Bab 1: Basah Sebelum Masuk
Hujan turun sejak pukul tiga sore.
Bukan sekadar rintik, melainkan hujan deras yang datang tiba-tiba tanpa tanda. Oniel sudah duduk di sofa sejak tadi, laptop bertumpu di atas bantal, earphone menutup kedua telinganya.
Rumah terasa lengang.
Mama sudah pergi sejak pagi, membawa kostum tari yang tersusun rapi dalam koper kecil. Ayah ikut mengantar seperti biasa. Oniel hanya sempat menjawab singkat dari balik selimut sebelum kembali tidur.
Tidak ada jadwal hari ini. Besok juga tidak ada. Untuk pertama kali dalam beberapa minggu, waktunya benar-benar kosong. Dia tidak tahu harus mengisinya dengan apa. Maka, dia memilih diam.
Suara kunci berputar memecah keheningan.
Oniel melepas satu earphone. Kepalanya sedikit terangkat. Pintu terbuka, membiarkan suara hujan masuk sejenak sebelum tertutup lagi.
Cornelio berdiri di depan pintu. Kemeja kantornya basah di bagian bahu. Tas kerja dipegang di depan dada, seperti terlambat dijadikan pelindung. Rambutnya lembap, wajahnya tampak kesal.
Tatapannya langsung menuju sofa.
"Nyokap sama bokap ke mana?"
Oniel tidak langsung menjawab. Ia menekan pause di layar, lalu melepas earphone satunya lagi. "Pergi. Nyokap ada pentas, bokap yang nganter."
Cornelio mendecakkan pelan, kemudian menutup pintu dengan lebih rapat. "Hujan gini malah keluar juga, ya. Tadi jalan lumayan macet."
Oniel hanya mengangguk kecil, matanya kembali ke layar yang sudah diam. "Iya, dari tadi juga hujannya nggak reda."
"Balik jam berapa katanya?" Cornelio menaruh tasnya di meja dekat pintu, lalu mengusap rambutnya yang basah dengan telapak tangan.
Oniel mengedikkan bahu, kali ini menoleh sedikit. "Nggak tahu. Tadi gue juga cuma bangun bentar, terus tidur lagi. Nggak sempet nanya."
Cornelio menghela napas panjang, lalu berjalan beberapa langkah mendekat ke ruang tengah. Ia berdiri sebentar, memperhatikan Oniel yang kembali menatap layar.
"Lo dari tadi di situ aja?" tanyanya lagi.
"Iya. Nonton doang. Nggak ngapa-ngapain juga," jawab Oniel santai, tanpa merasa perlu menjelaskan lebih jauh.
Cornelio mengangguk pelan. "Makan udah?"
Oniel melirik ke arah meja makan yang kosong. "Belum. Nggak lapar juga sih."
"Minimal nasi ada di rice cooker?" nada suara Cornelio mulai terdengar lebih biasa, tidak setegang saat pertama masuk.
"Ada. Tadi pagi nyokap masak. Lauknya paling di kulkas."
Cornelio diam sebentar, lalu berjalan ke arah dapur. Suara kulkas dibuka terdengar singkat, disusul bunyi tutup plastik yang digeser.
"Dingin semua," katanya dari dapur. "Lo nggak kepikiran ngangetin dulu apa gimana?"
Oniel mengangkat bahu lagi, kali ini sambil sedikit tersenyum tipis. "Nanti juga. Lagi males gerak."
Cornelio kembali muncul dari dapur sambil membawa botol air minum. Ia membuka tutupnya, minum beberapa teguk, lalu menatap Oniel lagi.
"Ya udah. Gue mandi dulu. Badan lengket kena hujan."
"Hm."
Cornelio sempat berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tidak jadi. Ia hanya mengangguk kecil dan berjalan ke arah kamar.
Suara langkah kakinya yang berat perlahan menghilang.
Oniel memasang kembali earphone-nya. Layar laptop kembali bergerak, tawa dari acara yang diputar terdengar samar di telinganya.
Di luar sana, hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.
Dua belas menit kemudian, Cornelio muncul kembali.
Kemeja kantornya sudah berganti kaus rumah, celana bahan ditukar dengan jogger. Rambutnya sedikit berantakan karena baru saja diusap handuk dengan cepat. Ia berjalan ke dapur tanpa mengatakan apa pun. Suara pintu kulkas terbuka lalu tertutup terdengar jelas, disusul bunyi plastik wadah yang bergeser.
Oniel melirik sekilas dari balik layar laptopnya.
Cornelio berdiri di depan kulkas sambil memperhatikan isinya. Ia mengambil salah satu wadah, membukanya sebentar, lalu mendekatkannya ke hidung. Keningnya langsung berkerut tipis. Wadah itu ditutup lagi tanpa banyak pertimbangan.
"Masih enak nggak sih ini," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.
Oniel akhirnya menoleh sedikit. "Yang ayam itu?"
"Iya. Kayaknya udah berubah. Bau kulkas banget," jawab Cornelio, lalu menggeser wadah lain sekadar mengecek, tetapi hasilnya tidak jauh berbeda.
Oniel menghela napas kecil. "Padahal tadi pagi masak."
"Iya, tapi rasanya nggak yakin gue makan itu sekarang," kata Cornelio sambil mengembalikan semuanya ke tempat semula.
Ia menutup kulkas pelan, lalu berdiri sebentar seolah masih berpikir.
Oniel baru angkat suara lagi. "Berarti pesen aja kali ya. Gue juga belum makan dari tadi."
Cornelio melirik sekilas ke arah ruang tengah. "Lo laper?"
"Lumayan. Dari siang belum makan berat."
Cornelio mengangguk kecil. "Ya udah, pesen aja dulu buat lo. Gue nanti nyusul kalau emang jadi laper. Perut gue masih aneh, tadi sempet makan roti di kantor."
"Oke. Nanti gue kabarin kalau udah pesen," jawab Oniel.
Cornelio tidak menanggapi lagi. Ia hanya mengangguk, lalu membilas tangannya sebentar di wastafel.
"Gue ke kamar dulu," ucapnya setelah itu.
"Iya."
Langkah Cornelio kembali menjauh menuju kamar.
Oniel menarik selimutnya lebih tinggi, lalu memasang kembali earphone miliknya. Layar laptop kembali bergerak, suara tawa dari acara yang diputar mengisi ruang yang masih terasa sepi.
Di luar, hujan masih turun deras. Langit sudah gelap sepenuhnya.
Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan
Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan
Jam setengah delapan, Oniel akhirnya memutuskan untuk memesan makan.
Ia berteriak ke arah kamar Cornelio dari sofa tanpa beranjak sedikit pun. "Bang, mau makan apa? Gue mau pesen sekarang, biar nggak kemaleman."
Tidak ada jawaban.
Oniel menghela napas, lalu berteriak lagi, kali ini lebih keras sambil melempar bantal kecil ke arah pintu kamar. "Bang, denger nggak sih?"
Pintu kamar terbuka sedikit. Cornelio muncul dengan wajah orang yang baru saja setengah tertidur. Matanya masih merah, rambutnya sedikit berantakan lagi.
"Apa sih," katanya pelan.
"Mau makan apa? Gue mau pesen sekarang. Tadi lo juga bilang nggak yakin makan yang di kulkas," ucap Oniel sambil tetap fokus ke layar ponselnya.
Cornelio menyandarkan bahu di kusen pintu. "Samain aja sama yang kamu pesen. Gue nggak mau mikir."
Oniel langsung berdecak. "Samain itu bukan nama menu, Bang. Gue mau pesen ayam. Lo mau ayam juga atau beda? Biar sekalian satu tempat."
Cornelio mengusap wajahnya sebentar, seperti baru sadar sepenuhnya. "Ya udah, ayam aja. Yang biasa. Jangan yang aneh-aneh bumbunya."
Oniel mengangguk kecil. "Pedes nggak?"
"Nggak usah. Lambung gue lagi nggak enak kalau makan pedes malam-malam."
"Ya udah, gue ambil yang original."
Cornelio tidak langsung kembali ke kamar. Ia berdiri sebentar, menatap ke arah televisi yang menyala tanpa suara, lalu akhirnya melangkah ke ruang tengah. Ia duduk di ujung sofa yang lain, menjaga jarak dari Oniel yang kini sudah duduk lebih tegak.
Oniel menyelesaikan pesanannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Keheningan yang terjadi bukan sesuatu yang canggung. Lebih seperti kebiasaan yang sudah lama terbentuk, ketika dua orang tidak merasa perlu terus berbicara untuk tetap merasa dekat.
Cornelio meraih remote, lalu menaikkan volume televisi sedikit.
"Nonton apa sih? Dari tadi gue denger suara ketawa-ketawa dari laptop," tanyanya tanpa menoleh.
"Variety show yang kemarin itu," jawab Oniel sambil memeluk lututnya.
"Yang Korea lagi?"
