Petang itu, suasana rumah terasa begitu lengang. Sinar mentari mulai meredup, menyisakan siluet pepohonan jambu yang menari perlahan di balik jendela. Raisha duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Ia mengenakan kaus berukuran besar dan celana pendek, dengan kaki tertekuk di atas bantalan sofa. Wajahnya memancarkan gurat kelelahan, meski sesungguhnya rasa jenuh yang lebih mendominasi.
Ayah berdiri di dekat rak buku sembari memperhatikan Raisha dalam diam. Dalam benaknya, masih terbayang sosok anak kecil yang dulu selalu merengek minta ditemani tidur. Sosok yang kini telah beranjak dewasa dan lebih sering menutup diri.
"Papa agak bingung kamu kok nggak ikut Mama ke Surabaya," ucapnya pelan.
Raisha melirik sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ngapain juga, Pah? Kenal sodaranya aja nggak."
Ayah mengangguk singkat. "Jadi kamu beneran mau di rumah sendirian?"
"Ya mau gimana lagi," jawabnya seadanya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ayah bersandar pada dinding, turut memandang langit di luar jendela yang perlahan menggelap.
"Kalau mau, kita ke vila aja," ujarnya setelah sempat terdiam. "Berdua."
Raisha mengalihkan pandangan ke arah ayahnya. "Vila yang di pinggir danau itu?"
Ayah mengangguk. "Masih rapi kok. Jarang dipakai."
Raisha terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil. "Yaudah, ayo."
Ia tak punya alasan untuk menolak. Jauh di dalam hati, ia menyadari bahwa dirinya memang membutuhkan suasana baru untuk bernapas. Bukan sekadar menjauh dari rumah, melainkan juga dari beban pikiran yang belakangan terasa menyesakkan.
Perjalanan menuju vila memakan waktu hampir dua jam. Sepanjang jalan, hanya siaran radio yang menemani, memutar lagu-lagu lawas yang entah mengapa terdengar lebih hangat malam itu. Raisha sempat terlelap di kursi penumpang dengan kepala miring dan helaian rambut menutupi wajah. Ayah beberapa kali melirik, lalu kembali memfokuskan pandangan pada jalanan berliku di hadapannya.
Mereka tiba menjelang malam. Warna langit telah sepenuhnya hilang, berganti kegelapan yang perlahan menelan segala bentuk di sekitar. Lampu-lampu kecil di teras vila menyala otomatis, seolah menyambut kedatangan mereka dengan kenangan lama yang masih setia bersemayam di sana.
Vila itu tetap sama: dinding kayu berwarna krem pucat, jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke arah danau, serta udara dingin yang segera menyergap begitu pintu terbuka. Raisha turun lebih dulu, mendongak sejenak ke langit gelap yang dipenuhi suara serangga malam dan aroma embun.
"Nggak banyak berubah ya, Pah," gumamnya pelan.
Ayah meletakkan tas bawaan ke ruang tengah. "Iya, cuma makin sepi aja sekarang."
Raisha melangkah masuk, jemarinya menyusuri permukaan kursi tua di dekat perapian. Ia berjalan perlahan dari satu ruangan ke ruangan lain, seolah sedang membangunkan kembali kepingan masa lalu yang pernah ia lalui di tempat itu.
Setelah membereskan barang dan mandi, mereka menuju kamar masing-masing. Vila itu memang besar, terlalu luas hanya untuk dihuni oleh dua orang. Namun, malam itu, entah mengapa dinginnya tidak terasa menusuk sama sekali.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua cangkir kopi. Langkahnya terasa ringan di bawah lampu lorong yang temaram, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding mengikuti setiap jejak kakinya.
Di depan pintu kamar ayahnya, ia mengetuk pelan.
Tok, tok.
"Masuk aja," sahut Ayah dengan suara tenang namun terdengar agak berat.
Raisha mendorong pintu. Pandangannya langsung tertuju pada Ayah yang duduk di kursi dekat jendela dengan buku terbuka di tangan. Posisinya santai, tetapi wajahnya tampak serius, seolah larut dalam bacaan yang judulnya bahkan tak terlihat dari jarak jauh.
Raisha melangkah masuk. Ia menunduk sedikit untuk meletakkan salah satu cangkir kopi di meja samping tempat duduk ayahnya.
"Masih suka kopi malem kan, Pah?"
