Gracia puncak backup 1

 

 ​Bab 1: Eksodus Kecil

Sore itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah-celah tirai, membentuk garis-garis tipis di lantai ruang tamu. Udara di dalam ruangan terasa hangat, tidak terlalu terik. Gracia duduk bersila di atas sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Ia hanya mengenakan kaus putih oversized dan celana pendek, rambutnya dikuncir asal-asalan. Tidak berlebihan, tidak berusaha terlihat rapi, tapi tetap enak dipandang.

Di layar laptopnya, terbuka halaman pemesanan sebuah vila di kawasan Puncak. Denah bangunan, foto-foto kamar, daftar fasilitas, hingga rute akses jalan terpampang jelas.

"Aten, Ecen, lo berdua denger gak sih gue ngomong?" tanya Gracia tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Jason yang sedang tengkurap di atas karpet mengangkat wajahnya sedikit. "Denger kok. Intinya ada jacuzzi, kan?"

Sebuah bantal melayang dan mendarat tepat di bahunya.

"Fokus dulu bisa gak sih?" kata Gracia.

Jason terkekeh, menggeser bantal itu. "Ya maaf, Ci. Gue cuma memastikan prioritas."

Aten berdiri di dekat meja makan, satu tangan dimasukkan ke saku celana. Ia mengamati layar laptop dari kejauhan. "Kita beneran cuma bertiga, Ci?"

Gracia akhirnya menoleh. "Emangnya gue pernah ngajak orang lain tanpa bilang?"

"Bukan gitu," jawab Aten, suaranya tenang. "Cuma nanya aja. Biar jelas."

"Jelas. Cuma kita," sahut Gracia singkat.

Suasana hening beberapa detik, lalu Jason kembali bersuara, kali ini lebih santai.

"Yang penting jangan vila yang jalannya ekstrem banget. Motor gue bukan motor trail."

Gracia menghela napas kecil. "Udah gue cek. Aman. Lo tinggal bawa badan sama duit bensin."

---

Malam itu mereka sepakat untuk tidur lebih cepat karena ingin berangkat pagi-pagi. Kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa cepat terlelap. Ada rasa antusias yang membuat kepala rasanya masih aktif, memutar rencana besok. Ngabisin waktu di vila, nyobain kuliner, atau sekadar jalan-jalan keliling.

Keesokan paginya, dua motor matic melaju meninggalkan hiruk-pikuk jalan utama. Aten berada di depan dengan Gracia di belakangnya. Jason mengikuti dari jarak beberapa meter, menjaga ritme.

Bangunan beton perlahan berganti jadi sawah dan pepohonan. Udara berubah terasa lebih sejuk. Suara mesin motor terdengar semakin jelas di telinga karena lalu lintas mulai jarang.

Sesampainya di vila, Jason turun lebih dulu. Ia berdiri tegak, lalu memegang pinggangnya.

"Gila, pinggang gue kaku banget. Kayak habis duduk tiga jam di bangku nikahan," keluhnya sambil meringis.

Aten mematikan mesin motor. Ia turun dan langsung menoleh ke belakang. "Pelan-pelan, Ci."

Ia mengulurkan tangan, membantu Gracia turun dari motor. Tangannya sempat menahan sebentar di pinggang Gracia, memastikan kakaknya itu benar-benar berdiri stabil.

"Aman?" tanyanya singkat.

"Aman," jawab Gracia.

"Yang ringan aja buat lo," lanjut Aten sambil mengangkat ransel paling besar dari bagasi.

"Siap, Ten. Makasih."

Pintu vila terbuka setelah Jason memasukkan kode yang dikasih pemilik. Aroma kayu langsung menyambut. Ruang tamu cukup luas, didominasi dinding kayu dan jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan serta siluet gunung di kejauhan.

Jason masuk lebih dulu, berputar sambil mengamati sekeliling. "Oke, ini baru liburan."

Gracia tersenyum kecil. Aten hanya mengangguk pelan, matanya memeriksa setiap sudut ruangan dengan lebih teliti.

Tanpa perlu dibagi secara formal, mereka langsung bergerak. Gracia memilih kamar di ujung lorong dan mulai menata pakaian di lemari. Aten memeriksa dapur, memastikan kompor menyala dan kulkas dingin. Jason, seperti biasa, langsung mengeluarkan speaker Bluetooth-nya.

Beberapa menit kemudian, musik dengan tempo santai mengalun pelan.

"Lo setel apaan sih?" tanya Aten dari dapur. "Kayak backsound ruang tunggu."

Jason menjawab tanpa rasa bersalah. "Biar santai. Masa liburan sunyi."

"Sunyi juga gak apa-apa," balas Aten.

"Lo itu terlalu serius, Ten," sahut Jason santai.

Gracia yang baru keluar dari kamar hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

---

Sore harinya mereka menuju sebuah adventure park yang lokasinya tidak terlalu jauh. Jason mencoba hampir semua wahana yang ada. Tawanya yang khas pecah setiap kali ia berhasil melewati satu tantangan.

Aten memilih panahan dan flying fox. Ia berdiri dengan tenang, memperhitungkan arah angin dan tarikan sebelum melepas anak panah. Gerakannya tidak pernah terburu-buru.

Gracia mencoba ATV menyusuri jalur berbatu. Saat rodanya selip sedikit di bebatuan, ia malah tertawa kecil. Tangannya tetap mantap di setang.

Menjelang petang, awan mulai menutup langit. Warna biru perlahan berubah menjadi kelabu. Hujan turun tepat ketika mereka sampai di teras vila.

"Timing-nya pas banget," ujar Gracia sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah. "Untung gak kehujanan di tengah jalan."

Mereka duduk di teras yang beratap. Tiga cangkir teh hangat ada di tangan masing-masing. Hujan menggelinding di atas atap dengan suara berirama, menciptakan orkestra sederhana yang menenangkan. Udara terasa dingin, tapi cukup nyaman.

"Ten, Cen," ucap Gracia pelan, memecah keheningan. "Kita udah lama gak kayak gini, ya."

Jason mengangguk, meniup tehnya sebentar. "Iya. Lo sibuk latihan teater. Gue juga lagi kejar-kejaran sama ujian."

"Skripsi gue juga gak kelar-kelar," tambah Aten. "Isinya revisi terus."

Gracia menatap mereka bergantian. "Dulu tiap minggu pasti ketemu."

Jason tersenyum tipis. "Main kartu sampe ribut. Masak mie yang ujungnya gosong."

"Lo yang bikin gosong," kata Aten cepat.

"Itu namanya eksperimen," bela Jason.

"Eksperimen arang," sahut Gracia.

Mereka tertawa bersamaan. Setelah itu kembali diam. Tidak ada rasa canggung, hanya keheningan yang terasa wajar.

Aten akhirnya duduk di kursi sebelah Gracia. "Sekarang nyari waktu kosong aja susah."

"Makanya gue ngajak ke sini," kata Gracia. "Biar kita inget lagi rasanya punya waktu bareng."

Jason menatap hujan yang belum juga reda. "Kadang kita terlalu fokus sama urusan masing-masing."

Hujan terus turun, konsisten. Di teras yang mulai digelayuti hawa dingin itu, tanpa rencana besar dan tanpa gangguan siapa pun, tiga orang duduk berdampingan. Tidak ada yang istimewa secara dramatis. Hanya waktu yang akhirnya mereka sediakan kembali untuk satu sama lain.

​Bab 2: Sentuhan

​Malam kian larut. Udara di dalam vila terasa semakin dingin, merambat perlahan melalui sela-sela jendela dan celah bawah pintu. Berbeda dengan ruang tengah yang sepi, dapur justru terasa hangat. Aroma mie instan yang tengah dimasak berpadu dengan wangi bawang goreng, menghadirkan suasana sederhana yang menenangkan di tengah kesunyian pegunungan.

​Gracia berdiri di depan kompor dengan rambut terikat seadanya. Ia mengenakan sweater tipis dan celana tidur longgar. Tangan kanannya mengaduk mie yang hampir matang, sementara tangan kirinya menyiapkan telur setengah matang serta taburan bawang goreng di piring kecil. Gerakannya cekatan, menunjukkan sisi dirinya yang terbiasa mengurus hal-hal domestik di balik layar.

​Suara sendok yang beradu dengan pinggiran panci serta desis air mendidih memenuhi dapur kecil itu. Ecen duduk di meja makan dengan dagu bertumpu pada tangan. Tatapannya mengikuti setiap gerak-gerik Gracia.

​"Lo kayak chef drama Korea, Ci. Tinggal kurang apron sama kamera muter-muter," katanya santai.

​Gracia terkekeh pelan tanpa menoleh. "Chef spesialis mie rebus. Menunya cuma satu, tapi tingkat kepercayaan dirinya tinggi."

Di ruang tengah, Aten duduk berselimutkan kain tipis. Dari tempatnya, ia bisa melihat cahaya kekuningan dari dapur dan siluet Gracia yang sibuk di balik pintu kaca. Pemandangan biasa saja, tapi entah mengapa cukup membuat dadanya terasa lebih lapang. Namun di sisi lain, ada perasaan lain yang mengendap, sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Seperti ada yang tertahan di ulu hati, menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan.

​Tak lama kemudian, Gracia keluar dari dapur membawa dua mangkuk besar. Ecen langsung menyambar salah satunya begitu diletakkan di meja dan mulai menyantapnya dengan lahap.

"Enak banget, Ci," ujarnya tulus. "Serius, rasanya beda kalau lo yang masak."

Gracia duduk di sampingnya, meniup uap panas yang mengepul dari mangkuknya sendiri. "Cici tuh punya banyak skill tersembunyi, Cen. Kalian aja yang jarang merhatiin."

​Jam dinding menunjukkan pukul 01.32. Vila sepenuhnya sunyi setelah Ecen memutuskan untuk masuk ke kamar lebih dulu. Tapi Gracia masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar untuk beberapa saat sebelum akhirnya bangkit. Sebuah kardigan tipis ia sampirkan di bahu untuk menahan dingin, lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Ruang tengah terasa jauh lebih sunyi dibandingkan satu jam yang lalu. Angin malam sesekali berdesir menyentuh kaca jendela, menimbulkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar. Cahaya lampu gantung yang redup memberi atmosfer tenang sekaligus sendu.

Gracia melangkah mendekati sofa. Ia berhenti tepat di samping Aten yang masih duduk termenung.

"Ngapain, Ten?" tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.

Aten menoleh sekilas, lalu mematikan layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. "Gak bisa tidur."

Gracia duduk di sebelahnya, melipat kaki di atas sofa hingga tubuhnya menghadap sedikit ke arah adiknya. "Masih kepikiran skripsi?"

Aten menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. "Iya. Revisi gue udah beres, tapi kata dosen pembimbing masih kurang ini dan itu. Kadang gue juga bingung maunya mereka apa."

Gracia menatap wajah adiknya sejenak. "Lo stres, ya?"

"Enggak tahu. Capek aja. Rasanya tiap hari lewat gitu-gitu aja."

Gracia mengangguk paham. "Lo kalau lagi ngerasa kayak gitu emang jarang cerita."

Aten meliriknya, ada senyum getir di wajahnya. "Emang gue tipe yang suka cerita?"

"Enggak. Tapi bukan berarti gak bisa, kan?"

Suasana kembali hening. Tidak ada kecanggungan, hanya kehampaan yang dipenuhi oleh pikiran masing-masing. Dalam jarak sedekat itu, Aten tanpa sadar mulai memperhatikan wajah Gracia lebih lama dari yang seharusnya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, sebuah tahi lalat kecil di bawah bibir kakaknya tampak begitu jelas.

"Gue baru sadar, lo masih punya tahi lalat itu," ucap Aten tiba-tiba. Suaranya rendah.

Gracia refleks menyentuh bagian bawah bibirnya dengan ujung jari, meraba permukaan kulitnya sendiri. "Yang ini? Dari dulu juga ada, Ten."

"Iya. Tahu."

Gracia mengangkat alis, menatap Aten dengan intensitas yang berbeda. "Cukup keliatan?"

Aten tersenyum tipis, matanya tidak beralih dari bibir Gracia. "Ya... kelihatan banget."

Jarak mereka kini hanya sejengkal. Gracia menyadari perubahan atmosfer di antara mereka, namun ia memilih untuk tidak bergeser satu milimeter pun.

"Gampang fokus, ya?" tanya Gracia, nada ringannya kontras dengan sorot matanya yang tajam.

Aten mengangguk kecil. "Lumayan."

"Ganggu?"

"Bukan ganggu. Cuma bikin susah buat gak merhatiin."

Gracia menatap Aten tepat di matanya. Tidak ada sisa senyum, tidak ada nada bercanda. Hening mengisi celah di antara mereka, berat dan menyesakkan. Beberapa detik berlalu sebelum Gracia akhirnya bersuara, suaranya nyaris seperti desir angin di balik jendela.

“Mau sentuh?”

Pertanyaan itu menggantung, lebih berat dari kabut yang membungkus hutan di luar. Aten membeku. Ia tidak segera bergerak, tapi pandangannya terpaku pada titik kecil di bawah bibir Gracia. Keheningan di antara mereka kini bukan lagi tentang skripsi atau kelelahan, melainkan tentang garis batas yang mulai retak.

Tangan Aten bergerak lambat, seperti sedang menguji apakah ini nyata atau hanya halusinasi akibat udara dingin. Ujung jarinya yang dingin menyentuh kulit lembut di bawah bibir Gracia. Ia merasakan getaran halus di sana, tapi Gracia diam saja, membiarkan jemari adiknya menelusuri tahi lalat itu dengan usapan yang amat hati-hati.

“Dingin, Ten,” bisik Gracia. Suaranya serak, matanya sayu, menatap Aten dengan ekspresi yang sulit diterka.

Aten tak menjawab. Ia malah mendekat, memangkas jarak yang tersisa. Aroma parfum Gracia bercampur dengan sisa wangi dapur tadi, memenuhi penciumannya. Aten memiringkan kepala, lalu perlahan menempelkan bibirnya tepat di atas tahi lalat itu.

Sentuhan itu kaku, penuh keraguan. Seperti Aten masih menunggu Gracia memprotes atau memukulnya seperti biasa. Tapi Gracia tak bergeming. Ia malah sedikit mendongak, memberi lebih banyak akses.

Kecupan di tahi lalat itu berlangsung beberapa detik, terasa dalam dan posesif. Perlahan, tanpa melepas kontak, Aten menggeser bibirnya ke atas. Gerakannya ragu, ujung hidung mereka bersentuhan, menimbulkan gesekan halus yang membuat napas Gracia tertahan.

Saat bibir Aten akhirnya menyentuh bibir Gracia, waktu seolah melambat. Awalnya hanya kecupan canggung, seperti mencoba mengenali sensasi baru yang asing dan berbahaya. Tapi ketika tangan Aten berpindah ke tengkuk Gracia, menahannya di tempat, kecupan itu berubah lebih dalam, lebih intens.

Kepatuhan yang selama ini melekat pada Aten sirna, tergantikan oleh naluri yang lebih kuat. Gracia tak melawan. Ia justru memejamkan mata, membiarkan adiknya yang biasanya penurut itu mengambil alih kendali. Di ruang tengah dengan lampu temaram, batas antara kakak dan adik larut bersama derasnya hujan di luar.