"Iya. Lagi males mikir. Kalau nonton yang udah tahu, tinggal ngikut aja."
Cornelio mengangguk pelan. Ia tidak berkomentar lagi. Perhatiannya beralih ke layar televisi yang menampilkan berita malam.
Oniel meliriknya sebentar.
"Bang, lo masih di kantor yang di pusat itu, kan?"
Cornelio menoleh sekilas. "Masih. Kenapa?"
"Nggak tahu. Cuma kepikiran aja. Soalnya tiap pulang lo kelihatan capek terus."
Cornelio menghela napas pelan. "Masih di sana. Belum dapet yang lebih deket. Sekarang susah."
Oniel mengangguk kecil. "Iya juga sih."
Percakapan kembali berhenti. Suara televisi mengisi ruang. Di luar, hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya.
Dua puluh menit kemudian, pesanan mereka datang.
Mereka makan di ruang tengah. Tidak ada yang berpindah ke meja makan. Bungkus makanan dibuka di atas coffee table, sendok plastik dipakai tanpa banyak suara.
Cornelio makan dengan tenang, fokus pada makanannya. Oniel makan lebih santai, sesekali melirik ponsel, lalu kembali melihat televisi.
"Kurang pedes sih ini," komentar Oniel setelah beberapa suap.
Cornelio tidak menoleh. "Kan lo sendiri yang pilih yang biasa."
"Itu kan buat lo."
"Tadi gue bilang terserah."
Oniel menghela napas pendek. "Terserah itu bukan jawaban, Bang. Dari tadi gue udah bilang."
Cornelio tidak membalas dengan kata-kata. Ia tetap makan, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir seperti menahan senyum.
Oniel menyadari itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya menoleh ke arah lain, seolah tidak melihat, padahal jelas menangkap reaksi kecil itu.
Makan malam selesai tanpa kejadian berarti. Bungkus makanan dibuang, gelas dikembalikan ke dapur. Cornelio membereskan bagiannya sendiri. Oniel menyusul setelah mendapat tatapan yang tidak perlu dijelaskan.
Mereka kembali duduk di sofa.
Kali ini jarak di antara mereka sedikit berkurang.
Cornelio yang lebih dulu berbicara, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Sibuk banget sekarang?"
Oniel menoleh. "Hm?"
"JKT48. Lagi sibuk?"
"Oh." Oniel berpikir sejenak. "Lumayan. Kemarin habis rangkaian show. Sekarang agak longgar."
Cornelio mengangguk pelan.
Oniel kembali memeluk lututnya. "Emang kenapa nanya?"
"Jarang lihat lo di rumah."
Kalimat itu diucapkan datar. Namun Oniel sempat diam beberapa detik.
"Lo perhatiin juga ternyata," katanya pelan, bukan menyindir, lebih ke heran.
Cornelio tidak langsung menjawab. "Nyokap yang sering ngomong."
"Ngomongin apa?"
"Katanya lo jarang pulang. Kalau pulang juga udah malam, langsung tidur."
Oniel mengembuskan napas pelan. "Ya emang jadwalnya begitu."
"Oh."
Hening lagi.
"Lo nggak pernah nonton show gue ya," ucap Oniel tiba-tiba.
Cornelio melirik. "Pernah."
Oniel langsung menoleh. "Kapan?"
"Waktu pertama debut."
Oniel menghela napas kecil, lalu tertawa tipis. "Itu udah lama banget."
"Emang."
Oniel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Jujur banget."
Cornelio tidak bereaksi, tetapi juga tidak mengalihkan pandangan.
Oniel meluruskan kakinya di sofa. Ujung kakinya hampir menyentuh paha Cornelio. Ia tidak menariknya kembali.
"Kapan-kapan nonton lagi lah."
Cornelio menjawab singkat. "Nanti."
"Nanti itu kapan?"
"Nanti."
Oniel menggeleng pelan, senyumnya masih ada.
Cornelio tetap menatap televisi, tetapi cara duduknya berubah. Bahunya tidak setegang tadi.
Di luar, hujan berhenti tanpa mereka sadari. Yang tersisa hanya suara televisi yang pelan dan napas dua orang yang perlahan terbiasa kembali berada dalam satu ruang yang sama.
Bab 3: Tidak Jadi Pulang
Malam berjalan jauh lebih lambat daripada biasanya. Televisi masih menyala di depan mereka, namun tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikan siaran yang diputar. Oniel duduk dengan posisi setengah rebah, membiarkan selimut menutupi sebagian besar tubuhnya agar tetap hangat. Sementara itu, Cornelio berada di ujung sofa yang lain, jemarinya sesekali menekan tombol remote tanpa tujuan yang jelas.
Keheningan itu pecah saat ponsel di atas meja bergetar pendek. Oniel meraih benda tersebut dan membaca pesan yang masuk dengan mata yang sedikit menyipit. Setelah terdiam sejenak, ia mengembuskan napas panjang.
"Bang, kayaknya orang tua kita nggak jadi balik deh malam ini," ucap Oniel sambil tetap memandangi layar ponselnya.
Cornelio mengalihkan pandangan sepenuhnya dari televisi, wajahnya menunjukkan sedikit rasa heran. "Kok tiba-tiba? Padahal tadi katanya cuma bentar di sana."
"Mama bilang hujan di sana masih deras banget, terus jalanan juga nggak enak kalau dipaksain buat pulang sekarang. Kayaknya mereka milih buat menginap aja sekalian di rumah saudara," jawab Oniel setelah membaca ulang pesan tersebut. Ia kemudian meletakkan ponselnya kembali dan menatap Cornelio. "Oia, Mama juga pesan supaya besok kita jangan sampai lupa sarapan. Ada nasi di magic com yang harus dihabisin."
Cornelio mengangguk paham sambil menyandarkan punggungnya. "Ya sudahlah, emang bahaya kalau nekat nyetir kondisi hujan begini. Paling besok pagi mereka baru sampai sini."
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat. Cornelio memperhatikan Oniel yang masih betah meringkuk di atas sofa. "Lo nggak mau masuk ke kamar aja? Sudah lumayan malam juga ini."
"Lagi malas sendirian di dalam kamar. Tadi sore kan gue ketiduran lama banget, jadinya sekarang malah merasa seger dan belum mau tidur," sahut Oniel sambil meluruskan kakinya hingga ujung jarinya hampir menyentuh paha Cornelio.
Oniel kemudian bangkit sebentar untuk mematikan lampu ruang tengah. Ruangan itu seketika meredup, menyisakan cahaya remang yang berasal dari layar televisi saja. Setelah kembali duduk, ia merasa suasana di antara mereka menjadi sedikit berbeda.
"Lo sadar nggak sih kalau belakangan ini kita jarang banget bisa duduk santai begini?" tanya Cornelio tiba-tiba dengan nada suara yang lebih rendah.
Oniel menoleh sedikit. "Jarang gimana maksudnya?"
"Ya begini, cuma duduk berdua tanpa harus buru-buru pergi atau masuk kamar masing-masing. Dulu rumah ini selalu berisik sama suara kita, tapi sekarang kadang buat ketemu di ruang tengah aja susah," jelas Cornelio sambil menatap lurus ke depan.
Oniel tersenyum tipis mendengarnya. "Ya mau gimana lagi, jadwal gue kan emang lagi nggak jelas banget belakangan ini. Pulang selalu larut dan langsung pengen istirahat."
"Gue juga sama sih, kerjaan di kantor lagi numpuk banget sampai jarang ada waktu buat sekadar ngobrol begini di rumah," timpal Cornelio. Ia mengembuskan napas pendek. "Lucu aja, kita tinggal satu rumah tapi rasanya kayak ketemu cuma karena kebetulan."
Cornelio membetulkan posisi duduknya, bergeser perlahan hingga jarak di antara mereka terpangkas banyak. Oniel tidak menunjukkan tanda ingin menjauh. Ia justru tetap di posisinya, membiarkan kehadiran Cornelio terasa sangat dekat di sampingnya.
Cornelio menoleh, memperhatikan wajah Oniel di bawah cahaya televisi yang temaram. Tangannya kemudian terangkat secara perlahan. Dengan gerakan lembut yang tidak terburu-buru, ia menyentuh helai rambut Oniel yang jatuh menutupi dahi. Ujung jarinya menyapu pelan kulit wajah Oniel, sebuah gerakan yang jauh dari kesan candaan yang biasa mereka lakukan.
Oniel terdiam, namun ia tidak memalingkan wajah. Ia justru membalas tatapan Cornelio dengan cara yang lebih tenang dan sadar. Jarak yang ada sekarang sudah terlalu dekat untuk dianggap sebagai interaksi biasa antar penghuni rumah.
"Oniel," panggil Cornelio dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
Oniel tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia membiarkan Cornelio terus menatapnya. Ketika Cornelio mulai memiringkan wajah dan mendekat, Oniel tetap pada posisinya, seolah memberikan izin tanpa perlu bicara.
