atuh sekarang balikin badannya. Abah pengen lihat wajah kamu, nggak enak kalau telungkup terus begini mah," pinta Abah dengan nada parau yang penuh desakan.
Eli sempat terdiam sejenak, namun ia menuruti permintaan itu. Ia memutar tubuhnya perlahan di atas kasur hingga kini posisinya telentang, menatap langsung ke arah langit-langit mezanin yang kemarin mereka rapikan bersama. Secara refleks, kedua tangan Eli langsung menyilang di depan dada, menutupi bra yang membungkus asetnya dengan rapat.
Abah yang kini berada di posisi duduk di antara kedua paha Eli, menatap gerakan tangan anaknya itu dengan sorot mata yang penuh damba. "Neng, jangan ditutupin atuh. Abah kan pengen lihat semuanya, masa mau jatah tapi masih ditutup-tutup begini?"
Eli melirik ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sedikit rasa malu namun juga pasrah yang terlihat di sana. "Duh, si Abah mah banyak mau pisan ih. Tadi katanya cuma mau pijet sama jatah, sekarang malah minta dibuka-buka segala. Malu atuh, Bah, ini kan masih di kamar kost terang begini."
Eli terdiam sejenak, lalu matanya menatap lekat wajah ayahnya yang tampak begitu bernafsu. "Lagian aneh-aneh aja sih, Bah. Emangnya di rumah Ibu nggak pernah kasih jatah apa sampai Abah segitunya banget minta ke Eli?"
Abah tertegun sejenak mendengarkan pertanyaan polos namun menohok itu. Ia menelan ludah, wajahnya semakin memerah. "Ya kasih, Neng. Tapi kan rasanya beda atuh, apalagi kamu sekarang sudah besar, sudah jadi gadis begini. Abah mah cuma pengen ngerasain yang lain aja sebentar."
Melihat Eli yang masih ragu, Abah tidak menunggu jawaban lebih lama. Ia merangkak maju, mendekatkan wajahnya ke arah dada Eli yang naik turun karena napas yang memburu. Tanpa banyak bicara lagi, Abah membenamkan wajahnya tepat di tengah-aluran payudara Eli yang masih terbungkus kain tipis itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh anaknya yang bercampur minyak urut, seolah ingin menyesap habis keberadaan Eli di sana.
Eli tersentak pelan, tangannya yang tadi menutupi dada kini justru bergerak melingkar di leher Abah, memeluk kepala ayahnya dengan erat. "Gusti, Bah... pelan-pelan atuh, jangan kayak yang nafsu banget gitu sampai benem-benem segala."
Abah tidak mempedulikan godaan anaknya. Sambil tetap membenamkan wajahnya, tangannya bergerak ke bawah, menarik pinggiran pakaian dalamnya sendiri hingga miliknya yang sudah menegang keras menyembul keluar. Ia memposisikan dirinya sedemikian rupa hingga bagian kepalanya yang panas dan berdenyut menyentuh kulit perut Eli yang rata.
Dengan gerakan pinggul yang perlahan namun pasti, Abah mulai menggesekkan miliknya tepat di sekitar pusar Eli. Gesekan itu terasa sangat nyata, panas, dan sedikit licin karena sisa minyak urut yang menempel di tangan Abah tadi.
"Aduh, Bah... itu geli banget di udel Eli. Basah tahu kena minyaknya, lagian itu kepalanya keras banget nempel di perut," gumam Eli sembari menggeliat kecil di bawah kungkungan tubuh ayahnya.
Abah hanya mengerang rendah, tangannya kini mulai merayap liar ke sisi pinggang Eli, mencengkeramnya kuat-kuat seolah takut anak gadisnya itu akan lari menjauh sebelum ia benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan siang itu.