Bibir mereka terlepas perlahan, tapi jarak tak berubah. Napas mereka memburu, pendek dan berat, menciptakan uap hangat yang bertabrakan di udara dingin. Di luar, hujan masih mengguyur atap dengan keras, tapi di sofa itu, segalanya seolah berhenti.

Tangan Aten masih bertahan di leher Gracia, jari-jarinya yang hangat menyusup di sela rambut tengkuk. Ujung hidung mereka masih bersentuhan, berbagi sisa napas dalam hening yang menyesakkan. Mata Gracia yang biasanya tegas, kini tampak sayu, menatap dalam ke mata Aten yang gelap.

“Ten...” bisik Gracia, nyaris tak terdengar.

Aten tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma parfum dari lekuk leher Gracia. Seperti tarikan gravitasi yang tak bisa dilawan.

“Jangan salahin gue ya, Ci,” bisiknya serak, tepat di depan bibir Gracia.

Tanpa menunggu jawaban, Aten menunduk. Bibirnya menyapu rahang Gracia, lalu mendarat di leher jenjang itu. Ia melumat kulit di sana dengan pelan tapi menuntut, seperti mencari jawaban dari rasa penasaran yang selama ini dipendam.

Gracia tersentak. Refleks ia mendongak, mengekspos lehernya lebih luas, sementara jemarinya meremas lengan kaus Aten. Napasnya tertahan, kepala bersandar di sofa, membiarkan sensasi panas dari bibir Aten menjalar, melawan dingin malam yang menggigit.

Napas Gracia makin pendek. Bibir Aten terus menekan lehernya, memberikan panas yang kontras dengan kulitnya yang merinding. Gracia menarik rambut Aten pelan, memaksanya menatapnya lagi. Wajah mereka hanya berjarak satu tarikan napas.

​"Pindah ke kamar, Ten. Sekarang," bisik Gracia, suaranya serak hampir hilang.

​Aten tidak membantah. Ia berdiri, menarik tangan Gracia dan menuntunnya dengan langkah cepat menuju kamar paling pojok. Begitu pintu tertutup, Aten langsung menguncinya. Bunyi klik logam itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar dan keberadaan Ecen sudah tidak lagi ada bagi mereka.

​Aten berdiri membelakangi pintu, menatap Gracia yang kini bersandar pada meja kecil di samping kasur. Tanpa banyak bicara, Aten mendekat, tangannya masuk ke bawah sweater Gracia, merasakan kulit perut kakaknya yang hangat. Ia mengangkat kain itu melewati kepala Gracia, menyisakan kakaknya hanya dengan bra tipis yang hampir tidak bisa menutupi dadanya yang membusung karena napas yang memburu.

​Aten tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik Gracia mendekat, lalu menunduk untuk melumat puting Gracia di balik kain bra yang tipis itu, membasahinya hingga kainnya jiplak. Gracia mendongak, matanya terpejam erat sambil mengeluarkan lenguhan tertahan. Tangannya meraba pinggang Aten, lalu turun ke bawah, merasakan tonjolan keras yang sudah menegang di balik celana adiknya.

​"Ten... lepasin," pinta Gracia sambil jemarinya sibuk dengan kancing celana Aten.

​Aten membiarkan Gracia membuka ritsletingnya. Ketika celana itu merosot, penis Aten yang sudah tegang sepenuhnya menyembul keluar, berdenyut pelan karena suhu kamar yang dingin. Gracia terdiam sejenak, menatap milik adiknya yang kini berada tepat di depan wajahnya.

​Tanpa ragu, Gracia berlutut di lantai kayu yang dingin itu. Ia meraih pangkal penis Aten dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap kepalanya yang sudah basah oleh cairan pre-cum. Gracia mulai memasukkan ujungnya ke dalam mulut, merasakan tekstur keras dan panas yang memenuhi rongga mulutnya.

​Aten tersentak, punggungnya menempel keras ke pintu kayu di belakangnya. Ia mencengkeram rambut Gracia, mengarahkan gerakan kakaknya saat bibir Gracia mulai melakukan oral dengan ritme yang dalam. Suara basah dan decakan memenuhi kesunyian kamar, beradu dengan deru napas Aten yang kian berat.

​"Ci... ah, gila," gerutu Aten rendah, kepalanya mendongak ke langit-langit sementara ia membiarkan Gracia terus melumatnya dengan intens, menghabiskan sisa kesabaran yang selama ini ia jaga sebagai seorang adik.

​Napas Aten makin pendek, jemarinya meremas rambut Gracia makin kuat saat sensasi panas di mulut kakaknya itu hampir membawanya ke puncak. Kepalanya mendongak, matanya terpejam erat, dan ia sudah hampir melepaskan segalanya.


​Namun, tepat sebelum ia sampai di titik itu, Gracia melepaskan lumatannya. Ia menjauhkan mulutnya, menyisakan penis Aten yang basah dan berdenyut hebat di udara dingin kamar. Gracia mendongak, menatap Aten dengan tatapan sayu namun penuh kemenangan.
​"Jangan sekarang, Ten." bisik Gracia.

​Aten menggeram rendah. Rasa tanggung yang menyiksa itu meledakkan emosinya. Tanpa bicara, ia merangkul pinggang Gracia, mengangkat tubuh kakaknya yang ringan itu dan memindahkannya ke atas kasur dengan sekali gerakan.

​Begitu tubuh Gracia mendarat di atas seprai yang dingin, Aten tidak memberikan napas sedikit pun. Ia langsung menindih tubuh kakaknya, tangannya dengan cekatan membuka pengait bra Gracia hingga kedua payudaranya yang putih bersih menyembul bebas di bawah cahaya lampu nakas.

​Aten menatap pemandangan di depannya dengan lapar. Tanpa menunggu, ia langsung membenamkan wajahnya, melumat dan ngedot puting Gracia dengan rakus. Suara basah dari hisapan Aten memenuhi kamar, beradu dengan lenguhan Gracia yang semakin keras. Gracia mendongak, punggungnya melengkung saat merasakan tarikan kuat di dadanya.

​"Ah... Ten... pelan-pelan," rintih Gracia, tangannya meremas bahu Aten yang keras.

​Namun Aten tidak berhenti. Setelah puas di satu sisi, ia berpindah ke sisi lainnya, meninggalkan bekas merah yang kontras di kulit mulus kakaknya. Tiba-tiba, Aten menarik tubuhnya sedikit ke atas. Ia meraih kedua payudara Gracia dengan tangannya, lalu menghimpitnya ke tengah hingga menciptakan celah yang rapat.

​Gracia mengerutkan dahi, menatap adiknya dengan bingung. "Ten? Mau ngapain?"

​Aten tidak menjawab. Ia meraih penisnya yang masih tegang sempurna dan basah oleh sisa air liur Gracia tadi, lalu memposisikannya di tengah-tengah belahan payudara kakaknya. Aten mulai menggerakkan pinggulnya, menggesekkan batangnya yang panas dan keras naik-turun di antara jepitan payudara Gracia.

​Mata Gracia membelalak. Ia baru pertama kali merasakan sensasi ini, gesekan kulit penis yang sensitif dengan kelembutan dadanya. "Ten... kok... digituin?"

​"Diem aja, Ci," bisik Aten serak, matanya terkunci pada pemandangan penisnya yang keluar-masuk di antara payudara kakaknya yang berguncang.

​Gracia yang awalnya bingung, perlahan mulai menikmati sensasi aneh itu. Ia secara insting membantu Aten dengan menekan payudaranya lebih rapat menggunakan tangannya sendiri, membuat jepitan itu semakin ketat. Suara gesekan kulit dan sisa cairan yang melumasi batang Aten menciptakan bunyi splat-splat yang sangat erotis di telinga mereka.

​Aten makin mempercepat temponya, napasnya menderu di depan wajah Gracia. Ia menikmati ekspresi kaget sekaligus nikmat di wajah kakaknya yang selama ini selalu terlihat berwibawa di matanya. Di detik ini, Gracia bukan lagi seorang kakak atau idol, melainkan wanita yang sedang tunduk di bawah eksplorasinya.

​Tempo gerakan Aten semakin cepat. Gesekan antara batang penisnya yang panas dengan kulit payudara Gracia yang lembut menciptakan sensasi yang hampir tak tertahankan. Gracia, yang kini sudah mulai terbiasa dengan ritme itu, menggunakan kedua tangannya untuk menekan dadanya lebih rapat, membantu adiknya mencapai puncak.

​Napas Aten menderu, pendek dan berat. Matanya memerah, menatap lekat pada penisnya yang basah oleh cairan pre-cum dan air liur, bergerak keluar-masuk di antara belahan dada kakaknya.

​"Ten... dikit lagi?" bisik Gracia, suaranya parau melihat ekspresi Aten yang sudah di ujung tanduk.

​Aten tidak menjawab. Ia memberikan beberapa hentakan kuat yang terakhir. Tubuhnya menegang hebat, punggungnya kaku, dan sedetik kemudian, ia mengerang rendah saat cairan putih kental menyemprot keluar dengan deras.

Crot. Crot.

​Cairan hangat itu membasahi dada Gracia, menyiprat hingga ke leher dan rahangnya. Gracia tersentak, merasakan panasnya sperma Aten di kulitnya. Ia terengah-engah, matanya sayu menatap cairan itu, lalu beralih menatap Aten yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Gracia, mencoba mengatur napasnya yang hancur.

​Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara hujan di luar dan detak jantung mereka yang beradu. Di tengah keheningan itu, kenyataan mulai merayap masuk.

​Gracia mengusap rambut Aten pelan dengan tangan yang masih gemetar. "Ten..."

​Aten tidak bergerak, wajahnya masih tersembunyi di ceruk leher Gracia. "Maafin gue, Ci."

​Gracia terdiam sejenak. Ia melihat sisa-sisa pelepasan Aten di dadanya, lalu teringat rumah, teringat ruang tamu di Jakarta, dan foto keluarga yang terpajang di sana.

​"Gue ini Cici lo, Ten," bisik Gracia, suaranya terdengar bergetar antara nikmat yang tersisa dan rasa bersalah yang muncul. "Kalau Mama sama Papa tahu kita begini di sini... mereka bakal benci banget sama kita, kan?"

​Aten semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gracia, seolah takut kakaknya akan pergi setelah menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. "Jangan bahas itu sekarang, Ci. Gue nggak mau ingat siapa-siapa selain lo malam ini."

​Gracia memejamkan mata erat, membiarkan air mata kecil menetes di sudut matanya. Ia tahu ini salah, ia tahu ini gila. Tapi saat ia merasakan detak jantung Aten yang masih liar di atas dadanya yang basah, ia sadar bahwa malam ini, peran sebagai "Cici" itu sudah kalah telak oleh rasa lapar yang selama ini mereka pendam rapat-rapat.

​Aten masih terdiam dengan wajah yang disembunyikan di ceruk leher Gracia. Napasnya mulai melambat, tapi tubuhnya masih terasa panas. Cairan putih yang tadi ia semprotkan perlahan mulai mendingin di atas kulit dada Gracia, menciptakan rasa lengket yang ganjil namun intim.

​Perlahan, Aten mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu menatap cairan miliknya sendiri yang mengotori tubuh kakaknya. Tanpa kata, ia meraih ujung kaos yang tadi ia lepas, lalu mulai mengusap dada Gracia dengan gerakan yang sangat lembut. Ia membersihkan sisa-sisa pelepasannya di antara belahan payudara Gracia, naik ke leher, hingga ke rahang kakaknya yang tadi terkena cipratan.

​Gracia hanya diam mematung, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dalam.

​"Tadi itu... punya lo banyak banget, Ten," bisik Gracia pelan, suaranya pecah saat ia akhirnya berani menatap mata adiknya.

​Aten berhenti mengusap. Tangannya masih tertahan di atas dada Gracia, merasakan detak jantung kakaknya yang kembali memompa kencang. "Gue nggak tahu, Ci. Mungkin karena udah kelamaan gue pendam sendiri."

​Aten membuang kaos itu ke lantai, lalu tangannya kembali merambat, mengusap tahi lalat di bawah bibir Gracia yang tadi ia cium. "Ci, lo beneran nggak apa-apa? Kita udah beneran kacau sekarang."

​Gracia tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di tengah kesunyian kamar. "Kacau? Kita udah lewat dari kata kacau sejak di sofa tadi, Ten. Mama sama Papa pasti nggak akan pernah nyangka anak-anak kebanggaannya lagi begini di Puncak."

Oniel hujan

  

Bab 1: Basah Sebelum Masuk

​Hujan telah mengguyur sejak pukul tiga sore. Intensitasnya meningkat secara tiba-tiba tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bersiap. Langit menggantung kelabu, menahan cahaya matahari agar tidak menembus awan, sehingga menciptakan atmosfer yang jauh lebih sunyi di dalam rumah.

​Oniel telah terduduk di sofa ruang tengah selama beberapa jam. Sebuah laptop diletakkan di atas bantal yang memangku kakinya. Meskipun sepasang earphone menutupi telinga dan mengalirkan audio, fokusnya sama sekali tidak tertuju pada apa yang ia dengar. Pandangannya terpaku pada layar, namun pikirannya mengembara ke tempat lain.

​Rumah itu terasa begitu lengang.

​Ibu telah pergi sejak pagi dengan membawa koper kecil berisi kostum tari yang tertata rapi. Ayah yang mengantarkannya. Oniel hanya sempat memberikan respons singkat dari balik selimut saat mereka berpamitan, sebelum akhirnya ia kembali terlelap.

​Hari ini ia tidak memiliki agenda, begitu pula dengan esok hari. Waktu seolah membentang tanpa arah, dan ia memilih untuk tetap diam di tengah keheningan tersebut.

​Kesunyian itu pecah ketika terdengar suara kunci yang berputar di pintu depan.

​Oniel melepas salah satu earphone dan sedikit mendongakkan kepala. Saat pintu terbuka, suara deru hujan sempat menyerbu masuk sebelum akhirnya kembali teredam ketika daun pintu ditutup dengan rapat.

​Cornelio berdiri di sana. Kemeja kantornya tampak basah pada bagian bahu, sementara tas kerja dipeluk di depan dada sebagai pelindung darurat. Rambutnya lembap, dan raut wajahnya menyiratkan kelelahan serta kekesalan yang mendalam.

​Tatapan Cornelio segera tertuju ke arah ruang tengah.

​"Nyokap bokap mana? Tadi gue pikir nggak ada orang."

​Oniel menekan tombol jeda pada laptopnya, kemudian melepas earphone yang tersisa. Ia menjawab dengan nada santai. "Lagi pergi. Nyokap ada acara pentas. Tadi pagi dianter bokap."

​Cornelio mengembuskan napas panjang sembari menutup pintu lebih rapat. Ia mengibaskan sisa-sisa air dari lengannya. "Hujan deres gini tetep berangkat juga ya. Mana di jalan kacau banget, macetnya ampun deh."

​Oniel hanya mengangguk pelan. Pandangannya kembali tertuju pada layar laptop yang menampilkan gambar diam. "Emang dari siang nggak berenti-berenti sih. Kayaknya bakal awet nih."

​Cornelio melangkah masuk, lalu meletakkan tasnya di atas meja dekat pintu. Ia mengusap rambutnya yang masih basah dengan telapak tangan. "Emangnya mereka balik jam berapa?"