Sentuhan itu akhirnya terjadi. Awalnya hanya sebuah tekanan lembut yang terasa ragu di permukaan bibir Oniel, namun perlahan berubah menjadi lebih pasti. Oniel memejamkan matanya, merespons tautan itu dengan tarikan napas yang mulai tidak beraturan. Rasa hangat menjalar dengan cepat saat Cornelio memperdalam pagutan mereka, mengubah suasana ruang tengah yang dingin menjadi terasa begitu intim. Tidak ada keterkejutan, hanya ada penerimaan yang sunyi di antara deru suara televisi yang kini terlupakan.
Sentuhan itu berakhir secepat saat ia dimulai. Cornelio menarik wajahnya sedikit, hanya beberapa sentimeter, membiarkan napas mereka yang menderu saling beradu di udara yang mendadak terasa tipis. Oniel masih memejamkan mata, jemarinya meremas pelan pinggiran selimut yang menutupi pangkuannya. Ada jeda yang sangat sunyi di sana, seolah mereka berdua sedang mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Refleks itu terasa ganjil namun nyata. Cornelio menatap bibir Oniel yang sedikit terbuka di bawah cahaya televisi yang berpendar redup. Dadanya naik-turun dengan tidak beraturan.
"Sorry," bisik Cornelio pelan, meski tangannya masih tertahan di rahang Oniel, seolah enggan untuk benar-benar menjauh.
Oniel akhirnya membuka mata. Tatapannya tampak sedikit kosong, namun tidak ada kemarahan di sana. Ia justru menarik napas panjang, menatap Cornelio dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Rasa canggung yang sempat muncul seolah segera terkubur oleh sesuatu yang jauh lebih mendesak untuk dituntaskan.
Suasana di ruang tengah mendadak jadi sangat pengap meskipun hujan di luar sudah reda. Cornelio masih terdiam, namun tatapannya tidak lepas dari Oniel. Ia mengatur napasnya yang berat, mencoba menguasai diri yang sebenarnya sudah di ambang batas.
Cornelio perlahan berdiri lebih dulu. Ia membetulkan posisi jogger miliknya sebentar, lalu mengulurkan tangan ke arah Oniel yang masih meringkuk di balik selimut. Ia tidak langsung bicara, hanya menunggu jemari Oniel menyambut uluran tangannya untuk membantu adiknya itu bangkit dari sofa.
"Di sini nggak enak, Niel. Pindah ke dalam aja yuk," ajak Cornelio dengan suara yang rendah dan agak serak.
Oniel menatap tangan yang terulur itu cukup lama. Ia tahu persis pindah ke kamar bukan sekadar untuk tidur. Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang menuntut untuk dituntaskan, sesuatu yang tadi sempat terputus di sofa.
"Ke kamar lo?" tanya Oniel pelan, suaranya sedikit bergetar.
Cornelio mengangguk sekali. Ia tidak menjelaskan lebih jauh, namun sorot matanya yang gelap sudah cukup menjadi jawaban atas apa yang ia inginkan di dalam sana. Keheningan di antara mereka terasa makin menekan, membuat Oniel harus memalingkan wajah sejenak untuk menetralkan rasa canggung yang menyerang.
"Aneh banget lo, Bang," gumam Oniel pelan. Nada suaranya terdengar seperti sedang berusaha denial padahal jantungnya sendiri sudah berpacu tidak keruan.
Cornelio tidak membantah. Ia tetap bergeming dengan tangan yang masih terulur, menunggu Oniel berhenti bergelut dengan pikirannya sendiri. "Banget. Gue emang lagi aneh sekarang."
Oniel mengembuskan napas panjang. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya pada selimut, lalu akhirnya menyambut uluran tangan Cornelio. Cornelio menariknya perlahan, membantu Oniel berdiri hingga posisi mereka kini sangat dekat. Kulit mereka bersentuhan, terasa hangat dan sedikit lembap karena keringat dingin yang mulai muncul di telapak tangan.
Begitu mereka masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, Cornelio segera menutup pintu dan memutar kunci. Bunyi klik dari pintu itu seolah menjadi penanda bahwa dunia di luar sana sudah tidak lagi penting bagi mereka malam ini.
Bab 4: Tangan yang Diulurkan
Oniel tidak tahu kapan tepatnya kelopak matanya mulai terasa berat.
Laptop yang tadi memutar variety show sudah lama ditutup dan diletakkan di lantai. Televisi masih menyala, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar tahu acara apa yang sedang diputar di sana. Selimut yang tadinya hanya menutupi bahu Oniel, sekarang sudah melingkupi mereka berdua. Di antara kehangatan kain itu dan sisa dingin malam yang merayap masuk, Oniel tidak punya alasan lagi untuk tetap terjaga.
Kepalanya perlahan jatuh dan bersandar di bahu Cornelio.
Gerakan itu tidak sepenuhnya disengaja, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk menggeser posisi.
Cornelio terdiam. Hembusan napasnya berubah, menjadi lebih pelan dan seolah jauh lebih sadar akan kehadiran adiknya di sana. Matanya tidak lagi tertuju pada layar televisi.
Oniel berada dalam kondisi antara tidur dan terjaga, kondisi di mana filter pikirannya sudah tidak lagi bekerja dengan sempurna. Rasa hangat di bahu Cornelio terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama ada di sana, dan dia sedang tidak ingin kehilangannya.
"Bang," panggil Oniel lirih.
"Hm?"
Oniel tidak langsung melanjutkan ucapannya. Matanya masih setengah terpejam, menatap pendar cahaya dari televisi. "Berarti beneran nggak ada yang pulang malam ini ya?"
"Iya, nggak ada," sahut Cornelio pendek.
Hening kembali menyergap.
Sebenarnya itu bukan pertanyaan besar atau kalimat yang mendalam. Namun, cara Oniel mengucapkannya dengan suara pelan dan kepala yang masih bersandar di bahu, membuat kalimat itu memiliki makna yang sepenuhnya berbeda.
Cornelio menoleh pelan ke arah Oniel. Cahaya biru dari televisi menyentuh tulang pipinya, lekukan hidungnya, hingga bibirnya yang sedikit terbuka karena rasa kantuk. Rambut Oniel yang tidak diikat jatuh berantakan ke satu sisi, sebagian helaiannya menyentuh lengan Cornelio.
Sesuatu di dalam diri Cornelio bergerak. Tangannya terangkat pelan, lalu jemarinya menyentuh dan mengangkat dagu Oniel agar menghadap ke arahnya.
Oniel membuka mata.
Mereka saling menatap dalam jarak yang terlalu dekat, jarak yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk salah tafsir. Oniel tidak bergerak menjauh, sementara Cornelio tidak terlihat terburu-buru.
Lalu, Cornelio menundukkan kepalanya perlahan.
Ciuman itu berlangsung singkat dan tidak dramatis. Hanya pertemuan bibir dalam keheningan ruang tengah yang gelap, selama beberapa detik yang rasanya jauh lebih panjang dari hitungan waktu yang sebenarnya.
Cornelio yang menarik diri lebih dulu. Dia menatap Oniel, dan Oniel membalas tatapan itu dengan dalam.
Sunyi kembali menguasai ruangan. Beberapa menit berlalu hanya dengan iringan suara televisi yang rendah dan napas Cornelio yang mulai tidak beraturan. Pada satu titik, Cornelio kembali menoleh ke arah Oniel, memperhatikan profil wajah adiknya di bawah siraman cahaya biru.
"Kita nggak bisa di sini," kata Cornelio akhirnya. Suaranya terdengar serak.
Oniel menoleh sepenuhnya. "Kenapa emangnya?"
"Ini ruang tengah, Niel," Cornelio menatapnya tajam. "Gimana kalau nanti tiba-tiba ada yang..."
"Nggak akan ada yang pulang malam ini, Bang," potong Oniel cepat.
Mereka kembali saling mengunci pandangan. Cornelio tahu kalau dia benar, dan Oniel pun menyadari hal yang sama. Ruang tengah, dengan jendela yang tidak terkunci sempurna dan pintu depan yang hanya terpaut beberapa langkah, bukan tempat yang tepat untuk melanjutkan apa pun yang sedang terjadi di bawah selimut itu.
Cornelio bangkit berdiri.
Oniel mengangkat kepalanya, menatap sosok abangnya yang kini menjulang di hadapannya. Cornelio berdiri diam, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arah Oniel.
Oniel menatap tangan yang terulur itu untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, dia mengulurkan tangannya sendiri dan meletakkannya di sana.
Bab 5: Tepian
Kamar Cornelio jauh lebih gelap daripada ruang tengah.
Lampu tidak dinyalakan. Satu-satunya cahaya masuk dari celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa sisa pendar lampu jalanan yang redup dan hawa dingin malam. Oniel berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja ditutup oleh Cornelio di belakang mereka. Telapak tangannya masih terasa hangat, sisa dari genggaman abangnya di ruang tengah tadi.