Abah masih betah membenamkan wajahnya di antara payudara Eli, menghirup dalam-dalam aroma tubuh anaknya yang bercampur minyak urut. Sementara itu, tangannya yang kekar mencengkeram pinggang Eli agar posisi mereka tetap rapat. Di bawah sana, miliknya yang menegang keras mulai bergesek-gesekan dengan permukaan kain celana dalam Eli, menciptakan sensasi panas yang kian menjalar.
Meski posisi mereka sudah sedemikian intim, obrolan yang keluar dari mulut keduanya justru terasa sangat biasa, seolah-olah mereka sedang duduk santai di teras rumah di Bandung.
"Neng, kalau kost elit begini mah sebulannya berapa atuh? Pasti mahal pisan ya harganya kalau fasilitasnya lengkap begini," tanya Abah dengan suara yang sedikit teredam karena wajahnya masih menempel di dada Eli.
Eli mengusap rambut ayahnya pelan, jari-jarinya sesekali menyisir helai rambut Abah yang mulai memutih. "Lumayan sih, Bah. Tapi tenang aja, kan semuanya Eli bayar sendiri pakai gaji dari JKT48. Abah nggak usah kepikiran soal biaya sewa bulanan mah, yang penting Eli nyaman tinggal di sini."
Abah hanya mengerang pendek sebagai jawaban, sambil terus memberikan tekanan pada gesekan di bawah sana yang semakin berdenyut. "Iya, syukur atuh kalau sudah mandiri mah. Abah bangga sama kamu, Neng."
Tiba-tiba, Abah mengangkat wajahnya sedikit, menatap Eli dengan sorot mata yang mendadak serius meski tubuh bagian bawahnya masih terus bergerak aktif menggesek kancut anaknya.
"Pokoknya kamu di sini harus bener-bener jaga diri ya, Neng. Jangan sembarangan main di luar sama lelaki yang nggak bener. Jakarta mah keras, Abah nggak mau anak gadis Abah satu-satunya kenapa-napa di jalanan," nasihat Abah dengan nada bicara yang penuh proteksi.
Eli yang mendengar itu langsung tertawa kecil sampai bahunya bergetar, sebuah tawa yang sarat akan sindiran halus namun tetap terdengar santai.
"Ih, si Abah mah lucu pisan euy. Ngomongnya jangan sampai dirusak lelaki lain di luar, eh tapi ini Abahnya sendiri malah lagi minta jatah begini ke Eli," balas Eli sambil mencubit pelan telinga ayahnya.
Abah sempat tertegun sejenak mendengar guyonan Eli yang menohok itu, wajahnya semakin memerah padam karena merasa tersindir telak. "Ya kan kalau sama Abah mah beda atuh, Neng. Abah kan yang jagain kamu dari kecil, jadi ya... ya sudahlah, nggak usah dibahas itu mah, malu Abahnya."
Eli hanya tersenyum tipis dan kembali menarik kepala ayahnya untuk mendekat ke dadanya lagi. "Iya deh, terserah Abah aja gimana baiknya. Ayo atuh lanjutin lagi pijetnya, katanya tadi mau cepet-cepet biar nggak kesorean baliknya ke Bandung."
Abah semakin gencar menggesekkan miliknya yang panas di balik kain tipis kancut Eli, menciptakan irama yang kian cepat dan tidak beraturan. Sensasi itu rupanya mulai memicu reaksi yang sulit dibendung oleh Eli. Napasnya yang tadi tenang kini mulai putus-putus, berganti dengan suara-suara kecil yang lolos dari celah bibirnya saat merasakan gesekan itu tepat mengenai bagian tengahnya.
"Ah... mhh... Bah, pelan-pelan atuh... itu kerasa banget gesek ke tengah Eli... sshhh..." rintih Eli lirih sembari mencengkeram sprei kasur kuat-kuat.