Saat Raisha membungkuk, Ayah spontan menoleh. Tatapannya tak sengaja jatuh pada celah tipis di kerah piyama Raisha, menangkap sekilas lekuk dada yang tersembunyi di baliknya. Ayah mengambil cangkir itu perlahan. Untuk sepersekian detik, matanya terpaku pada sosok Raisha yang berdiri sangat dekat. Ada bayangan samar di wajah Ayah; campuran antara terkejut, bingung, dan ekspresi lain yang sulit diuraikan.
"Makasih," suara Ayah terdengar lebih rendah dari biasanya.
Raisha tersenyum tipis. "Aku ke dapur lagi ya, mau isi air termos."
Ia mundur perlahan, namun tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Raisha berbalik dan menoleh pada Ayah sembari menahan senyum. Jari-jemarinya perlahan menyentuh bibir bawah, menggigitnya sekilas dengan tatapan mata yang terasa mengundang. Barulah ia menutup pintu, meninggalkan Ayah dalam keheningan yang tiba-tiba terasa kacau.
Ia menarik napas panjang, aroma kopi bercampur dengan aroma lembut sabun dari kamar mandi yang terbawa oleh kehadiran putrinya. Namun, yang paling mengganggu bukanlah aroma, melainkan bayangan yang terekam sepersekian detik di retina matanya: kerah piyama yang terbuka, kelalaian lembut yang memperlihatkan siluet yang selama ini ia anggap tabu.
Kemudian, ada gairah yang membara dalam mata Raisha saat ia menggigit bibirnya di ambang pintu. Tatapan itu bukan sekadar kenakalan seorang anak yang menggoda Ayah. Itu adalah undangan. sinyal yang begitu jelas, memecahkan batas-batas kesadaran yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah.
Batinnya bergejolak, mendesis liar: Sudah lama, batinnya mengakui, sejak ia merasakan keinginan yang begitu membakar untuk seorang wanita. Tapi ini Raisha. Putri bungsunya. Namun, di tempat sunyi ini, jauh dari hiruk pikuk rumah, ia hanyalah seorang perempuan yang berdiri di sana, tanpa perlindungan, menanti.
Ia memejamkan mata. Jantungnya berdentum kencang. Pikiran ini terasa keliru, dosa, namun sungguh memikat. Vila ini terlalu sepi, hanya ada mereka berdua. Tidak ada tembok, tidak ada saksi.
Ini adalah momennya, bisikan itu semakin kuat. Kesempatan yang telah lama ditunggu, untuk mencumbu Raisha, untuk merasakan kehangatan yang tak terucapkan di balik tatapan matanya yang provokatif. Tidak ada yang akan tahu.
Ayah perlahan meletakkan cangkir itu di meja. Ia bangkit dari kursi, melangkah menuju pintu. Tujuannya hanya satu: lorong temaram tempat Raisha berdiri diam, menunggu, membiarkan takdir mengambil alih.
Lorong itu gelap, hanya diterangi oleh lampu dinding temaram yang memantulkan bayangan panjang. Raisha masih berdiri di sana, seperti yang ia duga. Punggungnya bersandar pada dinding kayu, kepala sedikit mendongak, seolah menikmati keheningan yang mencekik.
Ayah melangkah pelan mendekatinya. Setiap langkah terasa berat, namun tak terhindarkan. Ketika jarak mereka hanya tinggal sejengkal, Raisha membuka matanya, menatap lurus ke arah Ayah. Tidak ada kejutan, hanya penerimaan yang tenang.
“Mau ngapain, Pah?” tanya Raisha pelan, suaranya nyaris berbisik.
Ayah tidak menjawab. Ia mengangkat tangan, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Raisha, membelai pelan. Ia menatap dalam ke mata putrinya, mencari jejak penolakan. Ia tak menemukannya. Yang ada hanyalah pantulan api yang sama.
“Kamu masih di sini,” bisik Ayah, suaranya serak.
Raisha tersenyum tipis, sorot matanya tajam. “Gue tahu kok, Lo bakalan keluar.”
Mendengar kata ganti 'Gue-Lo' yang tiba-tiba digunakan Raisha untuknya, Ayah merasakan sensasi aneh, perasaan terlarang yang justru membebaskan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ayah menundukkan kepala. Ia mempertemukan dahi mereka, merasakan napas Raisha yang hangat menerpa wajahnya. Raisha menutup mata, menanggapi keintiman yang terlarang itu dengan keheningan. Ayah merasakan seluruh tubuhnya menegang. Ia tak bisa menahannya lagi.