Cornelio berdiri tepat di depannya.
"Jadi nggak nih?" tanya Cornelio. Suaranya rendah dan serak.
Oniel menatapnya lurus-lurus. "Lah, kok nanya? Kan lo yang narik gue ke sini tadi, Bang."
"Ya gue cuma nggak mau lo nyesel aja entar," sahut Cornelio pelan.
Oniel diam sejenak. Matanya mencari sesuatu di wajah Cornelio, mencoba menemukan ekspresi yang bisa dia jadikan alasan untuk mundur. Namun, dia tidak menemukan apa pun di sana.
"Ya udah sih," jawab Oniel akhirnya. "Nggak usah banyak tanya. Cepetan."
Cornelio mendekat. Tangannya naik ke wajah Oniel, ibu jarinya mengusap tulang pipi adiknya sekali dengan sangat pelan. Lalu dia mencium Oniel, jauh lebih dalam daripada saat mereka berada di sofa tadi. Tangannya memegang rahang Oniel, mengarahkan posisi kepala agar semakin dalam.
Oniel merespons. Tangannya naik ke dada Cornelio, menggenggam kain kaus rumah yang dikenakan abangnya itu hingga kusut. Cornelio menarik tubuh Oniel lebih dekat dengan satu tangan berada di punggung bawahnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka sekarang. Dada Oniel menempel rapat pada dada Cornelio, suhu tubuh mereka mulai bercampur dalam gelapnya kamar.
Oniel melepaskan ciuman itu sebentar, napasnya keluar tidak beraturan. "Bang, lampunya dong. Gelap banget, gue nggak mau kalau bener-bener gelap-gelapan gini."
Cornelio menyalakan lampu tidur kecil di atas nakas. Cahaya yang keluar berwarna kuning redup.
"Gini cukup?"
Oniel menoleh ke arah lampu, lalu kembali menatap abangnya. "Cukup. Makasih."
Cornelio kembali berdiri di depan Oniel. Tangannya melingkar ke pinggang, menarik adiknya itu hingga benar-benar rapat ke tubuhnya. Oniel sedikit berjinjit di ujung jari kakinya, sementara tangannya melingkar erat ke leher Cornelio.
Mereka berpelukan dalam diam. Itu bukan jenis pelukan kakak dan adik. Terlalu erat, terlalu sadar. Cornelio menarik napas panjang di sela rambut Oniel, sementara tangannya mulai menelusuri punggung dari atas ke bawah secara perlahan, tidak terburu-buru.
Tangannya berhenti sejenak di punggung bagian bawah. Dia merasakan lekukan tubuh di balik kain tipis baju rumah yang dikenakan Oniel. Lalu, dia meremasnya pelan, hanya satu kali.
Oniel spontan menahan napas di ceruk leher abangnya.
Cornelio meremasnya lagi. Kali ini lebih penuh, jari-jarinya mencengkeram dalam dan mengangkat sedikit.
Oniel mengeluarkan suara kecil yang tidak disengaja. "Bang."
"Hm?"
"Baju gue dulu kali, masa langsung main tangan aja ke situ," gumam Oniel pelan.
Sudut bibir Cornelio bergerak sedikit, nyaris tidak kelihatan. Tangannya kemudian meraih tepi kaus Oniel dan menariknya ke atas perlahan-lahan. Oniel mengangkat kedua tangannya untuk membantu, hingga kaus itu terlepas dan diletakkan begitu saja di lantai.
Cornelio menatap Oniel di bawah cahaya lampu tidur yang remang. Tangannya bergerak ke punggung Oniel, mencari pengait bra dengan jemarinya. Terdengar bunyi klik pelan saat pengaitnya terlepas. Tali bra itu melorot dari bahu Oniel, dan Cornelio yang menarik sisanya hingga jatuh.
Oniel secara refleks menyilangkan tangannya untuk menutupi dadanya.
"Jangan," kata Cornelio pelan. "Nggak usah ditutupin."
Oniel menurunkan tangannya perlahan, meski pipinya terasa sangat panas sekarang. "Aneh tahu Bang, dilihatin jelas kayak gitu."
"Gue tahu."
"Terus kenapa dilihatin lama-lama?"
"Karena bagus."
Oniel tidak punya jawaban untuk itu. Dia membuang muka sebentar ke arah lain, pura-pura memperhatikan pajangan di dinding kamar.
Cornelio berlutut di depannya. Tangannya meraih pinggang celana pendek Oniel, jemarinya menyangkut di karet celana dan pakaian dalam di baliknya sekaligus. Dia menariknya pelan ke bawah, melewati lutut, melewati pergelangan kaki, hingga terlepas sepenuhnya.
Cornelio berdiri kembali, menatap Oniel dari posisinya yang lebih tinggi. Matanya menelusuri tubuh adiknya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Mulai dari dada, lekukan pinggang, hingga ke bawah.
"Ih, Bang, nggak usah segitunya juga kali lihatnya," Oniel mengerutkan hidung, tangannya refleks mau nutupin badan tapi ditahan. "Creepy tahu nggak kalau lo diem doang gitu."
"Creepy gimana maksud lo? Orang emang lagi dilihatin juga," tanya Cornelio datar, tapi matanya nggak geser.
"Ya ya jangan gitu tatapannya. Lo natap gue kayak lagi lihat makanan yang mau lo sikat habis, sumpah," protes Oniel lagi.
"Ya emang lagi laper, mau gimana lagi?"
Oniel sempat membuka mulut, mau ngebales tapi mendadak kehilangan kata-kata. Itu bukan jawaban yang dia antisipasi dari seorang Cornelio yang biasanya gengsian.
Cornelio mendekat lagi, tangannya kembali mendarat di pinggang Oniel. Bibirnya menyentuh pelipis adiknya sebentar, hembusan napasnya terasa panas. "Santai aja kali, nggak usah tegang banget. Punya lo bagus padahal, gue aja baru sadar."
Oniel diam selama beberapa detik, ngerasain jantungnya yang makin nggak karuan. "Ya lo mana pernah sih bilang gitu sebelumnya? Yang ada juga lo komplain mulu kalau gue di rumah."
"Ya kan situasinya lagi beda sekarang, mana mungkin gue puji-puji lo pas lagi sarapan bareng Nyokap," sahut Cornelio pendek.
Oniel mengembuskan napas pelan, nggak berniat memperpanjang perdebatan itu karena dia juga mulai ngerasa gerah.
Cornelio melepas kausnya sendiri, lalu tangannya beralih ke celana jogging yang dia pakai. Karet celana itu ditarik ke bawah bersama pakaian dalamnya, dilepas sepenuhnya hingga jatuh ke lantai. Oniel menatap sosok di depannya secara utuh untuk pertama kali. Ada rasa aneh yang muncul pas dia sadar abangnya punya bentuk badan yang beneran dijaga.
Cornelio menangkap basah tatapan itu.
"Sekarang kita sama-sama nggak pakai apa-apa nih," gumam Oniel pelan, berusaha mencairkan suasana yang makin berat.
"Iya, biar adil kan?"
Cornelio menatapnya selama beberapa detik lagi, seolah lagi ngumpulin niat buat langkah selanjutnya. Tangannya bergerak ke bahu Oniel, lalu menekannya pelan ke arah bawah sebagai instruksi yang jelas.
Oniel menatap ke bawah, lalu mendongak lagi menatap abangnya dengan wajah bingung yang dibuat-buat. "Hah? Serius lo, Bang? Lo mau gue yang mulai duluan?"
"Iya, serius. Emang kenapa?"
"Aduh Bang, lo tahu sendiri kan gue ini orangnya gampang jijian kalau masalah begituan? Lo tau sendiri gue gimana kalau ada kotor dikit aja langsung heboh," Oniel mulai nego sambil masih berdiri tegak.
"Tahu, hafal banget gue soal itu," sahut Cornelio.
"Terus lo masih minta gue buat... itu? Nggak mau ganti menu apa?"
"Iya, gue tetep minta itu. Kenapa sih? Banyak nawar banget lo," Cornelio mulai kelihatan nggak sabar.
Oniel mengerutkan hidungnya lagi, bibirnya maju dikit karena kesel negonya gagal. Matanya melirik ke bawah sebentar sebelum kembali menatap wajah Cornelio yang udah nggak bisa diajak bercanda lagi. "Ya udah sih, nggak bisa langsung skip aja apa ke bagian yang lebih gampang?"
Cornelio cuma diem, tapi matanya nggak lepas dari Oniel, ngasih isyarat kalau nggak ada pilihan buat skip.
Oniel mendengus pelan, akhirnya nyerah juga. "Ya udah, oke. Tapi gue nggak tanggung jawab ya kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Terus janji, kalau gue capek terus tiba-tiba berhenti, lo nggak boleh protes lebih dari dua kali. Deal?"