Abah yang wajahnya masih terbenam di dada Eli langsung mendongak sedikit. Tangannya yang kasar kini tidak lagi hanya mencengkeram pinggang, melainkan merayap naik ke punggung Eli. Dengan gerakan cepat, ia melepas kaitan bra anaknya hingga terlepas sepenuhnya. Abah menatap sejenak ke arah dada Eli yang kini terbuka polos, lalu tanpa ragu ia kembali menunduk, langsung mengulum dan kenyot puting Eli dengan kuat.
Eli tersentak hebat, tubuhnya melengkung ke atas karena sensasi yang menyerang titik sensitifnya. "Gusti, Bah... mhh... ahhh... jangan keras-keras kenyotnya... sshhh..."
Abah tetap tidak mempedulikan peringatan Eli, ia terus menikmati puting anaknya sembari tangannya yang lain meremas sisi payudara yang satu lagi. Sementara itu, di bawah sana, pertahanan Abah juga tidak bertahan lama. Gesekan yang makin intens itu membuat pinggulnya bergerak refleks, dan tanpa sadar, ia juga mulai mengeluarkan suara rendah dari tenggorokannya sembari memberikan tekanan yang lebih berani.
"Ehh... ngggh... Neng, aduh... rasanya enak pisan ini mah... ahhh..." gumam Abah sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Kini, keheningan kamar kost itu pecah oleh suara desahan yang saling bersahut-sahutan. Eli yang tadinya diminta diam, justru semakin tidak karuan saat merasakan gerakan Abah yang makin menekan tepat di titik sensitifnya.
"Mhh... Bah... ahhh... sodok lebih dalam lagi, Bah... sshhh... makin keras..." sahut Eli dengan nada yang kian meninggi.
Di tengah suasana yang kian memuncak itu, Eli sempat membisikkan sesuatu sembari tangannya meraba ke arah meja kecil di samping tempat tidur. "Bah... kalau kira-kira sudah mau keluar, bilang ya... nanti langsung Eli ambilkan tisu biar nggak berantakan ke mana-mana."
Abah tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk cepat sambil terus memacu gerakannya. Keringat sudah membasahi punggungnya yang polos, bercampur dengan minyak urut yang membuat kulit mereka semakin licin saat bersentuhan.
Sekitar lima belas menit mereka terjebak dalam pergulatan hasrat yang intens itu, tubuh Abah mendadak menegang hebat. Gerakannya melambat namun tekanannya menjadi jauh lebih dalam dan bertenaga di atas tubuh Eli.
"Neng... Neng, ini Abah... Abah sudah mau keluar sekarang... aduh, Neng..." ucap Abah dengan napas yang benar-benar tersenggal, wajahnya kembali ia benamkan ke leher Eli sebagai tumpuan terakhir.
Eli segera berusaha meraih kotak tisu yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur. Namun, usahanya itu ternyata sudah terlambat.
Tubuh Abah sempat terasa kaku sebentar, lalu seluruh tenaganya luruh diikuti dengan suara erangan panjang yang tertahan. Kondisi kamar itu pun seketika menjadi hening kembali.
Eli melihat ke arah bawah dan matanya langsung membelalak kaget. "Atuh Bah, kan sudah Eli bilang dari tadi, kenapa sih malah jadi begini jadinya."
Dia segera bangkit berdiri dan menyambar tisu dari atas meja dengan gerakan panik untuk menyeka cairan yang berantakan.
"Maafin Abah ya, Neng, tadi beneran kelepasan, rasanya sudah tidak mungkin bisa ditahan lagi jadi ya langsung keluar begitu saja," kata Abah dengan nada bicara penuh rasa bersalah sambil merapikan pakaiannya secara perlahan.
"Ya mau bagaimana lagi sekarang, sudah terlanjur basah juga bajunya." Eli menyeka bagian tersebut dengan gerakan yang agak kasar, lalu melempar gumpalan tisunya ke tempat sampah. Dia melirik ke arah Abah yang masih terlihat lemas di pinggiran kasur. "Abah mah memang sudah kebiasaan, kalau lagi merasa enak suka lupa sama omongan sendiri."
