Bab 1: Sisa Sunyi di Rumah
Bab 2: Sembunyi di Antara Kabut
Perjalanan menuju pegunungan itu memakan waktu jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Keputusan yang serba mendadak membuat mereka baru benar-benar lepas dari kemacetan pinggiran kota ketika matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Ketika mobil akhirnya berbelok memasuki gerbang kayu villa keluarga yang sudah agak kusam catnya, langit di atas mereka sudah berubah menjadi hitam pekat tanpa bintang. Udara dingin yang tajam langsung menyergap masuk ke dalam kabin begitu Papa mematikan mesin, dan di sekeliling mereka hanya ada suara rintik gerimis tipis yang jatuh di atas dedaunan, bercampur dengan bunyi serangga malam yang bersembunyi jauh di balik rimbunnya pohon pinus.
"Dingin banget ya, Pa. Padahal baru jam segini, belum malem-malem amat juga," kata Raisha sambil menarik ritsleting jaket denim yang ia kenakan hingga ke pangkal leher.
Papa sudah membuka pintu bagasi dan mulai mengeluarkan barang bawaan mereka satu per satu. "Iya, di sini emang beda sama Jakarta. Langsung kamu masuk aja duluan, Ra, biar nggak kelamaan kena angin di luar. Papa yang urus sisanya, sekalian nanti Papa nyalain pemanas air di dalam biar kamu bisa mandi anget."
Raisha turun dengan langkah yang sedikit gontai karena perjalanan panjang tadi, lalu melangkah masuk ke dalam villa yang terasa beku. Bau kayu tua dan aroma khas ruangan yang sudah lama tidak dihuni menyambutnya begitu pintu terbuka. Ia menyalakan beberapa lampu di ruang tengah satu per satu, membiarkan cahaya kuning temaram perlahan mengusir kegelapan yang tadinya mendominasi setiap sudut ruangan.
Papa masuk beberapa menit kemudian membawa tas-tas mereka, napasnya sedikit terengah karena udara tipis yang dingin. Ia langsung meletakkan semuanya di dekat tangga sebelum berjalan ke arah dapur. "Bentar ya, Papa cek dulu kompor sama gasnya, siapa tahu udah habis dari terakhir kali kita ke sini. Oh iya, tadi Papa sempet liat ada gerobak martabak di deket gerbang bawah waktu kita masuk. Kalau kamu laper, bilang aja, Papa bisa turun lagi sebentar buat beliin."
"Nggak usah repot-repot, Pa, aku belum laper kok. Lagian Papa juga baru sampai, masa langsung turun lagi. Istirahat dulu kek," sahut Raisha dari sofa.
"Kamu dari pagi cuma makan sereal dikit banget, Ra, itu juga kayaknya nggak abis. Nanti malah drop badannya kalau dibiariin terus," suara Papa terdengar dari balik dinding dapur, diikuti bunyi klak-klik kompor yang sedang dicoba. "Air panasnya udah Papa nyalain, tapi tunggu sepuluh menit dulu ya sebelum mandi, biar nggak kaget sama suhunya."
Raisha menyandarkan kepalanya ke punggung sofa sambil menatap langit-langit villa yang berkayu gelap. Perhatian Papa yang sangat mendetail itu, dari suhu air mandi sampai jam makan, mendadak terasa seperti sesuatu yang menekan tanpa ia bisa jelaskan dengan tepat. Ia memejamkan matanya sebentar, mencoba menikmati keheningan yang ada.
Setelah mandi dan berganti ke kaos tidur yang longgar, Raisha kembali ke ruang tengah. Papa sudah duduk tenang di kursi malas, kacamata bacanya terpasang, sebuah buku tebal terbuka di tangannya. Di meja kopi rendah di depannya, ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis ke udara dingin.
Raisha duduk di sofa yang berseberangan, kakinya ditekuk ke atas kursi sambil memeluk lututnya sendiri. "Enak banget ya, Pa, kalau sepi kayak gini. Nggak ada yang hobi nanya ini-itu atau nyuruh-nyuruh beresin sesuatu."