​Oniel mengangkat bahu tanpa menoleh sepenuhnya. "Nggak tahu, nggak nanya juga tadi. Gue cuma bangun bentar pas mereka mau jalan, terus tidur lagi."

​Cornelio terdiam sejenak. Ia memperhatikan Oniel yang masih enggan beranjak dari posisinya, meskipun tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan saudaranya itu di depan layar.

​"Lo dari tadi di situ mulu?"

​"Iya. Nonton doang sih, lagi nggak mood ngapa-ngapain juga," jawab Oniel dengan nada datar.

​Cornelio mengangguk, menerima alasan tersebut tanpa niat untuk berdebat lebih lanjut. "Udah makan belum lo?"

​Oniel melirik sekilas ke arah meja makan yang tampak kosong, lalu kembali menyandarkan punggungnya. "Belum. Lagian belum laper juga."

​"Nasi ada di rice cooker?"

​"Ada kok. Nyokap masak tadi pagi sebelum pergi. Lauk paling cari aja di kulkas."

​Tanpa banyak bicara, Cornelio berjalan menuju dapur. Suara pintu lemari es yang dibuka terdengar singkat, diikuti bunyi gesekan wadah plastik di dalamnya.

​"Dingin semua nih," teriaknya dari dapur. "Lo nggak ada niat buat ngangetin apa?"

​Oniel menyunggingkan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Entar deh. Lagi males gerak gue."

​Cornelio kembali ke ruang tengah sambil menggenggam sebotol air mineral. Ia meneguk air tersebut beberapa kali, lalu kembali menatap Oniel.

​"Ya udah. Gue mandi dulu deh. Badan udah lengket banget gara-gara kehujanan."

​"Sip."

​Langkah Cornelio sempat tertahan sejenak, seolah ada kalimat lain yang ingin ia sampaikan. Namun, ia mengurungkan niat tersebut, hanya memberikan anggukan kecil sebelum berjalan menuju kamar.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang, berganti dengan suara hujan yang terus jatuh dengan ritme yang konsisten.

​Oniel kembali mengenakan earphone-nya. Layar laptop kembali bergerak, menampilkan tayangan yang dibarengi suara tawa samar. Di luar sana, hujan masih terus turun, seolah belum memiliki rencana untuk segera reda.

---

Dua belas menit berlalu sebelum Cornelio kembali menampakkan diri dari balik pintu kamar.

​Penampilannya kini telah bertransformasi menjadi jauh lebih santai. Kemeja kerja yang sebelumnya melekat ketat telah digantikan oleh kaus rumah yang sederhana, begitu pula dengan celana bahan yang kini berganti menjadi jogger. Rambutnya masih tampak berantakan, menyisakan jejak kelembapan setelah diseka secara tergesa menggunakan handuk.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia melangkah menuju dapur. Gerakannya tenang, namun masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan yang belum sepenuhnya sirna.

​Suara engsel pintu lemari es yang dibuka terdengar memecah keheningan rumah. Beberapa wadah makanan di dalamnya terdengar bergeser saat Cornelio memeriksa isinya satu demi satu dengan teliti.

​Oniel sempat melirik sekilas dari balik layar laptopnya, meskipun ia tidak benar-benar mengalihkan perhatiannya secara utuh.

​Cornelio mengambil salah satu wadah, membuka tutupnya, lalu mendekatkan makanan tersebut ke penciumannya. Seketika, raut wajahnya berubah. Keningnya berkerut tipis, mengindikasikan sebuah kesimpulan yang didapat tanpa perlu banyak pertimbangan. Ia segera menutup kembali wadah tersebut.

​"Ini beneran masih enak nggak sih? Kok baunya agak aneh ya," ucapnya setengah bergumam, namun suaranya tetap terdengar jelas.

​Oniel akhirnya benar-benar menoleh dan melepas fokusnya dari layar. "Ayam yang dimasak tadi pagi bukan?"

​"Iya. Tapi bau kulkasnya kuat banget. Berasa kayak udah kelamaan di dalem," jawab Cornelio sembari menggeser wadah lain, berharap menemukan sesuatu yang lebih layak dikonsumsi.

​Ia membuka satu wadah lagi, lalu menutupnya kembali dengan gerakan cepat.

​"Sama aja deh. Nggak ada yang meyakinkan buat dimakan nih."

​Oniel mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa. "Padahal kan baru tadi pagi masaknya."

​"Ya itu dia. Tapi daripada gue paksain makan terus malah kenapa-kenapa, mending jangan deh," kata Cornelio sembari mengembalikan seluruh wadah ke tempat semula.

​Pintu kulkas ditutup perlahan. Ia berdiri mematung sejenak di area dapur, seolah tengah menimbang keputusan selanjutnya.

​Oniel lah yang akhirnya memecah kebuntuan tersebut. "Order makanan aja apa ya? Gue juga sebenernya belum makan dari siang."

​Cornelio menoleh ke arah ruang tengah. "Emang lo udah laper banget?"

​"Lumayan sih. Tadi cuma ngemil-ngemil doang, belum makan nasi," sahut Oniel.

​Cornelio mengangguk kecil, ekspresi wajahnya kini tampak jauh lebih rileks dibandingkan saat ia baru tiba di rumah. "Ya udah, lo pesen aja duluan. Buat lo dulu nggak apa-apa kok. Gue entar nyusul kalau emang laper. Perut gue masih agak nggak enak, tadi di kantor sempet ganjel roti."

​"Ok. Nanti gue kasih tau kalau udah dapet driver."

​Cornelio tidak memberikan banyak respons verbal. Ia hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik menuju wastafel untuk membilas tangannya.

​Aliran air terdengar mengalir sejenak sebelum kemudian berhenti total.

​"Gue balik ke kamar dulu ya," ucapnya sambil mengeringkan tangan.

​"Yo."

​Cornelio melangkah menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang.

​Suara langkah kakinya perlahan menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.

​Oniel menarik selimutnya hingga sedikit lebih tinggi dan kembali memasang earphone pada telinganya. Layar laptop kembali menyala, memutar tayangan yang suara tawanya mengisi kekosongan ruang tersebut.

​Di luar, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Langit kini telah sepenuhnya menjadi gelap, menyisakan suara jatuhan air yang konsisten menghantam bumi tanpa jeda sedikit pun.

Bab 2: Sisa Nasi dan Hujan

​​Waktu merambat perlahan menuju pukul setengah delapan malam. Intensitas hujan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, tetap konsisten dengan ritme yang sama sejak sore hari. Fenomena alam tersebut seolah mengisolasi dunia di luar rumah, menyisakan suara monoton yang justru menghadirkan ketenangan tersendiri. Di dalam bangunan tersebut, atmosfer tetap statis. Ruang tengah masih didominasi oleh kesunyian, hanya terinterupsi oleh pendar cahaya layar serta suara samar dari earphone yang sesekali tertangkap indra pendengaran.

​Oniel masih mempertahankan posisinya di sofa dengan tubuh yang setengah tenggelam dalam kemalasan. Ia menatap layar ponsel dalam durasi yang cukup lama, seolah tengah melakukan pertimbangan matang atas sebuah keputusan sederhana. Akhirnya, setelah mengembuskan napas pendek, ia menyentuh layar perangkat tersebut dengan gerakan yang lebih pasti.

​"Bang, lo mau makan apa nih? Gue mau pesen sekarang biar nggak kemaleman sampainya," seru Oniel.

​Ia mengarahkan suaranya ke arah kamar dengan volume yang cukup namun tidak berlebihan. Tidak ada jawaban yang menyahut. Hanya suara hujan yang tetap setia mengisi kekosongan tersebut. Oniel sedikit menggeser posisi duduknya, lalu kembali menyandarkan punggung sembari menunggu respons selama beberapa detik. Namun, keadaan tetap nihil.

​"Bang, denger nggak sih? Jangan pura-pura budek deh, ini laper beneran gue."

​Beberapa saat kemudian, pintu kamar pun terbuka secara perlahan. Cornelio muncul dengan raut wajah yang tampak berat, menyerupai seseorang yang baru saja dipaksa terjaga dari tidur yang belum tuntas. Matanya tampak memerah, rambutnya berantakan, dan langkah kakinya belum sepenuhnya seimbang.

​"Apa sih, berisik amat," gumamnya dengan suara serak.

​Oniel tetap tidak memalingkan wajah. Jemarinya masih sibuk mengusap layar ponsel yang menampilkan beragam daftar menu makanan. "Ya makanya dijawab dong. Mau makan apa? Gue mau pesen sekarang. Tadi kan lo sendiri yang bilang ragu mau makan nasi sisa di kulkas."

​"Samain aja sama yang lo pesen deh. Gue lagi males mikir," jawabnya akhirnya.

​Mendengar respons tersebut, Oniel berdecak. "Hih, samain itu bukan nama menu ya, Bang. Gue mau beli ayam nih. Lo mau ikut pesen ayam juga atau mau cari yang lain? Biar sekalian satu kurir gitu lho."

​Cornelio mengusap wajahnya pelan guna mengumpulkan kesadaran, lalu menarik napas panjang. "Ya udah, ayam aja. Samain. Tapi yang biasa aja ya, jangan pesen yang aneh-aneh rasanya, lagi nggak pengen yang macem-macem gue."

​Oniel memberikan anggukan kecil sebagai tanda mengerti. "Pedes apa nggak?"

​"Nggak usah. Lambung gue lagi nggak enak. Ntar malah jadi masalah."

​"Ya udah, gue ambil yang original."

​Interaksi tersebut berakhir tanpa ada kalimat tambahan. Kendati demikian, Cornelio tidak lantas kembali ke dalam kamar. Ia berdiri mematung selama beberapa detik sembari menatap layar televisi yang menyala tanpa suara, seolah sedang berusaha menyesuaikan diri kembali dengan tempo kehidupan di dalam rumah yang terasa melambat.

​Ia kemudian melangkah perlahan menuju ruang tengah dan mendudukkan dirinya di ujung sofa yang berseberangan. Sebuah jarak yang cukup lebar sengaja dibiarkan membentang di antara mereka berdua. Oniel yang kini telah memperbaiki posisi duduknya segera menyelesaikan transaksi tersebut. Terdengar bunyi klik pelan saat ia meletakkan ponselnya di atas meja.

​"Udah tuh. Tinggal nunggu abangnya dateng aja," kata Oniel tanpa sedikit pun memandang ke arah lawan bicaranya.

​Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya suara ketukan di pintu depan memecah suasana.

​Oniel bangkit tanpa memberikan banyak komentar. Ia segera membuka pintu, menerima pesanan tersebut, lalu kembali menuju sofa seolah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat pindah ke meja makan. Ruang tengah tetap menjadi titik pusat aktivitas, sama seperti kondisi sejak sore tadi.

​Bungkus makanan tersebut kemudian dibuka di atas meja kecil yang terletak tepat di depan sofa. Suara plastik yang berdesir pelan serta bunyi sendok sekali pakai yang dibuka tanpa suara berlebih mengisi rungu. Aroma hangat dari makanan perlahan mulai menyebar ke seluruh penjuru ruangan, sedikit demi sedikit mengusir hawa dingin yang sejak tadi menggantung di udara.

​Cornelio mulai menyantap makanannya terlebih dahulu. Gerakannya tampak sangat tenang dan rapi, tanpa ada kesan tergesa. Perhatiannya tercurah sepenuhnya pada isi kotak makanan di tangannya. Sementara itu, Oniel makan dengan ritme yang berbeda. Ia sesekali berhenti untuk memeriksa ponselnya, sebelum akhirnya kembali mengambil suapan.

​Beberapa saat berlalu dalam diam yang statis.

​"Yah, kurang nampol pedesnya ini mah."

​Oniel tetap fokus pada makanannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. "Kan tadi lo sendiri yang milih menu yang biasa, gimana sih."

​"Gue kan juga bilang terserah tadi, lo tinggal pesen beda aja sebenernya," sahut Cornelio dengan nada santai.

​Oniel menoleh sedikit, keningnya tampak mengernyit tanda tidak setuju. "Terserah itu bukan jawaban yang ngebantu, Bang. Dari tadi gue udah bilang begitu."

​Cornelio tidak lagi memberikan balasan verbal. Ia terus mengunyah makanannya, namun sudut bibirnya tampak sedikit tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang berusaha ia sembunyikan. Tampaknya, ia memang sengaja ingin memancing kekesalan adiknya tersebut.

​Oniel menyadari gerakan kecil di wajah kakaknya. Ia pun memutuskan untuk diam dan tidak melanjutkan protesnya lebih jauh. Kepalanya kini beralih menatap layar televisi, berpura-pura tidak peduli sama sekali, meskipun dalam hati ia memahami bahwa Cornelio baru saja mengerjainya. Di luar rumah, hujan masih saja turun, membasahi bumi dengan keteguhan yang luar biasa.

---

​Makan malam tersebut berakhir tanpa meninggalkan kesan yang benar-benar berarti. Tidak ada percakapan penting yang tercipta, tidak pula terdapat momen yang menonjol. Segalanya berjalan selayaknya rutinitas yang telah terlampau sering terjadi, hingga setiap detiknya terasa biasa saja.

​Bungkus makanan dirapikan dengan serangkaian gerakan yang bersifat otomatis. Plastik dilipat, kotak ditutup kembali, lalu dibawa menuju tempat pembuangan sampah. Gelas-gelas kosong pun dipindahkan ke dapur. Cornelio mengerjakan bagiannya terlebih dahulu dengan tenang, tanpa suara berlebih, seolah ia telah terbiasa menuntaskan segala sesuatu secara mandiri. Oniel menyusul beberapa saat kemudian. Ia beranjak setelah menerima satu tatapan singkat dari Cornelio, sebuah isyarat yang tidak membutuhkan penjelasan apa pun, namun cukup untuk dipahami maknanya.

​Dapur kini hanya dipenuhi oleh suara aliran air dan denting halus peralatan makan yang saling bersentuhan. Tidak ada percakapan di sana; hanya kehadiran dua orang yang berbagi ruang tanpa benar-benar saling menginterupsi.

​Setelah segala sesuatunya kembali rapi, mereka berdua kembali menuju ruang tengah.

"Bang, kayaknya Nyokap sama Bokap nggak balik malem ini deh," ucap Oniel memecah kesunyian.

​Cornelio langsung menoleh, sebelah alisnya terangkat menunjukkan rasa heran yang tidak disembunyikan. "Lho, kok gitu? Bukannya tadi bilangnya cuma bentar doang ya di sana?"

​Oniel masih terpaku pada layar ponselnya, memastikan tidak ada kata yang terlewat. "Iya, tapi katanya di sana hujan masih deres banget, nggak reda-reda. Terus jalanannya juga bahaya kalau dipaksain nyetir malem gini. Jadi mereka mutusin buat nginep dulu di rumah saudara."

​Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja, lalu melirik ke arah abangnya. "Oiya, Nyokap juga nitip pesen nih. Besok jangan sampe lupa sarapan, terus itu nasi yang di magic com disuruh habisin, jangan sampe basi katanya."

​Cornelio mengangguk paham, lalu menyandarkan punggungnya lebih santai ke sofa. "Ya udahlah kalau gitu, bener juga sih. Daripada mereka maksa pulang terus malah kenapa-kenapa di jalan kan serem juga. Palingan besok pagi-pagi banget mereka udah sampe sini."