Abah hanya terkekeh pelan mendengar ucapan itu. Suaranya kini terdengar jauh lebih segar jika dibandingkan dengan sebelumnya. "Iya, maaf ya Neng, tadi benar-benar sudah tidak keburu lagi jadinya."
Eli memperhatikan wajah ayahnya sebentar, lalu dia tersenyum tipis setelah rasa kesalnya mulai sedikit mereda. Dia pun mulai merapikan rambutnya yang berantakan dengan mengikatnya kembali. "Sudah puas jatahnya? Sekarang udah ada tenaga buat nyetir sampai ke Bandung?"
Abah terkekeh pendek, sebuah tawa yang terdengar jauh lebih segar dari sebelumnya. "Iya, Neng. Rasanya badan Abah jadi enteng banget sekarang. Kayaknya kalau disuruh nyetir sampai ke ujung Jawa juga Abah sanggup ini mah, tenaganya kayak baru ngisi lagi."
"Ya sudah, mending Abah buruan cuci muka dulu terus siap-siap. Keburu siang nanti jalanan macet pas mau masuk tol," sahut Eli sembari mengikat rambutnya asal-asalan.
Abah sudah berdiri di pinggir kasur, tangannya baru saja hendak memasukkan kemeja ke dalam celana saat matanya kembali melirik Eli yang sedang merapikan sprei. Rambut Eli yang baru saja diikat itu menyisakan leher belakang yang masih sedikit basah karena keringat. Entah karena apa, rasa puas yang tadi sempat dirasakan Abah tiba-tiba hilang begitu saja, berganti dengan gejolak yang jauh lebih panas dan menuntut.
"Neng, sebentar dulu," suara Abah berubah, tidak lagi santai seperti tadi.
Eli menoleh dengan raut bingung. "Kenapa lagi, Bah? Buruan, nanti beneran kena macet di jalan."
Tanpa menjawab, Abah justru melangkah mendekat dengan cepat. Tangannya langsung mencengkeram kedua pergelangan tangan Eli dan menekannya kuat ke atas kasur. Gerakannya kasar, sangat berbeda dengan cara dia menyentuh Eli sebelumnya.
"Aduh, Bah! Sakit, jangan kenceng-kenceng megangnya. Lepasin dulu atuh, katanya tadi mau langsung jalan," seru Eli sambil berusaha menarik tangannya, namun tenaga Abah jauh lebih besar.
Wajah Abah kini berada tepat di depan wajah Eli, matanya tampak gelap dan tidak fokus. "Abah masih belum puas ternyata, Neng. Tadi mah cuma pembukaan saja, sekarang Abah mau yang beneran."
"Tapi kan tadi udah keluar, Bah. Eli juga capek, baju udah rapi begini masa mau diulang lagi. Jangan sekarang atuh, minggu depan saja kalau Abah ke sini lagi," Eli mencoba menolak dengan nada bicara yang masih berusaha tenang, meski jantungnya mulai berdegup kencang karena melihat gelagat ayahnya yang tidak biasa.
Abah tidak peduli dengan penolakan itu. Dia langsung menindih tubuh Eli dengan seluruh berat badannya, mengabaikan rintihan anaknya yang merasa sesak. Satu tangannya yang bebas bergerak kasar menarik paksa pakaian yang baru saja dikenakan Eli sampai terdengar bunyi jahitan yang robek.
"Bah! Jangan begini, ini baju baru Eli lho! Lepasin dulu, nggak mau kalau kayak gini caranya!" Eli mulai memberontak lebih keras, kakinya menendang-nendang berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh kekar di atasnya.