Tangannya bergerak memegang bahu Cornelio sebagai tumpuan, lalu perlahan dia berlutut. Lututnya langsung bersentuhan dengan lantai kamar yang terasa dingin. Dia mendongak menatap Cornelio dengan ekspresi yang antara pasrah sama mau ketawa karena situasinya beneran gila.
"Awas ya kalau lo protes," ancam Oniel terakhir kali sebelum dia bener-bener mulai.
Lalu, dia mulai.
Caranya memang menunjukkan kalau dia sama sekali tidak berpengalaman. Ada keraguan di awal, terlalu banyak berhenti untuk sekadar mengatur napas, dan beberapa kali dia menarik diri sebentar dengan ekspresi yang jelas mencerminkan kalau dia masih belum sepenuhnya berdamai dengan situasi ini. Tapi, dia tidak berhenti sepenuhnya.
Cornelio membiarkan tangannya tetap berada di rambut Oniel. Dia tidak memaksa atau menekan, hanya menahannya di sana sebagai jangkar. Hembusan napasnya berubah, semakin tidak beraturan seiring berjalannya waktu.
Di satu titik, Oniel tiba-tiba berhenti dan menarik diri sepenuhnya. "Udah, kan? Segitu doang harusnya cukup."
"Belum," sahut Cornelio pendek.
"Menurut gue udah, Bang. Udah lah," protes Oniel sambil masih berlutut.
Cornelio menatapnya dari atas dengan rahang yang mengeras, matanya terlihat gelap. "Lanjutin."
"Nah, itu kan jatuhnya lo protes ya? Berarti ini protes lo yang pertama," Oniel menunjuk ke arah abangnya dengan wajah serius. "Ingat kan deal tadi? Lo cuma punya jatah protes satu kali lagi setelah ini."
Cornelio diam sebentar, mencoba mengatur ritme jantungnya yang berantakan. "Ya udah. Buruan lanjut."
Oniel mendengus kesal, tapi dia tetap melanjutkan kegiatannya.
Ketika Cornelio akhirnya menarik rambut Oniel pelan sebagai sinyal untuk berhenti, Oniel langsung mundur secepat kilat. Dia segera bangkit berdiri dari lantai kamar yang dingin itu.
"Ih, sumpah ya..." Oniel menyeka mulutnya berkali-kali pakai punggung tangan. Ekspresinya persis kayak orang yang baru saja dipaksa makan sesuatu yang paling dia benci di dunia. Dia mengusap bibirnya lagi sekali untuk memastikan, lalu mengusapnya lagi sekali lagi dengan lebih keras.
Cornelio masih berdiri di depannya, napasnya belum sepenuhnya normal, matanya masih menatap Oniel dengan intens.
Oniel menatap balik dengan sisa-sisa rasa sebal. "Gue minta ini jangan sampai jadi kebiasaan ya. Sekali ini aja."
"Ya tergantung," jawab Cornelio santai.
Oniel langsung melotot. "Tergantung apanya? Kan tadi katanya cuma buat sekarang doang gara-gara sepi!"
Cornelio tidak menjawab. Tangannya justru menarik Oniel mendekat, membimbingnya mundur sampai ke tepian kasur yang empuk. Oniel duduk di sana dengan napas yang mulai pendek-pendek, dan di titik itulah Cornelio baru mengambil ancang-ancang.
Oniel yang menangkap situasinya duluan.
"Bang, bentar," Oniel nahan dada Cornelio pakai tangannya. "Di luar aja."
Cornelio berhenti mendadak.
Suasana mendadak hening sebentar, hanya diisi suara detak jam di dinding dan napas mereka yang saling berburu. Cornelio akhirnya berbalik ke arah nakas, meraih dompetnya yang tergeletak di sana. Dia membukanya, mencari sesuatu di balik selipan kartu, lalu mengeluarkan satu bungkus kondom.
Oniel menatap benda kecil itu, lalu beralih menatap muka abangnya dengan tatapan menyelidik. "Ih, lo nyimpen beginian di dompet?" Oniel bertanya dengan nada datar, tapi penuh selidik. "Bagus ya. Emang siapa yang lo rencanain buat pake itu?"
"Nggak ada," jawab Cornelio pendek sambil berusaha fokus.
"Nggak ada tapi ready gitu di dompet?" Oniel menaikkan alisnya sebelah, nggak percaya gitu aja. "Persiapan banget lo kayak mau ke mana aja."
Cornelio nggak menanggapi ocehan itu. Dia membuka bungkusnya tanpa komentar tambahan, mengabaikan tatapan Oniel yang masih nunggu jawaban lebih lengkap.
Oniel akhirnya merebahkan dirinya di tepian kasur. Cornelio memegang kedua pergelangan kakinya, membukanya lebar dan menekuknya pelan sampai posisinya pas. Oniel berbaring di pinggir kasur dengan kaki terbuka dan lutut tertekuk, sementara Cornelio berdiri di antara kedua kakinya, tepat di lantai.
"Bang, pelan-pelan ya. Gue serius, jangan kasar-kasar," Oniel mengingatkan lagi dengan suara yang sedikit bergetar.
"Iye, bawel," sahut Cornelio pelan, berusaha menenangkan diri sendiri juga.
Ketika ujung penisnya mulai bersentuhan dengan vagina Oniel, keduanya mendadak berhenti sebentar. Ada sensasi yang bikin mereka berdua sama-sama tersentak.
Napas Oniel keluar makin nggak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat.
Cornelio menatapnya dari atas dengan tatapan yang sangat dalam, seolah dia benar-benar sedang melihat Oniel sebagai seorang perempuan dewasa, bukan lagi sebagai adik kecilnya. "Oniel," panggilnya dengan suara rendah yang bergetar.
"Iya," bisik Oniel hampir tidak terdengar. "Langsung aja, Bang. Nggak usah ditahan-tahan."
Cornelio mulai bergerak masuk secara perlahan.
Napas Oniel seketika tertahan di tenggorokan. Tangannya mencengkeram sprei kasur Cornelio hingga sangat erat, sementara punggungnya sedikit melengkung karena sensasi yang menyerangnya. Vagina Oniel dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan ukuran Cornelio secara bertahap. Cornelio sendiri tidak terburu-buru; dia memberikan waktu bagi Oniel untuk terbiasa, sementara kedua tangannya memegang pinggang adiknya dengan mantap.
Ketika sudah sepenuhnya berada di dalam, Cornelio berhenti sejenak untuk membiarkan mereka berdua mengatur napas.
Oniel mengembuskan napas panjang yang terasa berat. "Gila, punya lo besar banget sih, Bang? Sakit dikit tahu nggak," protesnya dengan suara yang masih gemetar.
Cornelio tidak menjawab secara verbal, namun hembusan napasnya yang berat terasa panas di atas wajah Oniel.
Lalu, Cornelio mulai bergerak. Pinggulnya maju mundur dengan ritme yang pelan pada awalnya, terasa sangat terukur. Kedua tangannya kini memegang tepian pinggul Oniel dengan kuat. Suara kulit yang bertemu kulit terdengar samar di dalam kamar yang redup itu, bercampur dengan suara napas mereka yang semakin tidak beraturan.
Salah satu tangan Cornelio bergerak naik menuju payudara Oniel. Dia meremasnya pelan, sementara ibu jarinya bergerak di atas puting. Oniel yang awalnya hanya mencengkeram sprei kini mulai mengeluarkan suara-suara yang tidak lagi dia coba tahan.
Oniel menatap langit-langit kamar Cornelio yang sudah sangat dia hafal sejak mereka kecil. Cahaya lampu tidur yang kuning di atas nakas, hingga poster kecil di dinding yang sudah bertahun-tahun ada di sana.
Semuanya masih terlihat sama.
Namun, Oniel sadar bahwa tidak akan ada lagi yang sama di antara mereka setelah malam ini berakhir.
Ritme gerakan Cornelio mulai menemukan polanya. Setiap sentakannya terasa dalam dan terukur, membuat suasana di kamar itu semakin panas.
"Ah... Ah... Bang," napas Oniel keluar pendek-pendek dan tidak beraturan. "Lagi, Bang. Lebih dalam lagi dong."
Ritme Cornelio berubah sepenuhnya, menjadi lebih dalam dan tampak jauh lebih tidak sabar dari sebelumnya. Tangannya menarik pinggang Oniel agar semakin merapat ke tepi kasur, sementara tangan yang satunya masih tertahan di atas payudara adiknya, meremasnya dengan tekanan yang semakin kuat.
Oniel mencengkeram sprei kasur dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
Ketika Oniel akhirnya sampai di titik yang sudah tidak bisa lagi dia tahan, tubuhnya bergetar hebat. Sebuah suara panjang keluar dari mulutnya tanpa bisa dikontrol lagi. Otot-otot vagina Oniel mengencang secara refleks di sekeliling penis Cornelio, dan sensasi itulah yang membuat Cornelio seketika kehilangan ritme teraturnya.