Ayah memegang wajah Raisha dengan kedua tangan, lalu mencondongkan tubuhnya. Ciuman pertama itu lembut, terasa ragu, namun sarat kerinduan yang terpendam lama. Raisha membalasnya, dengan cepat mengubah kelembutan itu menjadi tuntutan yang liar. Tangan Raisha segera melingkari leher Ayah, menariknya agar semakin dekat, seolah ingin memastikan Ayah tidak akan kembali mundur.
Di lorong sepi vila itu, di tengah kegelapan yang hanya ditemani suara jangkrik, batas-batas kesadaran mereka runtuh.
Ciuman itu terlepas. Raisha menarik diri sedikit, memutus kontak yang memabukkan itu hanya untuk sepersekian detik. Wajahnya memerah, tetapi matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
“Jangan di sini, Pah,” bisik Raisha, suaranya tercekat namun penuh perintah. “Nanti ada yang liat.”
Ayah terdiam. Matanya masih tampak gelap oleh gejolak yang baru saja ia rasakan.
Raisha tak menunggu jawaban. Ia meraih tangan Ayah, menggenggamnya erat, seolah tak ingin memberinya kesempatan untuk berpikir atau menolak. Ia berbalik, menuntun Ayah melangkah mundur, perlahan menuju kamar yang tadi ia tempati.
Mereka memasuki kamar Raisha. Udara di dalam kamar terasa lebih dingin, diselimuti bayangan yang samar. Raisha mendorong pintu kamar hingga tertutup sepenuhnya. Suara kenop pintu yang terkunci terdengar nyaring, memecah keheningan, dan sekaligus menjadi penanda bahwa segala keraguan telah ditinggalkan di luar.
Ayah memandang sekeliling, kemudian pandangannya kembali tertuju pada Raisha yang kini berdiri mematung di depannya. Di bawah cahaya rembulan yang samar menembus jendela, sosok Raisha dalam balutan piyama putih tipis tampak begitu rapuh, sekaligus mengundang.
“Kita beneran di sini, Pah. Berdua,” ucap Raisha, suaranya kini kembali pelan, namun nadanya terdengar seperti sebuah penegasan.
Ayah melangkah mendekat, perlahan meraih pinggang Raisha, menarik tubuh putrinya hingga menempel rapat di tubuhnya. Ia menunduk, mencium kening Raisha dengan kelembutan yang kontras dengan hasrat membara di benaknya.
“Iya, Nak. Berdua,” jawab Ayah, membenamkan wajahnya di antara rambut Raisha yang masih lembap.
Ia menyadari, di tempat yang sunyi ini, di bawah bayangan vila tua yang menyimpan banyak kenangan, mereka bukan lagi Ayah dan anak. Mereka adalah dua orang dewasa yang saling merindukan kehangatan terlarang.
Ayah memeluknya erat, membenamkan wajahnya di antara rambut Raisha, namun momen keintiman itu tiba-tiba terputus.
Raisha secara spontan mendorong tubuh Ayah dengan kedua tangannya. Dorongan itu cukup kuat hingga Ayah kehilangan keseimbangan dan terjatuh telentang di atas kasur. Ia sempat terkejut, namun matanya langsung tertuju pada Raisha yang masih berdiri di depannya, menaunginya.
Dalam bayangan temaram kamar itu, Raisha memulai gerakan yang disengaja. Jemarinya yang ramping menyentuh kancing piyama putihnya, melepaskannya satu per satu dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan. Setiap kancing yang terbuka seolah menghilangkan satu lapis pertahanan yang tersisa.
Piyama itu akhirnya meregang. Di balik celah kain, tampak jelas lekukan bra berwarna hitam yang membungkus tubuh bagian atasnya. Raisha mendongak, matanya menatap tajam ke arah Ayah yang terbaring di bawahnya. Sambil menahan senyum tipis, ia perlahan menggigit bibir bawahnya, sebuah gestur provokatif yang secara eksplisit mengundang.
Ayah tertegun. Pandangannya terpaku pada pemandangan di hadapannya. Ia tidak bisa mengalihkan mata. Melihat putrinya berdiri di sana, dengan pakaian yang terbuka, penuh kesadaran dan daya pikat, reaksi fisik Ayah tak bisa dibendung. Darah berdesir kencang, dan dalam sepersekian detik, gairah yang terlarang itu merespons dengan keras.