Setelah percakapan singkat itu, sunyi kembali bertahta. Cornelio sempat melirik adiknya yang masih meringkuk di balik selimut, tampak enggan untuk bergeser satu inci pun.

​"Lo nggak mau masuk ke kamar aja sekalian? Udah makin malem lho ini, nanti malah masuk angin di sini," tanya Cornelio.

​Oniel menggeleng pelan tanpa ragu sedikit pun. "Nggak ah, lagi males banget sendirian di dalem kamar. Tadi sore kan gue udah ketiduran lama banget, sekarang malah ngerasa seger gini matanya. Belum ngantuk sama sekali gue."

​Ia meluruskan kakinya, hingga ujung jemarinya hampir menyentuh paha Cornelio. Namun, ia membiarkannya begitu saja, tidak ada niat untuk menariknya kembali. Seketika, ruangan itu tenggelam dalam remang. Hanya cahaya dari televisi yang kini menjadi sumber penerangan, memantulkan bayangan samar di dinding dan menyinari separuh wajah mereka yang tampak lebih tenang.

​"Sibuk sekarang?"

​Oniel yang baru saja mendaratkan tubuhnya menoleh dengan kening berkerut. "Hah? Maksudnya apa nih?"

​"Di JKT. Lagi padat apa gimana jadwal lo sekarang?"

​"Oh itu." Oniel menarik napas sejenak sebelum bersandar pada bantalan sofa. "Kemarin sih lumayan padat. Habis rangkaian show juga kan. Sekarang udah agak mendingan, nggak sepadet itu lagi."

​Cornelio memberikan anggukan pelan, matanya tetap terpaku pada layar di hadapannya.

​Oniel mengangkat satu kakinya ke atas sofa, kemudian disusul oleh kaki yang lain. Ia memeluk lututnya dengan santai. "Kenapa emang? Tiba-tiba nanya gitu."

​"Nggak apa-apa sih, cuma ngerasa jarang banget lihat batang hidung lo di rumah akhir-akhir ini," jawab Cornelio tanpa memberikan penekanan khusus pada kalimatnya.

​Oniel menoleh lebih jelas ke arah Cornelio. "Oh, lo merhatiin juga ternyata."

​Cornelio baru memberikan respons setelah jeda singkat. "Bukan gue yang merhatiin, tapi Nyokap sering banget ngomongin lo kalau lagi teleponan."

​Oniel sedikit mengernyitkan dahi. "Bahas apaan emangnya?"

​"Katanya lo sering pulang malam. Kadang langsung masuk kamar, tidur. Nggak sempet ketemu juga."

​Oniel mengembuskan napas perlahan. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali bersuara. "Ya gimana ya. Jadwalnya emang kayak gitu. Nggak bisa gue atur juga sesuka hati."

​Cornelio hanya mengangguk kecil. "Iya, ngerti."

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Bukan jenis keheningan yang canggung, namun belum pula dapat dikatakan sepenuhnya hangat. Mereka berdua masih tampak seperti dua individu yang tengah berupaya menyesuaikan ritme satu sama lain kembali.

​Beberapa detik berlalu sebelum Oniel kembali memecah kesunyian.

​"Lo pernah nonton show gue nggak sih?"

​Cornelio melirik sekilas, cukup untuk memastikan bahwa pertanyaan tersebut memang dialamatkan kepadanya. "Pernah kok sekali."

​Oniel seketika menoleh sepenuhnya, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Serius? Kapan? Kok gue nggak tahu?"

​"Waktu lo pertama kali debut dulu. Pas masih awal banget."

​Oniel tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. "Lah, itu mah udah lama banget kali! Masa cuma pas debut doang nontonnya?"

​"Iya, emang itu doang."

​"Jujur banget sih jawabnya, nggak ada basa-basinya dikit apa," gerutu Oniel sambil terkekeh pelan.

​Cornelio tidak memberikan tanggapan lebih lanjut, namun ia juga tidak menunjukkan gelagat menghindar. Ia tetap berada di posisinya dengan sikap yang perlahan-lahan mulai melonggar.

​"Kapan-apan nonton lagi lah," ucap Oniel santai, dengan nada suara yang jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

​Cornelio menarik napas panjang. "Iya, nanti gue coba sempetin."

​Oniel langsung menggenggam bahu kakaknya tersebut. "Nanti itu kapan? Besok? Minggu depan? Apa nunggu tahun depan lagi?"

​"Ya pokoknya nanti aja, liat situasinya gimana," sahut Cornelio kembali.

​Oniel tertawa kecil, meskipun kali ini suaranya terdengar jauh lebih serak. Ia menggeser posisi duduknya hingga bahu mereka bersentuhan tanpa menyisakan ruang sedikit pun. 

​"Lihat situasi mulu bahasanya. Bilang aja emang mager, kan" gumam Oniel sangat pelan.

​Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Cornelio. Tekstur rambut Oniel yang halus menyentuh kulit leher Cornelio, seketika mengubah atmosfer percakapan santai tersebut menjadi lebih berat dan intens. Cornelio tetap bergeming. Ia tidak menunjukkan penolakan, namun juga tidak menjauh. Dalam keheningan itu, ia dapat merasakan embusan napas Oniel yang teratur di dekat pundaknya. Aroma sabun mandi yang segar berpadu dengan hawa dingin sisa hujan menciptakan sebuah sensasi yang asing baginya.

​"Bang," panggil Oniel lagi. Suaranya terdengar rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan yang masih menghantam atap dengan deras.

​"Apa?" Cornelio sedikit menundukkan kepala, berusaha memandang wajah adiknya yang sebagian tertutup bayangan sofa.

​Saat Cornelio menunduk, Oniel justru mendongakkan kepalanya. Jarak di antara mereka terkikis seketika, hingga Cornelio dapat melihat pantulan cahaya televisi di dalam manik mata Oniel yang jernih. Terjadi jeda yang cukup lama di antara mereka. Oniel tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menatap Cornelio seolah sedang mencari sesuatu di wajah kakaknya tersebut.

​Cornelio merasakan debaran jantungnya mendadak tidak beraturan. Ia berniat menanyakan sesuatu, namun kerongkongannya terasa sangat kering. Tangannya yang semula diam di atas paha perlahan bergerak naik, menyelipkan anak rambut Oniel yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut.

​Oniel tidak bergerak. Ia hanya diam dengan mata yang perlahan terpejam saat merasakan ibu jari Cornelio mengusap pipinya pelan. Dinginnya malam seolah tidak lagi terasa di ruangan tersebut.

​Cornelio perlahan memajukan wajahnya. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, seolah memberikan kesempatan bagi Oniel untuk menjauh jika memang diinginkan. Namun, Oniel tetap pada posisinya, dengan napas yang kian pendek. Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, Cornelio dapat merasakan hangat napas adiknya. Tanpa sepatah kata pun, Cornelio menunduk lebih dalam dan menempelkan bibirnya pada bibir Oniel.

​Hanya sebuah sentuhan singkat dan lembut, namun memiliki tekanan yang begitu nyata. Di tengah ruang tengah yang gelap itu, hanya terdengar suara hujan dan deru napas mereka yang menyatu.


Cornelio melepaskan tautan bibirnya secara perlahan, namun ia tidak langsung menjauhkan wajahnya. Deru napas mereka masih saling beradu dalam jarak yang sangat dekat, menciptakan ketegangan yang justru terasa semakin menyesakkan di tengah ruang tengah yang remang. Cornelio menatap mata Oniel cukup lama, mencoba membaca reaksi adiknya di balik cahaya televisi yang berpendar redup.

​"Dingin di sini," bisik Cornelio, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

​Oniel hanya terdiam, namun jemarinya yang tadi menggenggam bahu Cornelio kini beralih meremas pelan kaus yang dikenakan kakaknya. Ia tidak memberikan jawaban verbal, hanya tatapan matanya yang tampak lebih dalam, seolah sedang menunggu langkah selanjutnya.

​Cornelio menarik napas panjang, lalu ia menggerakkan kepalanya sedikit ke arah lorong kamar yang gelap. Isyarat yang sangat halus, namun cukup jelas untuk ditangkap.

​"Pindah ke dalem aja yuk? Di sini nggak enak, punggung gue pegel senderan begini," kata Cornelio dengan nada yang diusahakan terdengar biasa, meski ada sedikit getaran di sana.

​Oniel sempat tertegun sejenak. Ia melirik ke arah pintu kamar Cornelio yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap kakaknya. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibir Oniel. Ia melepaskan remasannya di kaus Cornelio, lalu perlahan mulai bangkit dari sofa sembari menarik selimut yang tadi membungkus kakinya.

​Cornelio berdiri lebih dulu, ia sempat mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Oniel. Mereka berdua melangkah beriringan membelah kegelapan ruang tengah menuju pintu kamar yang sudah menunggu. Di luar, hujan masih belum juga reda, terus menyamarkan suara langkah kaki mereka yang bergerak masuk dan menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup dengan suara klik yang sangat pelan.


Pintu kamar tertutup rapat, mengunci suara hujan di luar menjadi dengung yang lebih teredam. Cornelio tidak langsung menyalakan lampu utama; ia hanya menekan sakelar lampu meja di sudut ruangan yang memancarkan pendar kuning remang-remang. Kamar itu terasa jauh lebih hangat dibanding ruang tengah tadi, atau mungkin itu hanya perasaan mereka saja yang sedang diliputi kecanggungan yang aneh.

​Oniel duduk di tepi tempat tidur, masih dengan selimut yang tersampir di bahunya. Ia memperhatikan Cornelio yang berjalan pelan menuju jendela hanya untuk memastikan gorden tertutup sempurna.

​"Tadi lo bilang belum ngantuk kan?" tanya Cornelio sambil berbalik. Ia berdiri tepat di depan Oniel, menghalangi cahaya lampu hingga bayangannya jatuh menutupi tubuh adiknya.

​Oniel mendongak, matanya sedikit menyipit mengikuti siluet kakaknya. "Emang belum. Kenapa emangnya?"

​Bukannya menjawab, Cornelio justru duduk di samping Oniel, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Jarak mereka kembali terkikis. Cornelio meraih ujung selimut Oniel, menariknya perlahan agar tidak lagi menghalangi, lalu tangannya beralih menumpu di permukaan kasur, tepat di belakang tubuh Oniel.

​"Gue cuma mau lanjutin yang tadi," bisik Cornelio.

​Oniel tidak sempat membalas ketika Cornelio kembali mendekat. Kali ini tidak ada keraguan. Cornelio menangkup wajah Oniel dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik pinggang adiknya agar posisi mereka benar-benar rapat. Saat bibir mereka kembali bertemu, suasananya terasa berbeda dari yang di sofa; lebih menuntut, lebih dalam, dan penuh dengan emosi yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik status saudara.

​Oniel memejamkan mata erat, tangannya melingkar di leher Cornelio, menarik kakaknya itu agar tidak memberi jarak sedikit pun. Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya minimalis itu, mereka seolah lupa dengan dunia di luar pintu. Hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling berkejaran di balik dada masing-masing.

​Cornelio perlahan merebahkan tubuh Oniel ke atas kasur tanpa memutuskan tautan mereka. Gerakannya sangat hati-hati, namun pasti. Dalam posisi itu, Cornelio berhenti sejenak, menatap Oniel yang tampak sedikit berantakan dengan pipi yang memerah.

Stop Fanatisme Klub


Stop Fanatisme Klub

​Pertama, langsung unfollow atau block akun-akun yang isinya cuma memancing keributan. Kalau tontonan kamu cuma ejekan, pikiran kamu bakal terus berada di mode perang. Jangan kasih ruang buat konten yang nggak bahas taktik atau permainan sama sekali.

​Kedua, kamu harus belajar untuk berhenti merasa puas saat klub rival lagi hancur. Rasa senang itu sebenarnya racun yang bikin kamu jadi makin sensitif saat keadaan berbalik. Kalau kamu nggak lagi peduli sama penderitaan fans lawan, perlahan kamu juga nggak bakal peduli sama ejekan mereka ke kamu.

​Ketiga, kalau mau buka sosial media, jangan pernah baca kolom komentar. Di sana itu tempatnya orang-orang paling tidak rasional berkumpul. Kamu cuma bakal nemuin rasisme atau makian yang bikin suasana hati rusak. Nikmati beritanya saja, lalu tutup aplikasinya.

​Keempat, kembalikan fokus kamu ke aspek teknis sepak bola. Coba tonton pertandingan untuk melihat bagaimana pemain bergerak, bagaimana strategi pelatih, atau statistik di lapangan. Dengan begini, sepak bola balik lagi jadi ilmu dan hiburan, bukan soal harga diri atau identitas yang harus dibela mati-matian.

Penebusan ella back-up

 

Bab 1: Lantai Tiga dan Keputusan Terakhir

​Kepala Ella masih terasa berat, sisa kelelahan dari penerbangan Tokyo ke Jakarta belum hilang sepenuhnya. Di dalam koper besarnya, masih tersisa beberapa barang dari kunjungannya ke paviliun di Jepang tempo hari. Seharusnya, kepulangannya disambut dengan kebanggaan, tapi yang ia temukan justru neraka di linimasa X.

​Sejak mendarat di Soekarno-Hatta, Ella sudah mematikan semua notifikasi, tapi rasa penasaran yang beracun membuatnya sempat mengintip sebentar. Foto-foto itu ada di mana-mana. Meskipun diambil dari kejauhan dan dalam kondisi remang-remang, siluet dirinya yang sedang berada di sebuah bioskop bersama seorang pria itu sudah cukup sebagai bukti bagi para penggemar. Narasi "pelanggaran golden rules" dan tuntutan pemecatan menduduki jajaran trending topic. Setiap kali ia menyegarkan laman, hujatan baru muncul, menghakimi setiap langkah yang ia ambil selama ini.

​Dua hari Ella mengurung diri di kamar, hanya berani menatap langit-langit tanpa menyentuh ponselnya lagi. Dia tahu fans sedang mengamuk, menuntut penjelasan yang bahkan Ella sendiri bingung bagaimana cara menyampaikannya. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon dari staf manajemen memaksanya untuk berangkat ke Menara Global sore itu.

​Suasana di ruang rapat lantai tiga terasa sangat mencekam, seolah menghimpit jantung Ella yang memang sudah berdegup tidak karuan sejak sore tadi. Di hadapannya, tiga sosok yang biasanya ia temui dengan senyum kini duduk dengan raut wajah yang membeku. Fritz Hernandez duduk di tengah, membiarkan Rino dan Iin yang membuka suara terlebih dahulu. Tidak ada suara lain selain dengung pelan pendingin ruangan yang membuat oksigen seolah menipis bagi Ella yang hanya bisa menatap jari tangannya sendiri yang sedang gelisah.

​Rino melempar sebuah tablet ke tengah meja, layarnya masih menyala menampilkan kompilasi tangkapan layar dari linimasa X yang penuh dengan caci maki. Di samping tablet itu, ada salinan draf rilis pers yang judulnya masih dikosongkan, seolah sedang menunggu nasib Ella ditentukan sore itu juga. Rino tidak memaki, dia hanya bersandar di kursinya sambil memijat pangkal hidung. Raut wajahnya menunjukkan keletihan orang yang sudah dua hari tidak tidur hanya untuk meredam api yang dinyalakan oleh satu orang di depannya ini.