Papa mendongak sebentar dari bukunya, tersenyum. "Makanya Papa ajak ke sini. Kamu tuh emang butuh tempat buat napas, Ra. Di Jakarta kamu kayak robot, semua diatur, semua harus beres dan sempurna. Di sini nggak ada yang ngatur, mau bangun siang juga nggak ada yang protes."
Raisha diam sebentar, matanya menerawang ke arah jendela yang hitam. "Iya sih. Tapi kadang aku ngerasa di mana-mana juga tetep sama aja."
Papa melirik sekilas ke arahnya, tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali ke bukunya, menyesap kopi dengan pelan.
Beberapa menit berlalu tanpa suara selain gerimis di luar dan sesekali bunyi kertas buku yang dibalik. Raisha melirik cangkir kopi Papa yang sudah kosong tergeletak di tepi meja. Ia berdiri dari sofa dengan gerakan yang ringan.
"Kopinya udah abis ya, Pa? Sini aku bawain ke dapur sekalian, aku juga mau ambil minum," kata Raisha sambil melangkah mendekat ke arah meja kopi yang rendah itu.
Papa nggak mengangkat matanya dari buku. "Oh, iya. Makasih, Ra. Taruh di wastafel aja, nanti Papa yang cuci."
Raisha sudah berdiri tepat di tepi meja. Alih-alih menekuk lutut untuk mengambil cangkir, ia membungkuk dalam-dalam dengan punggung lurus. Keheningan di ruangan itu terasa tidak berubah, tapi di posisi Papa yang duduk rendah di kursi malas sambil mendongak dari bukunya, pandangan keduanya tiba-tiba berada di level yang sangat berbeda.
Tangan Raisha bergerak lambat mencari gagang cangkir. Karena posisi membungkuk itu, kerah kaos tidurnya yang longgar otomatis jatuh menjauh dari dadanya. Di tengah keheningan itu, Papa yang tadinya sudah hendak bicara mendadak bungkam. Bukunya tidak dibalik.
Raisha tidak langsung berdiri. Ia justru menoleh sedikit ke arah Papa, masih dalam posisi yang sama. "Kok lengket ya, Pa? Papa tumpah tadi?"
Papa menelan ludah. Matanya berkedip cepat, mencari fokus ke arah lain. "Eh, iya, mungkin tadi ada yang tumpah dikit. Udah, bawa aja sana."
Raisha berdiri tegak, membawa cangkir itu menuju dapur dengan langkah yang tidak terburu-buru. Papa menatap halaman bukunya yang terbuka, tapi tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepalanya. Jantungnya masih berdegup lebih kencang dari seharusnya, dan di luar, gerimis terus turun tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan itu.
Bab 3: Malam yang Tidak Punya Nama
Raisha berdiri di depan wastafel dapur lebih lama dari yang seharusnya. Air mengalir membilas cangkir yang sebetulnya sudah bersih dari tadi, tapi tangannya tidak berhenti bergerak. Dia butuh jeda. Butuh jarak beberapa menit dari ruang tengah dan dari kursi malas itu dan dari mata Papa yang tadi berkedip terlalu cepat.
Setelah menuang segelas air untuk dirinya sendiri, dia kembali ke ruang tengah.
Papa sudah meletakkan buku di meja kopi. Kacamatanya masih terpasang tapi pandangannya tidak ke mana-mana yang jelas. Televisi dinyalakan dengan volume hampir nol, saluran berita yang tidak ada seorang pun dari mereka pedulikan.
Raisha tidak kembali ke sofa yang tadi. Dia menjatuhkan diri ke karpet, memunggungi Papa, bahunya nyaris menyentuh kaki kursi tempat Papa duduk.
"Dingin banget ya, Pa. Vilanya kayak nggak pernah kena matahari sama sekali."
"Emang altitude-nya tinggi di sini. Kamu mau Papa ambilkan selimut dari kamar dalam?"
