Pandangan Leo bergerak tanpa banyak usaha untuk disamarkan. Daster yang dikenakan Olla jatuh ringan di tubuhnya, terlalu tipis untuk sekadar disebut pakaian rumahan biasa. Garis bahu, pinggang, sampai lekuk tubuhnya terbaca jelas kalau diperhatikan lebih lama. Cahaya lampu ruang tamu yang redup justru membuat semuanya terasa lebih terbuka, lebih dekat.
Olla sadar dirinya sedang jadi pusat perhatian. Ia bisa merasakannya tanpa perlu menoleh. Namun ia tak buru-buru menjauh. Punggungnya tetap bersandar di dinding, mencoba bertahan dengan sikap santai, walau tubuhnya terasa sedikit goyah setelah hari yang panjang.
Keheningan di antara mereka mendadak berubah. Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang menunggu sesuatu terjadi.
“Nggak, bukan haus,” bisik Leo. Tangannya yang kasar bergerak pelan, menyusuri pipi adiknya, seperti orang yang baru nemu tempat pulang setelah hari panjang.
Olla mengalihkan pandangan. Dadanya naik turun mengikuti napas Leo yang berat dan tidak teratur. “Lo capek, ya?” ucapnya pelan. Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, “Capek banget, kan.”
Leo menarik napas dalam-dalam, seolah dadanya terlalu sempit buat semua yang ia simpan. Suaranya turun, agak serak. “Iya. Capek. Gue butuh lo.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, lebih jujur dari yang ia rencanakan.
“Makanya gue buru-buru pulang. Gue cuma pengin ada di sini. Sama lo.”
Olla tidak menjawab. Ia hanya mendekat, membiarkan Leo bersandar.
“Temenin abang malam ini,” kata Leo pelan. “Itu aja udah cukup buat ngisi ulang tenaga gue.”
Tiba-tiba, Olla memiringkan kepala. Dengan satu sentakan lembut, ia melepaskan bibirnya dari Leo. Suara ‘plop’ kecil memecah keheningan.
Leo terdiam, kaget tapi tak marah. Matanya memburu Olla dengan penuh tanya. Bibir Olla membengkak, basah oleh yang tertahan. Ia menunduk, napas tersengal-sengal.
Dengan perlahan, Olla meraih tangan Leo. Jari-jemarinya yang dingin menggenggam tangan abangnya yang hangat dan kasar, sebuah kontras yang menguatkan.
"Di sini... nggak enak," bisiknya serak, matanya mengelilingi ruang tamu yang remang. Kursi, meja, bahkan foto keluarga di dinding seperti menjadi saksi yang mengusik.
Tatapan Olla kembali pada Leo, kali ini penuh arti tanpa kata. Sebuah pilihan yang tersampaikan lewat mata."Sofa".
Mereka berhenti di depan sofa empuk. Olla duduk lebih dulu, tubuhnya tenggelam di bantal lembut. Lelah latihan teater yang menumpuk terasa mencair, digantikan oleh sensasi baru yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Leo melepaskan ranselnya, menjatuhkannya ke lantai dengan bunyi gedebuk. Dia duduk di samping Olla, sofa sedikit berderit. Tubuhnya yang besar membuat Olla seperti tenggelam di bawah bayang-bayangnya.
Leo nggak langsung menyentuh Olla. Dia cuma duduk, napasnya berat, menatap wajah adiknya yang masih terpoles sisa make-up dan daster tipisnya yang melorot.
"Sini," gumam Olla, suaranya kembali serak, tapi kali ini nggak ada lagi keraguan. Dia menarik tangan Leo, menaruhnya di pinggangnya sendiri, lalu bersandar ke bahu abangnya.
Itu bukan permintaan. Itu adalah sebuah isyarat. Sebuah isyarat kalau Olla nggak cuma pasrah, tapi juga butuh. Butuh sosok abangnya, dalam cara yang mereka berdua saja yang mengerti.