Cornelio menyusul tidak lama setelahnya. Tangannya menarik pinggang Oniel sekuat tenaga di detik-detik terakhir, sementara napasnya keluar dengan suara berat dan panjang.
Lalu, mendadak diam.
Hanya suara napas mereka berdua yang perlahan-lahan mulai kembali ke ritme normal di tengah keheningan kamar.
Cornelio tidak langsung bergerak menjauh. Tangannya masih menetap di pinggang Oniel, kepalanya menunduk dalam, dan napasnya masih terdengar sangat berat di telinga Oniel. Sementara itu, Oniel hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan dada yang naik turun perlahan, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya salah satu dari mereka berani membuka suara.
"Bang," panggil Oniel lirih.
"Hm?" sahut Cornelio singkat.
"Itu tadi..." Oniel berhenti sebentar, mencoba mencari kata yang pas untuk menggambarkan situasi barusan, tapi dia tidak kunjung menemukannya. "Nggak tahu deh, gue beneran nggak tahu mau ngomong apa sebenernya."
Cornelio akhirnya bergerak. Dia melepaskan kondomnya dengan hati-hati, lalu membungkusnya menggunakan beberapa helai tisu yang dia ambil dari atas nakas. Dia menatap Oniel yang masih terbaring diam di tepian kasur dengan rambut yang berantakan.
"Naik dulu sana," kata Cornelio pelan.
Oniel mengerutkan alisnya. "Naik ke mana lagi maksud lo?"
"Ya ke atas kasur lah, jangan di tepian gitu. Nanti lo jatuh atau kedinginan," jawab Cornelio sambil menepuk bagian tengah kasurnya yang kosong.
Oniel bergeser pelan ke tengah kasur, lalu segera menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh polosnya. Cornelio kemudian ikut berbaring di sampingnya, menjaga jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak bersentuhan.
Mereka berdua menatap langit-langit kamar dalam diam selama beberapa saat.
"Bang," panggil Oniel lagi, suaranya terdengar lebih jernih sekarang.
"Iya, kenapa?"
"Besok pagi pas bangun, kita bakal pura-pura normal lagi nggak?" tanya Oniel dengan nada yang sedikit khawatir.
Cornelio tidak langsung menjawab. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya bersuara. "Nggak tahu gue."
Oniel menoleh ke arah abangnya. "Kok nggak tahu gimana maksudnya? Ya masa mau begini terus?"
"Ya emang beneran nggak tahu," Cornelio tetap menatap langit-langit tanpa berpaling. "Gue beneran belum kepikiran besok harus gimana di depan Nyokap sama Bokap."
Oniel mengembuskan napas pelan, lalu kembali membuang pandangannya ke langit-langit. Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya.
Di luar, angin bergerak pelan melewati celah jendela yang tidak tertutup rapat. Udara dingin malam merayap masuk ke dalam kamar, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak untuk menutup jendela itu.
Mereka masih tetap berada di sana, terjaga dalam pikiran masing-masing, ketika jarum jam di dinding perlahan menyentuh angka satu pagi.
Bab 6: Setelah Hujan
Mereka berdua masih berbaring berdampingan di atas kasur yang berantakan.
Selimut tipis yang ditarik Oniel tadi kini menutupi mereka berdua sampai sebatas pinggang. Sebenarnya tidak ada yang menarik di langit-langit kamar itu, hanya ada jejak air hujan yang mengering di sudut plafon, namun keduanya tetap menatap ke sana seolah sedang menonton sesuatu yang penting.
Cornelio yang bergerak lebih dulu.
Tangannya keluar dari balik selimut, mulai menelusuri lengan Oniel dengan gerakan pelan yang terasa sangat sadar. Oniel yang merasa terusik pun menoleh ke arah abangnya.
"Apaan? Lo udah mau tidur sekarang?" tanya Oniel dengan suara serak.
"Belum," jawab Cornelio pendek.
Oniel menatapnya selama beberapa saat, mencoba membaca ekspresi di wajah abangnya. "Terus? Masih mau ngapain lagi sih, Bang?"
Cornelio tidak langsung menjawab. Alih-alih bicara, tangannya justru bergerak masuk kembali ke balik selimut, mencari payudara Oniel lalu meremasnya pelan sekali.
Oniel langsung menangkap maksud gerakan itu. "Hah? Mau lagi? Serius lo?"
"Iya," sahut Cornelio datar, tapi tatapannya nggak bisa bohong.
"Bang, gue ini beneran baru aja selesai, capek tahu nggak," keluh Oniel sambil berusaha menggeser tangan abangnya.
"Gue tahu lo capek. Tapi gue mendadak pengen nyoba sesuatu yang lain nih," Cornelio berujar sambil memperbaiki posisi duduknya sedikit agar bisa menatap Oniel lebih jelas.
Oniel mengerutkan dahinya, merasa ada yang nggak beres. "Nyoba apaan lagi emangnya? Aneh-aneh aja lo."
Cornelio menatapnya selama beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus mengatakannya atau tidak. "Titjob," katanya akhirnya.
Oniel terdiam sebentar. Ekspresi wajahnya berubah drastis, mulai dari bingung, lalu paham maksudnya, hingga berakhir pada rasa tidak percaya dalam waktu kurang dari tiga detik. "Ih, Bang! Sumpah ya, itu aneh banget kedengerannya. Lo dapet ide dari mana sih?"
"Nggak aneh, Oniel. Biasa aja kali," balas Cornelio membela diri.
"Ya menurut lo nggak aneh, tapi menurut gue itu aneh banget," Oniel kembali membuang pandangannya ke langit-langit, merasa konyol dengan obrolan mereka. "Lagian emang lo nggak capek apa dari tadi?"
"Nggak tuh. Masih oke gue," jawab Cornelio santai.
"Bohong lo. Muka lo aja kelihatan capek gitu," tuduh Oniel.
"Gue nggak bohong, Oniel. Masih sanggup kalau cuma buat itu doang mah," Cornelio meyakinkan lagi.
Oniel menoleh kembali ke arah Cornelio. Dia menatap wajah abangnya selama beberapa detik, mencoba mencari tanda-tanda kalau Cornelio cuma lagi bercanda atau ngerjain dia. Tapi ternyata tidak ada. Tatapan itu beneran serius dan penuh tuntutan.
Oniel mengembuskan napas panjang, suaranya terdengar sangat pasrah di tengah sunyi kamar. "Sumpah ya, Bang. Lo tuh kalau mau apa-apa beneran nggak mau kalah ya orangnya."
"Kan gue nanya baik-baik, Niel. Mau nggak?" Cornelio masih tidak bergeming. Tangannya tetap di sana, menunggu jawaban pasti dari adiknya.
"Ya terus kalau gue bilang nggak mau, lo bakal diem terus tidur gitu?" Oniel bertanya balik. Nadanya sedikit mengejek, meskipun dia sudah tahu apa jawabannya.
"Ya nggak juga sih," Cornelio akhirnya mengakui dengan jujur.
Oniel mendengus pelan. Dia kemudian menarik selimutnya sedikit lebih bawah, membiarkan dadanya yang masih kemerahan terpapar cahaya lampu tidur yang remang. "Ya udah sih, sini. Daripada lo makin bawel terus gue malah nggak bisa tidur sampai subuh."
Cornelio tidak perlu diperintah dua kali. Dia segera menggeser posisinya, duduk berlutut di antara kaki Oniel yang masih selonjoran di atas kasur. Tangannya meraih kedua payudara Oniel, lalu merapatkannya hingga posisinya pas berada di tengah-tengah.
Oniel merasakan sensasi aneh saat melihat abangnya mulai menyelipkan penisnya di sela-sela payudaranya. Dia mengerutkan hidung kembali, sebenarnya ingin berkomentar, namun dia memilih untuk diam terlebih dahulu.
"Gini kan?" tanya Oniel saat dia merasakan gesekan yang sepenuhnya berbeda dari apa yang mereka lakukan di lantai atau di sofa tadi.
"Iya, diem aja lo," sahut Cornelio pendek. Napasnya mulai terdengar berat kembali.
Oniel sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi wajah abangnya yang terlihat sangat fokus, namun lama-kelamaan dia juga mulai merasakan sensasi yang tidak terduga. Rasanya ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan sebelumnya. Tangan Oniel kini terangkat, memegang lengan Cornelio yang sedang bekerja keras menahan beban tubuh di atasnya.
"Geli tahu, Bang. Pelan-pelan kek," gumam Oniel pelan.
"Iya, bentar. Lo jangan gerak-gerak mulu," Cornelio melayangkan protes balik, namun gerakannya justru menjadi semakin konsisten.
Oniel hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Dia merasa seluruh situasi ini semakin tidak masuk akal. Barusan mereka baru saja melakukan kesalahan yang paling fatal, dan sekarang mereka justru lanjut bereksperimen dengan hal yang sebelumnya hanya dia ketahui lewat internet.