"Nggak usah repot, Pa. Aku nggak sedingin itu juga kok." Raisha meneguk airnya pelan. "Lagian kalau Papa pergi ke kamar, di sini jadi sepi."
Papa tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke layar televisi yang tidak dia tonton.
Beberapa menit berlalu tanpa suara yang berarti. Raisha memeluk lututnya sendiri, dagunya bertumpu di atas lutut, menatap ke arah jendela yang mulai berembun tipis. Di luar, kabut sudah turun lebih rendah dari tadi. Pohon-pohon pinus di halaman villa hampir tidak kelihatan lagi dari dalam ruangan.
"Pa, aku boleh tanya sesuatu yang agak aneh?"
"Tanya aja."
"Papa kesepian nggak, sebenernya? Bukan cuma malam ini maksudnya. Tapi secara umum."
Papa melirik ke bawah ke arah Raisha sebentar. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Nggak tau. Kayaknya aku ngerasa Papa tuh sering sendirian tapi nggak pernah ngomong apa-apa. Pura-pura sibuk terus biar nggak ketahuan."
"Papa baik-baik aja, Ra."
"Aku nggak nanya Papa baik-baik aja apa nggak. Aku nanya Papa kesepian apa nggak."
Papa terdiam. Itu bukan sanggahan.
Raisha berdiri pelan. Dia mengambil selimut rajut tipis dari ujung sofa, tapi tidak duduk kembali di lantai. Dia duduk di lengan kursi Papa, sisi kanannya, tubuhnya condong dengan jarak yang terlalu kecil untuk disebut kebetulan. Bahu mereka hampir menyentuh.
"Ra, kamu—"
"Pa." Raisha memotong kalimat itu dengan suara yang tenang, sangat tenang, sambil menatap lurus ke arah jendela yang gelap. "Aku mau ke kamar. Mau Papa temenin?"
Keheningan yang menyusul kalimat itu terasa seperti sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan.
Papa tidak langsung menjawab. Napasnya keluar sedikit lebih berat dari biasanya. Dia menatap profil wajah Raisha yang tidak menoleh ke arahnya, yang justru terlihat sangat tenang, sangat sabar, seperti orang yang sudah tahu jawabannya dan hanya menunggu orang lain menyusul sampai ke sana.
"Raisha. Kamu tahu apa artinya yang kamu minta barusan."
"Iya." Raisha akhirnya menoleh. Matanya bertemu mata Papa dari jarak yang terlalu dekat. "Aku tahu."
Papa menutup matanya sebentar. Terlalu lama untuk sekadar berkedip. Ketika dibuka lagi, Raisha masih di tempat yang sama, masih menatap ke arah yang sama, tidak bergerak satu sentimeter pun.
"Ini salah," kata Papa. Suaranya keluar seperti orang yang sudah kalah sebelum kalimatnya selesai.
"Aku tahu," ulang Raisha, sama pelannya. "Tapi Papa mau kan."
Di luar, hujan mulai turun. Pelan dulu, kemudian tidak pelan lagi. Dan di dalam villa itu, Papa tidak lagi menjawab dengan kata-kata.
Bab 4: Kamar yang Tidak Punya Saksi
Kamar tamu villa itu tidak pernah benar-benar dipakai siapa pun. Selimutnya terlipat rapi dengan cara yang terasa terlalu formal, seperti kamar hotel yang tidak pernah dipesan. Raisha menyalakan lampu tidur di sudut ruangan, cahaya kuning redup yang cukup untuk melihat tapi tidak cukup untuk membuat semuanya terasa nyata.
Papa berdiri di dekat pintu yang masih terbuka setengah. Tangannya memegang kusen dengan cara yang terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan untuk balik kanan.
"Ra, Papa mau ngomong sesuatu."
"Papa udah ngomong banyak banget dari tadi." Raisha meletakkan selimut rajutnya di atas kasur, lalu duduk di tepinya, menatap Papa dengan ekspresi yang tidak menghakimi. "Dan Papa tetap di sini."
Papa tidak menyangkal itu.