Ya Tuhan, bisik batin Ayah. Ia tahu persis apa yang dia lakukan.
Ayah kini menatapnya bukan sebagai anak bungsu yang polos, melainkan sebagai sosok perempuan yang berani menantang.
“Mau sampai kapan Lo di situ, Pah?” tanya Raisha, suaranya kini terdengar menggoda, seolah menantang Ayah untuk mengambil langkah selanjutnya.
Ayah tidak bisa menahannya lagi. Ia mengulurkan tangan, meraih pinggang Raisha, dan menariknya turun ke atas tubuhnya, kehangatan yang mendesak itu segera menyelimuti mereka berdua.
Ayah tidak menunggu lagi. Ia mengulurkan tangan, meraih pinggang Raisha, dan menarik tubuh putrinya hingga jatuh menindihnya di atas kasur. Sentuhan itu terasa cepat, kasar, dipenuhi desakan hasrat yang tak lagi bisa dikendalikan.
Raisha terengah, namun ia menyambut tarikan itu tanpa protes. Wajahnya yang memerah berada sangat dekat di atas wajah Ayah. Di antara napas mereka yang memburu, Raisha menunduk, mencari bibir Ayah kembali. Kali ini ciuman mereka bukan lagi sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan yang mendesak, penuh gairah yang terpendam.
Tangan Ayah bergerak cepat, menyelipkan jemarinya ke balik piyama Raisha yang sudah terbuka, meremas pinggang dan punggungnya. Raisha mendesah pelan, suara yang tertahan di tengah ciuman mereka.
Raisha kemudian bangkit sedikit, menahan berat tubuhnya dengan kedua lengan. Ia menatap Ayah sejenak, tatapan penuh kobaran api. Piyama putih itu kini dibuka sepenuhnya, hanya menyisakan bra hitam dan celana pendeknya.
"Kenapa diem aja, Pah? Lo mau Gue buka sendiri?" tanya Raisha, nadanya bercampur antara tantangan dan godaan.
Ayah tersentak, hasrat yang membakar segera menggantikan keterkejutan itu. Ia tahu ini bukan lagi waktunya untuk basa-basi atau keraguan.
"Jangan anggap gue Papah sekarang," bisik Ayah, suaranya dalam dan serak, nadanya tegas, meruntuhkan peran yang selama ini ia sandang.
Pernyataan itu adalah pemantik terakhir. Ayah segera membalikkan posisi, kini ia yang menaungi Raisha. Ia tidak lagi peduli dengan batasan, moral, atau siapa mereka sebelumnya. Yang ada hanyalah Ayah dan Raisha, dua jiwa yang tenggelam dalam kehangatan malam di vila sunyi itu.
Ayah membalikkan posisi, tubuhnya kini mendominasi Raisha. Tak ada lagi kelembutan; kehangatan yang mereka cari telah berubah menjadi kebutuhan yang mendesak dan brutal.
Tanpa jeda, Ayah mencium Raisha lagi. Ciuman itu kasar, menuntut, dipenuhi gairah yang lama terpendam dan kini meledak tak terkendali. Ia meraup bibir Raisha, tangannya menarik piyama putih yang sudah terlepas, melemparnya ke lantai kamar.
Raisha mengerang di sela ciuman mereka. Tangannya mencengkeram erat bahu Ayah, merasakan tegangan otot di sana. Ayah tidak memberi kesempatan bagi Raisha untuk mengatur napas. Jari-jemarinya segera bergerak ke punggung Raisha, mencari pengait bra hitam. Dengan satu sentakan, bra itu terlepas dan ditarik kasar, ikut menyusul piyama di lantai.
Ayah menatap sebentar. Di bawah cahaya rembulan yang tembus, dada Raisha yang telanjang terlihat jelas, memancarkan kecantikan yang terlarang. Ia segera menunduk, mencium leher Raisha, kemudian turun menuju dadanya, memberikan tanda-tanda kepemilikan yang terburu-buru.
"Sakit, Pah," desah Raisha, suaranya tercekik, lebih karena kenikmatan yang menyakitkan daripada rasa sakit yang sebenarnya.
Mendengar desahan itu, Ayah semakin liar. Ia memindahkan fokusnya ke pinggang Raisha, menarik celana pendeknya hingga terlepas dari tubuhnya.