"Diam saja kamu, Neng! Nggak usah banyak protes, toh kamu juga biasanya nurut sama Abah kan? Sudah, layani saja jangan bikin Abah makin emosi," bentak Abah dengan nada tinggi yang membuat Eli seketika menciut.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Eli untuk bicara lagi, Abah membungkam mulut anaknya dengan ciuman yang sangat kasar dan memaksa. Eli hanya bisa mengeluarkan suara erangan tertahan di balik dekapan itu, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa sakit dan takut yang mulai menjalar. Perlawanannya perlahan melemah saat Abah semakin beringas dan tidak terkendali dalam melakukan aksinya di atas kasur sempit tersebut.
Abah sama sekali tidak menghiraukan rintihan Eli yang mulai terdengar serak. Justru rontaan dan usaha Eli buat melepaskan diri itu malah bikin adrenalinnya naik berkali lipat. Ada perasaan menang yang aneh saat dia berhasil mengunci pergerakan anaknya yang sudah tidak berdaya di bawah himpitan tubuhnya sendiri.
"Bah, sakit, jangan dipaksa begini," suara Eli terdengar makin parau di sela napasnya yang mulai sesak.
"Sudah diam saja, Neng, makin kamu lawan malah makin bikin Abah nafsu," sahut Abah dengan napas yang sudah benar-benar memburu di telinga Eli.
Sensasi saat melakukan paksaan ini terasa jauh lebih tajam dan menantang bagi Abah dibanding sebelumnya yang penuh dengan obrolan santai. Ada kepuasan berbeda ketika dia melihat Eli yang biasanya tenang kini tampak ketakutan dan tidak bisa berkutik sedikit pun. Baginya, penolakan Eli justru menjadi pemicu yang membuat gairahnya makin meledak-ledak.
Eli yang awalnya mencoba melawan habis-habisan perlahan mulai kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa remuk karena tekanan yang sangat kuat dari Abah. Setiap kali dia mencoba bergerak sedikit saja, cengkeraman tangan Abah di pergelangan tangannya makin mengencang sampai kulitnya memerah.
"Aduh, Bah, pelan-pelan," rintih Eli lagi saat Abah melakukan gerakan yang sangat kasar tanpa memedulikan kondisi Eli sama sekali.
Abah justru makin beringas. Dia benar-benar menikmati setiap detik di mana dia memegang kendali penuh atas tubuh Eli. Suasana kamar yang tadinya hangat karena obrolan domestik kini berubah total menjadi medan pelampiasan nafsu yang tidak terkendali. Tidak ada lagi kata lembut atau tawa kecil, yang ada hanya suara napas yang berat dan bunyi gesekan yang makin intens di dalam kamar yang tertutup rapat tersebut.
Abah benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak lagi memedulikan pakaian Eli yang sudah berantakan atau rintihan anaknya yang mulai terdengar serak. Kalau tadi mereka cuma bermain di permukaan kulit yang licin karena minyak urut, sekarang keinginan Abah jauh lebih menuntut dan berbahaya.
"Bah, jangan di dalam atuh! Tadi kan janjinya cuma di luar saja, jangan begini caranya, Bah!" Eli berusaha sekuat tenaga buat mendorong bahu ayahnya yang terasa kaku seperti batu.
Abah sama sekali tidak menjawab. Dia justru makin menekan tubuh Eli ke kasur sampai sprei di bawahnya kusut masai. Tangannya yang kasar mencengkeram rahang Eli, memaksa anaknya itu buat menatap matanya yang sudah gelap total.
"Sudah, diam saja kamu, Neng. Nurut saja sama Abah, jangan bikin susah," desis Abah dengan suara yang berat dan mengancam.
Eli menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya mulai menetes di sudut mata. "Nggak mau, Bah! Lepasin! Aku takut kalau begini, jangan dimasukin!"
Tapi teriakan Eli itu justru makin memicu gairah Abah yang sedang meledak-ledak. Sensasi menaklukan perlawanan ini terasa jauh lebih nikmat dibanding sebelumnya. Tanpa memberikan aba-aba atau persiapan apa pun, Abah langsung memposisikan dirinya dengan paksa.