"Aneh banget, Bang. Sumpah," bisik Oniel lagi di sela napasnya yang mulai ikut berantakan.
"Berisik, Niel. Nikmatin aja kenapa sih," potong Cornelio sambil menunduk. Dia mencium leher Oniel sekali sebelum melanjutkan gerakannya dengan ritme yang lebih cepat.
Oniel tidak menjawab lagi. Dia benar-benar terdiam, hanya bisa merasakan tiap gesekan panas di antara dadanya sembari menunggu kapan abangnya ini akan merasa puas dan membiarkannya tidur.
Cornelio masih terus melakukan gerakannya, menggesekkan miliknya di antara belahan payudara adik kandungnya sendiri. Di tengah gerakan yang monoton namun panas itu, Oniel tiba-tiba membuka suara.
"Bang," panggil Oniel pelan.
"Hm?" sahut Cornelio singkat tanpa membuka matanya.
"Gue mau nanya sesuatu ke lo," Oniel tidak berhenti bergerak, meski tangannya kini memegang lengan abangnya lebih erat. "Dan lo harus jawab jujur ke gue."
Cornelio akhirnya membuka mata, menatap wajah Oniel dari posisinya di bawah. "Mau nanya apaan emangnya?"
"Sebenernya sejak kapan sih lo mulai ngerasa... gitu ke gue? Maksud gue, ya perasaan yang kayak sekarang ini," Oniel tidak berani menatap Cornelio langsung; matanya justru tertuju pada dinding di samping mereka. "Gue beneran nggak nyangka, Bang. Kita ini udah hidup bareng dari kecil, tapi lo nggak pernah nunjukin tanda-tanda apa pun. Lo selama ini kelihatan normal aja, beneran memperlakukan gue kayak adek biasa. Nggak pernah ada yang aneh."
Cornelio terdiam sejenak. Gerakan tangannya di pinggang Oniel sempat terhenti.
"Udah lama," jawab Cornelio akhirnya dengan suara rendah.
"Ya lama gimana maksud lo? Yang spesifik dong jawabnya," desak Oniel penasaran.
"Beberapa tahun belakangan ini," sahut Cornelio jujur.
Oniel seketika menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke arah Cornelio dengan ekspresi tidak percaya. "Beberapa tahun? Sumpah lo, Bang? Serius?"
"Iya, serius. Ngapain juga gue bohong soal ginian," balas Cornelio datar.
"Dan selama itu lo nggak pernah ngomong apa-apa ke gue? Nggak pernah kelihatan sama sekali di depan gue atau orang rumah?" Oniel masih merasa janggal.
"Emang gue sengaja nggak mau kelihatan," jawab Cornelio pendek.
Oniel kembali melanjutkan gerakannya, kali ini jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Pikirannya mulai berputar. "Terus mulainya gara-gara apa? Maksud gue, ada kejadian yang bikin lo tiba-tiba sadar atau emang rasanya muncul perlahan gitu aja?"
Cornelio menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menjawab. "Perlahan sih. Nggak ada satu momen yang bener-bener spesifik. Lo makin tumbuh besar, gue perhatiin terus, dan akhirnya ada sesuatu yang berubah tanpa pernah gue minta sebelumnya."
"Lo perhatiin gue gimana maksudnya?" tanya Oniel lagi.
Cornelio tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang.
"Bang?" pancing Oniel karena abangnya mendadak diam.
"Fisik lo berubah, Niel," kata Cornelio pelan, suaranya terdengar sedikit parau. "Termasuk bagian yang lagi lo apit sekarang ini."
Oniel terdiam seribu bahasa. Pipinya mendadak terasa sangat panas. "Jadi maksud lo, lo diem-diem perhatiin payudara adek lo sendiri selama ini?"
"Iya," jawab Cornelio singkat tanpa ada nada ragu.
"Sumpah ya, itu tuh bejat banget tahu nggak, Bang," gumam Oniel.
"Gue tahu."
"Lo bilang tahu, tapi kenapa ngomongnya bisa santai banget kayak gitu?" Oniel merasa heran dengan ketenangan abangnya.
"Ya mau gimana lagi? Emang itu kenyataannya, kan?" sahut Cornelio.
Oniel mengembuskan napas panjang, namun gerakannya tetap terjaga dengan teratur. "Gue beneran nggak habis pikir. Selama ini lo biasa aja. Nggak ada yang beda sedikit pun. Kalau ada temen lo yang tanya soal gue, lo jawabnya biasa. Pas Mama sama Papa cerita soal gue pun, lo dengerinnya juga biasa aja," Oniel berhenti sejenak untuk menata napas. "Lo beneran nggak pernah kelihatan kayak orang yang lagi nyimpen rahasia gila."
"Ya karena emang gue nggak mau hal ini ketahuan siapa pun," ulang Cornelio lagi. "Lo itu adek gue, Niel. Hal kayak gini tuh nggak seharusnya terjadi di antara kita."
"Tapi nyatanya tetep lo lakuin juga sekarang," sindir Oniel.
"Iya," Cornelio menatap adiknya dalam-dalam dari bawah. "Dan malam ini, akhirnya gue lakuin."
Oniel membalas tatapan itu, mencoba mencari sisa-sisa kewarasan di mata abangnya. "Gara-gara apa? Kenapa harus malam ini banget?"
"Ya karena kebetulan lo ada di rumah. Terus nggak ada siapa-siapa juga di sini," Cornelio menjeda kalimatnya sebentar, matanya tampak sedikit menggelap. "Dan karena gue udah terlalu lama nahan ini sendirian."
Oniel terus bergerak, tapi kali ini lebih lambat, seolah kata-kata Cornelio barusan memberikan beban tambahan di pundaknya. Dia membayangkan orang tuanya yang sedang berada di tempat lain, sama sekali tidak menaruh curiga pada apa yang terjadi di kamar ini.
"Mama sama Ayah lagi nemenin pentas sekarang," kata Oniel pelan, suaranya nyaris berbisik. "Mereka di sana, sibuk sama urusan mereka, dan kita malah di sini... ngelakuin ini."
Cornelio tidak langsung menjawab. Dia hanya memejamkan mata, menikmati tekanan dari dada adiknya yang terasa hangat dan nyata. "Gue tahu. Nggak usah diingatin sekarang, Niel."
"Gue nggak ngingetin, gue cuma baru sadar aja betapa gila situasinya," Oniel mendengus pendek, matanya masih menatap ke arah lain. "Kalau mereka tiba-tiba mutusin buat pulang malam ini juga gimana? Lo udah kepikiran belum alasan apa yang mau lo kasih kalau mereka buka pintu kamar ini?"
"Nggak akan. Tadi kan mereka udah bilang mau nginep," sahut Cornelio. Suaranya terdengar lebih tenang, tapi ada ketegasan yang mutlak di sana. "Lagian pintu udah gue kunci rapat. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu kenapa sih."
Oniel diam sebentar, merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan napas Cornelio yang makin berat. "Gue cuma takut aja, Bang. Lo mah enak bisa santai gitu, lah gue? Gue dari tadi mikir besok pas sarapan gue harus pasang muka kayak gimana di depan mereka."
Cornelio menarik napas dalam, lalu tangannya bergerak naik dari pinggang Oniel ke tengkuk adiknya, menariknya sedikit agar Oniel menunduk. "Besok ya besok. Sekarang lo fokusnya ke gue dulu aja bisa nggak?"
Oniel akhirnya menyerah dan menatap wajah abangnya. Dia melihat ada semacam rasa haus yang tertahan lama di mata Cornelio, sesuatu yang akhirnya tumpah malam ini. Oniel tidak berkata apa-apa lagi. Dia kembali menyesuaikan posisinya, menekan dadanya lebih rapat ke arah Cornelio, memberikan apa yang diminta abangnya tanpa banyak tanya lagi.
Suara gesekan itu kembali terdengar di sela-sela napas mereka yang makin berantakan. Oniel bisa merasakan bagian sensitifnya sendiri mulai ikut bereaksi, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri yang justru menikmati situasi terlarang ini.
"Bang," gumam Oniel saat dia merasa Cornelio makin tidak sabar.
"Apa lagi?"
"Jangan keluar di dalem selimut ya, nanti bekasnya susah dicuci kalau Mama liat," Oniel masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu di tengah situasi panas mereka.
Cornelio sempat terkekeh pendek, suara tawa yang terdengar sangat langka. "Iya, bawel. Nggak bakal kena selimut juga."
Gerakan Cornelio semakin cepat, tenaganya makin besar seiring dengan pegangannya yang menguat di bahu Oniel. Oniel hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan bersalah sekaligus nikmat yang bercampur aduk jadi satu, sementara jam di dinding terus berdetak menuju pagi yang pasti akan terasa sangat berbeda.