"Gue suka Lo kayak gini," bisik Ayah, napasnya panas, bergesekan dengan kulit leher Raisha.
Raisha menarik rambut Ayah, memaksanya menatap matanya. "Gue juga suka, Pah. Jangan berhenti."
Permintaan itu adalah izin yang tak terbantahkan. Ayah segera melepaskan semua sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya sendiri. Ia kemudian kembali menindih Raisha, membenamkan dirinya dalam kehangatan yang telah lama ia idamkan.
Ranjang di vila sunyi itu berderit, menjadi saksi bisu peleburan batas terlarang, dipimpin oleh kekuatan hasrat yang mendominasi dan tak terpuaskan.
membebaskan diri dari semua penghalang, ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Raisha. Keduanya saling memandang sejenak, tatapan mata yang penuh api dan janji terlarang.
Raisha melingkarkan kakinya di pinggang Ayah, gestur penuh penerimaan dan dorongan. Ayah mengerti. Tanpa ragu, ia membenamkan dirinya.
Raisha menjerit tertahan, perpaduan antara kejutan dan kenikmatan yang luar biasa. Ia mencengkeram sprei kasur dengan erat, merasakan sensasi yang begitu kuat, asing, namun sudah lama dinantikannya.
Ayah mulai bergerak. Awalnya lambat, seolah mengecap setiap inchi kehangatan yang ia dapatkan. Namun, ritme itu segera berubah. Dorongan hasrat yang menumpuk selama bertahun-tahun kini meledak menjadi gerakan yang cepat, brutal, dan tak terelakkan.
"Oh, shit... Lo gila, Pah," desah Raisha, suaranya kini putus-putus dan tercekat.
Ayah membungkuk, wajahnya tenggelam di leher Raisha, menghirup aroma kulitnya. Ia tidak menjawab, hanya menggencet pinggang Raisha dengan genggaman tangannya yang kuat, menyesuaikan ritme demi intensitas yang lebih tinggi.
Ia menggenjot Raisha dengan dorongan yang dalam dan dominan, seakan ingin mematri batas-batas kesadaran mereka. Kasur berderit kencang seiring dengan gerakan ritmis dan kasar yang mereka ciptakan. Desahan Raisha berubah menjadi rintihan kepuasan, memanggil nama Ayah yang kini terasa seperti sebuah mantra terlarang.
"Lebih cepat, Pah! Lebih keras!" Raisha memohon, suaranya nyaris hilang.
Permintaan itu seperti bahan bakar. Ayah mengikutinya, membawa keduanya ke dalam pusaran gairah yang menghapus segalanya—peran, nama, moral, semua melebur dalam ritme yang memabukkan dan tak tertahankan. Malam itu, di vila sunyi tepi danau, mereka mencapai puncak pelepasan yang penuh dosa dan kenikmatan.
Ayah mempercepat dorongannya. Gerakan mereka kini telah mencapai frekuensi yang tak terkendali, menghadirkan hentakan yang kuat dan terus menerus. Suara decitan ranjang menjadi latar dari ritme yang memabukkan dan brutal.
Raisha mencengkeram erat bahu Ayah, merasakan setiap goncangan yang menghantam tubuhnya. Desahan dan rintihan Raisha tak lagi tertahan, menjadi melodi tunggal yang memecah kesunyian malam. Ayah membenamkan wajahnya di leher Raisha, membisikkan kata-kata yang hilang ditelan oleh napas yang memburu.
Ia menggempur Raisha tanpa henti, dengan kekuatan dan kecepatan yang didorong oleh gairah terlarang yang membakar. Sensasi itu begitu kuat, begitu kasar, hingga batas antara rasa sakit dan kenikmatan telah hilang. Mereka berdua tenggelam sepenuhnya dalam pusaran itu, di mana identitas dan peran mereka tak lagi berarti.
Ayah merasakan energi di tubuhnya memuncak, mencapai titik didih yang tak terhindarkan. Raisha, di bawahnya, juga mencapai ujung batasnya, tubuhnya menegang dan melengkung, menyerukan nama Ayah dalam erangan panjang yang penuh pelepasan.
Pada detik-detik akhir, Ayah menahan Raisha kuat-kuat, membenamkan dirinya untuk yang terakhir kalinya, melepaskan semua hasrat yang tertahan. Getaran hebat itu menjalar ke seluruh tubuh Raisha, membuat keduanya terdiam, terengah, namun terasa terhubung dalam keheningan yang penuh dosa.