Olla bersandar, kepalanya di bahu Leo, dan tangannya menuntun tangan abangnya ke pinggangnya. Itu bukan permintaan, melainkan sebuah isyarat. Sebuah isyarat yang langsung dipahami Leo. Dia nggak bergerak, tapi napasnya yang berat terasa di puncak kepala Olla. Leo membiarkan Olla mengambil napas, memberi waktu pada adiknya untuk merasa nyaman.
Leo membungkuk, menempatkan bibirnya lagi di bibir Olla. Ciuman ini lebih dalam, tapi tetap penuh kehangatan. Olla
Olla membalas ciuman itu, tangannya melingkar erat di leher abangnya. Leo membelai pinggang Olla, tangannya naik menyusuri punggung adiknya, dan berhenti di leher. Perlahan, ia melepaskan kaitan daster Olla. Dengan gerakan lembut, kain tipis itu ia singkap, membuatnya melorot. Leo melempar jaketnya ke lantai, lalu dengan tangan satunya, ia memelorotkan celananya cukup sampai di bawah paha, membiarkan area vitalnya terbuka.
Di bawah daster yang sudah melorot, bra hitam Olla masih terpasang, kontras dengan kulit putihnya yang terlihat di cahaya remang. Leo menatap sejenak, tatapannya penuh arti, sebelum mengangkat Olla. Olla, dengan daster yang hanya menutupi pinggang, terangkat, lalu ia tuntun untuk duduk di atas pangkuannya.
Olla kini duduk di atas pangkuan Leo, saling berhadapan. Kaki Olla mengangkang, menempel erat di pinggang abangnya. Daster tipis itu sudah sepenuhnya terlepas. Jarak di antara mereka sangat dekat, mereka bisa merasakan napas satu sama lain. Olla dengan tangan yang masih melingkar di leher abangnya, Leo dengan kedua tangan di pinggang Olla, mengusap pelan kulit di atas daster yang melorot itu.
Tatapan mereka bertemu. Di mata Leo, Olla melihat pantulan dirinya yang polos, rentan, dan… penuh makna. Hanya ada suara napas mereka yang makin berat, dan kehangatan yang menjalar dari tubuh yang saling menempel. Itu bukan lagi soal abang dan adik, itu adalah dua manusia yang akhirnya menemukan rumah satu sama lain di tengah malam yang sunyi.
"Abang... pakai kondom dulu, ya," bisiknya tipis, suaranya seperti napas yang mulai naik-turun tak beraturan. Tangannya meremas bahu Leo, seolah mencari pegangan di tengah pusaran perasaan yang semakin sulit ditahan. Matanya goyah, terpancar rasa takut, tapi juga ada kenekatan yang tak mampu menutupi hasrat yang sudah lama terpendam.
Leo menarik napas dalam, menatap Olla dengan mata yang penuh pengertian dan hormat. “Iya, Lla. Gue nggak akan lupa,” jawabnya lembut, lalu perlahan meraih tas yang tergeletak di sudut ruangan.
Suasana menjadi hening sejenak, hanya suara langkah ringan Leo dan bisikan napas mereka yang terdengar. Olla masih merasakan detak jantungnya yang cepat, bergumul antara rasa takut dan keinginan yang tak terbendung.
Ketika Leo kembali, ia membawa sesuatu yang membuat Olla merasa lebih aman dan siap. Dengan gerakan yang hati-hati, mereka perlahan melanjutkan momen itu, saling menjaga batas dan rasa, saling menghargai ketakutan dan harapan.
Dalam pelukan itu, meski dibalut keraguan, mereka menemukan cara untuk saling memberi, saling melindungi, sebuah ikatan yang rumit tapi nyata, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
Tiba-tiba Olla berhenti. Tubuhnya masih menyatu dengan Leo, tapi dia enggak bergerak. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, dan suaranya keluar pelan, bergetar di antara desahan yang belum sepenuhnya sirna.
“Lo sadar enggak, Bang,” bisiknya nyaris seperti isak tertahan, “kita ini dosa banget, ngelakuin ini.”