Blessss.
Eli tersentak hebat sampai punggungnya melengkung ke atas. Rasa sakit yang tajam dan mendadak itu bikin dia hampir kehilangan napas buat sesaat. Suaranya tertahan di tenggorokan, hanya keluar sebagai erangan pendek yang sangat menyakitkan.
"Aduh, Gusti... sakit, Bah! Keluarin dulu, perih banget ini!" Eli merintih sambil mencengkeram lengan Abah sampai kukunya membekas di sana.
Abah justru mengerang puas. Sensasi sempit dan hangat yang dia rasakan sekarang benar-benar jauh berbeda dibanding cuma gesekan di luar tadi. Dia tidak berhenti, malah mulai melakukan gerakan yang sangat kasar dan tidak beraturan, mengabaikan kondisi Eli yang masih syok karena serangan mendadak itu.
"Tahan saja sedikit, nanti juga enak sendiri," gumam Abah sambil terus memacu gerakannya tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Kamar yang pengap itu kini penuh dengan suara napas yang tidak beraturan. Eli hanya bisa pasrah dengan mata terpejam rapat, membiarkan ayahnya melampiaskan seluruh nafsu yang selama ini tertahan dalam posisi yang benar-benar memaksanya buat tunduk. Tiap gerakan Abah yang makin beringas cuma bikin Eli makin tidak berdaya di atas kasurnya sendiri.
Abah benar-benar sudah tidak peduli lagi pada hubungan darah di antara mereka. Pikirannya sudah tertutup gelap, hanya fokus pada sensasi yang jauh lebih nikmat dibanding sekadar gesekan di luar tadi. Gerakan pinggulnya mulai naik turun dengan ritme yang semakin cepat dan bertenaga, seolah-olah dia sedang melampiaskan seluruh sisa tenaganya di atas tubuh Eli yang sudah tidak berdaya.
Air mata Eli mulai mengalir deras membasahi bantal di bawah kepalanya. Dia terus mencoba menolak dengan dorongan lemah di bahu Abah, tapi kenyataannya tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda. Rasa sakit yang tajam itu perlahan bercampur dengan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya. Tanpa dia sadari, pinggulnya yang tadi kaku perlahan mulai mengikuti irama gerakan Abah yang semakin beringas.
"Nah, gitu dong Neng, jangan dilawan terus. Ikutin saja permainannya, kan rasanya enak juga toh," bisik Abah dengan napas yang makin memburu tepat di depan wajah Eli.
Eli hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia merasa sangat malu dan berdosa, tapi di sisi lain dia tidak bisa membohongi reaksi tubuhnya sendiri yang mulai menikmati setiap tekanan yang diberikan ayahnya. Dalam kondisi yang setengah sadar dan penuh tekanan itu, pikirannya mulai melayang menjauh dari realita yang menjijikkan ini.
"Jaehyun... Jaehyun..." gumam Eli dengan suara yang nyaris tidak terdengar di sela isak tangisnya.
Dia membayangkan sosok lain yang ada di atasnya sekarang, bukan ayahnya yang berbau minyak urut dan keringat. Nama itu terus dia sebut sebagai pelarian dari rasa sakit dan bersalah yang menghimpit dadanya.
Abah yang mendengar gumaman itu tidak terlalu peduli siapa yang sedang disebut anaknya. Dia justru semakin memacu gerakannya dengan lebih liar. Suara gesekan dan napas yang berat memenuhi kamar yang tertutup rapat tersebut. Eli terus menangis, tapi gerakan pinggulnya yang semakin sinkron dengan ayahnya menunjukkan kalau dia sudah benar-benar tenggelam dalam sensasi yang dipaksakan itu.
"Sebut terus saja namanya, Neng, yang penting kamu layani Abah sampai puas sekarang mah," geram Abah sambil mencengkeram erat paha Eli agar posisinya tidak bergeser sedikit pun.