Gerakan Cornelio semakin cepat, napasnya sekarang terdengar satu-satu dan berat. Oniel bisa merasakan gesekan itu semakin panas di sela payudaranya, sebuah sensasi yang bikin dia sendiri merasa aneh karena ternyata dia tidak se-jijik yang dia bayangkan tadi.
"Bang, pelanin dikit napa, lecet nih kalau lo semangat banget gitu," gumam Oniel sambil meringis dikit.
Cornelio tidak memelankan gerakannya, malah makin menekan. "Bentar lagi. Lagian punya lo empuk banget, nggak bakal lecet."
"Empuk pala lo. Ini kulit, Bang, bukan bantal," balas Oniel, meskipun dia tetap tidak menjauhkan tubuhnya. "Terus itu... lo nggak ngerasa aneh apa? Maksud gue, itu kan cuma dijepit doang, emang kerasa ya?"
Cornelio membuka matanya sebentar, menatap Oniel dengan pandangan yang bener-bener fokus. "Kerasa banget, Niel. Apalagi punya lo ternyata pas banget di tengah gini. Anget."
Oniel membuang muka, pipinya makin merah denger kejujuran abangnya yang nggak disaring sama sekali. "Dih, mesum banget omongan lo. Gue nggak nyangka abang gue kalau lagi begini mulutnya begini juga."
"Ya kan lo yang nanya, gue jawab jujur salah lagi," sahut Cornelio. Tangannya sekarang bergerak meremas payudara Oniel yang lagi menjepit miliknya, membantu mempererat jepitan itu. "Coba lo rapetin lagi tangannya ke sini. Nah, gitu."
Oniel menurut, dia mendekap dadanya sendiri biar jepitannya makin kencang buat Cornelio. "Gini? Puas lo?"
"Iya, gitu. Enak banget, sumpah," gumam Cornelio, suaranya makin serak. "Gue dari dulu kalau liat lo pake baju agak ketat, selalu kepikiran pengen nyobain ini."
"Sumpah ya, Bang, lo beneran sakit," Oniel mendengus, tapi nadanya nggak marah. Dia malah mulai ikut menikmati ritme yang dibuat Cornelio. "Jadi selama ini lo diem-diem ngebayangin gue dijepit begini?"
"Iya. Dan aslinya ternyata jauh lebih enak daripada yang gue bayangin," Cornelio mengakui tanpa rasa malu sedikit pun. Dia menarik napas panjang saat gerakannya mencapai puncak. "Niel, bentar lagi ya... jangan dilepas dulu."
"Iya, bawel. Gue nggak bakal kabur juga," Oniel memejamkan matanya, merasakan getaran di tubuh Cornelio yang mulai menjalar ke dia juga.
Suasana kamar itu beneran kerasa makin sempit sama suara napas mereka yang makin nggak beraturan. Oniel cuma bisa pasrah, ngerasain setiap inci dari abangnya yang bener-bener lagi dimanjain sama badannya sendiri. Dia ngerasa dunia luar kayak nggak ada gunanya lagi buat dipikirin sekarang, yang ada cuma dia, Cornelio, dan kegilaan yang mereka buat di atas kasur ini.
"Bang, lo jangan lama-lama, tangan gue mulai pegel nih nahan badan lo," protes Oniel terakhir kali sebelum suaranya hilang diganti sama lenguhan pendek.
"Bentar lagi, Niel... dikit lagi," sahut Cornelio, gerakannya sekarang bener-bener nggak terkendali.
Ritme gerakan itu semakin lama semakin cepat, menciptakan gesekan panas yang konsisten. Oniel yang tadinya skeptis dan banyak protes, kini justru terbawa suasana dan mulai menikmati sensasi aneh yang menjalar di dadanya.
"Hh... ah... mmh..."
Ritmenya terus naik, gerakannya menjadi jauh lebih tidak sabar dari sebelumnya. Suara-suara yang keluar dari mulut Oniel mengikuti setiap hentakan, terdengar pelan namun tidak lagi berusaha dia tahan.
"Ah... hh... mm... ahh..."
Kedua payudaranya mengapit lebih erat, menjepit milik Cornelio dengan mantap. Di titik itu, Oniel tidak lagi memikirkan konsekuensi apa pun selain ritme yang sedang dia kendalikan sendiri. Suaranya keluar lebih panjang di gerakan tertentu, lalu lebih pendek di gerakan yang lain; semuanya terdengar tidak beraturan dan tidak disengaja.
"Mmh... ah... hh... ahhh..."
Cornelio menutup matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan puncak yang sudah di depan mata.
Tubuh Cornelio mulai mengejang pelan dan tidak terkontrol, sementara tangannya mencengkeram sisi paha Oniel dengan kuat. Satu kejang, lalu dua. Napasnya keluar terputus-putus. Di detik terakhir, tangannya menarik pinggang Oniel ke bawah agar semakin erat menempel pada tubuhnya.
Milik Cornelio berdenyut kuat di antara belahan payudara Oniel. Cairan hangat menyembur pelan di sana, jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk meninggalkan jejak di lekukan payudara Oniel dan mengalir turun menuju perutnya karena posisi tubuh mereka yang sangat rapat.
Cornelio menghela napas panjang dan berat, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat besar.
Oniel langsung menunduk, menatap ke arah tubuhnya sendiri. Ekspresinya sempat datar selama dua detik sebelum akhirnya dia bersuara.
"Ih."
Cornelio membuka matanya perlahan, meskipun napasnya masih belum kembali normal sepenuhnya. Dia menatap Oniel dari posisinya di bawah.
"Dikit banget ternyata, Bang," komentar Oniel. Nadanya bukan terdengar kecewa, melainkan benar-benar sedang berkomentar jujur atas apa yang dia lihat.
"Iya, emang segitu," sahut Cornelio pendek.
"Gue kira bakal lebih banyak dari ini," gumam Oniel lagi.
"Kan ini udah dua kali, Niel. Ya wajar," bela Cornelio.
Oniel menatap abangnya sebentar. "Oh iya ya." Dia kembali menoleh ke bawah, menatap sisa cairan di perutnya sendiri. "Tapi tetap aja, ih. Lengket tahu."
Sudut bibir Cornelio bergerak sedikit, membentuk senyum tipis yang hampir tidak kelihatan. "Kan lo sendiri yang tadi setuju."
"Dih, gue nggak minta ya, lo yang maksa-maksa tadi," balas Oniel cepat.
"Tapi lo yang akhirnya bilang iya," Cornelio tidak mau kalah.
Oniel tidak punya jawaban yang cukup bagus untuk membalas itu. Dia akhirnya menggeser posisinya, turun dari atas tubuh Cornelio dan duduk di tepi kasur. Dia menatap kondisi dirinya sendiri dengan ekspresi seperti orang yang sedang mengevaluasi situasi gila yang baru saja dia lalui.
"Lo puas?" tanya Oniel tanpa menoleh sedikit pun.
Cornelio menatap punggung adiknya dari atas kasur. "Iya. Puas."
"Syukurlah kalau salah satu dari kita ada yang puas," sahut Oniel, meski nada bicaranya tidak sungguh-sungguh terdengar kesal.
"Emang lo nggak puas?" tanya Cornelio penasaran.
Oniel terdiam sebentar, menimang jawaban di kepalanya. "Gue nggak bilang gitu juga sih," jawabnya ambigu.
Cornelio tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, namun matanya tetap tertuju pada Oniel yang sekarang mulai berdiri dari kasur.
"Gue ke kamar mandi dulu, mau bersih-bersih," kata Oniel. "Dan pokoknya lo harus beliin gue sesuatu besok sebagai ganti rugi."
"Beliin apaan?" tanya Cornelio.
"Nggak tahu, pokoknya terserah lo. Tapi lo harus beliin," Oniel berjalan menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, lalu menutup pintunya dengan rapat.
Dari balik pintu, tak lama kemudian terdengar suara kucuran air.
Cornelio berbaring telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang redup. Napasnya perlahan mulai kembali ke ritme normal, menyisakan rasa lega sekaligus hampa yang aneh di dadanya.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali. Oniel keluar dari sana, berjalan kembali ke kasur, dan segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Cornelio menjangkau lampu tidur di atas nakas lalu mematikannya.
Kamar itu seketika kembali jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
"Bang," panggil Oniel pelan di tengah kegelapan itu.
"Hm."
"Tetap bakal kerasa aneh ya besok paginya pas kita bangun," gumam Oniel, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Cornelio tidak memberikan jawaban verbal. Tangannya bergerak di balik kegelapan, menemukan kepala Oniel, lalu mengusap rambut adiknya itu sekali dengan sangat pelan dan lembut.
Oniel terdiam, membiarkan sentuhan itu menetap sejenak di kepalanya.
Di luar, tidak ada lagi suara sisa hujan yang terdengar. Malam sudah sepenuhnya menjadi sunyi, meninggalkan mereka berdua dalam rahasia yang terkunci rapat di balik pintu kamar itu.