Matanya berkaca, menatap wajah Leo dari jarak yang begitu dekat. Terlalu dekat buat menyangkal apa pun yang sudah mereka rasakan.
Leo terdiam. Tubuhnya kaku, batangannya masih tertanam, panas dan keras di dalam tubuh adiknya. Dada Leo naik turun, peluh menetes dari pelipis, tapi sorot matanya campur aduk, bersalah, cinta, terperangkap, namun juga belum siap berhenti.
“Gue tahu, Lla,” suaranya berat, dalam, dan putus-putus. “Tiap detik, gue sadar. Tiap kali nyentuh lo, cium lo, masuk ke lo, gue tahu ini salah.”
Dia menelan ludah, susah payah menahan getaran suaranya sendiri.
“Tapi gue juga tahu, gue enggak bisa jauh dari lo. Gue butuh lo. Lo satu-satunya yang bisa bikin gue ngerasa hidup.”
Olla tersenyum tipis. Senyum yang miris, pahit, penuh luka. Namun justru saat itu, tangannya melingkar makin erat di leher Leo. Dia sudah pasrah, atau mungkin sudah capek melawan.
Tubuhnya kembali bergoyang perlahan. Gerakan kecil, tapi penuh penyerahan. Erangan tipis lolos dari bibirnya, matanya tetap basah, tapi dia terus bergerak.
“Tuhan pasti marah, ya,” gumamnya, nyaris enggak terdengar. “Kita kakak-adik, kandung pula.”
Leo menunduk, bibirnya menyentuh kening Olla dengan lembut. Seolah itu bisa menebus semua dosa yang sudah mereka perbuat. Tangannya melingkari pinggang ramping itu, meremasnya seolah takut kehilangan.
“Gue juga mikir gitu. Tiap kali kita selesai bareng, gue selalu mikir, ini gila. Ini dosa. Tapi tiap kali bangun tidur, gue tetap pengen lo. Tetap nyari lo.”
Lalu, tanpa bisa menahan lagi, pinggul Leo menghentak lebih dalam, lebih tajam. Seperti ledakan rasa yang enggak bisa ditunda.
“Karena gue sayang lo, Lla, lebih dari apa pun. Mungkin salah, tapi buat gue, ini satu-satunya yang benar.”
Olla tertawa kecil, napasnya berat, matanya masih berkaca. Tapi ada sesuatu yang cair di sana, keikhlasan aneh, yang justru bikin semuanya makin menyakitkan.
“Lo ngomong gitu biar gue makin pasrah ya?” celetuknya sambil tersenyum pahit, walau suaranya masih gemetar. “Licik lo, Bang, dasar!”
Namun tangannya enggak melepas. Tubuhnya enggak mundur. Malah makin menempel, makin terbuka.
Leo ikut tertawa, napasnya masih memburu. Keringat di pelipis belum sempat kering saat tangannya tiba-tiba melingkar di pinggang Olla dan mengangkat tubuh Olla dari pangkuannya.
“Gue pengen coba yang lain, Lla,” bisiknya di telinga, suaranya rendah dan dalam. Mata Leo menyala, hasratnya belum padam, malah makin liar.
Olla membalas tatapan itu dengan senyum nakal. Napasnya masih berat, tapi suaranya jadi manja dan genit.
“Mau yang gimana, Abangku sayang?” godanya, sambil menggigit bibir bawah pelan. Matanya separuh menantang, separuh pasrah.
Leo tersenyum makin lebar. Tangannya naik, mengelus pipi Olla dengan lembut, lalu turun ke dada, bermain dengan puting Olla dengan usil.
Olla terkekeh, nyengir sambil menengok ke dadanya sendiri, ada keraguan samar di sana.
“Bang, gue kecil banget, yakin mau gini?” celetuknya, alisnya naik. Nada bercanda, tapi jelas ada rasa enggak pede yang enggak bisa disembunyiin.
Leo menggeleng pelan, lalu meremas lembut salah satu payudara Olla. Seolah jawabannya dikasih lewat sentuhan.