​"Jujur ya Ella, saya tuh bingung mau ngomong apa lagi sama kamu. Intinya manajemen itu sudah habis-habisan buat nge-push kamu setahun ini. Kamu lihat saja sendiri jadwal kamu, dari project yang kemarin sampai semua jadwal yang kita setor ke direksi, semuanya nama kamu yang kita prioritasin. Kita itu sudah kasih karpet merah buat karir kamu, tapi kamu malah bikin manuver yang benar-benar di luar nalar kayak gini."

​Rino mengetuk-ngetuk jarinya ke atas meja, memberikan penekanan pada poin tersebut dengan nada bicara yang tetap terjaga formalitasnya namun terasa sangat menusuk. Dia kemudian terdiam dan hanya memperhatikan reaksi Ella, seolah membiarkan data di atas meja yang berbicara lebih banyak.

​Iin menghela napas panjang, tatapannya masih tertuju pada Ella yang terus menunduk. Dia memajukan posisi duduknya sedikit, mencoba mencari celah agar matanya bisa bertemu dengan mata anak didiknya itu. Suaranya tidak meledak, justru terdengar berat karena rasa kecewa yang menumpuk di dadanya.

​"Ell, lihat saya sebentar. Kamu tahu kalau kak iin sayang banget sama kamu? Saya itu orang yang paling rajin pasang badan pas rapat penentuan member buat setiap project kemarin. Saya bilang ke Pak Fritz kalau kamu itu anak yang paling siap dan punya mental buat dikasih tanggung jawab. Saya sudah anggap kamu anak saya sendiri yang saya bimbing dari nol di sini. Tapi kamu ini, ya... ngerusak kepercayaan saya cuma demi hal sepele kayak gitu? Kamu itu tau ga? bodoh banget, Ell. Coba kasih tahu saya sekarang, apa yang ada di pikiran kamu pas mutusin buat ngelakuin itu?"

​Ella tersentak kecil, jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan tampak semakin gemetar. Dia menarik napas pendek yang terasa sesak, berusaha mengumpulkan suara di tengah tenggorokannya yang terasa sangat kering.

​"Maaf, Kak Iin. Saya beneran nggak kepikiran bakal jadi kayak gini. Saya cuma ngerasa penat banget pas itu, terus ada temen lama yang ngajak nonton dan saya ngerasa aman-aman saja. Saya beneran menyesal."

​Mendengar jawaban itu, Iin hanya bisa menggelengkan kepala dengan perlahan. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gerakan yang terlihat sangat lesu, seolah energinya terkuras habis setelah mendengar pengakuan tersebut.

​Fritz Hernandez akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam, memutus pembicaraan emosional antara Iin dan Ella. Dia menatap Ella dengan pandangan yang sangat tenang namun penuh kuasa, seolah sedang menilai apakah gadis di depannya ini masih layak untuk dipertahankan atau tidak.

​"Saya rasa penjelasan dari Pak Rino dan Iin sudah sangat jelas menggambarkan posisi kamu sekarang di mata manajemen. Kita sudah investasi banyak buat kamu, tapi kamu malah kasih pengembalian yang buruk buat grup. Untuk sekarang, saya belum bisa kasih keputusan apa-apa soal hukuman kamu. Kamu silakan pulang dulu, tenangkan pikiran kamu. Tapi ingat ya, jangan coba-coba hubungi siapa pun atau posting apa pun di media sosial sampai ada instruksi lebih lanjut dari saya."

​Ella berdiri dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba memberikan hormat terakhir sebelum melangkah keluar dengan bahu yang merosot jatuh. Dia tahu, pintu yang tertutup di belakangnya itu mungkin saja menjadi tanda berakhirnya semua mimpi yang baru saja ia mulai genggam.

Bab 2: Pintu Samping Menara Global

​Dua hari setelah interogasi itu, kamar Ella tidak lagi terasa seperti tempat istirahat. Baginya, setiap sudut ruangan itu kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Dia sengaja membiarkan gorden tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang seolah mengejek kegagalannya. Ponselnya lebih banyak dalam keadaan mati, namun sekalinya ia nyalakan, linimasa X masih saja melepaskan racun yang sama. Ella sudah berada di titik di mana dia tidak lagi peduli dengan prosedur atau aturan organisasi, dia hanya ingin ketidakpastian ini segera berakhir.

​Pukul sembilan malam, sebuah getaran singkat dari ponselnya memecah keheningan. Sebuah pesan singkat dari Fritz Hernandez muncul di layar yang redup.

"Ke kantor sekarang. Ada dokumen sanksi dari direksi yang harus kamu tanda tangani malam ini juga kalau kamu mau saya bantu ringankan di rapat pleno besok pagi. Lewat pintu samping lantai tiga, jangan sampai ada staf lain atau siapapun yang lihat kamu masuk. Saya tunggu."


​Ella tidak berpikir dua kali. Logikanya sudah lumpuh oleh rasa takut dan putus asa yang mendalam. Dia segera menyambar hoodie hitamnya, menutupi wajahnya yang sembab. Sebelum melangkah keluar kamar, dia sempat terhenti di depan cermin, menatap matanya yang masih merah karena kurang tidur. Dia harus keluar rumah, dan itu berarti dia harus melewati ruang tengah di mana ayahnya biasanya masih terjaga menonton berita malam.

​"Mau ke mana, Ell? Sudah jam sembilan lewat," suara ayahnya terdengar pelan dari balik sofa, matanya tidak beralih dari layar televisi.

​Ella menelan ludah, berusaha menormalkan suaranya yang serak. Dia tidak mungkin bilang kalau dia dipanggil ke kantor secara rahasia oleh atasan tertingginya. Ayahnya tidak tahu Ella sedang dalam masalah besar karena skandal itu.

​"Ada urusan mendadak di kantor, Pah. Biasa, ada jadwal latihan tambahan buat project baru yang harus difinalisasi malam ini. Katanya mumpung studionya kosong," jawab Ella sambil sibuk memakai sepatunya, menghindari kontak mata yang terlalu lama.

​Ayahnya terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut. Kalau sudah selesai, langsung kabari Papah biar dijemput."

​"Nggak apa-apa, Pah. Ella naik ojek online saja biar cepat. Ella pamit ya."

​Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Ella segera melangkah keluar rumah. Angin malam Jakarta yang lembap langsung menyapa kulitnya, namun rasa dingin yang ia rasakan justru datang dari dalam dadanya sendiri. Di dalam kepalanya, pesan Fritz terus berputar, memberikan harapan semu yang ia genggam erat-erat sepanjang perjalanan menuju Kuningan.

​Lobi Menara Global sudah nampak lengang, hanya menyisakan beberapa petugas keamanan yang berjaga di balik meja resepsionis. Ella melangkah dengan kepala tertunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun saat ia masuk ke lift menuju lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, lorong kantor JKT48 terlihat gelap, hanya lampu darurat yang menyala remang-remang di sepanjang jalan. Langkah kakinya yang gemetar bergema di lantai keramik yang dingin, menuju satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala terang di ujung koridor, ruangan Fritz.

​Ella mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan. Suaranya terdengar sangat kecil di tengah kesunyian gedung yang kosong.

​"Masuk," suara Fritz terdengar berat namun tenang dari dalam.

​Begitu Ella melangkah masuk, ia melihat Fritz sedang duduk di balik meja besarnya dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Beberapa tumpuk kertas berserakan di depannya, menciptakan kesan bahwa pria itu memang sedang bekerja keras lembur demi sesuatu yang mendesak. Fritz tidak langsung menatapnya, dia sengaja membiarkan Ella berdiri dalam kecanggungan selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajah.

​"Duduk, Ell."

​Fritz menutup laptopnya dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Ella dengan pandangan yang seolah-olah penuh simpati namun menyimpan otoritas yang mutlak.

​"Saya sebenarnya sudah capek banget hari ini. Tadi siang saya habis debat panjang sama Pak Rino dan terutama Iin. Kamu tahu sendiri kan gimana Iin kalau sudah kecewa? Dia tadi bahkan bilang ke saya kalau dia sudah nggak mau lagi ngelihat kamu ada di grup ini. Dia minta kamu dipecat secara tidak hormat besok pagi."

​Ella tersentak, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata saat mendengar nama Iin disebut dengan nada sedingin itu. Fritz yang melihat reaksi tersebut justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

​"Tapi saya coba tahan mereka. Saya bilang kalau kamu itu aset yang masih bisa kita selamatkan kalau caranya benar. Nah, dokumen di depan kamu ini adalah kesempatan terakhir kamu. Kalau kamu tanda tangan sekarang, saya bisa punya alasan buat ngebela kamu di depan direksi besok tanpa perlu lewat prosedur formal yang ribet."

​Fritz menggeser selembar kertas ke arah Ella, namun tangannya tetap menempel di atas kertas itu, seolah-olah menahan Ella agar tidak membacanya terlalu detail. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja itu, Ella merasa Fritz adalah satu-satunya orang yang masih berdiri di pihaknya, tanpa ia sadari bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang lebih besar.

Bab 3: Sisi Gelap Lantai Tiga

​Hening di ruangan itu terasa sangat menekan, hanya deru halus AC yang menemani suara detak jam dinding yang seolah melambat. Ella masih menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat sampai kulit di sekitar persendiannya pucat karena tekanan yang terlalu kuat. Di depannya, Fritz tidak lagi duduk tegak di balik meja. Dia sudah berpindah, duduk di pinggiran meja kayu jati itu, sangat dekat dengan posisi duduk Ella sampai aroma parfum maskulinnya memenuhi indra penciuman gadis itu.

​"Kamu tahu kan, Ell, posisi saya sekarang ini sulit banget?" Fritz memulai pembicaraan dengan nada bicara yang sangat rendah, hampir berbisik. "Rino sudah buat draf pemecatan kamu. Iin bahkan nggak mau dengar nama kamu lagi di kantor ini. Cuma saya yang masih di sini, jam sepuluh malam, nyari celah biar kamu tidak didepak."

​Ella mengangkat wajahnya sedikit, matanya yang sembab menatap Fritz dengan sisa-sisa harapan yang rapuh. "Saya... saya beneran terima kasih banget, Pak. Saya nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Bapak."

​Fritz hanya menatap Ella dengan pandangan datar yang sulit dibaca. Dia tidak bergerak untuk menenangkan, malah membiarkan Ella tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Tatapan matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi ketakutan Ella.

​"Terima kasih saja nggak cukup, Ell. Saya sudah pasang badan buat kamu, saya pertaruhkan jabatan saya di depan direksi demi anak nakal kayak kamu," Fritz menghela napas, nadanya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. "Saya capek banget seharian ini. Pikiran saya kacau gara-gara ngurusin kamu. Kamu mau kan bantu saya biar saya bisa sedikit rileks malam ini?"

​Darah Ella seolah membeku. Dia bukan anak kecil yang tidak paham arah pembicaraan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang sampai rasanya menyakitkan di dada. Dia ingin berdiri, ingin lari keluar dari ruangan gelap itu dan turun ke lobi, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai.

​"Maksud... maksud Bapak?" suara Ella bergetar hebat, nyaris hilang.

​Fritz tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu ruangan dan memutar kunci dari dalam dengan suara klik yang sangat tajam di telinga Ella. Dia kemudian mematikan lampu utama, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu meja yang membuat bayangan mereka memanjang di dinding.

​"Ell, jangan bikin ini jadi susah buat kita berdua. Saya cuma minta sedikit bentuk apresiasi dari kamu karena posisi kamu itu sebenarnya sudah di ujung tanduk," Fritz kembali mendekat, berdiri tepat di depan Ella yang masih mematung di kursinya tanpa menyentuh seujung kuku pun, namun kehadirannya terasa sangat mendominasi. "Cukup nurut sama saya malam ini, dan besok pagi draf pemecatan itu hilang dari meja saya. Kamu masih punya nama besar, masih bisa naik panggung teater, dan kamu tidak kehilangan project. Kamu mau kan semuanya kembali kayak biasa?"

​Ella merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Pikirannya melayang ke bayangan panggung teater, ke sorak-sorai fans, dan ke wajah Iin yang pernah sangat ia banggakan. Semuanya kini terasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar oleh Fritz.

​"Tapi Pak... saya nggak bisa..." Ella berbisik dengan air mata yang mulai luruh tanpa suara.

​"Pilihan kamu cuma dua, Ell," Fritz memotong dengan suara tenang namun penuh ancaman. "Kamu keluar dari ruangan ini sekarang dan besok pengumuman pemecatan kamu rilis, atau kamu tetap di sini, bantu saya sebentar, dan semuanya selesai. Kamu mau karier kamu hancur cuma gara-gara ego kamu malam ini?"

​Ella merasa dunia di sekitarnya runtuh. Ketakutan akan kehilangan statusnya sebagai member, ketakutan akan mempermalukan keluarganya jika dipecat secara tidak hormat, jauh lebih besar daripada harga dirinya saat itu. Dia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya jatuh ke dalam disosiasi yang dingin. Dia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.

​Pasrah. Ella hanya bisa terisak pelan saat Fritz akhirnya memberikan isyarat agar dia berdiri. Di dalam kegelapan kantor Menara Global yang sepi, Ella menyadari bahwa harga untuk tetap bersinar di bawah lampu panggung ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.

Penebusan Ella

Bab 4: Denting di Meja Jati

​Fritz meraih sebuah benda kecil dari sudut mejanya. Sebuah lonceng servis berbahan krom mengkilap yang biasanya cuma jadi pajangan atau alat pemanggil asisten. Dia meletakkannya tepat di tengah, di antara Ella dan draf pemecatan yang masih terbuka lebar.

​Suara logam yang beradu dengan kayu jati itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang kedap suara.

​"Saya nggak suka paksaan, Ell. Kamu tahu itu," Fritz bersandar, melipat tangan di depan dada sambil menatap lonceng itu, lalu beralih ke mata Ella. "Keputusan sepenuhnya ada di tangan kamu. Kamu tekan lonceng ini, artinya kamu setuju dengan penawaran saya. Kita selesaikan administrasi kamu malam ini, dan besok kamu bisa tidur tenang."

​Ella mundur selangkah, napasnya mulai pendek-pendek seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Matanya menatap nanar ke arah lonceng kecil tersebut, sementara jemarinya meremas kain celana levis panjangnya dengan sangat kuat. "Pak... ini... ini nggak ada hubungannya sama kontrak saya. Kenapa Bapak harus minta ini? Saya datang ke sini buat nyari jalan keluar, bukan buat jual diri saya sendiri."

​Fritz tidak marah. Dia justru tersenyum tipis, tipe senyuman yang sering dia pakai saat sedang negosiasi kontrak besar. Dia berdiri, berjalan perlahan mengitari meja tanpa melepaskan pandangannya dari Ella.

​"Kamu pikirkan baik-baik, Ell. Kalau kamu tekan lonceng itu, saya jamin semua project yang tertunda bakal balik ke tangan kamu. Endorse, event luar negeri, bahkan posisi senbatsu buat single depan. Saya yang atur semuanya," Fritz berhenti tepat di belakang kursi Ella, suaranya kini tepat di samping telinga gadis itu. "Tentu, hukuman penangguhan tiga bulan itu tetap harus jalan. Itu formalitas wajib supaya Rino, Iin, dan fans nggak curiga. Tapi setelah tiga bulan itu lewat? Kamu bakal balik lebih bersinar dari sebelumnya. Anggap saja ini investasi kecil buat masa depan kamu yang masih panjang."

