Abah sudah berdiri di pinggir kasur, tangannya baru saja hendak memasukkan kemeja ke dalam celana saat matanya kembali melirik Eli yang sedang merapikan sprei. Rambut Eli yang baru saja diikat itu menyisakan leher belakang yang masih sedikit basah karena keringat. Entah karena apa, rasa puas yang tadi sempat dirasakan Abah tiba-tiba hilang begitu saja, berganti dengan gejolak yang jauh lebih panas dan menuntut.
"Neng, sebentar dulu," suara Abah berubah, tidak lagi santai seperti tadi.
Eli menoleh dengan raut bingung. "Kenapa lagi, Bah? Buruan, nanti beneran kena macet di jalan."
Tanpa menjawab, Abah justru melangkah mendekat dengan cepat. Tangannya langsung mencengkeram kedua pergelangan tangan Eli dan menekannya kuat ke atas kasur. Gerakannya kasar, sangat berbeda dengan cara dia menyentuh Eli sebelumnya.
"Aduh, Bah! Sakit, jangan kenceng-kenceng megangnya. Lepasin dulu atuh, katanya tadi mau langsung jalan," seru Eli sambil berusaha menarik tangannya, namun tenaga Abah jauh lebih besar.
Wajah Abah kini berada tepat di depan wajah Eli, matanya tampak gelap dan tidak fokus. "Abah masih belum puas ternyata, Neng. Tadi mah cuma pembukaan saja, sekarang Abah mau yang beneran."
"Tapi kan tadi udah keluar, Bah. Eli juga capek, baju udah rapi begini masa mau diulang lagi. Jangan sekarang atuh, minggu depan saja kalau Abah ke sini lagi," Eli mencoba menolak dengan nada bicara yang masih berusaha tenang, meski jantungnya mulai berdegup kencang karena melihat gelagat ayahnya yang tidak biasa.
Abah tidak peduli dengan penolakan itu. Dia langsung menindih tubuh Eli dengan seluruh berat badannya, mengabaikan rintihan anaknya yang merasa sesak. Satu tangannya yang bebas bergerak kasar menarik paksa pakaian yang baru saja dikenakan Eli sampai terdengar bunyi jahitan yang robek.
"Bah! Jangan begini, ini baju baru Eli lho! Lepasin dulu, nggak mau kalau kayak gini caranya!" Eli mulai memberontak lebih keras, kakinya menendang-nendang berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh kekar di atasnya.
"Diam saja kamu, Neng! Nggak usah banyak protes, toh kamu juga biasanya nurut sama Abah kan? Sudah, layani saja jangan bikin Abah makin emosi," bentak Abah dengan nada tinggi yang membuat Eli seketika menciut.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Eli untuk bicara lagi, Abah membungkam mulut anaknya dengan ciuman yang sangat kasar dan memaksa. Eli hanya bisa mengeluarkan suara erangan tertahan di balik dekapan itu, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa sakit dan takut yang mulai menjalar. Perlawanannya perlahan melemah saat Abah semakin beringas dan tidak terkendali dalam melakukan aksinya di atas kasur sempit tersebut.
Abah sama sekali tidak menghiraukan rintihan Eli yang mulai terdengar serak. Justru rontaan dan usaha Eli buat melepaskan diri itu malah bikin adrenalinnya naik berkali lipat. Ada perasaan menang yang aneh saat dia berhasil mengunci pergerakan anaknya yang sudah tidak berdaya di bawah himpitan tubuhnya sendiri.
"Bah, sakit, jangan dipaksa begini," suara Eli terdengar makin parau di sela napasnya yang mulai sesak.
"Sudah diam saja, Neng, makin kamu lawan malah makin bikin Abah nafsu," sahut Abah dengan napas yang sudah benar-benar memburu di telinga Eli.
Sensasi saat melakukan paksaan ini terasa jauh lebih tajam dan menantang bagi Abah dibanding sebelumnya yang penuh dengan obrolan santai. Ada kepuasan berbeda ketika dia melihat Eli yang biasanya tenang kini tampak ketakutan dan tidak bisa berkutik sedikit pun. Baginya, penolakan Eli justru menjadi pemicu yang membuat gairahnya makin meledak-ledak.
Eli yang awalnya mencoba melawan habis-habisan perlahan mulai kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa remuk karena tekanan yang sangat kuat dari Abah. Setiap kali dia mencoba bergerak sedikit saja, cengkeraman tangan Abah di pergelangan tangannya makin mengencang sampai kulitnya memerah.
"Aduh, Bah, pelan-pelan," rintih Eli lagi saat Abah melakukan gerakan yang sangat kasar tanpa memedulikan kondisi Eli sama sekali.
Abah justru makin beringas. Dia benar-benar menikmati setiap detik di mana dia memegang kendali penuh atas tubuh Eli. Suasana kamar yang tadinya hangat karena obrolan domestik kini berubah total menjadi medan pelampiasan nafsu yang tidak terkendali. Tidak ada lagi kata lembut atau tawa kecil, yang ada hanya suara napas yang berat dan bunyi gesekan yang makin intens di dalam kamar yang tertutup rapat tersebut.
Abah benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak lagi memedulikan pakaian Eli yang sudah berantakan atau rintihan anaknya yang mulai terdengar serak. Kalau tadi mereka cuma bermain di permukaan kulit yang licin karena minyak urut, sekarang keinginan Abah jauh lebih menuntut dan berbahaya.