“Kecil apaan, Lla? Buat abang mah ini surga,” jawabnya yakin. “Santai aja, turun dulu. Nanti lo lihat sendiri.”
Akhirnya Olla nurut. Dia turun ke lantai, tubuhnya pelan-pelan ambil posisi, tapi belum juga sempat mengatur napas, dia langsung manyun.
“Bang, dada gue kecil banget, ya. Kalo dipaksa, bukan makin enak, malah bisa kram,” gumamnya sambil mengusap pahanya sendiri.
Leo langsung tertawa pelan, duduk selonjor sambil menikmati pemandangan yang terbuka jelas di depannya.
“Udah kayak mau yoga aja. Tarik napas, lepasin tensinya,” ucapnya sok bijak, sambil ketawa nahan.
Olla melirik tajam, senyum cengengesan muncul lagi di sudut bibirnya.
“Gue bukan instruktur yoga, Bang. Posisi lo ini malah kayak kepiting terbalik. Yakin ini seksi?”
Leo maju sedikit, tangannya lembut membantu mengatur posisi kaki Olla.
“Buat abang mah, ini posisi paling sakral. Nih, udah pas. Jepit dikit ya,”
Olla coba nurut, tapi langsung meringis.
“Aduh, jepitan gue lemah banget, Bang. Kayak capit udang yang udah pensiun,” celetuknya sambil ngakak, setengah ngos-ngosan.
Leo langsung ngakak keras, suaranya serak dan puas.
“Capit udang pensiun?! Lo ngaco banget, sumpah! Ini baru cewek paling ngocol.”
Olla ikutan ketawa, senyum cengengesan enggak hilang dari wajahnya.
“Serius, Bang. Takut lo kecewa nanti. Keluar kamar lo ngedumel ke tembok, ‘Kenapa jepitannya lembek, Tuhan?!’”
Leo ketawa sambil mengelus pipi Olla, kali ini dengan sentuhan yang lebih hangat, lebih tenang. Matanya enggak cuma lapar, tapi penuh rasa.
“Lla, buat abang, lo bukan cuma jepitan. Lo tuh paket lengkap: lucu, manis, dan yang paling abang sayang.”
Olla mendengus manja, tangannya mengelus dada Leo sambil mesem.
“Iya iya. Abis ini lo bor lagi, kan, tukang tambang?”
Leo nyengir lebar. Matanya menyala. Tangannya sudah mulai gerak ke bawah lagi.
“Bor premium, buat tanah liat selembut lo,” bisiknya, lalu langsung siap pasang posisi.
Dan babak baru pun dimulai dengan tawa, desahan, dan dosa yang mereka peluk bareng, tanpa penyesalan.
Olla menarik napas dalam, tapi tetap terasa sempit di dadanya. Di antara gerakan tubuh dan napas yang belum sepenuhnya teratur, dia mendadak ragu. Bukan karena sakit, tapi karena bayang-bayang di pikirannya yang tak mau diam.
Dia menatap ke bawah, lalu kembali menatap wajah Leo dengan sorot yang agak redup.
“Bang,” suaranya pelan, namun jelas. “Gue pengen bikin lo nyaman, sungguh. Tapi kadang gue ngerasa kayak enggak cukup. Badan gue, tenaga gue, semuanya. Gue takut lo kecewa.”
Leo enggak langsung jawab. Dia hanya memandangi Olla dalam diam, mata yang membaca jauh lebih dalam dari sekadar kata. Lalu, tangannya naik, mengusap pipi Olla dengan gerakan pelan yang terasa sabar dan meyakinkan.
“Lla, dengerin gue.”
Nadanya tenang, tapi penuh tekanan yang lembut. “Lo enggak perlu jadi sempurna buat nyenengin gue. Lo enggak harus kuat terus. Lo cukup ada. Di sini. Sama gue. Mau jalanin ini bareng.”
Olla terdiam. Tarik napas lagi. Kali ini lebih tenang, lebih stabil. Bahunya yang tadinya tegang kini mulai rileks. Tapi dari sudut matanya, terlihat kilau bening yang enggak bisa ditahan.