Ruangan itu kecil. Tiga langkah dari pintu ke tempat Raisha duduk, tidak lebih. Papa akhirnya melepaskan pegangannya pada kusen pintu, masuk sepenuhnya, dan pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa lebih keras dari seharusnya.
"Aku nggak mau Papa nyesel," kata Raisha pelan. "Kalau Papa mau pergi, pergi sekarang. Aku nggak bakal marah."
"Kalau Papa pergi sekarang," Papa menjawab dengan suara yang berat, "Papa bakal nyesel juga."
Raisha menatapnya beberapa detik. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah Papa, berhenti tepat di depannya. Dari jarak itu Papa bisa mencium sampo yang masih tersisa di rambut Raisha, aroma yang terlalu familiar dan sekarang terasa seperti sesuatu yang sama sekali berbeda.
Raisha mengangkat tangannya, menyentuh dada Papa dengan telapak tangan penuh. "Kenceng banget," katanya.
"Iya."
"Papa takut?"
"Sangat."
"Aku juga." Raisha tidak menarik tangannya. "Tapi aku tetap mau."
Tangan Papa bergerak akhirnya, menemukan sisi wajah Raisha, ibu jarinya mengusap tulang pipi anaknya sekali. Setelah itu tidak ada lagi jarak di antara mereka. Papa yang merunduk duluan, dan ketika bibirnya menyentuh bibir Raisha untuk pertama kalinya, keduanya tidak bergerak sebentar, seperti dua orang yang baru saja melompat dari tempat tinggi dan belum yakin kapan tanah akan terasa.
Lalu Raisha menutup jarak terakhir itu sepenuhnya, tangannya naik ke kerah kaos Papa, dan Papa berhenti menahan apapun.
Mereka bergerak ke arah kasur dengan pelan. Selimut yang terlipat rapi itu tersibak. Papa berbaring di sisinya, menatap Raisha yang ada di hadapannya dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi, campuran antara sesuatu yang sangat dia inginkan dan sesuatu yang dia tahu tidak seharusnya dia miliki.
Raisha menyentuh rahangnya. "Jangan mikir dulu, Pa."
Dan Papa memilih untuk menurut.
Yang terjadi setelahnya berlangsung dengan tempo lambat di bawah cahaya lampu tidur yang redup, dengan hujan yang terus turun di luar dan kabut yang sudah menutup seluruh halaman villa. Tidak ada yang tergesa-gesa. Papa memperlakukan Raisha dengan cara yang terlalu hati-hati untuk situasi yang sudah melampaui semua batas kehati-hatian, dan Raisha membiarkan dirinya ada di sana sepenuhnya, tanpa menarik diri, tanpa menyesal.
Di sela semuanya, Papa menyebut nama Raisha satu kali dengan suara yang hampir tidak keluar. Hanya namanya. Dan Raisha menjawab dengan mempererat pegangannya.
Hujan tidak berhenti sampai jauh lewat tengah malam.
Papa menopang tubuhnya dengan kedua lengan, menatap Raisha dari atas dengan napas yang sudah tidak teratur. Di cahaya lampu tidur yang redup itu, wajah anaknya terlihat seperti orang asing yang sangat dia kenal.
"Ra," panggilnya, tanpa kelanjutan.
"Aku di sini, Pa," jawab Raisha.
Papa menurunkan kepalanya, bibirnya menyentuh dahi Raisha dulu, lalu tulang pipinya, lalu sudut bibirnya, seperti orang yang sedang menghafalkan sesuatu lewat sentuhan. Raisha menutup matanya. Tangannya bergerak dari kerah kaos Papa ke punggungnya, merasakan otot di sana yang menegang setiap kali Papa bergerak.
Kaos Papa akhirnya tidak di tempatnya lagi. Raisha yang menariknya dari bawah, Papa yang menyelesaikan sisanya. Tidak ada yang tergesa-gesa meski keduanya sudah tidak bisa berpura-pura tenang. Papa meletakkan tangannya di sisi pinggang Raisha, jemarinya menelusuri lekukan di sana dengan cara yang sangat hati-hati, terlalu hati-hati, seperti orang yang takut sesuatu yang dia pegang akan pecah kalau dia tidak cukup berhati-hati.