Ayah roboh di atas tubuh Raisha. Napas keduanya memburu, bersahutan dengan detak jantung yang masih berdentum kencang. Keheningan tiba-tiba kembali, namun kali ini terasa berat, dipenuhi sisa-sisa gairah yang baru saja melanda.
Ayah mengangkat tubuhnya sedikit, menyandarkan beratnya pada lengan, membiarkan dirinya menatap Raisha. Ia melihat wajah Raisha yang masih memerah, mata yang terpejam, dan bibir yang sedikit bengkak.
Meskipun Ayah baru saja mencapai pelepasan, melihat Raisha di bawahnya, telanjang dan kelelahan, memicu gairah yang belum sepenuhnya padam. Ayah merasakan tubuhnya menegang kembali. Kejadian ini terasa nyata, dan ia tidak bisa memungkiri desakan yang muncul lagi.
Tiba-tiba, mata Raisha
terbuka. Ia menatap Ayah dengan pandangan tajam, tak ada lagi kelelahan di sana, hanya tuntutan.
“Apa Lo liat-liat, Pah? Masih mau lagi?!” seru Raisha, suaranya lantang dan keras, memecah keheningan kamar.
Ayah tersentak, tidak menyangka Raisha akan bersuara sekeras itu. Ia menunduk, mencoba membaca ekspresi Raisha, namun yang ia lihat hanya kobaran api.
“Tidur sekarang, atau Gue yang bakal mainin Lo sampai pagi! Lo udah tau kan, Gue nggak akan mundur lagi,” ancam Raisha, nadanya penuh dominasi.
Ayah terdiam. Ia merasakan dominasi Raisha dalam kata-kata itu. Ia sadar, ini bukan hanya tentang dirinya; Raisha telah mengambil kendali penuh atas situasi terlarang ini. Ayah perlahan menyunggingkan senyum, senyum pasrah yang penuh gairah.
"Gila kamu, Nak," bisik Ayah, nadanya mengandung campuran takjub dan hasrat yang tak terhindarkan.
Fajar menyingsing perlahan. Cahaya pagi yang pucat menembus tirai jendela, menyinari kamar yang semalam menjadi saksi bisu. Udara dingin khas tepi danau menyusup, namun di dalam kamar, kehangatan tubuh Raisha dan Ayah masih terasa samar.
Ayah terbangun lebih dulu. Ia merasakan lengan Raisha melingkar erat di pinggangnya. Ia perlahan memiringkan badan, menatap wajah putrinya yang tertidur pulas. Piyama putih yang tadi dikenakan Raisha kini teronggok di sudut kamar, bersama pakaiannya sendiri.
Ia merasakan perpaduan aneh antara rasa bersalah yang tajam dan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia membelai rambut Raisha, memastikan ia masih bernapas dan nyata. Kejadian semalam terasa seperti mimpi demam yang intens.
Tak lama kemudian, Raisha bergerak. Matanya terbuka perlahan, lalu ia menatap Ayah yang ada di sebelahnya. Tidak ada rasa malu, kaget, atau penyesalan yang terlihat di wajahnya. Hanya ada ketenangan yang mengejutkan.
“udah bangun, Pah?” tanya Raisha, suaranya serak dan khas bangun tidur.
Ayah menarik napas dalam. “Udah. Tidur kamu nyenyak?”
Raisha tersenyum tipis. Ia menarik tangannya dari pinggang Ayah, lalu menelungkupkan badan, menatap Ayah dengan kedua tangannya menopang dagu.
“Nyenyak banget. nggak pergi sampai pagi, kan?”
Ayah merasa tenggorokannya tercekat. Ia meraih tangan Raisha, menggenggamnya erat. “papa nggak akan pergi.”
Keheningan melingkupi mereka, bukan lagi keheningan yang tegang, melainkan keheningan yang familiar keheningan setelah sebuah rahasia besar dibagikan.
Raisha kemudian bangkit, tanpa peduli dengan ketelanjangan mereka. Ia menggapai kaus Ayah yang terlempar di lantai.
“laper. Bikin kopi lagi, yuk?,” ujar Raisha santai, seolah baru saja meminta Ayah membawakan sarapan.
Ayah menatap punggung telanjang Raisha yang kini berjalan menuju kamar mandi.