“Makasih,” bisiknya. “Kadang gue ngerasa, gue bukan yang paling ‘wah’ buat lo. Dan gue takut lo bosen. Takut lo nyari yang lebih.”
Leo langsung mengeratkan genggamannya di tangan Olla. Matanya tajam, tapi bukan karena marah, karena dia benci Olla meragukan sesuatu yang dia rasa paling pasti dalam hidupnya.
“Jangan pernah berpikir kayak gitu,” suaranya rendah, tapi mantap. “Lo bukan pelarian. Bukan pilihan kedua. Lo adalah pusat dari semua rasa yang gue punya. Abang enggak pernah butuh yang paling top, cukup yang paling nyata.”
Dia mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh pelipis Olla dengan lembut.
“Dan itu lo, Lla. Dari dulu sampai sekarang.”
Olla menutup mata, dan untuk pertama kalinya malam itu, tubuhnya benar-benar tenang. Bukan karena hasrat yang terpuaskan, tapi karena akhirnya dia percaya, apa yang mereka jalani mungkin salah, tapi perasaannya enggak pernah setengah.
Olla menunduk perlahan, napasnya belum sepenuhnya stabil. Tangannya meraih batang Leo yang masih hangat. Dengan gerakan pelan, dia tempatkan itu di antara belahan dadanya, yang meski tak sempurna di matanya, terasa pas di genggaman tangannya sendiri.
Dia tekan perlahan, menciptakan ruang sempit yang hangat dan lembut. Lalu mulai bergerak. Naik, turun, ritmis dan sabar, seolah ingin memberi Leo sesuatu yang lebih dari sekadar sensasi, sebuah pembuktian kecil bahwa dirinya juga bisa memberi nikmat, dengan caranya sendiri.
Kulitnya yang halus, lembap, bergerak mulus di sepanjang batang Leo. Di sela gerakan, Olla menjilat bibir, lalu meludah sedikit. Pelicin alami yang jatuh tepat di tempat yang mereka butuhkan. Air liurnya mengalir pelan, menyatu dengan sisa cairan hangat yang sudah ada, menciptakan suara samar yang membuat napas Leo makin berat.
Mata mereka saling bertemu. Leo hanya bisa mendesah tertahan. Satu tangannya menggenggam ujung sofa, satunya lagi terulur ke rambut Olla. Ekspresi wajahnya menunjukkan campuran terharu dan gairah yang semakin kuat.
Leo menatap ke bawah dengan tatapan lapar sekaligus terpesona. Tubuhnya setengah bersandar, dada naik-turun, dan jemarinya bergantian menyusuri rambut Olla lalu turun ke bahunya. Kadang lembut, kadang mencengkeram pelan, seperti enggak percaya cewek itu nyata.
Di bawah, Olla sedang menikmati peran barunya. Kepalanya turun-naik perlahan, dan di antara belahan dadanya, batang Leo terjepit rapat, licin, panas, dan makin keras.
Dia mendongak, menatap Leo sambil tersenyum miring, matanya bercahaya penuh kelicikan manja.
“Lo suka banget ya, Bang, dijepit bocil beginian?” godanya, suaranya manja, tapi ucapannya tajam, menancap di ego Leo.
Sebelum Leo sempat menjawab, lidah Olla menjulur pelan, menjilat ujung kepala batang Leo setiap kali nongol dari sela dadanya. Sentuhan basah itu bikin Leo bergidik, desahan berat keluar dari tenggorokannya, terdengar kasar dan nyaris primal.
“Bocil apaan,” gumamnya serak, napasnya berat, matanya mulai sayu. “Ini bocil paling maut yang pernah abang rasain seumur hidup.”
Tangan Leo turun lagi, kali ini meremas bahu Olla lebih keras, seolah tiap tetes nikmat itu butuh cara untuk ia salurkan.
Olla mengedip genit, bibirnya melebar membentuk senyum penuh dosa, lalu lidahnya keluar lagi, lebih lambat, lebih dalam. Dia mengecap, menjilat, dan melumasi kepala penis Leo dengan gerakan melingkar yang penuh perhitungan.