​Fritz kembali ke depan, telunjuknya mengetuk pelan pinggiran lonceng itu. Ting. Bunyinya pendek, tapi terasa menusuk sampai ke ulu hati Ella.

​"Pilihannya simpel. Kamu keluar dari sini, jadi warga biasa, dan lupakan semua tepuk tangan di teater. Atau, kamu tekan ini, lalui malam ini, dan tetap jadi bintang. Saya kasih waktu satu menit."

​Ella menatap benda krom itu. Pantulan lampu meja membuat lonceng itu berkilau indah, namun di mata Ella, itu adalah alat eksekusi harga dirinya. Sejenak, pikirannya melayang ke bayangan jika karirnya berakhir dengan cara sehina ini di grup. Skandal ini pasti bakal terus membekas, jadi noda yang nggak bakal hilang seumur hidup kalau dia keluar sebagai pecundang.

​Padahal masih banyak mimpi yang belum ia sentuh. Dia masih ingin terbang lebih sering ke luar negeri, masuk ke layar televisi nasional, mengembangkan bakat yang ia asah tiap malam di ruang latihan, sampai kolaborasi dengan musisi papan atas yang dulu ia idolakan. Ella tahu betul, kalau dia keluar sekarang, jalannya bakal jauh lebih sulit, mungkin malah tertutup rapat.

​Perlahan, tangan Ella terangkat. Jarinya terasa sangat berat, seolah ada beban berton-ton yang menahan gerakannya. Dia menatap Fritz yang masih menunggu dengan tenang, seolah yakin dengan hasil akhirnya.

Ting!

​Suara lonceng itu bergema jauh lebih keras dari sebelumnya. Ella memejamkan mata rapat-rapat saat telapak tangannya menekan dinginnya permukaan logam itu. Dia sudah memilih.

​Fritz bertepuk tangan pelan beberapa kali, suara hantam telapak tangannya terdengar pelan namun sarat akan kepuasan yang dingin. "Keputusan yang sangat berani, Ella. Sekarang, hapus air mata kamu itu. Naik ke atas meja, dan kita laksanakan kesepakatan kita."

Bab 5: Administrasi di Atas Kayu Jati

​Fritz menjauh dari lonceng itu, matanya masih mengunci pandangan Ella yang tampak kosong. Dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang bersiap untuk tidur di rumahnya sendiri, dia mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Suara gesekan kain itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan yang mencekam. Ella hanya bisa berdiri mematung, melihat setiap kancing yang terlepas sebagai tanda bahwa dunianya benar-benar sudah bergeser ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.

​Fritz tidak terburu-buru. Setelah kemejanya tersampir di sandaran kursi kebesarannya, tangannya beralih ke ikat pinggang. Suara denting logam sabuk yang dibuka dan ditarik keluar dari lubang celananya membuat Ella tersentak kecil, namun kakinya tetap terasa seperti tertanam di lantai. Fritz kemudian berhenti sejenak, menatap Ella yang masih terbungkus hoodie hitam dan celana levis panjangnya.

​"Kenapa masih diam saja di situ?" suara Fritz terdengar sangat rendah, namun penuh tuntutan. "Buka baju kamu. Saya nggak punya waktu semalaman cuma buat nunggu kamu siap."

​Ella menelan ludah, tenggorokannya terasa perih dan sangat kering. Tangannya yang gemetar perlahan naik, meraih ujung hoodie hitamnya. Setiap inci kain yang ia angkat terasa seperti beban yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Dinginnya udara dari AC kantor langsung menusuk kulitnya yang kini terekspos, menyisakan tanktop putih tipis yang melekat di tubuhnya. Bulu kuduknya meremang bukan karena sejuk, melainkan karena rasa takut yang luar biasa.

​"Celananya juga, Ell," tambah Fritz sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Ella yang kini hanya bisa menunduk, tidak sanggup lagi menatap wajah pria yang sedang memegang nasibnya itu.

​Dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, Ella melepas kancing celana levisnya. Suara ritsleting yang terbuka terdengar seperti lonceng kematian bagi mimpinya yang bersih. Dia membiarkan celana panjang itu jatuh ke lantai, menyisakan dirinya yang kini hanya mengenakan tanktop putih dan celana dalam. Ella menyilangkan tangannya di dada, mencoba menutupi tubuhnya seadanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

​"P-Pak... tolong... jangan dibuka semua. Boleh, kan?" Ella berbisik dengan nada memohon yang sangat rapuh.

​Fritz menatap Ella sejenak, menilai ketakutan yang terpancar jelas dari raut wajah gadis itu. Dia menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan. Sebuah bentuk kemurahan hati yang semu.

​"Oke. Anggap saja ini toleransi dari saya karena kamu sudah kooperatif," ujar Fritz datar. "Naik ke atas meja sekarang."

​Fritz kemudian membimbing Ella untuk naik ke atas meja kerjanya yang luas. Dinginnya permukaan kayu jati itu merambat ke kulit paha Ella, kontras dengan hawa panas yang mulai ia rasakan dari kehadiran Fritz yang kini berada di antara kedua kakinya. Ella memejamkan mata rapat-rapat, mencoba membayangkan dirinya sedang berada di tempat lain, di mana saja asal bukan di ruangan gelap ini. Namun, sentuhan tangan Fritz yang kasar di pinggangnya segera menariknya kembali ke realitas yang pahit. Malam panjang itu baru saja dimulai.

Bab 6: Kayu Jati yang Dingin

​Ella memposisikan dirinya di atas meja kerja Fritz yang luas. Permukaan kayu jati itu terasa sangat dingin saat bersentuhan langsung dengan kulit pahanya, sebuah sensasi yang mendadak bikin dia ingin lari, tapi Fritz sudah berdiri tepat di hadapannya. Ruangan itu hanya diterangi lampu meja yang menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding, seolah-olah ruangan itu sendiri sedang mengawasi mereka.

​Fritz tidak langsung bergerak lebih jauh. Dia meraih laci meja kerjanya, menariknya pelan hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang halus. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil persegi berwarna perak yang berkilat terkena cahaya lampu meja.

​Suara sobekan plastik kemasan itu terdengar begitu nyaring di telinga Ella, memicu debaran jantung yang makin tidak karuan. Ella hanya bisa mematung, melihat Fritz dengan sangat tenang mengenakan pelindung itu di hadapannya. Tidak ada keterburuan, tidak ada rasa bersalah, hanya sebuah prosedur teknis yang bagi Fritz mungkin tidak ada bedanya dengan menandatangani kontrak kerja.

​"Saya nggak mau ada risiko tambahan buat karir kamu, Ell. Kamu juga kan?" Fritz bergumam datar sambil membuang bungkus plastik itu ke tempat sampah di bawah meja.

​Fritz kemudian menempatkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan paha Ella, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa bergeser. Ella refleks mencengkeram pinggiran meja sampai buku-buku jarinya memutih. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat Fritz yang kini mulai menyingkap sedikit tanktop putih yang ia kenakan.

​"Tatap saya, Ell," perintah Fritz dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Ingat kesepakatan kita. Ini cara kamu membayar kembali investasi yang sudah manajemen berikan."

​Ella terpaksa menoleh, matanya yang basah bertemu dengan tatapan Fritz yang tetap dingin, tanpa ada sedikit pun rasa menyesal di sana. Fritz kemudian menarik pinggiran celana dalam Ella dengan perlahan namun pasti. Ella hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara isakan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Setiap sentuhan Fritz di kulitnya terasa seperti sengatan yang membakar harga dirinya perlahan-lahan.

​Dia merasa dunianya menyempit hanya di atas meja ini. Bayangan tentang panggung, lampu sorot, dan nyanyian ribuan fans mendadak terasa sangat jauh, seolah itu adalah memori dari kehidupan orang lain. Yang ada sekarang hanyalah kegelapan kantor Menara Global dan pria yang sedang mengeksploitasi keputusasaannya.

​"Rileks, Ell. Jangan kaku begitu," bisik Fritz lagi.

​Fritz mulai memajukan tubuhnya, menekan Ella agar lebih bersandar ke belakang di atas tumpukan dokumen yang mungkin saja berisi draf sanksinya sendiri. Ella memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kepalanya terkulai ke belakang. Dia mencoba mematikan semua indranya, mencoba membayangkan kalau tubuh yang sedang disentuh ini bukan miliknya. Namun, rasa dingin dari kayu jati di bawahnya dan hangatnya napas Fritz di lehernya terus memaksanya untuk sadar bahwa ini nyata, dan ini sedang terjadi.

​Malam itu, di lantai tiga yang sepi, Ella menyadari bahwa untuk tetap menjadi bintang yang dipuja banyak orang, dia harus rela hancur berkeping-keping di tangan satu orang yang memegang kendali atas segalanya.

Bab 7: Penyerahan di Bawah Lampu Meja

​Fritz makin merapatkan tubuhnya, membuat Ella terdesak hingga punggungnya menyentuh tumpukan map dokumen di atas meja. Tangan Fritz yang kasar mulai bergerak liar, meraba pinggang Ella lalu perlahan naik ke balik tanktop putih yang ia kenakan. Ella hanya bisa menggigit bibir, merasakan kain tipis itu terangkat perlahan sampai akhirnya tersingkap ke atas, memperlihatkan payudara kecil miliknya yang membusung karena napas yang tidak teratur.

​Di bawah temaram lampu meja, kulit Ella tampak pucat dan kontras dengan warna gelap kayu jati. Fritz menatap pemandangan itu tanpa emosi, seolah sedang memeriksa kualitas aset yang baru saja ia beli.

​"Cantik, Ell. Kamu memang harusnya di sini, bukan di jalanan sama laki-laki nggak jelas itu," bisik Fritz sambil telapak tangannya menekan permukaan payudara kecil Ella dengan paksa.

​Ella hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir melewati pelipisnya. Rasa malu yang luar biasa menghujam jantungnya saat Fritz mulai menarik paksa celana dalam yang tersisa di tubuhnya. Kini, Ella benar-benar merasa kehilangan perlindungan terakhirnya. Udara dingin AC kantor terasa menyengat saat menyentuh vagina miliknya yang kini terekspos sepenuhnya di depan mata Fritz.

​Fritz tidak memberikan waktu bagi Ella untuk memproses rasa hancurnya. Dia meraih pangkal paha Ella, menariknya agar lebih maju hingga berada di tepi meja. Di sana, Ella bisa melihat penis milik Fritz yang sudah terbungkus kondom, siap untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan dirinya.

​"Tatap saya, Ella. Lihat ini sebagai bayaran untuk semua kebohongan kamu," perintah Fritz dengan nada yang sangat rendah.

​Tanpa peringatan, Fritz menekan tubuhnya maju, mendorong penis miliknya masuk ke dalam vagina Ella yang masih terasa kaku dan belum siap. Ella tersentak, punggungnya melengkung dan jemarinya mencengkeram pinggiran meja jati itu begitu kuat hingga kuku-kukunya terasa akan patah. Suara desahan tertahan yang menyakitkan keluar dari tenggorokan Ella, namun Fritz tidak melambat.

​Dia mulai bergerak dengan ritme yang konstan dan berat. Setiap dorongan Fritz membuat tubuh Ella berguncang di atas meja, menciptakan suara gesekan kulit dan kayu yang bergema di ruangan sunyi itu. Ella merasa dunianya benar-benar runtuh. Di atas meja kantor yang dingin ini, di tengah draf pemecatan dan laporan performa, dia memberikan segalanya hanya agar lilin mimpinya tidak padam.

​Dia tidak lagi merasa seperti manusia. Dia hanya merasa seperti raga kosong yang sedang digunakan untuk memuaskan ego seseorang yang memegang kunci masa depannya. Di sela-sela dorongan Fritz yang makin intens, Ella hanya bisa membayangkan wajah ayahnya di rumah, berharap pria tua itu tidak akan pernah tahu betapa busuknya harga yang harus ia bayar malam ini.

Back-up raisha papa vila





​Bab 1: Sisa Sunyi di Rumah

Udara pagi di kawasan hunian kelas atas itu masih terasa bersih dan sedikit lembap ketika sebuah SUV mewah sudah terparkir rapi di depan gerbang yang terbuka lebar. Mama sibuk memastikan aplikasi navigasi di ponselnya berfungsi dengan baik. Sesekali ia mengetuk layar dengan telunjuknya sambil bergumam pelan. Callie baru saja memasukkan tas jinjing terakhir ke dalam bagasi. Suara debuman pintu yang tertutup rapat memecah keheningan pagi, menandakan bahwa perjalanan panjang menuju Surabaya sudah siap dimulai. Papa berdiri di sisi mobil hanya dengan mengenakan kaos santai dan celana kain, sebuah pemandangan yang tidak biasa karena biasanya dialah yang duduk di kursi kemudi setiap kali keluarga bepergian jauh.

Papa kemudian berjalan mendekati jendela sisi pengemudi. Ia menunduk sedikit agar wajahnya sejajar dengan Mama. "Ma, Papa cuma mau mastiin, Mama yakin banget mau nyetir sendiri? Soalnya kalau nanti di tengah jalan Mama mulai kerasa capek, mending langsung menepi aja dulu, jangan dipaksain samai kecapekan. Mama bisa berhenti di rest area mana gitu buat ngelurusin kaki, atau sekalian beli minuman hangat dulu, baru jalan lagi. Pokoknya Mama jangan buru-buru, ya. Nggak ada yang nungguin juga di Surabaya, jadi santai aja."

Mama terkekeh pelan sambil menarik sabuk pengaman hingga terdengar bunyi klik. "Aman, Pa, aman. Mama tuh udah biasa kalau cuma lewat tol doang, santai aja. Lagian ada Callie di sebelah yang bisa diajak ngobrol, jadi Mama nggak bakal ngantuk. Yang lebih penting, Papa mending fokus aja sama urusan di kantor. Jangan sampe Papa telat dateng ke rapatnya gara-gara kelamaan nungguin kami berangkat di sini."

Callie yang sudah duduk manis di kursi penumpang tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari jendela. Matanya mengarah ke lantai dua rumah. "Eh, Papa, si Raisha beneran nggak mau keluar, gitu? Parah banget, sih. Masa mau jalan jauh begini dia nggak pamit sama sekali. Minimal melambai dari jendela atau ngomong 'hati-hati, ya' kan nggak repot. Itu aja nggak mau."

Papa menarik napas pelan. Pandangannya naik ke arah jendela lantai dua yang gordennya masih tertutup rapat. "Udahlah, Callie, biarin aja dulu. Papa rasa Raisha emang lagi kecapekan banget. Jangan dipaksa. Biarin dia istirahat total hari ini. Nanti kalo dia udah bangun, Papa yang bakal cariin makan buat dia. Kamu sama Mama berangkat aja dulu. Papa urus rumah sama Raisha di sini."

Mama mengangguk sambil menghidupkan mesin mobil. "Iya, Pa. Papa jaga rumah baik-baik, ya. Oh iya, jangan lupa kasih makan kucing kampung yang sering mondar-mandir di belakang itu. Kasian dia kalo nggak dikasih makan sampe dua hari. Terus kalo ada tetangga yang nitip sesuatu, Papa catet ya. Jangan sampe lupa nanti kalo Mama tanya."