"Papa," Raisha memanggil dengan suara yang lebih pelan dari bisikan.
Papa mengangkat kepalanya, menatap Raisha.
"Jangan pelan-pelan banget," kata Raisha.
Sesuatu di wajah Papa berubah setelah kalimat itu. Kehati-hatian yang tadi mendominasi setiap gerakannya perlahan-lahan luruh, digantikan oleh sesuatu yang lebih jujur dan lebih dalam dari itu. Papa menarik Raisha lebih dekat, dan Raisha membiarkan dirinya ditarik.
Malam itu tidak punya saksi selain hujan yang terus turun di luar jendela dan kabut yang sudah lama menutup seluruh halaman villa. Di dalam kamar kecil dengan lampu tidur yang nyaris tidak menerangi apapun, dua orang yang seharusnya tidak berada di sana melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka tarik kembali.
Papa menyebut nama Raisha beberapa kali malam itu. Selalu hanya namanya. Tidak ada kata lain yang keluar. Dan setiap kali dia memanggilnya, Raisha menjawab dengan mempererat pegangannya, mengatakan dengan cara itu bahwa dia masih di sini, masih di sini, masih di sini.
Papa menarik Raisha lebih dekat, tapi Raisha tidak membiarkan dirinya sekadar ditarik. Tangannya mendorong bahu Papa pelan sampai Papa berbaring sepenuhnya, lalu Raisha menggeser posisinya, duduk di atas Papa dengan kedua lututnya menjepit sisi pinggang Papa di kiri dan kanan.
Papa menatap ke atas. Ekspresinya adalah sesuatu yang tidak pernah Raisha lihat sebelumnya di wajah itu. Bukan lagi ayahnya yang berdiri di depan pagar pagi tadi. Bukan lagi orang yang mengatur suhu air mandi dan khawatir soal makan malam.
"Ra." Suaranya keluar dengan berat.
"Diam dulu, Pa." Raisha membungkuk, rambutnya jatuh ke satu sisi, ujungnya menyapu dada Papa. Bibirnya menyentuh rahang Papa, lalu lehernya, dan Papa menutup matanya seperti orang yang menyerah pada sesuatu yang sudah lama dia lawan.
Tangan Papa naik, menemukan pinggang Raisha, mempererat pegangan di sana. Raisha bergerak, dan Papa mengikuti ritme itu dengan cara yang tidak lagi ragu, tidak lagi hati-hati seperti sebelumnya.
Di posisi itu Raisha bisa melihat wajah Papa sepenuhnya. Setiap ekspresi yang lewat, setiap kali napasnya tidak teratur, setiap kali dia hampir menyebut sesuatu tapi tidak jadi. Papa membuka matanya sekali, menatap Raisha dari bawah, dan untuk beberapa detik keduanya hanya saling menatap di tengah semuanya.
Papa yang menundukkan pandangannya duluan.
Raisha tersenyum tipis, lalu membungkuk lagi, dagunya menyentuh dahi Papa. "Masih di sini, Pa," bisiknya.
Dan Papa menjawab dengan mempererat pegangannya di pinggang Raisha sampai jemarinya memutih.
Papa menurunkan kepalanya, bibirnya menyentuh dahi Raisha dulu, lalu tulang pipinya, lalu sudut bibirnya, seperti orang yang sedang menghafalkan sesuatu lewat sentuhan. Raisha menutup matanya. Tangannya bergerak dari kerah kaos Papa ke punggungnya, merasakan otot di sana yang menegang setiap kali Papa bergerak.
Kaos Papa akhirnya tidak di tempatnya lagi. Raisha yang menariknya dari bawah, Papa yang menyelesaikan sisanya. Papa menatap Raisha sebentar setelah itu, tangannya bergerak pelan ke bahu Raisha, menelusuri tali kaos tidurnya, berhenti.
"Ra."
"Aku mau, Pa," kata Raisha sebelum Papa selesai bertanya.