“Nah, gitu dong,” bisiknya pelan, nadanya centil tapi tajam, seolah dia yang pegang kendali sekarang. “Abang tuh kalo udah ngaceng, kerasnya kayak tiang pancang. Panas pula. Apa jangan-jangan abang ini mesin bor yang nyamar jadi manusia?”
Leo hanya bisa tertawa pelan, tapi suaranya parau. Satu tangan melorot ke belakang kepala Olla, jari-jarinya masuk ke rambutnya. Saat Olla terus bergerak, cengkeraman tangannya makin kuat, mendorong kepala Olla agar lebih dalam.
“Terusin, jangan berhenti, abang udah mau keluar, Lla.”
Dan Olla, dengan senyum kecil penuh kemenangan, mulai mempercepat gerakan dadanya. Sensasi gesekan dan jilatan makin liar, makin licin, makin sulit ditahan.
Karena malam itu, dia bukan cuma adik yang manja, tapi wanita yang tahu persis gimana cara ngerobohin laki-laki sampai ke akar.
Leo sudah di ambang batas. Pinggulnya mulai ikut bergerak perlahan, thrust demi thrust, mendorong batangnya maju-mundur di sela payudara Olla yang hangat dan lembap. Setiap gesekan bikin otot perutnya menegang, dan tiap tetes ludah Olla yang menempel di kulit makin memperhalus gesekan itu jadi sesuatu yang nyaris terlalu nikmat.
“Anjing, Lla…” gumamnya, suaranya berat, nyaris gemetar. “Lo kayak… nyodorin surga langsung ke depan muka abang…”
Olla menahan tawa kecil, tapi matanya tetap liar. Bibirnya basah, napasnya mulai memburu.
“Yah… kalo surga, jangan buru-buru ditinggal dong, Bang,” bisiknya, menggoda. “Gue juga pengen liat abang keluar… sambil manggil nama gue.”
Dia lalu menunduk, dan lidahnya menjulur pelan dari pangkal batang Leo sampai ke ujung, menjilatnya penuh kenikmatan yang dikendalikan dengan presisi. Gerakan itu lembut tapi menghanyutkan, bikin Leo mengeratkan giginya keras.
Tangan Leo langsung naik, menjambak lembut rambut Olla, tapi bukan untuk menahan. Justru untuk memastikan gadis itu tetap di sana, di tempat di mana dia paling ingin Olla berada.
“Lla… sumpah…” desahnya, suaranya makin pecah. “Kalau lo terusin kayak gini… abang beneran bisa—”
Olla menyeringai, napasnya ikut berat. Dia menaikkan tempo. Dadanya mulai digerakkan lebih cepat, lebih dalam, makin rapat membungkus batang Leo yang sekarang sudah makin basah. Dan lidahnya? Enggak berhenti. Bermain di ujung kepala, melingkar, menjilat, sesekali menyedot pelan.
“Siapa suruh abang ngasih bor premium gitu…” bisiknya pelan di sela napas. “Nih… gue kasih bonusnya…”
Dia menjepit lebih kencang, matanya enggak lepas dari wajah Leo yang sekarang mulai bergetar. Tangan Leo turun, menggenggam kepala Olla dengan dua tangan, tubuhnya mulai tremor.
Dan detik berikutnya, itu terjadi.
Leo terangkat sedikit, punggungnya melengkung, rahangnya mengeras.
“Lla… anjiiing… AHH—”
Tubuhnya meledak, napasnya pecah, dan semburan panas itu langsung muncrat dari antara belahan dada Olla. Beberapa mengenai dagu, leher, dan sebagian jatuh kembali ke kulit Olla. Olla menutup mata, menerima semuanya dengan senyum kecil yang penuh kemenangan.
Tangannya masih menggenggam dadanya, memastikan Leo keluar habis-habisan di tempat yang tepat. Di tubuh cewek yang, dengan segala dosa dan kegilaannya, sudah bikin dia ketagihan sampai ke tulang.