Papa mengangkat tangannya sedikit sebagai isyarat pamit. "Aman, Ma. Papa nggak mungkin lupa hal-hal kecil begitu. Sepuluh tahun nikah sama Mama, mana mungkin Papa masih lupa soal kucing kampung. Sekarang hati-hati di jalan, ya. Kabarin Papa kalo udah sampe di rest area pertama."

Mobil itu perlahan melaju meninggalkan halaman. Suara mesinnya semakin menjauh, lalu lenyap di ujung komplek. Papa menutup pagar besi yang berat itu, kemudian berbalik masuk ke dalam rumah yang mendadak terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara televisi, tidak ada canda sahut-menyahut yang biasa meramaikan meja makan setiap pagi.

Raisha sebetulnya tidak tidur sejak tadi malam. Sejak pukul lima pagi ia sudah duduk sendirian di meja makan. Ia hanya menatap sereal yang sudah mengembang dan melembek di dalam mangkuknya tanpa benar-benar berniat memakannya. Semua percakapan di depan garasi tadi ia dengar dengan jelas dari tempatnya duduk. Namun, rasanya malas sekali untuk hanya sekadar berdiri, berjalan ke pagar, dan melambaikan tangan. Ada kelelahan yang berbeda dari sekadar kantuk atau capek badan. Ada semacam beban yang menumpuk perlahan di pundaknya dan membuat segalanya terasa berat, bahkan untuk hal-hal kecil seperti membuka mulut atau tersenyum. Ia tahu dirinya tidak akan kuat jika harus memaksakan diri bertemu banyak orang di Surabaya dalam kondisi kepala yang serasa penuh seperti ini.

Hampir dua jam berlalu dalam keheningan yang mengganjal itu. Raisha baru saja beranjak dari kursinya dan berniat kembali ke kamar ketika ia mendengar suara mesin mobil masuk ke garasi. Pintu depan terbuka, dan Papa melangkah masuk dengan gaya yang santai. Kemeja rapi yang tadi dipakai sudah dilepas, tersisa kaos dalam putih yang sedikit menempel di tubuhnya karena gerah.

Raisha mengernyit memandangi ayahnya. "Lho, Papa kok udah balik? Bukannya tadi bilang ada meeting yang penting banget dan nggak bisa ditinggal? Ini baru juga belum sampe tengah hari, Papa udah pulang lagi. Memangnya meetingnya jadi dibatalin atau gimana?"

Papa meletakkan kunci mobil di atas meja lalu berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil botol air dingin, dan menuangkannya ke dalam gelas. "Iya, tadinya emang harusnya ada meeting itu, Nak. Tapi pas Papa baru sampe di lobby kantor, tiba-tiba dapet kabar kalo kliennya lagi ada urusan keluarga yang darurat. Jadi semua acaranya dibatalin seketika. Padahal Papa udah semalem nyiapin bahan presentasinya, ngafalin poin-poin penting. Tau-tau batal semua gitu aja. Lumayan kesel juga, sih, sebenarnya."

Papa berdiri di depan AC ruang tengah. Ia menikmati hembusan udara dingin itu sebentar, lalu melirik ke arah Raisha yang masih berdiri di dekat meja makan dengan tangan tergantung lemas di sisi badan. "Kamu dari tadi ngapain aja di sini terus? Dari Papa berangkat sampe Papa pulang, kamu cuma duduk bengong aja, nggak ke mana-mana. Liat tuh mukamu, Ra, kusut banget. Kayak orang yang baru begadang tiga hari tiga malam. Emang kamu semalem nggak tidur?"

Raisha hanya menghela napas panjang, lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan lemas hingga terdengar bunyi kecil dahi menyentuh kayu. "Ya gimana ya, Pa. Aku emang lagi nggak punya tenaga sama sekali hari ini. Rasanya capek begini tuh bukan cuma capek fisik, tapi lebih ke dalam, ke pikiran juga. Rumah jadi kerasa aneh banget kalo cuma ada kita berdua begini. Biasanya kan ada Mama yang cerewet, ada Kak Callie yang berisik sama musiknya. Tiba-tiba sepi begini kerasa mengganjal banget, Pa."

Papa mengamati anak bungsunya itu beberapa saat tanpa bicara. Ia bisa merasakan bahwa apa yang sedang dialami Raisha bukan sekadar kelelahan biasa. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Raisha. "Gini aja, Ra. Daripada kamu cuma bengong dan guling-guling nggak jelas di rumah sendirian seharian, mending kita keluar sekalian. Papa ajak kamu ke villa. Rumah itu udah lama juga nggak pernah ditengok. Papa juga lagi males banget rasanya kalo harus diem di sini terus. Sumpek, Ra, sumpek rasanya di rumah besar begini kalo cuma berdua. Dindingnya kayak ngepress gitu."

Raisha mengangkat kepalanya. Ia menatap Papa dengan ragu. "Emang Papa nggak capek nyetir lagi ke sana? Jaraknya jauh juga, Pa. Apalagi jalur Puncak sekarang macetnya nggak bisa ditebak. Lagian aku juga lagi bener-bener nggak mood ketemu siapa-siapa. Bukan Papanya, maksudku aku nggak mau ketemu orang lain. Aku lagi pengen sendiri dulu, Pa, nggak usah ketemu tetangga atau penjaga villa atau siapapun."

Papa menggeleng sambil tersenyum. "Justru itu makanya Papa ngajak kamu ke sana. Di villa tuh sepi, nggak ada siapa-siapa selain kita berdua. Nggak ada tetangga yang suka bertamu. Nggak ada penjual keliling yang berisik. Udara di sana juga pasti jauh lebih enak daripada Jakarta yang panas dan pengap begini. Papa cuma lagi pengen cari suasana yang beda aja, biar kepala nggak sumpek terus. Kamu juga butuh istirahat yang beneran, bukan cuma tidur di kamar ber-AC sambil scrolling hape sampe mati."

Raisha masih terdiam, memainkan ujung serbet di atas meja.

Papa melanjutkan bicara. "Sekarang kamu mandi dulu, ya. Mandi yang lama biar segar. Siap-siap, bawa baju ganti dua atau tiga stel aja buat di sana. Papa juga bakal siap-siap sebentar. Kita jalan sekarang sebelum jalur Puncak mulai pada macet kayak biasanya. Nanti di perjalanan kita bisa berhenti beli martabak atau pisang goreng kesukaan kamu. Papa traktir, boleh kan?"

Raisha akhirnya berdiri dari kursinya. Perlahan, rasa jenuh yang tadi menindih dadanya mulai berganti dengan sesuatu yang lebih ringan, semacam lega kecil yang muncul dari gagasan spontan itu. Mungkin memang inilah pelarian yang ia butuhkan sekarang. Jauh dari rumah yang tiba-tiba terasa asing dan terlalu sunyi. Jauh dari keheningan yang mengganjal di setiap sudut ruangan. Sambil melangkah pelan menuju kamarnya, ia mengangguk pelan, menyetujui rencana Papa tanpa banyak kata. "Baiklah, Pa. Aku mandi dulu. Tolong siapin kopi buat perjalanan nanti, ya. Kopi hitam aja, jangan pake gula."

​Bab 2: Sembunyi di Antara Kabut

​Perjalanan menuju pegunungan itu memakan waktu jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Keputusan yang serba mendadak membuat mereka baru benar-benar lepas dari kemacetan pinggiran kota ketika matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Ketika mobil akhirnya berbelok memasuki gerbang kayu villa keluarga yang sudah agak kusam catnya, langit di atas mereka sudah berubah menjadi hitam pekat tanpa bintang. Udara dingin yang tajam langsung menyergap masuk ke dalam kabin begitu Papa mematikan mesin, dan di sekeliling mereka hanya ada suara rintik gerimis tipis yang jatuh di atas dedaunan, bercampur dengan bunyi serangga malam yang bersembunyi jauh di balik rimbunnya pohon pinus.

"Dingin banget ya, Pa. Padahal baru jam segini, belum malem-malem amat juga," kata Raisha sambil menarik ritsleting jaket denim yang ia kenakan hingga ke pangkal leher.

Papa sudah membuka pintu bagasi dan mulai mengeluarkan barang bawaan mereka satu per satu. "Iya, di sini emang beda sama Jakarta. Langsung kamu masuk aja duluan, Ra, biar nggak kelamaan kena angin di luar. Papa yang urus sisanya, sekalian nanti Papa nyalain pemanas air di dalam biar kamu bisa mandi anget."

Raisha turun dengan langkah yang sedikit gontai karena perjalanan panjang tadi, lalu melangkah masuk ke dalam villa yang terasa beku. Bau kayu tua dan aroma khas ruangan yang sudah lama tidak dihuni menyambutnya begitu pintu terbuka. Ia menyalakan beberapa lampu di ruang tengah satu per satu, membiarkan cahaya kuning temaram perlahan mengusir kegelapan yang tadinya mendominasi setiap sudut ruangan.

Papa masuk beberapa menit kemudian membawa tas-tas mereka, napasnya sedikit terengah karena udara tipis yang dingin. Ia langsung meletakkan semuanya di dekat tangga sebelum berjalan ke arah dapur. "Bentar ya, Papa cek dulu kompor sama gasnya, siapa tahu udah habis dari terakhir kali kita ke sini. Oh iya, tadi Papa sempet liat ada gerobak martabak di deket gerbang bawah waktu kita masuk. Kalau kamu laper, bilang aja, Papa bisa turun lagi sebentar buat beliin."

"Nggak usah repot-repot, Pa, aku belum laper kok. Lagian Papa juga baru sampai, masa langsung turun lagi. Istirahat dulu kek," sahut Raisha dari sofa.

"Kamu dari pagi cuma makan sereal dikit banget, Ra, itu juga kayaknya nggak abis. Nanti malah drop badannya kalau dibiariin terus," suara Papa terdengar dari balik dinding dapur, diikuti bunyi klak-klik kompor yang sedang dicoba. "Air panasnya udah Papa nyalain, tapi tunggu sepuluh menit dulu ya sebelum mandi, biar nggak kaget sama suhunya."

Raisha menyandarkan kepalanya ke punggung sofa sambil menatap langit-langit villa yang berkayu gelap. Perhatian Papa yang sangat mendetail itu, dari suhu air mandi sampai jam makan, mendadak terasa seperti sesuatu yang menekan tanpa ia bisa jelaskan dengan tepat. Ia memejamkan matanya sebentar, mencoba menikmati keheningan yang ada.

Setelah mandi dan berganti ke kaos tidur yang longgar, Raisha kembali ke ruang tengah. Papa sudah duduk tenang di kursi malas, kacamata bacanya terpasang, sebuah buku tebal terbuka di tangannya. Di meja kopi rendah di depannya, ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis ke udara dingin.

Raisha duduk di sofa yang berseberangan, kakinya ditekuk ke atas kursi sambil memeluk lututnya sendiri. "Enak banget ya, Pa, kalau sepi kayak gini. Nggak ada yang hobi nanya ini-itu atau nyuruh-nyuruh beresin sesuatu."

Papa mendongak sebentar dari bukunya, tersenyum. "Makanya Papa ajak ke sini. Kamu tuh emang butuh tempat buat napas, Ra. Di Jakarta kamu kayak robot, semua diatur, semua harus beres dan sempurna. Di sini nggak ada yang ngatur, mau bangun siang juga nggak ada yang protes."

Raisha diam sebentar, matanya menerawang ke arah jendela yang hitam. "Iya sih. Tapi kadang aku ngerasa di mana-mana juga tetep sama aja."

Papa melirik sekilas ke arahnya, tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali ke bukunya, menyesap kopi dengan pelan.

Beberapa menit berlalu tanpa suara selain gerimis di luar dan sesekali bunyi kertas buku yang dibalik. Raisha melirik cangkir kopi Papa yang sudah kosong tergeletak di tepi meja. Ia berdiri dari sofa dengan gerakan yang ringan.

"Kopinya udah abis ya, Pa? Sini aku bawain ke dapur sekalian, aku juga mau ambil minum," kata Raisha sambil melangkah mendekat ke arah meja kopi yang rendah itu.

Papa nggak mengangkat matanya dari buku. "Oh, iya. Makasih, Ra. Taruh di wastafel aja, nanti Papa yang cuci."

Raisha sudah berdiri tepat di tepi meja. Alih-alih menekuk lutut untuk mengambil cangkir, ia membungkuk dalam-dalam dengan punggung lurus. Keheningan di ruangan itu terasa tidak berubah, tapi di posisi Papa yang duduk rendah di kursi malas sambil mendongak dari bukunya, pandangan keduanya tiba-tiba berada di level yang sangat berbeda.

Tangan Raisha bergerak lambat mencari gagang cangkir. Karena posisi membungkuk itu, kerah kaos tidurnya yang longgar otomatis jatuh menjauh dari dadanya. Di tengah keheningan itu, Papa yang tadinya sudah hendak bicara mendadak bungkam. Bukunya tidak dibalik.

Raisha tidak langsung berdiri. Ia justru menoleh sedikit ke arah Papa, masih dalam posisi yang sama. "Kok lengket ya, Pa? Papa tumpah tadi?"

Papa menelan ludah. Matanya berkedip cepat, mencari fokus ke arah lain. "Eh, iya, mungkin tadi ada yang tumpah dikit. Udah, bawa aja sana."

Raisha berdiri tegak, membawa cangkir itu menuju dapur dengan langkah yang tidak terburu-buru. Papa menatap halaman bukunya yang terbuka, tapi tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepalanya. Jantungnya masih berdegup lebih kencang dari seharusnya, dan di luar, gerimis terus turun tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan itu.

Bab 3: Malam yang Tidak Punya Nama

Raisha berdiri di depan wastafel dapur lebih lama dari yang seharusnya. Air mengalir membilas cangkir yang sebetulnya sudah bersih dari tadi, tapi tangannya tidak berhenti bergerak. Dia butuh jeda. Butuh jarak beberapa menit dari ruang tengah dan dari kursi malas itu dan dari mata Papa yang tadi berkedip terlalu cepat.

Setelah menuang segelas air untuk dirinya sendiri, dia kembali ke ruang tengah.

Papa sudah meletakkan buku di meja kopi. Kacamatanya masih terpasang tapi pandangannya tidak ke mana-mana yang jelas. Televisi dinyalakan dengan volume hampir nol, saluran berita yang tidak ada seorang pun dari mereka pedulikan.

Raisha tidak kembali ke sofa yang tadi. Dia menjatuhkan diri ke karpet, memunggungi Papa, bahunya nyaris menyentuh kaki kursi tempat Papa duduk.

"Dingin banget ya, Pa. Vilanya kayak nggak pernah kena matahari sama sekali."

"Emang altitude-nya tinggi di sini. Kamu mau Papa ambilkan selimut dari kamar dalam?"

"Nggak usah repot, Pa. Aku nggak sedingin itu juga kok." Raisha meneguk airnya pelan. "Lagian kalau Papa pergi ke kamar, di sini jadi sepi."

Papa tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke layar televisi yang tidak dia tonton.

Beberapa menit berlalu tanpa suara yang berarti. Raisha memeluk lututnya sendiri, dagunya bertumpu di atas lutut, menatap ke arah jendela yang mulai berembun tipis. Di luar, kabut sudah turun lebih rendah dari tadi. Pohon-pohon pinus di halaman villa hampir tidak kelihatan lagi dari dalam ruangan.