"Bah, jangan di dalam atuh! Tadi kan janjinya cuma di luar saja, jangan begini caranya, Bah!" Eli berusaha sekuat tenaga buat mendorong bahu ayahnya yang terasa kaku seperti batu.
Abah sama sekali tidak menjawab. Dia justru makin menekan tubuh Eli ke kasur sampai sprei di bawahnya kusut masai. Tangannya yang kasar mencengkeram rahang Eli, memaksa anaknya itu buat menatap matanya yang sudah gelap total.
"Sudah, diam saja kamu, Neng. Nurut saja sama Abah, jangan bikin susah," desis Abah dengan suara yang berat dan mengancam.
Eli menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya mulai menetes di sudut mata. "Nggak mau, Bah! Lepasin! Aku takut kalau begini, jangan dimasukin!"
Tapi teriakan Eli itu justru makin memicu gairah Abah yang sedang meledak-ledak. Sensasi menaklukan perlawanan ini terasa jauh lebih nikmat dibanding sebelumnya. Tanpa memberikan aba-aba atau persiapan apa pun, Abah langsung memposisikan dirinya dengan paksa.
Blessss.
Eli tersentak hebat sampai punggungnya melengkung ke atas. Rasa sakit yang tajam dan mendadak itu bikin dia hampir kehilangan napas buat sesaat. Suaranya tertahan di tenggorokan, hanya keluar sebagai erangan pendek yang sangat menyakitkan.
"Aduh, Gusti... sakit, Bah! Keluarin dulu, perih banget ini!" Eli merintih sambil mencengkeram lengan Abah sampai kukunya membekas di sana.
Abah justru mengerang puas. Sensasi sempit dan hangat yang dia rasakan sekarang benar-benar jauh berbeda dibanding cuma gesekan di luar tadi. Dia tidak berhenti, malah mulai melakukan gerakan yang sangat kasar dan tidak beraturan, mengabaikan kondisi Eli yang masih syok karena serangan mendadak itu.
"Tahan saja sedikit, nanti juga enak sendiri," gumam Abah sambil terus memacu gerakannya tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Kamar yang pengap itu kini penuh dengan suara napas yang tidak beraturan. Eli hanya bisa pasrah dengan mata terpejam rapat, membiarkan ayahnya melampiaskan seluruh nafsu yang selama ini tertahan dalam posisi yang benar-benar memaksanya buat tunduk. Tiap gerakan Abah yang makin beringas cuma bikin Eli makin tidak berdaya di atas kasurnya sendiri.
Abah benar-benar sudah tidak peduli lagi pada hubungan darah di antara mereka. Pikirannya sudah tertutup gelap, hanya fokus pada sensasi yang jauh lebih nikmat dibanding sekadar gesekan di luar tadi. Gerakan pinggulnya mulai naik turun dengan ritme yang semakin cepat dan bertenaga, seolah-olah dia sedang melampiaskan seluruh sisa tenaganya di atas tubuh Eli yang sudah tidak berdaya.
Air mata Eli mulai mengalir deras membasahi bantal di bawah kepalanya. Dia terus mencoba menolak dengan dorongan lemah di bahu Abah, tapi kenyataannya tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda. Rasa sakit yang tajam itu perlahan bercampur dengan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya. Tanpa dia sadari, pinggulnya yang tadi kaku perlahan mulai mengikuti irama gerakan Abah yang semakin beringas.
"Nah, gitu dong Neng, jangan dilawan terus. Ikutin saja permainannya, kan rasanya enak juga toh," bisik Abah dengan napas yang makin memburu tepat di depan wajah Eli.
Eli hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia merasa sangat malu dan berdosa, tapi di sisi lain dia tidak bisa membohongi reaksi tubuhnya sendiri yang mulai menikmati setiap tekanan yang diberikan ayahnya. Dalam kondisi yang setengah sadar dan penuh tekanan itu, pikirannya mulai melayang menjauh dari realita yang menjijikkan ini.
"Jaehyun... Jaehyun..." gumam Eli dengan suara yang nyaris tidak terdengar di sela isak tangisnya.
Dia membayangkan sosok lain yang ada di atasnya sekarang, bukan ayahnya yang berbau minyak urut dan keringat. Nama itu terus dia sebut sebagai pelarian dari rasa sakit dan bersalah yang menghimpit dadanya.
Abah yang mendengar gumaman itu tidak terlalu peduli siapa yang sedang disebut anaknya. Dia justru semakin memacu gerakannya dengan lebih liar. Suara gesekan dan napas yang berat memenuhi kamar yang tertutup rapat tersebut. Eli terus menangis, tapi gerakan pinggulnya yang semakin sinkron dengan ayahnya menunjukkan kalau dia sudah benar-benar tenggelam dalam sensasi yang dipaksakan itu.
"Sebut terus saja namanya, Neng, yang penting kamu layani Abah sampai puas sekarang mah," geram Abah sambil mencengkeram erat paha Eli agar posisinya tidak bergeser sedikit pun
Revisi cerpen bab berikut ini.
Pada NARASI DITULIS BAKU.
Pada bagian dialog rombak harus diucapkan seperti obrolan sehari-hari.
Hindari dialog super singkat.
Hindari narasi sepotong-sepotong.
Terdapat Dialog domestik.
tanpa em-dash (—).