Papa menarik napas panjang, lalu tangannya bergerak lagi. Perlahan. Kaos tidur Raisha yang longgar itu melorot dari bahunya, dan Papa hanya menatap dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi di wajahnya. Bukan nafsu yang kasar. Sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu.
"Kamu cantik," kata Papa akhirnya, dengan suara yang hampir tidak keluar.
Raisha tidak menjawab. Dia hanya menarik Papa kembali ke bawah.
Setelah itu Raisha yang mengambil alih. Tangannya mendorong bahu Papa pelan sampai Papa berbaring sepenuhnya, lalu dia menggeser posisinya, duduk di atas Papa dengan kedua lututnya menjepit sisi pinggang Papa di kiri dan kanan.
Bab 5: Oleh-Oleh dari Surabaya
Mama dan Callie tiba dua hari setelah malam itu.
Mobil masuk ke halaman villa menjelang sore, klaksonnya berbunyi dua kali seperti biasa. Raisha yang sedang duduk di teras langsung berdiri, masuk ke dalam, dan duduk di sofa dengan ponsel di tangan seolah dia sudah di sana dari tadi. Papa yang sedang di dapur menyeduh kopi mematikan kompor, merapikan celemek dengan gerakan yang terlalu rapi untuk situasi yang sebiasa itu.
Callie masuk duluan, tas belanjaan di kedua tangannya, langsung nyerocos sebelum pintu sepenuhnya terbuka. "Adek, aku beli batik buat kamu, tapi motifnya aku pilih sendiri ya jadi jangan complain kalau nggak cocok sama selera kamu yang aneh itu."
"Makasih, Kak." Raisha menerima kantong yang disodorkan Callie tanpa berdiri.
Mama masuk, langsung melepas sepatu di depan pintu dan menghela napas panjang. "Capek banget, tiga jam di jalan. Pa, masih ada kopi nggak? Mama butuh yang panas."
"Ada, Ma. Bentar Papa ambilkan." Suara Papa keluar dari dapur, terdengar normal, terdengar seperti biasa.
Callie menjatuhkan diri di sofa sebelah Raisha, menyandarkan kepalanya ke bahu adiknya. "Vilanya enak nggak? Kalian ngapain aja dua hari di sini? Sepi nggak?"
"Biasa aja," jawab Raisha. "Nggak ngapa-ngapain. Hujan terus."
"Ih males banget. Aku mending di Surabaya kalau gitu, minimal ada yang bisa dikunjungi." Callie mengambil ponsel Raisha dari tangan adiknya, melihat layarnya yang kosong, tidak ada aplikasi yang terbuka. "Kamu nggak ngapa-ngapain beneran ya. Bahkan hp juga nggak dipake."
Raisha mengambil kembali ponselnya. "Istirahat."
Papa keluar dari dapur membawa dua cangkir, satu untuk Mama yang sudah duduk di kursi malas, satu lagi dia letakkan di meja kopi tanpa menjelaskan untuk siapa. Matanya tidak ke arah Raisha. Raisha juga tidak ke arahnya.
Callie tidak memperhatikan itu.
Mama memperhatikan.
Bukan dengan cara yang dramatis. Bukan tatapan curiga yang menusuk. Hanya cara matanya bergerak dari Papa ke Raisha sebentar, lalu kembali ke cangkir kopinya. Satu detik, tidak lebih. Tapi Raisha menangkap itu dari sudut matanya.
Malam itu mereka makan malam berlima di meja kayu villa yang terlalu besar untuk empat orang, apalagi lima. Callie yang paling banyak bicara, cerita soal restoran di Surabaya yang masakannya mengecewakan dan toko batik yang penjualnya terlalu agresif menawarkan barang. Papa merespons dengan anggukan dan pertanyaan pendek di waktu yang tepat. Mama makan dengan tenang.
Raisha makan dengan tenang.
Dan di bawah meja, tanpa ada yang melihat, jari-jari Raisha mencengkeram ujung taplak meja sepanjang makan malam berlangsung.