"Pa, aku boleh tanya sesuatu yang agak aneh?"

"Tanya aja."

"Papa kesepian nggak, sebenernya? Bukan cuma malam ini maksudnya. Tapi secara umum."

Papa melirik ke bawah ke arah Raisha sebentar. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"

"Nggak tau. Kayaknya aku ngerasa Papa tuh sering sendirian tapi nggak pernah ngomong apa-apa. Pura-pura sibuk terus biar nggak ketahuan."

"Papa baik-baik aja, Ra."

"Aku nggak nanya Papa baik-baik aja apa nggak. Aku nanya Papa kesepian apa nggak."

Papa terdiam. Itu bukan sanggahan.

Raisha berdiri pelan. Dia mengambil selimut rajut tipis dari ujung sofa, tapi tidak duduk kembali di lantai. Dia duduk di lengan kursi Papa, sisi kanannya, tubuhnya condong dengan jarak yang terlalu kecil untuk disebut kebetulan. Bahu mereka hampir menyentuh.

"Ra, kamu—"

"Pa." Raisha memotong kalimat itu dengan suara yang tenang, sangat tenang, sambil menatap lurus ke arah jendela yang gelap. "Aku mau ke kamar. Mau Papa temenin?"

Keheningan yang menyusul kalimat itu terasa seperti sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan.

Papa tidak langsung menjawab. Napasnya keluar sedikit lebih berat dari biasanya. Dia menatap profil wajah Raisha yang tidak menoleh ke arahnya, yang justru terlihat sangat tenang, sangat sabar, seperti orang yang sudah tahu jawabannya dan hanya menunggu orang lain menyusul sampai ke sana.

"Raisha. Kamu tahu apa artinya yang kamu minta barusan."

"Iya." Raisha akhirnya menoleh. Matanya bertemu mata Papa dari jarak yang terlalu dekat. "Aku tahu."

Papa menutup matanya sebentar. Terlalu lama untuk sekadar berkedip. Ketika dibuka lagi, Raisha masih di tempat yang sama, masih menatap ke arah yang sama, tidak bergerak satu sentimeter pun.

"Ini salah," kata Papa. Suaranya keluar seperti orang yang sudah kalah sebelum kalimatnya selesai.

"Aku tahu," ulang Raisha, sama pelannya. "Tapi Papa mau kan."

Di luar, hujan mulai turun. Pelan dulu, kemudian tidak pelan lagi. Dan di dalam villa itu, Papa tidak lagi menjawab dengan kata-kata.


Bab 4: Kamar yang Tidak Punya Saksi

Kamar tamu villa itu tidak pernah benar-benar dipakai siapa pun. Selimutnya terlipat rapi dengan cara yang terasa terlalu formal, seperti kamar hotel yang tidak pernah dipesan. Raisha menyalakan lampu tidur di sudut ruangan, cahaya kuning redup yang cukup untuk melihat tapi tidak cukup untuk membuat semuanya terasa nyata.

Papa berdiri di dekat pintu yang masih terbuka setengah. Tangannya memegang kusen dengan cara yang terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan untuk balik kanan.

"Ra, Papa mau ngomong sesuatu."

"Papa udah ngomong banyak banget dari tadi." Raisha meletakkan selimut rajutnya di atas kasur, lalu duduk di tepinya, menatap Papa dengan ekspresi yang tidak menghakimi. "Dan Papa tetap di sini."

Papa tidak menyangkal itu.

Ruangan itu kecil. Tiga langkah dari pintu ke tempat Raisha duduk, tidak lebih. Papa akhirnya melepaskan pegangannya pada kusen pintu, masuk sepenuhnya, dan pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa lebih keras dari seharusnya.

"Aku nggak mau Papa nyesel," kata Raisha pelan. "Kalau Papa mau pergi, pergi sekarang. Aku nggak bakal marah."

"Kalau Papa pergi sekarang," Papa menjawab dengan suara yang berat, "Papa bakal nyesel juga."

Raisha menatapnya beberapa detik. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah Papa, berhenti tepat di depannya. Dari jarak itu Papa bisa mencium sampo yang masih tersisa di rambut Raisha, aroma yang terlalu familiar dan sekarang terasa seperti sesuatu yang sama sekali berbeda.

Raisha mengangkat tangannya, menyentuh dada Papa dengan telapak tangan penuh. "Kenceng banget," katanya.

"Iya."

"Papa takut?"

"Sangat."

"Aku juga." Raisha tidak menarik tangannya. "Tapi aku tetap mau."

Tangan Papa bergerak akhirnya, menemukan sisi wajah Raisha, ibu jarinya mengusap tulang pipi anaknya sekali. Setelah itu tidak ada lagi jarak di antara mereka. Papa yang merunduk duluan, dan ketika bibirnya menyentuh bibir Raisha untuk pertama kalinya, keduanya tidak bergerak sebentar, seperti dua orang yang baru saja melompat dari tempat tinggi dan belum yakin kapan tanah akan terasa.

Lalu Raisha menutup jarak terakhir itu sepenuhnya, tangannya naik ke kerah kaos Papa, dan Papa berhenti menahan apapun.

Mereka bergerak ke arah kasur dengan pelan. Selimut yang terlipat rapi itu tersibak. Papa berbaring di sisinya, menatap Raisha yang ada di hadapannya dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi, campuran antara sesuatu yang sangat dia inginkan dan sesuatu yang dia tahu tidak seharusnya dia miliki.

Raisha menyentuh rahangnya. "Jangan mikir dulu, Pa."

Dan Papa memilih untuk menurut.

Yang terjadi setelahnya berlangsung dengan tempo lambat di bawah cahaya lampu tidur yang redup, dengan hujan yang terus turun di luar dan kabut yang sudah menutup seluruh halaman villa. Tidak ada yang tergesa-gesa. Papa memperlakukan Raisha dengan cara yang terlalu hati-hati untuk situasi yang sudah melampaui semua batas kehati-hatian, dan Raisha membiarkan dirinya ada di sana sepenuhnya, tanpa menarik diri, tanpa menyesal.

Di sela semuanya, Papa menyebut nama Raisha satu kali dengan suara yang hampir tidak keluar. Hanya namanya. Dan Raisha menjawab dengan mempererat pegangannya.

Hujan tidak berhenti sampai jauh lewat tengah malam.


Papa menopang tubuhnya dengan kedua lengan, menatap Raisha dari atas dengan napas yang sudah tidak teratur. Di cahaya lampu tidur yang redup itu, wajah anaknya terlihat seperti orang asing yang sangat dia kenal.

"Ra," panggilnya, tanpa kelanjutan.

"Aku di sini, Pa," jawab Raisha.

Papa menurunkan kepalanya, bibirnya menyentuh dahi Raisha dulu, lalu tulang pipinya, lalu sudut bibirnya, seperti orang yang sedang menghafalkan sesuatu lewat sentuhan. Raisha menutup matanya. Tangannya bergerak dari kerah kaos Papa ke punggungnya, merasakan otot di sana yang menegang setiap kali Papa bergerak.

Kaos Papa akhirnya tidak di tempatnya lagi. Raisha yang menariknya dari bawah, Papa yang menyelesaikan sisanya. Tidak ada yang tergesa-gesa meski keduanya sudah tidak bisa berpura-pura tenang. Papa meletakkan tangannya di sisi pinggang Raisha, jemarinya menelusuri lekukan di sana dengan cara yang sangat hati-hati, terlalu hati-hati, seperti orang yang takut sesuatu yang dia pegang akan pecah kalau dia tidak cukup berhati-hati.

"Papa," Raisha memanggil dengan suara yang lebih pelan dari bisikan.

Papa mengangkat kepalanya, menatap Raisha.

"Jangan pelan-pelan banget," kata Raisha.

Sesuatu di wajah Papa berubah setelah kalimat itu. Kehati-hatian yang tadi mendominasi setiap gerakannya perlahan-lahan luruh, digantikan oleh sesuatu yang lebih jujur dan lebih dalam dari itu. Papa menarik Raisha lebih dekat, dan Raisha membiarkan dirinya ditarik.

Malam itu tidak punya saksi selain hujan yang terus turun di luar jendela dan kabut yang sudah lama menutup seluruh halaman villa. Di dalam kamar kecil dengan lampu tidur yang nyaris tidak menerangi apapun, dua orang yang seharusnya tidak berada di sana melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka tarik kembali.

Papa menyebut nama Raisha beberapa kali malam itu. Selalu hanya namanya. Tidak ada kata lain yang keluar. Dan setiap kali dia memanggilnya, Raisha menjawab dengan mempererat pegangannya, mengatakan dengan cara itu bahwa dia masih di sini, masih di sini, masih di sini.


Papa menarik Raisha lebih dekat, tapi Raisha tidak membiarkan dirinya sekadar ditarik. Tangannya mendorong bahu Papa pelan sampai Papa berbaring sepenuhnya, lalu Raisha menggeser posisinya, duduk di atas Papa dengan kedua lututnya menjepit sisi pinggang Papa di kiri dan kanan.

Papa menatap ke atas. Ekspresinya adalah sesuatu yang tidak pernah Raisha lihat sebelumnya di wajah itu. Bukan lagi ayahnya yang berdiri di depan pagar pagi tadi. Bukan lagi orang yang mengatur suhu air mandi dan khawatir soal makan malam.

"Ra." Suaranya keluar dengan berat.

"Diam dulu, Pa." Raisha membungkuk, rambutnya jatuh ke satu sisi, ujungnya menyapu dada Papa. Bibirnya menyentuh rahang Papa, lalu lehernya, dan Papa menutup matanya seperti orang yang menyerah pada sesuatu yang sudah lama dia lawan.

Tangan Papa naik, menemukan pinggang Raisha, mempererat pegangan di sana. Raisha bergerak, dan Papa mengikuti ritme itu dengan cara yang tidak lagi ragu, tidak lagi hati-hati seperti sebelumnya.

Di posisi itu Raisha bisa melihat wajah Papa sepenuhnya. Setiap ekspresi yang lewat, setiap kali napasnya tidak teratur, setiap kali dia hampir menyebut sesuatu tapi tidak jadi. Papa membuka matanya sekali, menatap Raisha dari bawah, dan untuk beberapa detik keduanya hanya saling menatap di tengah semuanya.

Papa yang menundukkan pandangannya duluan.

Raisha tersenyum tipis, lalu membungkuk lagi, dagunya menyentuh dahi Papa. "Masih di sini, Pa," bisiknya.

Dan Papa menjawab dengan mempererat pegangannya di pinggang Raisha sampai jemarinya memutih.


Papa menurunkan kepalanya, bibirnya menyentuh dahi Raisha dulu, lalu tulang pipinya, lalu sudut bibirnya, seperti orang yang sedang menghafalkan sesuatu lewat sentuhan. Raisha menutup matanya. Tangannya bergerak dari kerah kaos Papa ke punggungnya, merasakan otot di sana yang menegang setiap kali Papa bergerak.

Kaos Papa akhirnya tidak di tempatnya lagi. Raisha yang menariknya dari bawah, Papa yang menyelesaikan sisanya. Papa menatap Raisha sebentar setelah itu, tangannya bergerak pelan ke bahu Raisha, menelusuri tali kaos tidurnya, berhenti.

"Ra."

"Aku mau, Pa," kata Raisha sebelum Papa selesai bertanya.

Papa menarik napas panjang, lalu tangannya bergerak lagi. Perlahan. Kaos tidur Raisha yang longgar itu melorot dari bahunya, dan Papa hanya menatap dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi di wajahnya. Bukan nafsu yang kasar. Sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu.

"Kamu cantik," kata Papa akhirnya, dengan suara yang hampir tidak keluar.

Raisha tidak menjawab. Dia hanya menarik Papa kembali ke bawah.

Setelah itu Raisha yang mengambil alih. Tangannya mendorong bahu Papa pelan sampai Papa berbaring sepenuhnya, lalu dia menggeser posisinya, duduk di atas Papa dengan kedua lututnya menjepit sisi pinggang Papa di kiri dan kanan.


Bab 5: Oleh-Oleh dari Surabaya

Mama dan Callie tiba dua hari setelah malam itu.

Mobil masuk ke halaman villa menjelang sore, klaksonnya berbunyi dua kali seperti biasa. Raisha yang sedang duduk di teras langsung berdiri, masuk ke dalam, dan duduk di sofa dengan ponsel di tangan seolah dia sudah di sana dari tadi. Papa yang sedang di dapur menyeduh kopi mematikan kompor, merapikan celemek dengan gerakan yang terlalu rapi untuk situasi yang sebiasa itu.

Callie masuk duluan, tas belanjaan di kedua tangannya, langsung nyerocos sebelum pintu sepenuhnya terbuka. "Adek, aku beli batik buat kamu, tapi motifnya aku pilih sendiri ya jadi jangan complain kalau nggak cocok sama selera kamu yang aneh itu."

"Makasih, Kak." Raisha menerima kantong yang disodorkan Callie tanpa berdiri.

Mama masuk, langsung melepas sepatu di depan pintu dan menghela napas panjang. "Capek banget, tiga jam di jalan. Pa, masih ada kopi nggak? Mama butuh yang panas."

"Ada, Ma. Bentar Papa ambilkan." Suara Papa keluar dari dapur, terdengar normal, terdengar seperti biasa.

Callie menjatuhkan diri di sofa sebelah Raisha, menyandarkan kepalanya ke bahu adiknya. "Vilanya enak nggak? Kalian ngapain aja dua hari di sini? Sepi nggak?"

"Biasa aja," jawab Raisha. "Nggak ngapa-ngapain. Hujan terus."

"Ih males banget. Aku mending di Surabaya kalau gitu, minimal ada yang bisa dikunjungi." Callie mengambil ponsel Raisha dari tangan adiknya, melihat layarnya yang kosong, tidak ada aplikasi yang terbuka. "Kamu nggak ngapa-ngapain beneran ya. Bahkan hp juga nggak dipake."

Raisha mengambil kembali ponselnya. "Istirahat."

Papa keluar dari dapur membawa dua cangkir, satu untuk Mama yang sudah duduk di kursi malas, satu lagi dia letakkan di meja kopi tanpa menjelaskan untuk siapa. Matanya tidak ke arah Raisha. Raisha juga tidak ke arahnya.

Callie tidak memperhatikan itu.

Mama memperhatikan.

Bukan dengan cara yang dramatis. Bukan tatapan curiga yang menusuk. Hanya cara matanya bergerak dari Papa ke Raisha sebentar, lalu kembali ke cangkir kopinya. Satu detik, tidak lebih. Tapi Raisha menangkap itu dari sudut matanya.

Malam itu mereka makan malam berlima di meja kayu villa yang terlalu besar untuk empat orang, apalagi lima. Callie yang paling banyak bicara, cerita soal restoran di Surabaya yang masakannya mengecewakan dan toko batik yang penjualnya terlalu agresif menawarkan barang. Papa merespons dengan anggukan dan pertanyaan pendek di waktu yang tepat. Mama makan dengan tenang.

Raisha makan dengan tenang.

Dan di bawah meja, tanpa ada yang melihat, jari-jari Raisha mencengkeram ujung taplak meja sepanjang makan malam berlangsung.